SAMBUTAN DPP PAO : ASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH, SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DEWAN PENGURUS PUSAT ORGANISASI ASSEDDINGENG WIJANNA OGIE DALAM BAHASA INDONESIA DIKENAL DENGAN NAMA PERSATUAN ANAK OGI (DPP-PAO) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PROVINSI RIAU, PAO ADALAH PERKUMPULAN WARGA MASYARAKAT SUKU BUGIS RANTAU DENGAN BERDASARKAN PANCASILA DAN UDD 45 SERTA DIBAWAH NAUNGAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) DENGAN TUJUAN MEMPERSATUKAN SEGENAP WARGA MASYARAKAT BUGIS SELURUH NUSANTARA MAUPUN MANCA NEGARA DENGAN VISI MISI - MASSEDDI RIPASSEDDI MAPPASSEDDI-TOPADA SIPAMMASE MASE - NIAT MADECENG PADATTA RUPA TAU TERUTAMA SEMPUGIKU TEGA-TEGAKI WANUA DI ONDROWI. WASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH
Showing posts with label PETUAH ORANG BUGIS. Show all posts
Showing posts with label PETUAH ORANG BUGIS. Show all posts

Saturday, 20 June 2020

KALIMAT TABE…!!! KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BUGIS PERLAHAN MULAI TERGERUS OLEH ZAMAN


Seperti yang kita ketahui, masyarakat Indonesia sangat beragam. Ada banyak suku, bangsa, bahasa, adat istiadat, dan kesenian.  Budaya menghargai menjadi sikap langka yang sangat penting dan hurus dikembangkan kembali. “Tabe” merupakan salah satu contohnya terutama untuk wilayah pulau sulawesi umumnya warga masyarakat Bugis.

“Tabe” adalah sikap minta permisi untuk melewati arah orang lain, dengan kata-kata “tabe” kata tersebut diikuti gerakan tangan kanan turun kebawah dengan melihat pada orang-orang yang dilewati lalu memberikan senyuman. makna dari perilaku  seperti demikian adalah bahwa “Tabe” simbol dari upaya menghargai dan menghormati siapapun orang dihadapan kita.

Budaya “Tabe”  perlahan-lahan mulai tenggelam dalam masyarakat, khususnya pada kalangan anak-anak dan remaja bahkan sering ditemukan pada kalangan mahasiswa. Entahlah.. apakah ini karena kesalahan orang tua yang tidak mengajarkannya atau karena budaya Barat yang telah mengkontaminasi pemikiran mereka. Mereka tidak lagi menghargai orang yang lebih tua dari mereka, bahkan yang sering saya temukan banyak anak-anak yang memakai kata ‘BROO’ untuk menyapa orang yang lebih tua dari mereka, melewati orang tanpa permisi, bahkan kepada orangtua mereka sendiri.

Budaya “Tabe’’ sangat berperan penting dalam pembentukan karakter anak dalam sifat santun dan hormat. Oleh karena Menanamkan sikap “Tabe”  ini dalam menghormati orang yang lebih tua harus selalu diingat dan diutamakan . Sebab “Tabe” merupakan kecerdasan sikap yang akan membentuk dan mendidik anak-anak atau generasi muda agar tercipta Nilai-nilai bangsa yang saling menghormati.
Budaya menghargai jika terealisasikan dengan baik akan mencegah banyak keributan dan akan mempererat rasa persaudaraan. Bahkan saya yakin  jika budaya “Tabe” direalisasikan dalam masyarakat maka tidak ada tempat bahkan alasan untuk konflik.

Tawuran antar pelajar misalnya jika dikerucutkan apa penyebabnya, maka yang kita dapatkan ialah minimnya pengetahuan tentang sikap saling menghormati. Sebab jika anak-anak yang mengenal budaya “Tabe” akan berperilaku sopan dan tidak mengganggu temannya.

Dalam sebuah kesempatan saya sedang berbincang-bincang dengan seorang guru. Ketika sedang asik bincang-bincang ada seorang murid melewati kami dengan tergesah-gesah dengan sedikit berlari tanpa mengucap “Tabe” atau permisi, Spontan guru saya berkata dengan muka memerah

‘….. anak kurang ngajar tidak tahu sopan santun’
Mendengar kalimat itu saya terdiam sejenak lalu bertanya kenapa pak ? guru saya menjawab
‘….tidak tahu sopan santun betul anak itu, lewat didepannya orang tua/guru tidak batabe atau permisi, huuh..’
Mendengar jawaban itu,  saya memahami bahwa budaya “Tabe” itu sangat penting untuk diri sendiri dan orang lain untuk menjaga keakraban, kenyamanan dan persaudaraan.

Budaya “tabe” mungkin terlihat sepele, namun hal ini sangat penting dalam tata krama masyarakat di daerah Sulawesi. Sikap “Tabe” dapat memunculkan rasa keakraban meski sebelumnya tidak saling kenal. Pada zaman sekarang ini Budaya “Tabe” sudah mulai terdegradasi. Nilai-nilai pendidikan dan karakternya perlahan-lahan mulai hilang, seakan budaya “Tabe” tak mempunyai makna apa-apa lagi bahkan sering diplesetkan.

Budaya “Tabe” merupakan simbol dari upaya menghargai dan menghormati siapapun orang dihadapan kita, kita tidak boleh berbuat sekehendak hati. Nilai yang terkandung dalam budaya tabe adalah tidak membeda-bedakan semua orang, saling menghormati, saling mengingatkan. Budaya tabe merupakan nilai luhur dan budaya lokal yang sangat tinggi sehingga harus dilestarikan untuk menopang kehidupan yang lebih baik serta mengurai dampak dari zaman yang semakin moderen yang banyak menganut budaya kebarat-baratan.









Penulis : Admin
 

Sunday, 7 June 2020

KONSEP MATTULU TELLUE


KONSEP MATTULU TELLUE

I. PENDAHULUAN


Setiap suku bangsa di dunia ini memiliki ciri khas yang menjadi jati diri mereka. Dalam mempertahankan jati dirinya tersebut, mereka senantiasa berupaya mencari cara sedemikian rupa demi untuk mempertahankan eksistensi kelompok atau sukunya. Mereka berusaha menciptakan suatu tatanan prinsip yang dapat dijadikan sebagai pegangan dalam segala tindakan baik bersifat pribadi maupun kelompoknya. Dengan tujuan, agar apa yang diharapkan dalam tindakannya dapat mendapatkan hasil yang diharapkan dan mendapat apresiasi baik dalam kelompok sukunya sendiri maupun di luar kelompok suku bangsanya. Mereka meyakini, bahwa dengan memiliki prinsip sebgai pegangan maka segala yang kita lakukan tidak akan kesasar dan mengambang, disamping prinsip itulah yang jadikan sebagai alat motivasi dalam melakoni hidup disegala bidang

Demikian pula bangsa Bugis sejak dahulu kala setiap suku telah memiliki prinsip-prinsip hidup yang dijadikan sebagai perisai dalam menjaga keberlangsungan norma-norma adab yang dimilikinya. Perisai yang dimaksud adalah prinsip-prinsip yang dijadikan sebagai Motto dalam melindungi norma-norma adat-istiadatnya sebagai pegangan hidup dalam menjalankan segala aktivitasnya baik secara internal maupun eksternal.

Pada masa pemerintahan Latenritata alias Arung Palakka. Dalam lontara disebutkan: “Riwettu Puatta Petta Malampe-E Gemme’na Paoppang Palengengngi Tanah Bone, Padatosaha Keteng Tepu Seppuloi Lima ompo’na”
Artinya: Sewaktu raja Bone Petta Malampe-E Gemme’na berkuasa, maka Bone pada waktu itu seumpama bulan, cerah bagaikan bulan purnama yang terbit sempurna kelima belas”.

Lalu masihkah hari ini, para genarasi (ana' rimunrie) menampakkan taring kebesaran itu? Adakah kegairahan untuk belajar pada masa silam ? Bukankah potret sejarah masa depan adalah bertaut dengan rangkaian sejarah masa lalu dan apa yang kita gurat pada jejak masa kekinian?

Berbicara tentang Bugis juga selalu identik dengan Bone. Peradaban Bugis pada masa silam adalah peradaban besar dan gemilang yang memiliki daya tarik tersendiri bahkan seorang penulis asal Prancis: Christian Pelras rela menghabiskan 2/3 umurnya hanya untuk meneliti kebudayaan Bugis dan mengasilkan buku 'The Bugis', yang diperoleh dari hasil penelitian dan penelusuran dokumen yang berlangsung selama 40 tahun (1950–1990). Penerbit Ininnawa kemudian diterjemahkan menjadi 'Manusia Bugis'. Memang fenomenal, seorang manusia Prancis, rela terjun selama puluhan tahun hanya untuk meneliti kebudayaan orang lain. Sesuatu yang jarang dijumpai di Indonesia, lebih-lebih di kalangan peneliti lokal sendiri.

Dari asumsi tersebut, terselip harapan untuk kembali melestarikan spirit kebugisan kita. Karena di sana ada kearifan hidup,ada spirit keberanian dan ketangguhan melawan hidup. Nenek moyang di masa lalu telah menawarkan spirit ketangguhan dan keberanian hidup. Mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan dalam mengarungi hidup. Bukankah kearifan itu masih tersisa dalam jejak yang ditinggalnya dalam sastra Pappaseng ?

Secara umum tercatat dalam sastra besar dunia, Sure’ Selleang I La Galigo.
Nah, masih adakah jiwa dan semangat ke To-Bone-an hari ini, ketika generasi kekinian tak lagi mengenal spirit kearifan hidup leluhur yang tercatat dalam sastra Pappaseng? Masih adakah Bugis Bone hari ini ketika generasi muda mulai tak fasih lagi bertutur bahasa Bugis dalam kesehariannya? Tidakkah hari ini generasi mulai malu menggunakan bahasanya sendiri karena merasa tidak sesuai dengan trend? Benarkah generasi sekarang ini … Aduh, penulis tak mampu lagi menulisnya di sini melihat fenomena yang ada.

Coba bayangkan, Christian Pelras saja yang bukan orang Bugis tapi mampu bertutur bahasa Bugis dengan fasih pada waktu memberikan ceramah umum tentang Manusia Bugis (26/09/2006). Mungkian suatu saat ketika para generasi ingin belajar bertutur Bugis dan belajar tentang Bugis kita harus belajar di negeri Eropa sana ?. He….he….. Ironis sekali. Bugis mungkin suatu hari nanti hanyalah sebuah predikat yang malas kita sandang. Bukankah generasi kini lebih tahu tentang Putri Diana, lebih menguasai riwayat hidup Ronaldo dibandingkan riwayat Arung Palakka, Kajao Lalliddong atau legenda Sawerigading? Arus modernisasi dan neo-liberalisme begitu kuat mencengkram generasi Bugis masa sekarang ini.

Ketika melihat fenomena budaya yang berkembang di masyarakat Bone khususnya dikalangan generasi muda. Ada beberapa pertanyaan sederhana yang sebenarnya mengandung makna keprihatinan atas fenomena tersebut. Berapa banyak anak muda Bone yang bisa bercerita lengkap tentang sejarah Bone? Sejauh mana anak muda Bone tahu tentang tokoh-tokoh di balik kebesaran kerajaan Bone? Berapa banyak anak muda Bone yang bisa menulis dan membaca aksara lontara dengan baik? Berapa banyak anak muda Bone yang bisa berbahasa Bugis dengan bahasa yang halus? Berapa banyak anak muda yang hafal dan mengamalkan pesan-pesan leluhur (Pappaseng To Riolo)? Apakah perilaku generasi Bone saat ini telah mencerminkan sikap-sikap (Mappakkeade’) seperti yang dulu dimiliki para pendahulunya? Dan masihkan ikatan emosional (Riassibonei) terjalin dengan harmonis antara sesama warga Bone di dalam dan luar daerah?

Kami tidak ingin memberikan jawaban dan penilaian dari pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Yang jelas dengan menumbuhkembangkankan jiwa dan semangat ke To Bone-an, sangatlah urgen dan strategis untuk dilakukan. Karena diakui atau tidak, saat ini masyarakat dunia (termasuk masyarakat Bone) hidup dalam kecenderungan yang bersifat global. Pergeseran budaya yang semakin tajam, kecilnya dunia berkat sistem komunikasi dan transformasi yang semakin canggih telah memberikan makna kehidupan manusia ke arah yang lebih maju dan modern.

Dalam situasi dan kondisi seperti ini, bukan hal yang mustahil semangat dan budaya kedaerahan (ke-to Bone-an) akan semakin terkikis atau mungkin hilang dari sanubari masyarakat Bone, terkhusus di kalangan generasi muda (ana ri munri) yang memang jarang tersentuh dengan gagasan–gagasan , kegiatan-kegiatan (aktivitas) dan peninggalan sejarah (artefak yang dimiliki kabupaten Bone dari lingkungannya (Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat).

Seyogianya, Bugis Bone (Wija To Bone) tidak hanya sekadar mengaku dan diakui sebagai orang Bone lantaran lahir di Tana Bone. Akan tetapi, lebih jauh mereka seharusnya memahami sejarah lelulur, memahami kebudayaan Bone dan mengimplementasikannya nilai-nilai spirit kearifan hidup, spirit keberanian, dan ketangguhan menjalani hidup. Berpegang pada Pesan Leluhur, yakni : Makkateni ri limae akkatenningeng, iyanaritu :

1. Mammulanna Riada TongengngE;
2. Maduanna RilempuE;
3. Matellunna Rigettengng-E.
4. Maepana SipakatauE,
5. Malimanna mappesonaE ri Dewata SewwaE. (Mattulada: 1995 atau lihat Anwar Ibrahim 2000)

II. Masa Pemerintahan Raja Bone ke-7 Latenri Rawe Bongkangnge (1568-1584)

Mattulu Tellue berasal dari kata “Situlu Tellu” dalam bahasa Bugis berarti saling bertaut tiga yang disimbolkan sebagai tali. Kemudian melahirkan Mattulu Tellue yang artinya sesuatu atau tali yang bertaut tiga yang dijadikan sebagai simbol keutuhan dan kekuatan. Dalam bahasa Makassar disebut Mabbulo Sipeppa atau Mabbulo Sibatang, yakni tiga batang dijadikan menjadi satu. Dengan menggabungkan tiga buah batang menjadi satu kesatuan dapat membentuk sebuah kekuatan.

Baik Mattulu Tellue ataupun Mabbulo Sipeppa/Mabbulo Sibatang merupakan sesuatu yang abstrak namun di dalamnya sarat dengan makna simbolis yang dijadikan sebagai motivasi dalam semangat hidup.

Dikalangan Bugis Bone, Konsep Mattulu Tellue telah digunakan dimasa pemerintahan raja Bone ke-7 Latenri Rawe Bongkangnge (1568-1584) . Konsep ini dipopulerkan oleh sang diplomat ulung dari Tanah Bone yang di kenal dengan gelar Kajao Lalliddong. Lamellong yang bergelar Kajao lalliddong tersebut banyak menciptakan dan melahirkan konsep-konsep kepemimpinan sebagai norma-norma adab yang dijadikan sebagai anutan oleh raja dalam menjalankan roda pemerintahannya. Seperti berikut ini ;

1.Tidak membiarkan rakyatnya bercerai-berai;
2.Tidak memejamkan mata siang dan malam;
3. Menganalisis sebab akibat suatu tindakan sebelum dilakukan; dan
4. Raja harus mampu bertututur kata dan menjawab pertanyaan.

Dalam menjaga eksistensi norma-norma adab di atas mereka membangun sebuah prinsip yang dijadikan sebagai perisai yakni Mattulu Tellue antara lain :

1. Siattinglima, yang artinya bergandengan tangan.
Maksudnya : apabila sesuatu pekerjaan dilakukan secara bersama-sama, maka ringanlah pekerjaan itu
2. Sitonraola, yang artinya berjalan searah, satu kata dalam mufakat
Maksudnya : Sesuatu permasalahan harus diputuskan dengan musyawarah dan mufakat
3. Tessibelleang, yang artinya tidak saling menghianati
Maksudnya : Segala sesuatu yang telah dimufakati sebagai keputusan maka siapapun harus menaatinya.

Pada hakikatnya jauh sebelum Pemerintahan Latenri Rawe Bongkangnge nilai-nilai semangat Mattulu Tellue telah ada pada masa pemerintahan Raja Bone ke-1 La Ubbi yang digelar Manurungnge Ri Matajang dalam menyatukan rakyat Bone pada masa itu namun kata Siattinglima, Sitonraola, Tessibelleang dipopulerkan oleh lamellong Kajao Lalliddong

III. Masa pemerintahan Raja Bone Ke-15 Arung Palakka (1667–1696)

Pada masa ini beliau menumbuhkan kembali jiwa dan semangat ke To-Bone-an.yakni :
1. Malilu Sipakainge
2. Mali Siparappe,
3. Rebba Sipatokkong”
(artinya : "Hanyut saling berdampar, Rubuh saling tegakkan, Terlupa saling ingatkan, sehidup saling menghargai) - sebuah pepatah Bugis yang mengandung makna yang sangat dalam tentang arti persaudaraan akan selalu hidup dalam jiwa masyarakat.

Selanjutnya, dengan dasar norma adab di atas, dalam mempertahankan eksistensi semangat Konsep Mattulu Tellue secara berkesinambungan di Tana Bone, maka pada masa pemerintahan Raja Bone ke-15 Arung Palakka membangun sebuah motto yang dikenal dengan sebutan “Tellabu Essoe Ri Tengnga Bitarae” yang artinya “Takkan Tenggelam Matahari Di Tengah Langit” Maksudnya : Sesuatu pekerjaan harus berakhir dengan keberhasilan. Dalam bahasa Bugis “Amporo atau Makkamporo” atau “Aja’ Muakkamporo” yaitu telur yang gagal menetas. Maksudnya apabila kita menghadapi atau melakukan suatu pekerjaan janganlah berhenti di tengah jalan. Hal ini setara dengan “ Kambacu” Aja’ Muakkambacu” Dalam bahasa Bugis Kambacu adalah biji jagung yang digoreng namun gagal menjadi berti atau mekar. Konsep inilah juga yang dijadikan Arung Palakka sebagai penyemangat dalam membebaskan rakyat Bone yang dijadikan sebagai pekerja paksa oleh Gowa pada masa itu.

Kebesaran Bone di masa lalu adalah spirit kehidupan, gerak kualitas peradaban. Namun ia baru berarti ketika filosofi agungnya sebagai pondasi dasar dan tetap utuh dianut serta dipegang teguh oleh masyarakatnya. Lalu, sejauhmanakah semangat ke To-Bone-an hari ini dan masih adakah manusia Bugis Bone yang sesungguhnya? Tatkala secara substansial nilai dasar sebagai filosof dan spirit hidup Bugis telah mengalami degradasi dan dehidrasi besar-besaran?

Di zaman ini, ketika kita kembali meneropong masa Ialu, menguak tabir jejak-jejak sejarah gemilang moyang kita pada masa silam. Seyogianya kita jadikan sebagai bahan renungan kita semua. Hal ini bukan berarti untuk mengevaluasi apa lagi untuk memberikan penilaian, akan tetapi semata-mata berniat sebagai “gelitik luhur ” dan bahan renungan bagi kita semua terutama bagi penulis sendiri, akan pentingnya munumbuhkan kembali jiwa dan semangat ke To-Bone-an, yaitu :

”Mattulu Tellue/Mabbulo Sipeppa/Mabbulo Sibatang, yakni : Malilu Sipakainge, Mali Siparappe,Rebba,Sipatokkong”

Sebagaimana Petuah Leluhur :

“Seratu’ Ada’ seddi Gau’, Gau’E mappattentu.,Sadda mappabati Ada’., Ada’ mappabati Gau.,Gau mappabati Tau., Tau Sipakatau Sipakalebbi. Mappau Ada Mappaddupa Gau, Sitonrai Lilae na BatelaE, Nasaba Engka Siri’ta Nennia Pesseta “siri’mi rionroang ri lino naiyya Sire’E Nyawa nakira-kira nenniya Sunge’ Naranreng”, Nassibawai Wawang ati macinnong, lempu, getteng, ada tongeng, temmapasilaengeng, warani, amaccangeng, reso, tenricau tenribali, maradeka nennia assimellereng.,Makkatenni Masse ri Panngaderengnge na Mappesona ri Dewata SewwaE “Mette’ Tenribali, Massa’da Tenri Sumpala”

IV. SIMPULAN


Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa Konsep Mattulu Tellue dimasa Pemerintahan Raja Bone ke-7 Latenri Rawe Bongkangnge dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Siattinglima, yang artinya bergandengan tangan.
Maksudnya : apabila sesuatu pekerjaan dilakukan secara bersama-sama, maka ringanlah pekerjaan itu

2. Sitonraola, yang artinya berjalan searah, satu kata dalam mufakat
Maksudnya : Sesuatu permasalahan harus diputuskan dengan musyawarah dan mufakat

3. Tessibelleang, yang artinya tidak saling menghianati
Maksudnya : Segala sesuatu yang telah dimufakati sebagai keputusan maka siapapun harus menaatinya.

Selanjutnya, Konsep Mattulu Tellue dimasa Pemerintahan Raja Bone ke-15 Latenri Tata Arung Palakka dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Malilu Sipakainge,
2. Mali Siparappe,
3. Rebba,Sipatokkong”
(artinya : " Terlupa Saling Mengingatkan, Hanyut Saling Berdampar, Rubuh Saling Menegakkan)

Kata kunci konsep di atas adalah “Tellabu Essoe Ri Tengnga Bitarae”

Dengan demikian, semua tatanan adab di atas berfungsi perisai dalam

1. Menjaga dan mempertahankan eksistensinya baik personal maupun kelompok;
2. Bahasa simbol / Motto yang berfungsi penyemangat dalam menjalankan segala bentuk aktivitas baik internal maupun eksternal dalam kelompok.







(Sumber : Teluk bone)
Penulis : Admin





Friday, 22 May 2020

PANETTA SIBAWA PAMMUSA

https://pallapiaronaogie.blogspot.com/2020/05/panetta-sibawa-pammusa.html


Bangsa Bugis khususnya pengguna atau penggemar senjata tajam sangat mengenal istilah ini. Pammusa’ atau Panetta adalah salah satu bagian dari upaya membuat senjata tajam menjadi bertuah atau bermanfaat secara maksimal. Pammusa’ atau panetta ini merupakan GAU’ GAUKENG yang di lakukan sebelum badik atau keris di pasang pada hulu/handlenya. Sebagian besar mempercayai bahwa MAPPAMUSSA/MAPPANETTA’ adalah langkah terakhir yang harus dilakukan sebelum senjata digunakan atau di simpan dengan baik. Walaupun badik adalah senjata akan tetapi tidak jarang benda ini di gunakan sebagai AZIMAT saja yang di simpan di rumah tanpa di pakai untuk berperang atau berkelahi. Pammusa’ ini sifatnya sebagai SENNURENG atau harapan. Sebagai manusia modern, sennureng harus dianggap sebagai permohonan bantuan kepada Tuhan atau sebagai Doa. Jadi sifatnya TIDAK MUTLAK, kalau Tuhan mengizinkan maka Sennureng ini akan JADI, maka JADILAH. Apabila Tuhan tidak mengizinkan maka TIDAK JADI. Saya sendiri menyatakan bahwa tulisan ini hanya untuk mengetahui tatacara pendahulu kita dalam memperlakukan senjatanya, kalau pada zaman sekarang ini mau di manfaatkan, akan kembali kepada pribadi diri masing masing, mau menggunakannya atau tidak. Bagi yang memahami tatacara Pamussa’ hampir dapat di pastikan bahwa mereka juga memahami PABBUNONA PAMUSSA’E (Penawar Pamussa’). 

Bagian badik atau keris yang di berikan PAMMUSA’ adalah bagian OTING atau ATI yaitu pangkal keris yang di tancapkan pada hulu. Lasimnya Oting ini bentuknya bundar dan jauh lebih kecil dari bilah besi. 

Manfaat Gaukeng ini sangat tergantung pada NIAT, PERLAKUAN dan BENDA yang di gunakan. Apabila niat tidak sesuai dengan benda yang dipakai, maka tidak akan JADI. Begitupula bila perlakuan terhadap benda yang dipakai, tidak sesuai pun tidak akan JADI. Pendahulu kita menggunakan bahan atau benda Pammusa’ dari sekitarnya atau bagian dari tubuhnya. 


A. PAMMUSA’ SALAWUU/SALAFUU 

Salawuu atau Salafuu apabila di artikan ke dalam Bahasa Indonesia secara Harfiah maka akan berarti KABUT. Akan tetapi maksud dari Pammusa’ Salawuu adalah mengaburkan penglihatan orang lain. Sennureng ini biasanya di pakai oleh LAMPA’ (orang yang kerjanya merampok, mencuri, Preman dll) agar tidak terlihat oleh orang yang akan di rampok. Biasanya juga di pakai badik yang di harapkan tidak akan di tangkap oleh petugas keamanan. Jenis Pammusa’ ini menggunakan bahan sebagai berikut: 


1. BULU MATA 
Bulu mata sebelah kanan di cabut satu atau dua lembar. Kemudian di taruh di lubang hulu atau di lilitkan di oting keris, setelah itu di berikan perekat atau lem lalu di pasang. Kenapa bulu mata????, menurut pengetahuan orang dulu bahwa tidak seorang pun bisa melihat bulu matanya pada bulu mata sangat dekat dengan indera penglihatan yaitu mata. Begitu pula orang lain, tidak melihat bulu mata kita kecuali di perhatikan atau di tatap dengan khusus, tentu bukan bulu mata palsu yang banyak di gunakan gadis gadis sekarang ini, walaupun jaraknya lima meter tetap akan kelihatan. Niat yang dibaca adalah UNIAKENGNGI MALA PASSALAWUU dan seterusnya. 

2. SALO TEMMETTI’ atau PALLAWANGENG 
Salo Temmetti’ atau Pallawangeng adalah bagian bibir yang berada antara ujung bibir dengan hidung yang letaknya di antara dua lobang hidung. Jarak tersebut di ukur menggunakan lidi (tulang daun kelapa), kemudian di lipat 3 (tiga) kali. Bagian pangkal di buang ke kanan dan bagian ujung di buang ke kiri tubuh. Bagian tengah di ambil dan di taruh pada lubang hulu keris. Lalu di baca niat UNIAKENGNGI MALA PASSALAWUU dan seterusnya, kemudian oting di berikan perekat lalu di pasang. 

Sebagian besar ahli senjata tradisional BUGIS menyarankan senjata yang diperlakukan dengan Pammusa’ ini sebaiknya jangan di simpan di rumah, lebih baik di simpan di tempat yang agak jauh dari rumah. Apabila keris tersbut mau di gunakan, barulah di ambil. 


B. PAMMUSA’ MURAH REZEKI 

Seperti yang di jelaskan sebelumnya bahwa sebagian pendahulu kita tidak membuat senjata untuk berkelahi atau berperang akan tetapi di gunakan sebagai JIMAT atau SIMA’ yang tidak di bawa kemana mana, dan di simpan di rumah saja. Bahan di gunakan sebagai Pamussa’ jenis ini adalah sebagai berikut: 

1. PALLACA’ LAWASOJI 
Lawasoji adalah pembata atau dinding yang terbuat dari bilah bamboo, biasanya di gunakan pada saat ada acara adat atau pengantin. Akan tetapi yang di gunakan sebagai Pamussa’ adalah Lawasoji yang bentuknya seperti kota tanpa penutup yang di gunakan sebagai tempat barang bawaan pengantin ketika akan pesta perkawinan atau Lawasoji tempat sesajen yang di simpan dalam lumbung padi (RAKKEANG). Lawasoji ini bentuknya kecil, paling besar berukuran 1 x 2 meter. Biasanya isi Lawasoji ini berupa Inang padi, kelapa, tebu, pisang, nangka, beras dan ayam yang kesemuanya adalah symbol makanan pokok dan bahan makanan yang enak enak. Semua Lawasoji memiliki PALLACA’ yaitu bambu yang menjadi penghubung atau perekat antara sisa satu dengan sisi yang lainnya. Kalau bukan pakai Pallaca’ berarti menggunakan rautan rotan (PASSIO) yang mengikat sisi sisi Lawasoji. Pallaca’ atau Passio ini sama saja, salah satunya bisa di gunakan sebagai Pammusa’. Sedikit dari pallaca’ atau passio ini di ambil, lalu di masukkan ke lubang hulu keris dan di bacakan niat “ UNIAKENGNGI MALA PAPPASEMPO DALLE dan seterusnya”. Lalu di berikan lem dan oting dimasukkan ke dalam lubang hulu. 

2. CAPPA’ KANUKU dan CAPPA’ WELUA 
Ujung kuku dan ujung rambut. Ujung kuku yang di ambil adalah kuku jari manis sebelah kiri, jari yang sering dipakaikan cincin. Dan beberapa helai ujung rambut di potong, dan keduanya dimasukkan dalam lubang hulu, lalu niat yang di baca “UNIAKENGNGI MALA PAPASEMPO DALLE dan seterusnya”. Menurut pengetahuan orang dulu, kuku dan rambut tidak akan pernah berhenti bertambah panjang sampai ajal tiba. 


C. PAMMUSA’ SANGI (PASSIGAJANG) 

Jenis ini biasanya di gunakan oleh orang yang suka berkelahi dengan senjata tajam (Passigajang) dan di kuatirkan lawan kebal senjata atau pemilik senjata tidak bisa menakar (ragu ragu) terhadap kekuatan lawannya. Bahan yang digunakan adalah nasi yang tidak sempat di makan dan jatuh dari piring secara tidak disengaja. Nasi tersebut di lekatkan di telapak kaki, kemudian di hancurkan dengan cara di pencet melebar. Setelah nasi tersebut menyebar rata di telapak kaki lalu oting keris atau badik di asah (sangi) di tepalak kaki yang ada bekas nasi sambit membaca mantera, “SANGADI DE’MUANREI dan seterusnya”. Lalu lubang hulu di berikan perekat/lem dan di tancapkan. Setelah itu mata badik atau keris di arahkan di antara ibu jari kaki dengan jari kaki kedua dan dibacakan mantera,”SANGADI ENGKA BUKUNNA dan seterusnya”. Perlu di pahami kenapa menggunakan butir nasi yang terjatuh, artinya nasi tersebut tidak bermanfaat atau energinya tidak berguna bagi manusia. Kenapa di letakkan pada telapak kaki? Artinya lawan selalu berada di bawah pengaruh kita. Senjata yang di berikan Pammusa’ jenis ini, jangankan di tudukkan kepada lawan, walaupun hanya di lemparkan dari jarak jauh akan melukai lawan yang kebal tersebut. Senjata ini juga disarankan tidak selalu di bawa bepergian kecuali tidak ada jalan lain. 


D. PAMMUSA’ PATTOLA’BALA 

Jenis ini di pakai sebagai Pattola’Bala atau keselamatan dari kesusahan. Urusan lancer tanpa hambatan yang berarti. Bahan yang di gunakan sebagai Pammusa’ adalah CAPPA BAKKAWENG (ujung atap). Atap yang di maksud adalah atap nipah atau atap sagu atau atap daun kelapa. Tentu bukan atap seng atau atap genteng. Tentu semua mengerti kegunaan atap pada sebuah rumah. Atap rumah melindungi dari panas matahari dan dinginnya air hujan. Bahkan selain dinding rumah, atap juga bermanfaat sebagai pelindung dari benda benda yang jatuh dari angkasa. Ujung atap tersebut di ambil kemudian di masukkan ke dalam lubang hulu lalu di niatkan, “UNIAKENGGI MALA dan seterusnya”. Kemudian lubang di berikan perekat atau lem dan oting di tancapkan. 


E. PAMMUSA’ PATTAFO DARAH 

Pattafo adalah istilah Bugis lain dari PATTEPPO. Pattafo darah arti harfiahnya membendung darah atau menghambat darah untuk keluar. Apabila terjadi perkelahian dengan senjata, tidak mesti kebal untuk tidak mengalirkan darah. Pada intinya, pendahulu kita mengharapkan darahnya tidak tumpah ketika berkelahi dengan senjata. Bahan yang digunakan untuk pamussa ini adalah kuku atau rambut. Akan tetapi mantera atau niat yang dibacakan tidak sama dengan pammusa’ pesempo dale. Rambut dan kuku di masukkan pada lubang hulu keris kemudian di bacakan mantera dan seterusnya”. 


F. PAMMUSA’ NYAMENG ININNAWA. 

Pammusa’ jenis ini termasuk untuk keselamatan karena kegunaannya agar semua orang merasa senang atau merasa nyaman apabila berhadapan dengan kita, bahkan pammusa’ ini bisa meredam amarah bagi orang yang sedang bertengkar. Pammusa’ ini justru tidak menggunakan bahan apapun. Kecuali menggunakan pernapasan dan PARENGNGERANG (Jawa = eling). Pada saat senjata akan di pasang pada hulunya, pernapasan di atur dengan baik dan pelan tidak terburu buru. Semua perasaan susah di buang jauh jauh, semua kesusahan hidup di lupakan. Yang ada hanya perasaan tenang, bahagia dan gembira. Ingatan kembali pada masa balita atau bayi di mana semua orang senang dan gemas. Lalu tarikan napas yang pelan di rendahkan lagi seakan menghadap TUHAN, MADDARARING. Pada saat terasa embun pagi menyentuh ubun ubun, angin sepoi lembut menyelemuti badan, cahaya rembulan yang berwarna kebiruan menerpa wajah. Secara perlahan, badan yang sedang duduk bersila dengan kedua tangan berdoa, naik ke angkasa, semakin lama bumi kelihatan semakin kecil, pada akhirnya berhenti di depan cahaya terang benderang tapi sejuk tidak menyilaukan. (Maafkan saya, tidak bermaksud menggunakan bahasa kotor), pada saat itu tanpa ereksi dan terangsang, keluarlah cairan kenikmatan bagi orang dewasa. Ketika berada pada perasaan tersebut, senjata tajam di pasangkan pada hulunya dengan di iringi dengan membaca niat dan mantera. Pammusa’ jenis ini sangat mengandalkan PARENGNGERANG (Ingatan = Eling). Yang mana di maksud Parengngerang itu?. Coba simak analog berikut: 

Pada saat anak anak bermain dan bergembira berlebihan tidak mengenal waktu, terkadang orang tuanya mengatakan,” E KALAKI’, AJA’MU MABO’ ARENGNGERANGKO”. Artinya, HAI ANAKKU SEMUA, JANGAN BERLEBIHAN, INGATLAH/SADARLAH. Maksud dari perkataan ini adalah Ingatlah Tuhanmu. 

Akan panjang ceritanya ketika kita bertanya bahwa sesuatu yang akan di ingat adalah sesuatu yang pernah di lihat, pernah di rasakan, atau pernah bertemu. Lalu apa dan siapa yang ingat???? Apa dan Siapa yang pernah di lihat, pernah di rasakan dan pernah bertemu tersebut???? Tentu butuh perjalanan jauh untuk hal ini. 

Sebenarnya banyak sekali pammusa’ dan panetta’ yang di gunakan para pendahulu kita. Pada intinya semua adalah SENNU-SENNURENG , yaitu harapan dan doa. Semua kembali kepada Yang Maha Menentukan. Hanya Pencipta Yang Maha Hebat. Kehebatan Sang Pencipta akan terlihat pada kehebatan Ciptaan-Nya. Ciptaan Tuhan berjenis jenis, hanya manusia jenis ciptaan yang paling ISTIMEWA. Akan tetapi keistimewaan manusia bisa berubah setiap saat. Hari ini istimewa, mungkin besok menjadi hina. Bisa jadi besoknya lagi kembali istimewa. Tidak ada ciptaan Tuhan yang sia sia, tidak ada yang tidak bermakna. Serapuhnya kayu, selemahnya jerami bisa juga mendidihkan air. Jangan anggap remeh semua ciptaan Tuhan. Semua karya Tuhan adalah Istimewa. Keistimewaan ciptaan tidak akan menyamai keistimewaan Penciptanya. Oleh karena itu, manusia harus menjaga keistimewaannya, dan menjaga keistimewaan ciptaan Tuhan lainnya. Manusia yang menganggap ciptaan Tuhan lebih istimewa dari dirinya, berarti dia kurang yakin akan keistimewaannya. Yakinkah anda bahwa anda adalah ISTIMEWA???? 









Sumber: Latulu Kalula
Penulis : Admin

Sunday, 10 May 2020

DUA TEMMASARANG TELLU TEMMALLAISENG



Jangan pernah mengaku keturunan atau wija bugis jika tidak mengenal kata-kata petuah-petuah berbahasa bugis yang pernah dituturkan leluhur kita, minimal pernah mendengar kalaupun tidak paham maknanya, apalagi kalau sampai tidak mampu menuturkan bahasa bugis. Tapi fakta kadang berbicara lain, banyak saya temui pemuda-pemudi jaman sekarang mengaku keturunan bugis, tapi bahasa bugis saja tidak paham, apalagi makna dari kata bugis itu sendiri. ketakutan saya 20 tahun kedepan generasi penerus sudah lebih memahami budaya luar dari pada budaya bugis, bahkan sudah tidak mampu lagi menuturkan bahasa bugis.
Karena saya adalah pemuda yang tumbuh dilingkungan bugis, jadi dari kecil saya sedikit banyak sering mendengar kata-kata bijak atau tetuah leluhur bugis, misalnya saja “mali siparappe, rebba sipatokkong, malilung sipakainge. Resopa temmangingngi malomo naletei pammase dewata. Duami kuala sappo unganna kanukue belona panasae, Yili’ka buaja patompang aje tedong kusala rimajeng. Siapakatau, sipakalebbi, sipakainge.” tak jarang juga kata-kata bijak berbahasa bugis yang memiliki makna spiritual tinggi, misalnya saja kalimat “dua temmassarang ritellue temmallaiseng, jenne telluka sempajang teppettu. Jenne’ telluka Sempajang Teppettu.
Saya tidak akan membedah satu per satu kalimat petua bugis yang saya tuliskan pada paragraph sebelumnya. Tapi saya hanya akan menguraikan sedikit makna tentang kalimat dua temmassarnga ritellue tengmmallaiseng sesuai dengan kada pengetahuan saya. ketertarikan saya dalam mengulas kalimat tersebut berawal disaat setelah saya mendengar lantunan ceramah Ust. Tommy Thompson yang bertema Tasawwuf Bugis. kalimat ”Dua temmassarang ritellue temmalaiseng”sepadan dengan kalimat “Dua yang tak terpisahkan didalam tiga yang saling bekesinambungan” dalam bahasa Indonesia.
kata tersebut memiliki makna yang sangat dalam dan bisa menghasilkan beragam penafsiran, dan penafsiran yang coba saya sampaikan berhubungan konsep spiritual yang bersifat sufistik. berangkat dari ceramah ust. Tommy Thompson bahwa yang dimaksud dari kata “dua Temmassarang” (dua yang tak terpisahkan) ini adalah antara Tuhan dengan Hamba, dia berbeda tapi tidak terpisahkan dan tidak mungkin terpisahkan. logika sederhananya begini, kira-kira ketika tidak ada Hamba siapa yang bertindak sebagai Tuhan? sebagaimana yang kita pahami bahwa Tuhan menicayakan Hamba, dan begitupun sebaliknya ketika tidak ada tuhan apakah hamba masih bisa dikatakan sebagai hamba? dari pernyataan sebelumnya, bisa disimpulkan bahwa Hamba adalah bagian dari tuhan, namun hamba bukanlah tuhan.
kalimat selanjutnya “tellu temmallaiseng” yang berarti tiga saling berkesinambungan atau berkaitan, dimana ketika sala satunya mengalami patahan, maka yang lainpun akan bermasalah. makna yang dapat saya tangkap dari ceramah tersebut yang dimaksud dengan tiga saling berkaitan ini adalah, antara kata hati, perbuatan, dan ucapan. ketika kata hati selaras dengan ucapan, maka begitupun dengan tindakan seseorang. ketika dipadukan dengan makna sebelumnya artinya perbuatan kita sebenarnya itu adalah perbuatan tuhan karena antara hamba yang bertindak dengan tuhan tidak terpisahkan. konsep ini sudah dijelaskan oleh Ibn Arabi antara tahun 560-638 H yang kemudian sampai saat ini dikenal dengan konsep Wahdat Al-Wujud. dan ternyata disisi lain konsep ini telah mengakar dalam jiwa setiap orang bugis sejak Islam menjadi keyakinan orang bugis.
Konsep dasar Wahdat Al-Wujud merupakan “suatu ajaran yang melihat masalah wujud dalam hal ini Tuhan, alam dan manusia sebagai suatu kesatuan. Namun berada pada dimensinya masing-masing, dan Tuhan meliputi segala yang ada. Sehingga yang ada bersifat nisbi; merupakan ada yang diadakan tidak lain dari yang mengadakannya. Sebab apa yang ada merupakan penampakan bagi diri-Nya, dan segala yang ada bersumber dari-Nya serta Dia pulalah yang menjadi esensinya. Namun itu tidak berarti yang diadakan dan yang terbatas menjadi Yang Tak Terbatas. Tidak berarti alam semesta dan manusia menjelma menjadi Tuhan dan Tuhan menjadi manusia. Antara Tuhan, alam semesta dan manusia sekalipun dikatakan berbeda dalam satu keberadaan atau wahdatu al wujud namun alam semesta dan manusia nisbi dan terbatas. Keberadaannya bergantung pada Yang Tak Terbatas. Sedang Tuhan yang tidak terbatas ada di luar relasi, bukan yang ada dalam pengertian dan perasaan. Tuhan adalah independen atau mandiri dari semua makhluk-Nya. Ada-Nya bukan dari luar diri-Nya dan bukan pula karena selain diri-Nya. Akan tetapi ada karena diri-Nya dan oleh diri-Nya sendiri. Ia meliputi semua yang diciptakanNya. Hubungan dengan segala yang dicipytakanNya. Dia membutuhkan mereka dalam kaitannya dengan ketuhananNya. Sebab tanpa makhluk ciptaanNya Dia tidak dikenal sebagai Tuhan; yaitu objek pujaan (ilah) sampai maluh (komplemen logis dari ilah) diketahui. Maka Ibnu Arabi melihat realitas alam dan manusia tidak lain dari tajalli ilahi sekaligus sebagai cermin untuk melihat diriNya yang Maha Sempurna. Demikian pula sebagai pengenalan akan keberadaanNya. Hal yang demikian ini pulalah yang menjadi tujuan dari penciptaan-Nya.”
Begitu dalam sebenarnya makna dari kata “Dua Temmassarang ritellue Temmallaiseng” Cuma terkadang kita tidak tertarik untuk mengkaji kearifan dari leluhur kita. saya baru menyadari kalau ternyata leluhur kita telah mengenal konsep Wahdat Al-Wujud jauh sebelum buku-buku dari timur dengah berdatangan ke negeri ini hanya untuk menjelaskan konsep tersebut, yang ternyata orang bugis juga telah memahami hal tersebut. saya merasa sangat menyesal ketika baru menyadari bahwa kearifan kita menyimpan begitu banyak nilai yang bisa dikaji kemudian diamalkan. ini baru satu kalimat yang saya kemukakan, dan bisa jadi teori-teori lain dari luar yang selama ini kita berusaha pelajari dan pahami ternyata tersimpan rapat dimulut para penutur bugis. Wallahu alam.




Penulis : Admin

Wednesday, 6 May 2020

CERITA RAKYAT MEONGMPALO KARELLAE, MADDOJA BINE, DAN HARMONISASI LINGKUNGAN



Meonglalo Karellae adalah tokoh protagonis dalam epos “Meong Mpalo”. Ia dideskripsikan sebagai seekor kucing yang setia mengikuti tuannya We Oddang Riu, putri Batara Guru, dalam petualangannya sejak turun ke bumi (Pertiwi). Meski digambarkan sebagai seekor kucing, namun Meonglalo Karellae bukanlah seekor kucing biasa. Ia adalah kucing jelmaan dari ibu susuan (Inannyumparenna) We Oddang Riu, jadi ia memang “pengasuh” sang putri We Oddang Riu.
Nama We Oddang Riu memang hanya dikenal pada epos La Galigo, tetapi dalam petualangannya di epos lain yang masih merupakan bagian dari cerita I La Galigo, yaitu serat (pau-paunna) “Meonglalo Karellae” We Oddang Riu telah menggunakan nama lain, yaitu “Sangiasseri” (dikenal sebagai Dewi Padi). Dalam versi lain ada pula diceritrakan bahwa setelah putri We Oddang Riu meninggal dunia dan dikuburkan di bumi maka di atas kuburannya tumbuh dua jenis tumbuhan yang berbeda. Yang satu berdaun lebat dengan tangkai dan bulir-bulir buah yang kuning dan indah bergoyang-goyang diterpa angin yang kelak dinamai padi, dan yang lain tumbuh subur dengan daun yang menari-nari diterpa angin tetapi tidak memiliki buah yang kelak dikenal sebagai rumput ilalang. Karena itulah ada ungkapan mengatakan “padi ditanam tumbuh ilalang” karena memang keduanya merupakan tanaman kembar tapi masing-masing memiliki karakter yang berbeda dan memberi manfaat yang berbeda pula bagi manusia.

Sangiasseri dan Meong Mpalo

Nama Sangiasseri (dalam cerita melayu dikenal pula mitologi Sang Hyang Sri, apakah ada hubungannya ?) kemudian lebih dikenal sebagai dewi padi dalam mitos “Meonglalo Karellae”. Pada mitos itu diceritrakan pengembaraan Sangiasseri bersama “joa” nya (pengikutnya) turun ke bumi, ke negeri-negeri Bugis untuk mencari “ade’ pangngampe madecengge” (tatanan kehidupan dan prilaku yang baik).
Ayahanda We Oddang Riu (Sangiasseri) yaitu Batara Guru adalah putra tertua dari To Patoto (Sang Pengatur Takdir), yang digelari pula sebagai To Palanroe (Sang Pencipta). Ia digambarkan sebagai mahadewa yang berkuasa di Boting Langi. Bersama Datu Palinge (Wanita Sang Pencipta) mereka diutus turun ke Pertiwi (bumi) setelah para pemangku kekuasaan yang lain (para keluarga besar mahadewa) di Boting Langi (langit) melakukan musyawarah. Batara Guru bersama Datu Palinge diutus ke Pertiwi (bumi) untuk menegakkan “tiang bumi” yang ketika itu masih kacau balau, sehingga dapat didiami oleh manusia kelak.
Tapi dengan alasan bahwa Batara Guru sebagai sebagai pencipta tidak boleh tinggal di bumi, maka misi suci ini kemudian dijalankan oleh  kakak lelaki kembar ibunya –mahadewa dari dunia bawah—bernama Guru ri Sa’lang dan istrinya dari saudari kembar Patotoe yang bernama Sinau Toja (dinaungi oleh air) dan anak perempuan mereka yang bernama We Nyili Timo To Ompoe Ri Busa Empong (yaitu orang yang muncul dari buih gelombang). Merekalah yang dikirim ke bumi untuk menciptakan kedamaian sehingga bumi dapat menjadi tempat tinggal yang aman bagi para manusia.
Adapun Batara Guru dengan pengiringnya memang kemudian turun pula ke bumi tapi melalui jembatan pelangi yang menghubungkan langit dengan serumpun bambu. Sedang We Nyili Timo dengan rombongannya muncul dari buih-buih ombak di lautan. Kedua tim ini memang sempat bertemu di bumi dan tempat pertemuan mereka disinyalir di seputar daerah Luwu yang pada waktu itu dinamai Wara’. Dari sinilah peradaban menyebar selanjutnya ke seluruh Sulawesi, dan bahkan keluar negeri, (Tafsir Morris,2007:5-7).
Pada episode lain pertemuan ini diceritakan bahwa pada suatu hari Batara Guru termenung dan melepaskan pandangan ke arah matahari terbit. Tiba-tiba dilihatnya di sebelah timur datang sebuah sinar menerangi lautan, laksana bara api memercik-mercik berkilau-kilau di permukaan laut terhampar. Maka berkatalah Manurunge (Batara Guru) pada “joa” nya :
”Apakah itu, wahai We Senriu, wahai We Lele-Ellung, wahai Apputalaga ? Saya melihat ada sinar bagai api menyala-nyala di atas samudera?”
Belum lepas pertanyaan Manurunge, muncullah We Nyili’ Timo di atas air (Busa empong), di elu-elukan oleh cahaya cemerlang laut terhampar. Manurunge terpesona. Dan dengan penuh rasa gembira, Manurunnge pun melihat kedatangan sepupunya, teroleng-oleng di atas lautan, maka bersabdalah Batara Guru :
“Terberangkatilah engkau semua putera-puteri dewata, menerangi, menyonsong kedatangan Datu junjunganmu!”
Pada epos La Galigo diceritakan pertemuan ini sebagai berikut :  

“Maka sekalian anak Datu sama melompat berenang, menyonsong Datu junjungannya. Seolah-olah madu tergenang dalam hati Batara Guru memandang sepupunya, menyuruh angkat naik ke pantai, dan mengundang masuk istana. Pada saat itu, lupalah Batara Guru kehidupan di Botillangi (dunia atas) setelah bergaul dengan sepupunya sebagai suami-isteri. Mereka senantiasa duduk bersanding, menikmati kipasan angin dari kipas emas kemilau. Sesudah tiga bulan lamanya, We Nyili’timo berdiam diatas bumi, ia pun mengidamlah. Tak enak perasaannya, tidak ada barang sesuatu yang dapat diterima oleh perutnya. Pada suatu hari yang cerah, kedua suami-isteri melepaskan pandangan melewati jendela istana. Wenyili’timo pun memandang burung-burung beterbangan. Di antaranya burung-burung itu terlihat seekor yang menerbangkan buah nangka di paruhnya, ada yang menerbangkan pepaya masak dan pisang. We Nyili’timo’ pun menyeru, memanggil burung-burung itu dan berkata :”Bawaan burung-burung itu tak akan memabokkan, karenanya ingin saya memakannya”.

Kelahiran We Oddang Riu

Episode yang menceritrakan We Oddang Riu yang kelak dikenal bernama Sangiasseri itu adalah sebagai berikut:
“Tepat ketika matahari bersemayam di tengah-tengah langit, bayang-bayang tak condong ke barat ataupun ke timur, maka diulurkanlah turun Puang ri Lae-lae yang tinggal di lereng gunung Latimojong, diulur juga I We Ampang Langi’, yang akan menjadi dukun beranak di istana. Sesudah tujuh bulan kandungan We Nyili’timo’, bersalinlah ia seorang puteri, diberinya nama We Oddang-Riu’. Tetapi tujuh hari saja usia puteri itu, terseranglah ia penyakit perut yang menyebabkan kematiannya. Maka dicarinya hutan untuk tempat menyimpannya, tempat yang akan dijadikan kuburannya. Setelah tiga malam meninggalnya We Oddang Riu’, datanglah kerinduan dalam hati Manurunnge kepada almarhumah puterinya. Ia pun keluar menuju kuburan puteri tercinta. Tetapi apa yang dijumpainya hanyalah padi menguning. Itulah Sangiangserri. Ada yang putih, ada yang hitam, ada yang merah memenuhi padang, meliputi daratan, memenuhi parit-parit. Maka dibawanya Sangiangseri itu pulang ke istananya.
Maka berkatalah To PalanroE (Lapatotoe) di Botillangi’ kepada puteranya : ”Hai anakku itulah puterimu yang menjelma menjadi sangiangseri”. Tetapi janganlah engkau memakannya dulu. Nantilah setelah lewat beberapa tahun, setelah engkau telah melupakannya, barulah engkau memakannya. Sebelumnya makanlah jagung”. (Mattulada;1985:395-396).
Tatkala Sangiangseri (Dewi Padi) yang merupakan jelmaan putri We Oddang Riu ini merasa tidak lagi dihargai oleh orang-orang Luwu, ia tidak lagi di tempatkan pada singgasananya, penduduk tidak lagi mematuhi petuah dan pantangan dan larangan-larangannya, ia pun dimakan tikus pada malam hari, di totok ayam pada siang hari, dan Meongmpalo Karellae yang mengawalnya mendapat disiksaan pula oleh manusia. Maka Sangiasseri pun sepakat dengan Meongmpalo Karellae dan pengawal-pengawalnya yang lain untuk pergi mengembara (Sompe) ke negeri-negeri Bugis lainnya. Mereka bersama rombongan meninggalkan Luwu.
Diceritrakan dalam epos “Meongmpalo Karellae” bahwa dalam pengembaraan itu, mula-mula Sangiangseri dan rombongan tiba di Enrekang, lalu terdampar di Maiwa (Duri), kemudian berturut-turut ke Soppeng, Langkemme, terus ke Kessi, Watu, Lisu, sampai akhirnya tiba di Barru. Perjalanan panjang dari Enrekang sampai ke Lisu ini, penuh dengan tantangan dan penderitaan, sikap dan perlakuan orang-orang yang tidak senonoh. Sang pengawal Meongmpalo Karellae disiksa habis-habisan, mereka kelaparan, kehausan, dan kepanasan menimpanya pada siang hari, dan kedinginan pada malam hari. Diceritrakan di awal epos “Meongmpalo Karellae” sebagai berikut:

“Passaleng pannesaengngi iyanae galigona Meongmpalo karellae/rampe-rampenna cokie/iyanaro napoada/Meongpalo makerek e/iya monrokku ri Tempe/mabbanuaku ri Wage/mauni balanak kuanre/mau bete kulariang/tengngina ku ripassia./Sabbaraki na malabo/puangku punna bolae./Natunaimana langi/nateaiya dewata/manai ri rua lette/ri awa peretiwi/kuripaenre ri Soppeng/ku tatteppa ri Bulu/kutatteppa ri Lamuru/pole pasa e puangku/napoleang ceppe-ceppe/kuwalluruna sitta e//dappinna ro battowae/napppekka tonrong bangkung/puangku punna bolae/sala mareppak ulukku/sala tattere coccokku/sala tappessik matakku/mallala majasuloku/kulari tapposo-poso/kulettu’na ri Enrekang/takkadapi ri Maiya/ukutikna dekke nanre/kugareppu buku bale/kurirempek si sakkaleng/kulari mua maccekkeng/ri papenna dapureng ede/napeppek sika pabberung/ puakku tomannasue/urek-urek marennikku/ sining lappa-lappku./Upabbalobo manenni/ jenne uwae matakku/ulari mangessu-essu/makkipeddikengngi ulukku./Kularisi makkacuruk riyawa dapureng ede/narorosika ro aju/puakku to mannasue/kumabuang ri tanae/napatitisikka asu/marukka wampang tauwe/orowane makkunrai./Kularina maccekkeng/ri lebok palungeng ede/napeppesika ronnang alu/puakku pannampu ede//”

Tetapi ketika rombongan pengembara ini sudah tiba di Barru, mereka menemukan sesuatu yang lain, sesuatu “panggadereng” (Ade Panggampe). Sangiangserri (Sanghyangsri) dan rombongannya mendapat sambutan yang hangat, dijamu sebagai tamu dan dapat beristirahat dengan enak di Rakkiyang (tempat penyimpnan padi pada bagian atas rumah Bugis). Sifat ramah-tamah msyarakat Barru, keadilan dan kebijaksanaan penguasanya ketika itu, membuat Sangiangserri dan rombongannya menjadi betah tinggal di Barru.
Diceritrakan pada bagian lain epos “Meong Mpalo Karellae” sebagai berikut :

“/Mappenedding maneng mua/urek-urek marajana/Datunna Sangiasseri/nadapina pekka laleng/mattuju lao ri Berru/nasessu sompa makkeda/sining ase maegae/pegana puang mattuju/iyaga puang riola/mattuju ede ri Berru/Mabbali ada makkeda/Datunna Sangiasseri/ia madeceng rioloa/mattuju ede ri Berru/naiyana taleppangi/bolana pabbicarae/jennangiengngi ri Berru/bara iya kionroi/namamase peretiwi/rianrini talolongeng/situju nawa-nawae/sabbara mappesonae/musu’i nappesunna/makka i sai samona.”

Di Barru Sangiasseri telah menemukan apa yang dicarinya, yaitu “Ade Panggampe”. Sayang sekali Sangiangseri sudah terlalu letih, lelah, dan sedih mengingat suka duka perjalanannya, dan sifat-sifat anak manusia yang ditemuinya, sehingga ia bertekad untuk meninggalkan bumi, untuk “moksa” kembali ke langit menyusul kedua orang tuanya yang ketika itu sudah kembali bertahta di Boting Langi (Kerajaan Langit).
Tetapi daulat langit tak mengizinkan Sangiasseri tinggal di sana. Kedua orang tuanya menolak Sangiasseri bersama rombongannya untuk tinggal di Boting Langi karena mereka sudah ditakdirkan untuk tinggal di bumi (pertiwi) untuk memberi kehidupan kepada umat manusia. Mereka pun terpaksa kembali ke bumi dan bumi yang ditujunya sebagai tempat bermukim adalah bumi Barru.
Diceritrakan tujuh hari tujuh malam sesudah Sangiangseri tiba di Barru, barulah ia memberikan petunjuk-petunjuk, petuah-petuah, nasehat-nasehat, serta pantangan-pantangan, khususnya yang berhubungan dengan norma-norma kehidupan bagi masyarakat Bugis dan masalah-masalah bercocok tanam. Tatanan itu dalam masyarakat Bugis diwujudkan dalam berbagai ritual seperti upacara ritual Mappalili, upacara ritual Maddoja Bine, dan upacara ritual Mappadendang sebagai rangkaian upacara “turun sawah”.

Prosesi Maddoja Bine

Di atas sudah disebutkan bahwa “Meongmpalo Karellae” sebagai penjaga Sangiasseri (Dewi Padi) maka sudah pastilah epos “Meongmpalo Karellae” memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Bugis. Ia menjadi “kitab yang disucikan”. Karena itu berdasarkan kepercayaan masyarakat Bugis membaca epos ini tidak boleh dilakukan di sembarang tempat. Nilai-nilai “mitis” yang bersumber dari epos La Galigo yang diyakini oleh masyarakat Bugis dahulu sebagai sejarah asal-usul manusia Bugis, menjadikannya sebagai “kitab suci” yang dibaca pada tiap upacara ritual “Mappalili”, “Maddoja Bine” dan “Mappadendang”. Pembacanya pun bukanlah orang-orang sembarangan, tetap dilakukan oleh para “Bissu” (laki-laki transvertites yang dianggap sebagai pendeta agama Bugis) atau orang-orang tertentu yang memang mahir dalam pembacaan “Meongmpalo” yang disebut “Passure”.
Budayawan Andi Ahmad Saransi mengatakan “Galigo Meong Mpalo KarellaE yang sampai saat ini masih kental di hormati warga dalam kegiatan Maddoja Bine (Begadang Beni-red) di mana dalam kegiatan ini adalah suatu kegiatan warga dalam menyiapkan penyemaian benih padi. Semalam atau bahkan tiga malam suntuk masyarakat melakukan kegiatan Maddoja Bine atau menunggu Bibit Benih Padi yang akan di semai.”
Dalam Maddoja Bine ini, kata Ahmad Saransi, warga begadang sambil membaca epos atau kisah Meong Mpalo KarellaE. Yang mana Meong Mpalo KarellaE ini di yakini merupakan penjelmaan Sangiasseri yang menjaga benih padi agar tetap baik saat diperam di rumah, maupun setelah disebar di sawah nantinya.”
Upacara ritual Maddoja Bine dilakukan dengan dengan serangkaian kegiatan yang dimulai ketika sawah sudah siap ditanami. Benih padi dimasukkan ke dalam wadah yang disebut “Baka” (Semacam tas dari anyaman daun bambu”. Setelah itu direndam di sungai atau di telaga-telaga kecil yang berair. Setelah benih direndam benih-benih dalam wadahnya itu diperam di atas rumah mengelilingi tiang tengah rumah. Benih-benih itu ditumpuk menggunung dan dibungkus dengan karung atau terpal atas pembungkus lainnya. Pemeraman ini dilakukan hingga tiga hari saat diperkirakan benih tersebut sudah pecah dan tunas-tunas mudanya sudah mulai muncul.
Selama pemeraman inilah upacara ritual “maddoja bine” dilakukan. Rangkaian upacara ritual itu dimulai dengan “ma’barazanji” pada awal malam, biasanya lepas shalat Magrib. Seterusnya, setelah acara “Ma’barazanji” selesai dan para tamu sebagian sudah pulang dan sebagian lagi yang ingin mengikuti ritual berikutnya, yaitu pembacaan “Meong Mpalo Karellae” masih boleh tinggal “begadang” hingga tengah malam. Karena itulah acara ini disebut “Maddoja Bine”. Maddoja artinya begadang dan Bine artinya benih padi. Jadi “Maddoja Beni” secara harafiah sesungguhnya berarti “Begadang menunggu benih padi”.
Pembacaan epos “Meong Palo Karellae” dilantunkan oleh “Passure” setelah lepas Isya hingga tengah malam. Alunan-alunan nada dalam massure ini demikian sakral sehingga orang-orang yang mendungarkannya ikut hanyut dalam kisah Meong Mpalo yang menyedihkan itu. Tak sedikit pendengar yang sampai meneteskan air mata mendengarkan perlakuan kejam manusia terhadap Meongmpalo Karellae yang diyakini sebagai penjaga Sangiasseri itu.

Makna Harmonisasi

Makna penting epos “Meongmpalo Karellae” (sering juga disebut Meongpalo Bolongnge) memang tidak hanya pada kisat tragedi yang dialami oleh protagonis Meongmpalo Karellae, tapi juga terutama harmonisasi kehidupan. Di Sulawesi Selatan, kata Prof. Dr. Nurhayati Rahman, M.Hum, tatanan kehidupan manusia telah diaturdalam berbagai peninggalan nenek moyang mereka baik yang tertulis maupun lisan. Salah satu di antaranya adalah naskah Meongpalo Bolongnge (=Meongmpalo Karellae-BA).” Selanjutnya Nurhayati Rahman mengatakan :
Naskah Meongmpalo Bolongnge menggambarkan seluruh komponen alam, baik tumbuh-tumbuhan, binatang, hujan, guntur, kilat, angin, pelangi, langit, bumi, laut dan sebagainya mempunyai kehidupan yang setara dengan mahluk-mahluk yang lain. Mereka juga mempunyai perasaan, pikiran, naluri dan kebebasan untuk berekspresi, melawan ketika diperlakukan tidak adil, tak ubahnya dengan apa yang dimiliki manusia. Itulah sebabnya sehingga tokoh-tokoh yang ada dalam naskah Meong Mpalo Bolongnge ini pada umumnya diperankan oleh alam itu sendiri namun mempunyai karakter atau perwatakan tak ubahnya dengan manusia.” (Nurhayati Rahman, 2012).
Memang tidak sedikit makna yang dapat dipetik dari epos “Meongmpalo Karellae” yang dapat menjadi tuntunan dalam kehidupan nyata masyarakat, khususnya pada masyarakat Bugis. Harmonisasi kehidupan dengan alam, sesama manusia dan dengan Sang Pencipta dituturkan secara tersirat maupun tersurat. Apalagi dengan menyakini bahwa “Meongmpalo Karellae” bukanlah bukanlah sebuah kisah narasi atau fiksi biasa yang disusun oleh seorang pujangga, melainkan sebuah kitab “kanon” (kitab yang berisi ajaran-ajaran adiluhung), sehingga penulisnya pun hiangga saat ini masih anonim atau belum diketahui. Apakah I Lagaligo dan Meongmpalo Karellae awalnya disusun oleh seorang dewa, entahlah.
Yang pasti bahwa masyarakat Bugis zaman dahulu sangat memercayai bahwa “Meongmpalo Karellae” adalah sebuah cerita yang mengandung kisah-kisah sakral, karena itu Meongmpalo Karellae menjadi bacaan sakral yang hanya boleh dibacakan saat-saat upacara ritual seperti Mappassili, Maddoja Bine dan Mappadendang.

Upacara-upacara ritual itu, oleh masyarakat Bugis terus dipertahankan secara turun temurun dari abad ke abad hingga memasuki abad ke 21 (Tahun 2000-an) di mana teknologi sudah berkembang pesat di berbagai bidang, termasuk di bidang pertanian, yang kelak mengusir paham-paham animisme dan dinamisme ke luar dari jagat pikiran kita. Sains dan teknologi menjadi kepercayaan baru bagi masyarakat milineal, sehingga sistem sistem dan tatacara kehidupan selalu berlandaskan pada pemikiran modern berbasis sains dan teknologi (tepat guna). Di bidang pertanian, pengembangan intensifikasi untuk peningkatan kualitas, pemanfaatan pupuk, insektisida, dan cara-cara pengolahan lahan yang efektif dan efisien diyakini dapat meningkatkan produktivitas.
Kendati demikian paham-paham yang telah ditanamkan oleh “Lagaligo” tetap menjadi bagian dari tatanan kehidupan masyarakat Bugis, yang sebagian masih mempertahankannya sebagai kekayaan budaya masa lalu yang mesti revitalisasi dan dilestarikan.

Daftar Bacaan
http://sulawesiekspress.com/2018/11/09/andi-ahmad-saransi-festival-budaya-dan-seminar-internasional-iii-kekayaan-budaya-sulawesi-selatan/
Mattulada.1995. Latoa, Hasanuddin University Press, Makassar.
Morris D.F Van Braam, 2007. Kerajaan Luwu, toACCAe, Makassar.
M. Tang.2007. Kongres Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Selatan I Tahun 2007, Panitia Penyelenggara, Makassar.
Rahman, N. 1990. Episode Meong Palo Bolonge Dalam La Galigo (Satu Kajian Filologi Sastra Bugis
Rahman, Nurhayati. 2012. Suara-Suara dalam Lokalitas, La Galigo Press, Makassar.
Rahim.Rahman.1985. Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis, LEPHAS, Makassar. Klasik), Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung
Salim, Drs. Muh. 1980. Pau-Paunna Meongpalo, Bahan Penataran Guru Bahasa Daerah, Makassar.



Sumber : badaruddinamir.wordpress.com
Penulis : Admin

Sunday, 26 April 2020

6 Falsafah Hidup Masyarakat Bugis yang Bisa Ditiru



Suku Bugis merupakan salah satu suku tertua yang ada di Indonesia. Suku ini mendiami sebagian besar wilayah daratan di Sulawesi Selatan. 
Dalam kesehariannya, masyarakat Bugis dikenal menganut banyak prinsip dan nilai-nilai kehidupan yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya serta kultur Bugis penuh dengan nuansa religi, hikmah, etika dan estetika, perasaan dan kejujuran yang dihajatkan kepada Tuhan.
Selain itu, kearifan lokal kelompok masyarakat Bugis juga mengandung pelajaran tentang kejatuhan dan kebangkitan, serta percaya pada takdir dan perubahan nasib.
Nah, Web Pallapi Arona Ogi'e (PAO) merangkum 6 falsafah hidup masyarakat Bugis yang bisa kamu jadikan sebagai pelajaran berharga dalam menjalani kehidupanmu.

1. Ininnawa

Secara harfiah, ininnawa berasal dari kata nawa atau nawa-nawa yang berarti sebuah perencanaan yang masih relatif, entah itu baik atau buruk. Jika itu baik, maka disebut ininnawa. 
Makna dari konsep ini adalah mengajak kita untuk melakukan sesuatu sesuai dengan nalar dan kata hati yang tentu saja memiliki niat yang luhur. Bukankah hati tidak pernah berbohong?

2. Sitinaja

Dalam budaya masyarakat Bugis, dikenal juga istilah sitinaja yang artinya kepatutan. Dalam konsep sitinaja, kepatutan ini berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan porsinya.
Konsep sitinaja dalam suku Bugis membuat masyarakatnya harus mampu menempatkan dirinya sesuai kedudukan. Misalnya tidak mengambil hak-hak orang lain melainkan menghormati hak-hak itu.

3. Siri na pacce

Secara harfiah, siri artinya rasa malu sedangkan pacce artinya pedih. Secara istilah, falsafah ini artinya hidup dengan menjunjung tinggi harkat, martabat, dan harga diri, dan rasa kasihan yang timbul dari dalam hati ketika melihat penderitaan orang lain.
Dalam buku 'The Miracle of Pride' karangan Venantius Dwi Riyanto (2014:2), disebutkan bahwa masyarakat Bugis Makassar sangat menjunjung tinggi budaya siri. Mereka sangat mengutamakan ideologi harga diri. Maka tak heran apabila mereka sangat malu apabila harga dirinya tercoreng.
Salah satu contoh siri yaitu giat bekerja demi mengangkat harkat dan martabat keluarga, sedangkan contoh pacce adalah menumbuhkan empati terhadap siapa pun yang mengalami kesusahan.

4. Resopa temanginggi' namalomo naletei pammase Dewata

Falsafah ini menegaskan bahwa untuk mencapai sebuah tujuan, diperlukan kerja keras dan ketekunan. Dengan begitu, maka akan mudah mendapatkan rida dari Yang Maha Kuasa. 
Pepatah ini, selalu dipegang kuat oleh sebagian besar masyarakat Bugis untuk memacu semangat mencapai keberhasilan, khususnya bagi mereka yang meninggalkan tanah Bugis menuju perantauan.

5. Sipakange, sipakatau, dan sipakalebbi

Sipakainge berarti saling mengingatkan, sipakatau artinya saling memanusiakan manusia dalam kondisi apapun, dan sipakalebbi artinya saling menghargai satu sama lain.
Prinsip inilah yang terus diamalkan masyarakat Bugis untuk membangun pendidikan karakter, khususnya di tengah derasnya arus globalisasi. Sebab bagi masyarakat Bugis, pendidikan karakter merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan. 

6. Taro ada taro gau

Pepatah tersebut mengartikan apa yang terucap dari mulut haruslah seiring dengan perbuatan. Makna dari pepatah ini mengajak kita untuk senantiasa menjaga konsistensi antara perbuatan dengan ucapan.
Bagi masyarakat Bugis, ketika perbuatan selaras dengan ucapan, maka orang lain akan semakin memberikan kepercayaannya. Dengan kepercayaan itu, maka tidak akan sulit mendapatkan cinta dari orang lain.
Nah, dari keenam falsafah masyarakat Bugis itu, mana nih yang sudah kamu terapkan?


Penulis : Admin