Suku
Bugis merupakan salah satu suku tertua yang ada di Indonesia. Suku ini mendiami
sebagian besar wilayah daratan di Sulawesi Selatan.
Dalam kesehariannya, masyarakat Bugis dikenal menganut banyak prinsip
dan nilai-nilai kehidupan yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya serta kultur
Bugis penuh dengan nuansa religi, hikmah, etika dan estetika, perasaan dan
kejujuran yang dihajatkan kepada Tuhan.
Selain
itu, kearifan lokal kelompok masyarakat Bugis juga mengandung pelajaran tentang
kejatuhan dan kebangkitan, serta percaya pada takdir dan perubahan nasib.
Nah, Web Pallapi Arona Ogi'e (PAO) merangkum 6 falsafah hidup masyarakat Bugis yang
bisa kamu jadikan sebagai pelajaran berharga dalam menjalani kehidupanmu.
1. Ininnawa
Secara
harfiah, ininnawa berasal
dari kata nawa atau nawa-nawa yang berarti sebuah
perencanaan yang masih relatif, entah itu baik atau buruk. Jika itu baik, maka
disebut ininnawa.
Makna dari konsep ini adalah mengajak kita untuk melakukan sesuatu
sesuai dengan nalar dan kata hati yang tentu saja memiliki niat yang luhur.
Bukankah hati tidak pernah berbohong?
2. Sitinaja
Dalam
budaya masyarakat Bugis, dikenal juga istilah sitinaja yang artinya kepatutan.
Dalam konsep sitinaja,
kepatutan ini berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan sesuai
dengan porsinya.
Konsep sitinaja dalam
suku Bugis membuat masyarakatnya harus mampu menempatkan dirinya sesuai
kedudukan. Misalnya tidak mengambil hak-hak orang lain melainkan menghormati
hak-hak itu.
3. Siri na pacce
Secara
harfiah, siri artinya rasa malu sedangkan pacce artinya pedih. Secara istilah, falsafah ini
artinya hidup dengan menjunjung tinggi harkat, martabat, dan harga diri, dan
rasa kasihan yang timbul dari dalam hati ketika melihat penderitaan orang lain.
Dalam buku 'The Miracle of Pride' karangan Venantius Dwi Riyanto (2014:2),
disebutkan bahwa masyarakat Bugis Makassar sangat menjunjung tinggi budaya
siri. Mereka sangat mengutamakan ideologi harga diri. Maka tak heran apabila
mereka sangat malu apabila harga dirinya tercoreng.
Salah satu contoh siri yaitu giat bekerja demi mengangkat harkat dan
martabat keluarga, sedangkan contoh pacce adalah menumbuhkan empati terhadap siapa pun yang
mengalami kesusahan.
4. Resopa temanginggi' namalomo naletei
pammase Dewata
Falsafah
ini menegaskan bahwa untuk mencapai sebuah tujuan, diperlukan kerja keras dan
ketekunan. Dengan begitu, maka akan mudah mendapatkan rida dari Yang Maha
Kuasa.
Pepatah ini, selalu dipegang kuat oleh sebagian besar masyarakat Bugis
untuk memacu semangat mencapai keberhasilan, khususnya bagi mereka yang meninggalkan
tanah Bugis menuju perantauan.
5. Sipakange, sipakatau,
dan sipakalebbi
Sipakainge berarti saling mengingatkan, sipakatau artinya saling memanusiakan manusia dalam
kondisi apapun, dan sipakalebbi artinya
saling menghargai satu sama lain.
Prinsip inilah yang terus diamalkan masyarakat Bugis untuk membangun
pendidikan karakter, khususnya di tengah derasnya arus globalisasi. Sebab bagi
masyarakat Bugis, pendidikan karakter merupakan salah satu bagian terpenting
dalam kehidupan.
6. Taro ada taro gau
Pepatah
tersebut mengartikan apa yang terucap dari mulut haruslah seiring dengan
perbuatan. Makna dari pepatah ini mengajak kita untuk senantiasa menjaga
konsistensi antara perbuatan dengan ucapan.
Bagi masyarakat Bugis, ketika perbuatan selaras dengan ucapan, maka
orang lain akan semakin memberikan kepercayaannya. Dengan kepercayaan itu, maka
tidak akan sulit mendapatkan cinta dari orang lain.
Nah, dari keenam falsafah masyarakat Bugis itu, mana nih yang sudah kamu
terapkan?
