PAPPASENG BUGIS (ppes)
Pappaseng berasal dari kata dasar paseng yang berarti pesan yang harus dipegang sebagai amanat, berisi nasehat, dan merupakan wasiat yang perlu diketahui dan diindahkan. Pappaseng dalam bahasa Bugis mempunyai makna yang sama dengan wasiat dalam bahasa Indonesia. Pappaseng dapat pula diartikan pangaja’ yang bermakna nasihatyang berisi ajakan moral yang patut dituruti.
Dalam tulisan punagi (1983:1) dinyatakan bahwa
pappaseng adalah wasiat orang tua kepada anak cucunya (orang banyak) yang harus
selalu diingat sehingga amanatnya perlu dipatuhi dan dilaksanakan atas rasa
tanggung jawab.
Mattalitti (1980:5) juga mengemukakan bahwa pappaseng bermakna
petunjuk-petunjuk dan nasihat dari nenek moyang orang bugis zaman dahulu untuk
anak cucunya agar menjalani hidup dengan baik.
Jadi, pappaseng adalah wasiat
orang-orang tua dahulu kepada anak cucunya (generasi berikutnya) yang berisi
petunjuk, nasihat, dan amanat yang harus dipatuhi dan dilaksanakan agar dapat
menjalani hidup dengan baik.
1. Pappaseng yang
berhubungan dengan kesetiaan
a. aEKtu mtu nmlEbo wnuwea.
mCji alE lipuea msol lolGEeG. lENEni auG pnsea. msobuni lEPuea ripslni
tujuea. tERipgEtE bEciea. siaeR bel tauew. siblublu sibEelbEela. nig riat aiyn
riblu. ntuwoaini sErisEri dpurEeG. tEmduPu apiea. risElorE aluea. risepa
ptpiea. aiyptu nttEp kErEn neRpi api adE
tEmjuelkaiea pbtPulwE.
Engka tu
matu namalebbo wanuwae. Mancaji ale’ lipue masola lolange’nge. Leceni unga
panase. Masobuni lempue ripasalani tujue. Tenripagetteng bencie. Sianre bale
tauwe. Sibalu balu sibelle bellea. Niga riataiyana ribalu. Natuwoini seri-seri
dapurengnge. Temmadumpu apie. Riselore’ alue. Risapea patapie. Iyapatu natetepa
kerena nanrepi api ide temajulekaie pabatampulaweng.
b. “Akan datang suatu masa kelak dimana negeri,
ditimpa malapetaka, perkampungan menjadi hutan belantara, pergaulan bebas,
nangka tak berputik (kebenaran yang tersembunyi), yang benar disalahkan, tak
direntangkan alat pelurus (tak dilaksanakan aturan hukum) saling memakanlah
orang seperti ikan (yang kuat dan besar memakan yang kecil), saling menjual,
saling membeli, siapa yang kecil terkecoh, dialah yang dijual, dapur ditumbuhi
rumput, api tak menyala, lesung ditelungkupkan, niru digantung. Nanilah
tertimpa keramatnya adat, jika orang yang bersalah dimakan api adat (baru ada
tertib hukum, jika orang yang melanggar hukum dijatuhi pidana)’’.
c. Keadaan masyarakat
yang kacau balau ditimpa kelaparan dan wabah, dengki, dan perbuatan
sewenang-wenang merajalela, pemimpin keadaan baru berubah jika orang-orang yang
melanggar hukum benar-benar dijatuhi pidana sesuai dengan hukum yang berlaku.
2. Pappaseng yang
berhubungan dengan keteguhan
a. tElu
rial todo aiynritu gEtE. lEPu. n ad toGE.
Tellu riala
todo iyanaritu getteng. Lempu. Na ada tongeng.
b. “Ada tiga hal yang
dijadikan patokan yaitu : ketegasan, kejujuran,
dan ucapan yang benar”
c. Tidak mungkin ada
keteguhan selama diliputi keragu-raguan, sedangkan keragu-raguan timbul
diakibatkan oleh perbuatan yang tidak diyakini kebenarannya.
3. Pappaseng yang berhubungan dengan keagamaan
a. aliRuko ri pua altal pua mrj adPE ri lino nEnia ri aehr.
Alinrungko
ri puang alataala puang maraja madampeng ri lino nennia ri ahera’
b. “Berlindunglah kepada
Tuhan, Tuham Maha pemberi ampun di dunia dan di akhirat”
c. Bertaubatlah
kepada Tuhan, Tuhan pemberi ampun di dunia dan di akhirat. Ada beberapa
pendahulu kita yang telah berupaya untuk melestarikan pappaseng ini,
baik berupa penulisan kembali naskah pappaseng maupun berupa
penelitian dan berbagai bentuk tulisan lainnya, seperti yang telah dilakukan
oleh Mangemba(1956), Mattulada(1975); Amir, dkk.(1982), Rahim(1985),. Haddade
(1986), Mattalitti, dkk.(1986), Punagi(1989), Enre(1992), dan Said
D.M. (1997). Beberapa tulisan itulah yang memberikan inspirasi kepada penulis
menyajikan makalah ini untuk mengungkap nilai-nilai luhur yang terdapat
dalam pappaseng yang dianggap masih relevan dengan kehidupan
masyarakat Bugis hingga saat ini. Meskipun demikian, pappaseng bukan
hanya perlu dilestarikan dalam bentuk tulisan dan berbagai dokumen melainkan pappaseng itu
perlu disosialisasikan, diajarkan, dan diimplemen-tasikan dalam berbagai aspek
kehidupan.
4. Pappaseng
berhubungan dengan tingkah laku
a. aj mual wrPr nerko tniy wrPrmu
aj mual aju ripseR nerko tniy iko pseRai
aj mual aju riwEt wli nerk tnia iko Petai
Ajak muala
waramparang narekko taniya waramparammu
Ajak muala
aju ripasanre narekko tania iko pasanrei
Ajak muala
aju riwetta wali narekko tania iko mpettai
b. Jangan mengambil
barang-barang yang bukan milikmu
Jangan
mengambil kayu yang disandarkan jika bukan engkau yang menyandarkannya
Jangan
mengambil kayu yang ditetak ujung pangkalnya jika bukan engkau yang menetaknya
c. Pappaseng tersebut
mengungkapkan kebiasaan orang kampung yang menyandar-nyandarkan atau
menetak kedua ujung kayu yang diambilnya di hutan sebagai tanda sudah
berpemilik.
5. Pappaseng tingkah
laku
a. Naiy ponlEpuea tElu Rupai
aiynritu.
esauw naiyp npoadai kdopi moleaGi.
mduan aiyp npogauai kdopi lurueaGi ri muRipi
tauea.
mtElun tEneaeRkiea wrPr riplolo tenskrE adad mdiaolon.
“Naiyya
ponnalempuq e tellu nrupai iyanaritu :
Seuwwa naiyyapa napoadai kadopi molaengi.
Madduana iyapa napogaui kadopi luruiengi,
ri munripi tauwe.
Matelluna tennaenrekie waramparang ripaloloq, tennasakkareng ada-ada madiolonna.
b. Yang menjadi pangkal kejujuran ada tiga macam yaitu pertama dikatakan ya bila sanggup melaksanakannya.Kedua dilakukannya bila mampu menanggung resikonya.
Ketiga tidak menerima bahan sogokan, tidak meyangkal terhadap kata-kata yang
pernah diucapkan.
c. Pappaseng ini menjelaskan mengenai dasar
kejujuran. Sifat-sifat yang dimiliki orang jujur, orang jujur tidak akan bias
menyanggupi sesuatu apabila ia tidak dapat melaksanakannya, menanggung
resikonya dan ia tidak akan pernah melupakan apa yang pernah dia katakan.
6. Pappaseng tingkah
laku
a. aj llo nslaiko ac sibw lEPu
naiyriasEea ac edgg
msaus npogau
edto ad msaus nbli ad
medec mlEmea
mtEpEki ri pdt ruptau
naiy riasEeG lEPu
mkEsiGii gaun
ptujuai nwnwn medec aeP
aePn
nemtau riedwtea
Ajaq nasalaiko acca sibawa
lempuq
naiya riasenge acca degaga
masaussa napogauk
de`to ada masaussa nabali ada
madeceng malem-mak e
mtepekki ri padana rupatau
naiya riasenge lempuq
makessingi gaukna
patujui nawa nawana madeceng
ampe-ampena
nametau ridewatae.
b. Jangan
ditinggalkan oleh keckapan dan kejujuran
Yang dinamakan cakap, tidak
ada yang sulit dilaksanakan
Tidak ada juga pembicaraan
yang sulit disambut dengan kata-kata yang baik serta lemah lembut, percaya
kepada sesama manusia
Yang dinamakan jujur,
perbuatannya baik,
dan takut
kepada Tuhan
c. Dalam pappaseng tersebut
dijelaskan bahwa kecakapan dan kejujuran sebaiknya seiring dan saling
menunjang. Kecakapan tanpa kejujuran ibarat kapal tanpa nahkoda, sedangkan
kejujuran tnpa kecakapan ibarat nahkoda tanpa kapal.
7. Pappaseng mengenai
kejujuran dan kesucian
a. duwmi riyl spo auGn pnsaE
sibw bElo knukuea. (duwmi riyl spo lEPuea sibw pcieG)
Duwami
riyala sappo ungana panasae sibawa belo kanuku’e (Duwami riyala sappo lempu’e
sibawa paccing’e).
b. Dua yang dijadikan
pagar yaitu kejujuran dan kesucian.
c. Ungana panasae
(lempu’e) artinya bunga nangka, yang dijadikan simbol kejujuran orang
Bugis dan belo kanuku’e (paccing’e) artinya hiasan kuku yang
dijadikan simbol kesucian orang Bugis. Pagar diri sebenarnya sudah cukup bila
iya memiliki keduanya, yaitu dapat memelihara sifat jujur dan perbuatanya
bersih dari noda dan pelanggaran.
Menurut masyarakat Bugis malempu maksudnya makkebolai
ada tongenge ri alena naiyya sampoengngi ada tongengnge belewe. Artinya
jujur itu adalah terdapatnya perkataan benar dalam diri seseorang dan yang
merusak kejujuran adalah perkataan dusta, atau sifat yang suka berkata bohong.
Sedangkan paccing itu terdiri dari empat jenis, yaitu (1) paccing
pangkaukeng, yaitu suci dalam tindakan dan perbuatan (2) paccing
ateka’ (ati) yaitu suci hati dari nilai-nilai buruk (3) paccing
watakkale, yaitu bersih anggot badan dari kotoran atau bau yang tidak
enak (4) paccing lila, yaitu bersih lidahnya dari perkataan
buruk. Ini menandakan bahwa masyarakat Bugis sungguh sangat menyukai kejujuran
dan kesucian dan berharap berada di dalam suasana itu terus menerus.
8. Pappaseng
yang berhubungan
dengan etos kerja
a. aiiyp nrisE mukuruai
sEwaE jmjm nrEko purni rilloai.
Iyyapa narisseng mukkurui
sewwae jama-jamang narekko purani rilaloi.
b. Kita
baru dapat mengetahui tingkat atau mengukur kedalaman dan luasnya suatu
pekerjaan, apabila kita sudah melakukan atau melaluinya.
c. Ini
salah satu pappaseng orang bugis yang kalau dimaknai kurang
lebihnya sebagai berikut:
Sulit
tidaknya sebuah pekerjaan ataupun suatu usaha baru dapat diketahui jika telah
pernah kita kerjakan atau alami.Orang bugis terkenal jiwa pelautnya, mereka
melanglang buana ke seluruh penjuru dunia tidak ada rasa takut dan tidak ada
istilah mundur sebelum mencoba. Dalamnya laut, luasnya samudra buka hal yang
harus ditakuti tetapi memanfaatkan untuk mencapai tujuan pelayarannya.
Terkadang
dalam memulai suatu usaha atau kegiatan akan muncul keraguan, biasanya akan ada
bisikan “jangan-jangan!, Kalau gagal gimana, Kalau ini itu!, Sulit itu, Nggak
mungkin” yang menyebabkan kita tidak berani mengambil langkah. Akhirnya
terkadang peluang yang sudah ada akan berlalu begitu saja.
9. Pappaseng berbicara
a. aj mumtEbE ad ap aiytu adE
meag bEtuwn. muatutuaiwi lilmu, ap aiy lilea pewerewer
Ajak
mumatebbe ada apak iyatu ade maega bettuwanna. Muatutuiwi lilamu, apak iya
lilae pawere-were
b. Jangan banyak bicara, sebab bicara itu banyak
artinya, jagalah lidahmu, sebab lidah itu pengiris-ngiris
c. Bicara banyak
menimbulkan hal:
1.
Memburukkan yang baik dan menyalahkan yang benar. Sebaliknya dapat pula
membaikkan yang buruk dan membenarkan yang salah.
1.
Lebih memburukkan yang buruk lebh dan lebih menyalahkan yang salah.
Demikan pula sebaliknya.
1.
Menimbulkan perbedaan pengertian akibat salah tanggapan.
Lilae onronna racungnge sibawa tampa e, artinya lidah adalah tempatnya racun
dan penawar. Itulah sebabnya lidah perlu dijaga, karena tergantung kearah mana
hendak dibawa.
10. Pappaseng
pekerjaan
a. aj mumealo nbet makl ricpn
lteG
Ajak mumaelo
nabetta makkala ricappakna latengnge
b. Jangan mau didahului
menginjakkan kaki di ujung titian
c. Pada umumnya titian
dapat dilalui seseorang saja, aka siapa yang terdahulu menginjakkan kaki di
ujungnya dialah yang berhak meniti lebih dahulu; artinya bertindak mendahuui
orang lain. bertindak cepat dengan penuh keberanian mengandung risiko yang
besar, tetapi tidak ada kebesaran tanpa perbuatan besar dan tidak ada perbuatan
tanpa resiko yang besar. Selain dari itu langkah pertama menuju sukses, ialah
menciptakan sesuatu yang baru.
11. Pappaseng mengejar
cita-cita
a. aj mauGowai aoRo, aj to
muacinai teR tudeG, edtumuel ai pdE cEGitn. Risppo muaoPE, rijElo pomuaekGau.
Ajak
muangowai onrong, ajak to muacinnai tanre tudangeng, dektumulle I pade
cengitana. Risappapo muompe, rijellok pomuakke’ngau.
b. Janganlah menyerahkan
kedudukan. Jangan pula terlalu menginginkan jabatan tinggi. Kamu takkan sanggup
memperbaiki negara. Kalau dicari baru akan mucul. Kalau ditunjuk baru kamu
megaku (menerima).
c. Pada dasarnya semua
orang mencita-citakan kedudukan atau jabatan tinggi, tetapi takdir dan
kesempatan membawanya kearah lain. tetapi manakalah serakahannya menjadi titik
tolak suatu cita-cita maka dalam perjalanan menuju cita-cita itu unsur moral
akan dikesampingkan, lebih-lebih lagi kalau ditunjangkan oleh keluasan.
Sebaliknya seseorang yang bertingkah baik pada umunya mempunyai harga diri.
Oleh sebab itu ia tidak akan mengemis jabatan dengan mengorbangkan harga
dirinya.
12. Pappaseng kejujuran
sebagai penghormatan terhadap hak orang Lain
a. aj mual aju ripseR nerko
tniy aiko pseRk ai
Ajak muala aju ripasanre narekko taniya iko pasanrek i
b. Jangan mengambil kayu
yang disandarkan jika bukan engkau yang menyandarkan.
c. Sebatang kayu tidak
mungkin sandar sendiri apabila tidak ada orang yang menyandarkannya. seruan
tersebut menyiratkan pappaseng mengenai ajaran untuk
menghormati hak orang lain disamping mengetahui hak sendiri. Pappaseng tersebut
merupakan perwujudan dari nilai kejujuran. Kejujuran tidak boleh dianggap
biasa, bahkan disepelekan dalam kehidupan bermasyarakat. Kejujuran hendaknya
senantiasa dilestarikan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Salah
satu penyebab terjadinya ketidakseimbangan dalam masyarakat adalah tidak
diaplikasikannya nilai-nilai kejujuran itu. Padahal berlaku jujur merupakan
suatu keharusan bagi setiap individu. Kasus seperti bank Century dan adanya
makelar kasus serta kasus-kasus yang lain yang menerpa negeri ini salah satu
penyebabnya adalah karena nilai-nilai kejujuran itu tidak difungsikan lagi,
sulit dibedakan yang mana hak orang lain dan mana milik pribadi. Nilai-nilai
pappaseng tidak dapat menjadi kendali bagi para pelakunya karena tidak
dijadikan sebagai pedoman hidup. Dengan demikian, nilai-nilai pappaseng
alempureng perlu dimasyarakatkan kembali bukan hanya pada masyarakat
Bugis, melainkan pada seluruh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu,
wahai masyarakat Indonesia mari kita menjadikan Pappaseng alempureng sebagai
pedoman hidup dan mengamalkannya, sehingga dapat menjadi kendali dalam
kehidupan berbangsa dan
bernegara.
13. Pappaseng
kejujuran sebagai benteng kehidupan
a. duwai kual spo auNn pnsea
neblo knukuea
Duwai kuala
sappo, unganna panasae nabelo kanukue
b. Ada dua kujadikan
pagar, kembang nangka dan penghias kuku
c. Kembang nangka dalam
masyarakat Bugis dinamakan lempu, artinya jujur, Adapun
penghias kuku dalam masyarakat Bugis dinamakan pacci yang
mirip bunyinya dengan kata paccing artinya bersih (suci).
Sehubungan dengan hal tersebut, dalam masyarakat Bugis, kejujuran dan kesucian
jiwa seseorang dapat dijadikan benteng dan penghias kehidupan, sehingga
seseorang tampak kaya dengan budi pekerti yang luhur. Nilai kejujuran itu
hendaknya dapat dimiliki oleh setiap orang, karena kejujuran merupakan benteng
kehidupan dan kesucian merupakan pancaran kalbu yang teraplikasi melalui
kejujuran. Orang yang jujur tidak mudah terpengaruh untuk mengambil sesuatu
yang bukan haknya. Dengan demikian, kejujuran dapat menjadi kendali dalam
kehidupan seseorang.
14. Pappaseng
perjalanan
a. nerko loko mkai aejmu
lEtupo riaoRo mu
np muak aejmu.
pedecGi pePn Nwmu.
mgElo mnEpi tpn tau ea mitko
np mEed.
Narekko
loko makkai ajemu
lettupo
rionrong mu
nappa
muakka ajemu.
padecengi
rampena nyawamu,
magello
maneppi tappana tau e mitako
nappa
medde’.
b. Jika ingin
mengangkatkan
kaki
hendaknya
sampai tempat
tujuan
baru
mengangkatkan
kaki.
Perbaikilah
perasaanmu,
jika orang
sudah baik
terhadapmu
barulah
berangkat.
c. Jika ingin
bepergian, hendaknya perasaan kita lebih dahulu sampai lalu melihat suasana
yang ingin kita kunjungi baru berangkat. Memperbaiki perasaan kita, apabila
kita merasa orang sudah baik terhadap kita, barulah kita berangkat.
15. Pappaseng mengenai
keberanian
a. nerko
moloaiko musu. aj muemtau mmesaiwi tobrniea msuro nerwE. nsb erko sidupai blit
npgKni ritu ekdon tobrniea. naiy tommusuea. nwnw mlEPu sibw ac. aiytonritu
plePri suGE.
Narekko
moloiko musu, aja mume’tau mamase’iwi tobaranie masuro nare’we. Nasaba rekko
siduppai balina napagankani ritu kedona tobaranie, naiya tomamusue. Nawanawa
malempu sibawa acca, iyatonaritu palamperi sunge.
b. “Jika engkau menghadapi perang,
janganlah ragu-ragu mengasihani orang berani yang memohon belas kasihan. Sebab
dalam peperangan itu pemberani akan beringas menghadapi musuh, padahal kunci
kemenangan dalam peperangan adalah keyakinan yang jujur, dan tekad baik yang
dibarengi kepintaran.”
c. Orang yang
bertempur di medan perang, tidak semata-mata mengejar kemenangan. Jika bisa
untuk memperoleh kemenangan sudah menguasai seluruh pikiran seorang pemberani
di medan peperangan, maka ia akan bertindak kejam dan berusaha menghabisi semua
musuhnya. Tindakan seperti ini bukanlah ksatria. Oleh karena itu, seorang
pemberani haruslah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan senantiasa
memadukan keyakinan dan kejujuran. Orang yang memiliki keberanian adalah
orang yang tak gentar melakukan pekerjaan baik yang sulit maupun yang mudah, ia
mengucapkan perkataan kasar maupun lemah lembut, ia berani memutuskan perkara
yang sulit maupun yang mudah sesuai dengan kebenaran, ia berani mengingatkan
serta menasehati para pembesar maupun orang awam, sesuai dengan kemampuan dan
ia juga berani membuat penyampaian, baik yang menyangkut, kebaikan maupun
kejahatan menurut wajarnya
16. Pappaseng yang
berhubungan dengan siri’
a. nerko sirin nrRE tERitEeRGin
nrieaw.
Narekko sirina narampe
temritemrengina nariewa.
b. “kalau harga
diri yang disinggung tanpa tanggapan langsung dilawan.”
c. Apabila harga
diri yang dibicarakan maka tak ada jalan lain kecuali harus dihadapi tanpa
mempertimbangkan risiko yang akan
diterima, itulah pappaseng yang masih dipegang teguh oleh
masyarakat Bugis. Untuk menangkal siri’ dari berbagai ancaman,
kita perlu mawas diri serta senantiasa berbuat kebajikan kepada sesama
manusia. Meskipun demikian, kejadian yang tidak menyenangkan biasa muncul
dengan tiba-tiba dan tak ada daya untuk menghindarinya.
17. Pappaseng mengenai
kebenaran
a. pl aurgea. etbek toGEGE. etcau meagea. etsieaw situllE.
Pala uragae,
tebbakke tongengge, teccau maegae, tessiewa situla’e.
b. Tipu daya mungkin
berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran
tak termusnahkan, kebenaran tetap akan hidup dan bersinar
terus di dalam kalbu manusia.
c. Karena sumber
kebenaran datangnya dari Tuhan. Yang sedikit mungkin mengalahkan
yang banyak untuk sementara karena kekuatan. Akan tetapi yang banyak tidak
dapat diabaikan atau dimusnahkan. Yang banyak saja sudah satu kekuatan apalagi
yang banyak membina kekuatan.tidak mungkin matahari tenggelam di siang hari,
seperti tidak mungkinnya memusnahkan kebenaran .
Penilis :
Admin
