SAMBUTAN DPP PAO : ASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH, SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DEWAN PENGURUS PUSAT ORGANISASI ASSEDDINGENG WIJANNA OGIE DALAM BAHASA INDONESIA DIKENAL DENGAN NAMA PERSATUAN ANAK OGI (DPP-PAO) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PROVINSI RIAU, PAO ADALAH PERKUMPULAN WARGA MASYARAKAT SUKU BUGIS RANTAU DENGAN BERDASARKAN PANCASILA DAN UDD 45 SERTA DIBAWAH NAUNGAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) DENGAN TUJUAN MEMPERSATUKAN SEGENAP WARGA MASYARAKAT BUGIS SELURUH NUSANTARA MAUPUN MANCA NEGARA DENGAN VISI MISI - MASSEDDI RIPASSEDDI MAPPASSEDDI-TOPADA SIPAMMASE MASE - NIAT MADECENG PADATTA RUPA TAU TERUTAMA SEMPUGIKU TEGA-TEGAKI WANUA DI ONDROWI. WASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH
Showing posts with label SEJARAH BUGIS. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH BUGIS. Show all posts

Wednesday, 22 April 2020

KALIMAT EWAKO DAN TIGA NILAI DASAR MASYARAKAT BUGIS



 Ewako atau rewako adalah sebuah kata yang akrab di telinga masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Bugis Makassar. Penyebutan kata ewako biasanya digandengkan dengan sebuah komunitas atau kelompok masyarakat tertentu.
Para suporter PSM memekikkan “Ewako PSM” ketika tim kebanggaannya berlaga di lapangan hijau. “Rewako Gowa” juga terukir indah pada sebuah tebing, sebelum masuk ke kota bunga Malino nan sejuk. Kata tersebut telah berfungsi sebagai pembakar solidaritas masyarakat Sulawesi Selatan.
Menurut Kamus Populer Inggris-Makassar, Indonesia-Makassar, kata rewako merupakan terjemahan dari kata ‘berani’ dalam bahasa Indonesia, dan ‘brave’ dalam bahasa Inggris. Keberanian masyarakat Bugis-Makassar tergambar dalam semboyan pelaut Bugis-Makassar “Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai”.
Kata ewako kadang juga dikonotasikan negatif apabila kita tidak memahami makna sebenarnya dengan tepat. Ewako dapat dipahami hanya sebuah kata emosional dari seseorang yang menantang orang lainnya untuk berkelahi. Untuk itu kita harus memaknai kata ewako dengan tepat.
Salah satu perspektif untuk memaknai kata ewako ialah dengan menggali dan menghayati nilai-nilai kultural masyarakat Bugis-Makassar itu sendiri.
Paling tidak ada tiga hal yang sangat dijunjung oleh masyarakat Bugis-Makassar, yaitu siri’, pesse’, dan were’.

Siri’ merupakan sebuah sistem nilai sosio-kultural dan kepribadian, yang merupakan pranata pertahanan diri dan martabat manusia sebagai individu dan anggota masyarakat.
Dengan kata lain, siri’ adalah pandangan hidup yang bertujuan untuk mempertahankan harkat dan martabat pribadi, orang lain atau kelompok, dan terutama negara.

Pesse’ atau dalam bahasa Makassar pacce’ secara bahasa berarti pedih, perih. Ini berarti pacce’ mengandung makna rasa iba. Pesse’ bisa juga diartikan sebagai rasa kemanusiaan yang adil dan beradab, yang menyalakan semangat rela berkorban, bekerja keras dan pantang mundur.

Were’ adalah kepercayaan pada diri sendiri yang teguh, bahwa hanya dengan ketekunan dan kerajinan yang dilandasi dengan kecakapan, kejujuran, kebenaran, ketegangan serta kesabaran, maka nasib seseorang atau sesama warga negara dapat diperbaiki.
Kepercayaan pada diri sendiri ini tidaklah dapat dipisahkan dari kepasrahan dan pengandalan diri orang terhadap Tuhan. Hal ini tergambar dalam pengajaran adat Bugis-Makassar, Teako assalaknu rannuang, pangngapettaina Allataala rannuang. Artinya: Janganlah mengharapkan asal-usul keturunan, kasih Tuhanlah yang harus diharapkan. Ini mengajarkan agar manusia tidak berlaku sombong dengan membanggakan asal keturunannya, karena ada yang berkuasa terhadap manusia yaitu Tuhan.

Bokona Loko
“Teai Mangkasara’ Punna Bokona Loko”. Sepenggal peribahasa yang menunjukkan sebuah simbol keberanian orang Makassar, yang pantang mundur dalam menghadapi masalah. Sama persis dengan peribahasa Bugis yang berbunyi “Majeppu tania ugi,narekko tania arona maloo”. Ini sangat berkaitan dengan semangat ewako yang dimiliki orang Bugis-Makassar. Semangat dan jiwa keberanian ini pula yang mengantarkan orang-orang Bugis-Makassar berkeliling nusantara melawan penjajah, dan sekaligus menuntut balas atas kekalahan mereka.
Kita baca dalam sejarah, bagaimana sepak terjang dan keberanian Karaeng Galesong di Madura, Syech Yusuf di Banten atau Raja Haji Fisabililah di bumi Melayu. Mereka adalah contoh kecil dari banyak tokoh Makassar yang menorehkan sejarah di bumi persada maupun di mancanegara, yang jasa-jasa dan hasil perjuangannya tetap terkenang abadi sampai saat ini.

Sumber : islamindonesia.id
Penulis : Admin


Friday, 10 April 2020

CERITA SINGKAT TENTANG LEGENDA SAWERIGADING




Sawerigading merupakan Putra Mahkota Raja Luwu Batara Lattu’, dari Kerajaan Luwu Purba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Dalam bahasa asal, sawerigading berasal dari dua kata, yaitu sawe yang berarti menetas (lahir), dan ri gading yang berarti di atas bambu betung. Jadi, sawarigading berarti keturunan dari orang yang menetas (lahir) di atas bambu betung. Menurut cerita, ketika Bataraguru (kakek Sawerigading yang merupakan keturunan dewa) pertama kali diturunkan ke bumi, ia ditempatkan di atas bambu betung. Sawerigading mempunyai saudara kembar perempuan yang bernama We Tenriabeng. Tapi, sejak kecil hingga dewasa mereka dibesarkan secara terpisah, sehingga mereka tidak saling mengenal. Suatu ketika, saat bertemu dengan adik kandungnya itu, Sawerigading jatuh cinta dan berniat untuk melamarnya. Berhasilkah Sawerigading menikahi We Tenriabeng, saudara kandungnya itu? Kisah selengkapnya dapat Anda ikuti dalam leganda Sawerigading berikut ini.

Menurut hikayat, di daerah Luwu, Sulawesi Selatan, hiduplah seorang raja bernama La Togeq Langiq atau dikenal dengan panggilan Batara Lattu’. Sang Raja memiliki dua istri, yaitu satu dari golongan manusia biasa (penduduk dunia nyata) bernama We Opu Sengngeng, dan satu lagi berasal dari bangsa jin. Dari perkawinannya dengan We Opu Sengengeng lahir sepasang anak kembar emas, yakni seorang laki-laki bernama Sawerigading, dan seorang perempuan bernama We Tenriabeng. Berdasarkan ramalan Batara Guru (ayah Raja Luwu), Sawerigading dan We Tenriabeng kelak akan saling jatuh cinta dan menikah. Padahal menurut adat setempat, seseorang sangat pantang menikahi saudara kandung sendiri. Agar tidak melanggar adat tersebut, Raja Luwu pun membesarkan kedua anak kembarnya tersebut secara terpisah. Ia menyembunyikan anak perempuannya (We Tenriabeng) di atas loteng istana sejak masih bayi.

Waktu terus berjalan. Sawerigading tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tampan, sedangkan We Tenriabeng tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Namun, sepasang anak kembar tersebut belum saling mengenal.
Pada suatu hari, Sawerigading bersama sejumlah pengawal istana diutus oleh ayahnya berlayar ke Negeri Taranati (Ternate) untuk mewakili Kerajaan Luwu dalam sebuah pertemuan para pangeran. Namun sebenarnya tujuan utama Sawerigading diutus pergi jauh ke Ternate karena saudara kembarnya We Tenriabeng akan dilantik menjadi bissu dalam sebuah upacara umum, yang tentu saja tidak boleh dihadirinya karena dikhawatirkan akan bertemu dengan We Tenriabeng.

Dalam perjalanan menuju ke Negeri Ternate, Sawerigading mendapat kabar dari seorang pengawalnya bahwa ia mempunyai saudara kembar yang cantik jelita. Sawerigading tersentak kaget mendengar kabar tersebut.

“Apa katamu? Aku mempunyai saudara kembar perempuan?” tanya Sawerigading dengan kaget.

“Benar, Pangeran! Saudaramu itu bernama Tenriabeng. Ia disembunyikan dan dipelihara di atas loteng istana sejak masih kecil,” ungkap pengawal itu.

Sekembalinya dari Ternate, Sawerigading langsung mencari saudara kembarnya yang disembunyikan di atas loteng istana. Tak pelak lagi, Sawergading langsung jatuh cinta saat melihat saudara kembarnya itu dan memutuskan untuk menikahinya. Raja Luwu Batara Lattu’ yang mengetahui rahasia keluarga istana tersebut terbongkar segera memanggil putranya itu untuk menghadap.

“Wahai, Putraku! Mengharap pendamping hidup untuk saling menentramkan hati bukanlah hal yang keliru. Tapi, perlu kamu ketahui bahwa menikahi saudara kandung sendiri merupakan pantangan terbesar dalam adat istiadat kita. Jika adat ini dilanggar, bencana akan menimpa negeri ini. Sebaiknya urungkanlah niatmu itu, Putraku!” bujuk Raja Luwu Batara Lattu’.

Namun, bujukan Ayahandanya tersebut tidak menyurutkan niat Sawerigading untuk menikahi adiknya. Namun, akhirnya Sawerigading mengalah setelah We Tenriabeng memberitahunya bahwa di Negeri Cina (bukan Cina di Tiongkok, tapi di daerah Tanete, Kabupetan Bone, Sulawesi Selatan) mereka mempunyai saudara sepupu yang sangat mirip dengannya.

“Bang! Pergilah ke Negeri Cina! Kita mempunyai saudara sepupu yang bernama We Cudai. Ayahanda pernah bercerita bahwa aku dan We Cudai bagai pinang dibelah dua,” bujuk We Cudai.

“Benar, Putraku! Wajah dan perawakan We Cudai sama benar dengan adikmu, We Tenriabeng,” sahut Raja Luwu Batara Lattu’.

Untuk membuktikan kebenaran kata-katanya, We Tenriabeng memberikan sehelai rambut, sebuah gelang dan cincinnya kepada Sawerigading. We Tenriabeng juga berjanji jika perkataannya tidak benar, ia berbersedia menikah dengan Sawerigading.

“Bang! Jika rambut ini tidak sama panjang dengan rambut We Cudai, gelang dan cincin ini tidak cocok dengan pergelangan dan jarinya, aku bersedia menikah dengan Abang,” kata We Tenriabeng.

Akhirnya, Sawerigading pun bersedia berangkat ke Negeri Cina, walaupun dihatinya ada rasa kecewa kepada orang tuanya karena tidak diizinkan menikahi adiknya. Untuk berlayar ke Negeri Cina, Sawerigading harus menggunakan kapal besar yang terbuat dari kayu welérénngé (kayu belande) yang mampu menahan hantaman badai dan ombak besar di tengah laut.

“Wahai, Putraku! Untuk memenuhi keinginanmu memperistri We Cudai, besok pergilah ke hulu Sungai Saqdan menebang pohon welérénngé raksasa untuk dibuat perahu!” perintah Raja Luwu Batara Lattu’.

Keesokan harinya, berangkatlah Sawerigading ke tempat yang dimaksud ayahnya itu. Ketika sampai di tempat itu, ia pun segera menebang pohon raksasa tersebut. Anehnya, walaupun batang dan pangkalnya telah terpisah, pohon raksasa itu tetap tidak mau roboh. Namun, hal itu tidak membuatnya putus asa. Keesokan harinya, Sawerigading kembali menebang pohon ajaib itu, tapi hasilnya tetap sama. Kejadian aneh ini terulang hingga tiga hari berturut-turut. Sawerigading pun mulai putus asa dan hatinya sangat galau memikirkan apa gerangan penyebabnya.

Mengetahui kegalauan hati abangnya, pada malam harinya We Tenriabeng secara diam-diam pergi ke hulu Sungai Saqdan. Sungguh ajaib! Hanya sekali tebasan, pohon raksasa itu pun roboh ke tanah. Dengan ilmu yang dimilikinya, We Tenriabeng segera mengubah pohon raksasa itu menjadi sebuah perahu layar yang siap untuk mengarungi samudera luas.

Keesokan harinya, Sawerigading kembali ke hulu Sungai Saqdan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat pohon welérénngé raksasa yang tak kunjung bisa dirobohkannya kini telah berubah menjadi sebuah perahu layar.

“Hai, siapa yang melakukan semua ini?” gumam Sawerigading heran.

“Ah, tidak ada gunanya aku memikirkan siapa yang telah membantuku membuat perahu layar ini. Yang pasti aku harus segera pulang untuk menyiapkan perbekalan yang akan aku bawa berlayar ke Negeri Cina,” pungkasnya seraya bergegas pulang ke istana.

Setelah menyiapkan sejumlah pengawal dan perbekalan yang diperlukan, berangkatlah Sawerigading bersama rombongannya menuju Negeri Cina. Dalam perjalanan, mereka menemui berbagai tantangan dan rintangan seperti hantaman badai dan ombak serta serangan para perompak. Namun, berkat izin Tuhan Yang Mahakuasa, Sawerigading bersama pasukannya berhasil melalui semua rintangan tersebut dan selamat sampai di tujuan.

Setibanya di Negeri Cina, Sawerigading mendengar kabar bahwa We Cudai telah bertunangan dengan seorang pemuda bernama Settiyabonga. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk melihat langsung kecantikan wajah We Cudai. Untuk itu, ia pun memutuskan untuk menyamar menjadi pedagang orang oro (berkulit hitam). Untuk memenuhi penyamarannya, ia harus mengorbankan satu nyawa orang oro sebagai tumbal. Pada mulanya, orang oro yang akan dijadikan tumbal tersebut mengiba kepadanya.

“Ampun, Tuan! Jika kulit saya dijadikan pembungkus tubuh Tuan, tentu saya meninggal.”

Namun, setelah Sawerigading membujuknya dengan tutur kata yang halus, akhirnya orang oro itu pun bersedia memenuhi permintaannya. Setelah itu, Sawerigading segera menuju ke istana sebagai oro pedagang. Setibanya di istana, ia terkagum-kagum melihat kecantikan We Cudai.

“Benar kata Ayahanda, We Cudai dan We Tenriabeng bagai pinang dibelah dua. Perawakan mereka benar-benar serupa,” ucap Sawerigading.

Setelah membuktikan kecantikan We Cudai, Sawerigading segera mengirim utusan untuk melamarnya dan lamarannya pun diterima oleh keluarga istana Kerajaan Cina. Namun, sebelum pesta pernikahan dilangsungkan, We Cudai mengirim seorang pengawal istana untuk mengusut siapa sebenarnya calon suaminya itu.

Suatu hari, utusan itu mendekati perahu layar Sawerigading yang tengah bersandar di pelabuhan. Kebetulan, saat itu para pengawal Sawerigading yang berbulu lebat sedang mandi. Utusan itu ketakukan saat melihat tampang mereka yang dikiranya “orang-orang biadab” dan mengira bahwa wujud Sawerigading serupa dengan mereka. Ia pun segera kembali ke istana untuk menyampaikan kabar tersebut kepada We Cudai. Mendengar kabar tersebut, We Cudai pun berniat untuk membatalkan pernikahannya dan mengembalikan semua mahar Sawerigading.

Sawerigading yang mendengar kabar buruk tersebut segera menghapus penyamarannya sebagai orang oro dan mengenaikan pakaian kebesarannya, lalu segera menghadap Raja Cina. Sesampainya di istana, ia pun segera menceritakan asal-usul dan maksud kedatangannya ke Negeri Cina.

“Ampun, Baginda Raja! Perkenalkan nama Ananda Sawerigading Putra Raja Luwu Batara Lattu’ dari Sulawesi Selatan. Ananda datang menghadap membawa amanat Ayahanda, dengan harapan sudilah kiranya Baginda menerima Ananda sebagai menantu Baginda,” ungkap Sawerigading.

“Hai, Anak Muda! Kamu jangan mengaku-ngaku! Apa buktinya bahwa kamu adalah putra dari saudaraku itu?” tanya Raja Cina.

Sawerigading pun segera memperlihatkan sehelai rambut, sebuah gelang dan cincin pemberian We Tenriabeng kepada Raja Cina seraya menceritakan semua kejadian yang dialaminya hingga ia bisa sampai ke Negeri Cina. Mendengar harapan dan permohonan saudaranya melalui keponakannya itu, Raja Cina terdiam sejenak, lalu berkata:

“Baiklah! Sekarang aku percaya bahwa kamu adalah keponakanku. Ayahandamu dulu pernah mengirim kabar kepadaku bahwa ia mempunyai anak kembar emas. Anaknya yang perempuan wajah dan perawakaannya serupa dengan putriku.”

Untuk lebih meyakinkan dirinya, Raja Cina segera memanggil putrinya untuk menghadap. Tak berapa lama, We Cudai pun datang dan duduk di samping ayahandanya. Saat melihat pemuda tampan yang duduk di hadapan ayahandanya, We Cudai tampak gugup dan hatinya tiba-tiba berdetak kencang. Rupanya, ia jatuh hati kepada pemuda itu yang tak lain adalah Sawerigading.

“Ada apa gerangan Ayahanda memanggil Ananda?” tanya We Cundai tertunduk malu-malu.

“Wahai Putriku, ketahuilah! Sesungguhnya orang yang melamarmu beberapa hari yang lalu ternyata sepupumu sendiri. Namanya Sawerigading. Ayahanda bersaudara dengan ayahnya. Tapi, untuk menyakinkan kebenaran ini, cobalah kamu cocokkan panjang rambut ini dengan panjang rambutmu dan pakailah gelang dan cincin ini!” pinta Raja Cina seraya memberikan sehelai rambut, sebuah gelang dan cincin itu kepada putrinya.

Setelah We Cudai mengenakan gelang dan cincin tersebut, maka semakin yakinlah Raja Cina bahwa Sawerigading benar-benar keponakannya. Gelang dan cincin tersebut semuanya cocok dikenakan oleh We Cudai. Begitu pula rambutnya sama panjangnya dengan rambut We Tenriabeng.

“Bagaimana, Putriku! Apakah kamu bersedia menerima kembali lamaran Sawerigading untuk mempererat tali persaudaraan kita dengan keluarga Sawerigading di Sulawesi Selatan?” tanya Raja Cina.

“Baik, Ayahanda! Jika Ayahanda merestui, Ananda bersedia menikah dengan Sawerigading. Ananda mohon maaf karena sebelumnya mengira Sawerigading bukan dari keluarga baik-baik,” jawab We Cudai malu-malu.

Betapa bahagianya perasaan Raja Cina mendengar jawaban putrinya itu. Demikian pula yang dirasakan Sawerigading karena lamarannya diterima. Dengan perasaan bahagia, ia segera kembali ke kapalnya untuk menyampaikan berita gembira itu kepada para pengawalnya dan memerintahkan mereka untuk mengangkat semua barang bawaan yang ada di perahu ke istana untuk keperluan pesta.  Tiga hari kemudian, pesta pernikahaan itu pun dilangsungkan dengan meriah. Segenap rakyat Negeri Cina turut berbahagia menyaksikan pesta pernikahan tersebut.

Setahun kemudian, Sawerigading dan We Cudai dikaruniai oleh seorang anak dan diberi nama La Galigo. Namun, bagi We Cudai, kebahagiaan tersebut terasa belum lengkap jika belum bertemu dengan mertuanya. Suatu hari, ia pun mengajak suaminya ke Sulawesi Selatan untuk mengunjungi mertuanya. Mulanya, Sawerigading menolak ajakan istrinya, karena ia sudah berjanji tidak ingin kembali ke kampung halamannya karena kecewa kepada kedua orang tuanya yang telah menolak keinginannya menikahi saudara kembarnya. Namun, karena istrinya terus mendesaknya, akhirnya ia pun menyetujuinya.
Keesokan harinya, berangkatlah sepasang suami istri itu bersama beberapa orang pengawal menuju Negeri Luwu. Akan tetapi, mereka tidak membawa serta putra mereka (La Galigo) karena masih bayi. Dalam perjalanan, Sawerigading bersama rombongannya kembali menemui banyak rintangan. Perahu yang mereka tumpangi hampir tenggelam di tengah laut karena dihantam badai dan gelombang besar. Berkat pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa, mereka pun selamat sampai di Nengeri Luwu.

Setelah bertahun-tahun lamanya Sawerigading bersama istrinya tinggal di Negeri Luwu terdengarlah kabar bahwa di Tanah Jawa berkembang ajaran agama Islam. Sawerigading pun segera memerintahkan pasukannya untuk memerangi ajaran tersebut. Namun apa yang terjadi setelah pasukannya tiba di Tanah Jawa? Rupanya, mereka bukannya memerangi penganut ajaran agama tersebut, tetapi justru berbalik memeluk agama Islam. Bahkan sebagian anggota pasukannya memutuskan untuk menetap di Tanah Jawa.

Sementara anggota pasukan lainnya kembali ke Negeri Luwu untuk melaporkan kabar tersebut kepada Sawerigading dan sekaligus mengajaknya untuk memeluk agama Islam. Karena kesal atas penghianatan pasukannya itu dan tidak ingin masuk agama Islam, Sawerigading bersama istrinya memutuskan untuk kembali ke Negeri Cina dan berjanji tidak ingin menginjakkan kaki lagi di Negeri Luwu. Dalam perjalanan pulang ke Negeri Cina, kapal yang mereka tumpangi karam di tengah laut. Konon, pasangan suami istri tersebut menjadi penguasa buriq liu atau peretiwi (dunia bawah laut).

Demikian cerita Sawerigading dari daerah Luwu, Sulawesi Selatan. Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah ganjaran yang diterima dari sifat tidak mudah putus asa. Sifat ini ditunjukkan oleh perilaku Sawerigading yang senantiasa tabah dalam menghadapi berbagai rintangan dan cobaan untuk mencapai keinginannya, yakni menikahi We Cudai yang berada di Negeri Cina.


Penulis : Admin

Sunday, 5 April 2020

'SIRI" DALAM POLA ASUH BUDAYA BUGIS.



Pola asuh yang diterapkan orang tua pada anak-anaknya sangat dipengaruhi adat dan budaya dari suku atau etnis darimana orang tua itu berasal. 

Salah satu contoh adalah suku Bugis, sebuah suku yang sejarahnya berasal dari Sulawesi Selatan. Namun kini menyebar ke Suawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan, dan wilayah lainnya. Seperti halnya di etnis-etnis lainnya, 

Seperti halnya di etnis-etnis lainnya, Suku Bugis. Suku Bugis juga mengenal sistem norma dan aturan adat yang disebut Pangaderreng. Dalam Pangaderreng itu, ada yang namanya konsep Siri atau keadaan tertimpa malu atau terhina. Dalam konteks pengasuhan, orang Bugis dimanapun selalu menegakkan budaya siri agar tidak tertimpa rasa malu dan terhina akibat dari perbuatannya. 

Budaya ‘siri’ yang ditekankan orang tua Suku Bugis itu menggugah anak agar tidak melakukan pelanggaran Ade’ atau hukum. Sementara nilai-nilai harga diri atau martabat menuntut seseorang untuk selalu patuh dan hormat pada kaidah-kaidah ade’ 

Karena itu, terhadap anak-anaknya, orang bugis sangat ketat mengajarkan soal keagamaan, kesetiaan memegang janji dan persahabatan, saling memaafkan, saling mengingatkan untuk berbuat kebajikan, tak segan saling memberi pertolongan/pengorbanan, dan memelihara ketertiban adat perkawinan. 

Konsep “siri” dalam pengasuhan terungkap dalam paseng atau nasehat yaitu roloi naptiroang, ritenggai naparaga-raga, rimunriwi napa ampiri (dari depan menjadi suri tauladan, di tengah aktif memberikan bantuan dan dari belakang aktif memberikan dukungan dan dorongan). 

Nilai-nilai Siri yang ditekankan orang tua di suku Bugis mencakup : 

Sipakatau, saling menghargai dan menghormati sesama manusia. 

Pesse, bermakna kesetiakawanan terhadap manusia. 

Parakai sirimu, perasaan tanggung jawab dan pengendalian diri 

Cappa lila, keterampilan berkomunikasi dan berdialog dengan penuh keterbukaan dan tutur kata yang santun 

Rupannamitaue dek naullei ripinra atau hanya wajah manusia yang tidak bisa diubah. Petuah ini bermakna percaya diri dan sikap optimisme terhadap peluang terjadinya perubahan pada diri manusia ke arah yang lebih baik. 

Sipatuo sipatokkong dan sipamali siparappe (saling mengembangkan dan saling menghidupkan) yang berimplikasi kepada saling membantu dan memahami orang lain. 

Pajjama (usaha dan kerja keras)mengandung makna kemandirian, sikap optomis dan dinamis menghadapi masa depan disertai ketekunan dan kerja keras. Getteng (ketegasan prinsip) mengandung makna kepercayaan diri, keberanian menanggung resiko dan adanya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. 






Penulis : Admin

Friday, 27 March 2020

PALLAPI ARONA OGI'E ''PITUE MASSINRING PULU EPPA MASSUMPANG MINANGA'''

Syeck Yusuf (Toanta Salamaka), Petta Lasinrang (Petta Lolo), Arung Palakka (Petta to malampe gemmena), KH. Harun, Pettabarang, Imam Lapeo, Dt. Sangkala

1. Syeck Yusuf (Toanta Salamaka)
Syeikh Yusuf Makasar pembela dan penjunjung kebenaran Seorang Penyebar agama islam dari tanah mekkah sampai Banten - Syahdan, di Negeri Tallo, pada 13 Juli 1626 M atau bertepatan 8 Syawal 1036 H, muncul dari langit cahaya terang benderang menyinari negeri itu hingga Negeri Gowa. Maka, gemparlah masyarakat Gowa melihat cahaya itu. Mereka pun berangkat ke Tallo menceritakan serta mencari tahu fenomena luar biasa yang terlihat di Gowa. Namun orang Tallo tak tahu apa-apa. Yang mereka tahu, di negerinya telah lahir seorang anak bernama Yusuf. Kisah yang tertoreh dalam lontara Riwayakna Tuanta Salamaka ri Gowa (RTSG) itu menggambarkan kelahiran seorang ulama besar yang juga termasyhur sebagai sufi dan pejuang bernama Asy-Syaikh al-haj Yusuf Abu al-Mahasin Hidayatullah Taj Al-Khalwati al-Makasari atau Syekh Yusuf. Syekh Yusuf, menurut Abu Hamid dalam bukunya Syekh Yusuf: Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang lahir dalam masyarakat yang kompleks dan penuh dinamika. Saat itu, peperangan tengah berkecamuk di antara kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan dan terjadi persaingan melawan kompeni Belanda yang tengah sibuk berebut jalur perdagangan. Suasana keagamaan juga berada dalam masa transisi, sehingga kepercayaan lama dan Islam masih bercampur-baur.

Asal-usul ulama besar itu memang tak dapat dipastikan kebenarannya, karena bersumber dari cerita dan legenda. Menurut lontarak RTSG versi Gowa, ibu Syekh Yusuf bernama Aminah puteri Gallarang Moncongloe dan ayahnya seorang tua yang tak diketahui asal kedatangannya. Orang tua itu dikenal sebagai orang suci yang konon mempunyai banyak keramat. Buya Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam Jilid IV meyebutkan ayah Syekh Yusuf bernama Abdullah. Dan tambahan pengetahuan dr sa, bahwa beliau merupakan Maha Guru dari salah satu perguruan yg ada di Sulawesi Selatan yaitu PS NR(Perguruan Silat Nur Rachmat Indonesia).

2. Petta Lasinrang (Petta Lolo)
Sekitar tahun 1856, keluarga raja dan pembesar kerajaan Sawitto, diliputi suasana bahagia atas lahirnya putra La Tamma yaitu La Sinrang. Kemudian dikenal dengan nama Petta Lolo La Sinrang. Putra La Tamma Addatuang Sawitto ini, dilahirkan di Dolangeng sebuah kota kecil yang terletak kira-kira 17 km sebelah selatan kota Pinrang. Karena ibunya bernama I Raima (Keturunan rakyat biasa) berasal dari Dolangeng. Sejak lahirnya La Sinrang memang memiliki keistimewaan dimana dadanya ditumbuhi buluh dengan arah berlawanan yaitu arah keatas ke atas (bulu sussang).
Dalam perjalanan hidupnya, La Sinrang banyak mendapat bimbingan dan pendidikan daripamannya (saudara I Raima), yaitu orang yang mempunyai pengaruh dan disegani serta dikenal sebagai ahli piker kerajaan. Sehingga, La Sinrang menjadi seorang pemuda yang cukup berwibawa dan jujur. Hal ini merupakan suatu cirri bahwa putra Addatuang sawitto ini, adalah seorang calon pemimpin yang baik.
Diwaktu kecil La Sinrang gemar permaianan rakyat seperti dalam bahasa bugis mallogo, maggasing, massaung dan lain-lain. Namun, kegemaran utamanya yang berlanjut sampai usia menanjak dewasa yaitu “ Massaung “. Menyabung ayam. Dari kegemaran ini, La Sinrang selalu menggunakan “ Manu “ bakka “ (ayam yang bulunya berwarna putih berbintik-bintik merah padabagian dada melingkar kebelakang), ayam jenis ini jarang dimiliki orang
Kegemaran menyabung ayam dengan “ manu bakka “ tersiar keluar daerah, sehingga La Sinrang dikenal dengan julukan “ Bakka Lolona Sawitto “ juga dapat diartikan “ Pemuda berani dari Sawitto . Julukan ini semakin popular disaat La Sinrang mengadakan perlawanan terhadap belanda.
Juga kegemaran La Sinrang di usia remaja/dewasa adalah permainan “Pajjoge” yaitu tari-tarian dari asal Bone, sehingga ketika Pajjoge dari Pammana (Wajo) mengadakan pertunjukan di Sawitto maka La Sinrang semakin tertarik dengan Permian tersebut.
La sinrang ke Pammana, dimana setelah tinggal di Pammana dia memperlihatkan gerak-gerik yang menarik perhatian orang banyak, utamanya Datu Pammana sendiri. Datu Pammana La Gabambong ( La Tanrisampe) juga merangkap Pilla Wajo tertarik untuk menanyakan asal-usul keturunannya.
La Sinrang pun dididik dan diterima Datu Pammana menjadi pemberani, terutama dalam hal menghadapi peperangan. Setelah itu, La Sinrang kembali ke daerah asalnya yaitu Sawitto, saat itu La Sinrang mempunyai dua orang putra yakni La Koro dan La Mappanganro darihasil perkawinan dengan Indo Jamarro dan Indo Intang.
Tiba di Sawitto diajaknya kerajaan Suppa, Alitta, binanga Karaeng, Ruba’E, Madallo, Cempa, JampuE, dll kerajaan kecil disekitar Sawitto untuk berperang, dan apabila kerajaan tersebut tidak bersedia, berarti bahwa kerajaan itu berada dibawah kekuasaan Sawitto. Dengan demikian, dalam waktu singkat terkenallah La Sinrang keseluruh pelosok, baik keberanian, kewibaan, maupun kepemimpinannya
La Sinrang selama berada di Sawitto semakin nakal, akhirnya diasingkan ke Bone, baru setahun di Bone, terpaksa menyingkir ke Wajo karena membunuh salah seorang pegawai istana di Bone yaitu Pakkalawing Epu’na Arungpone.
Selama di Wajo ia mendapat didikan dari La Jalanti Putra Arung Matawo Wajo yaitu La Koro Arung Padali yang bergelar Batara Wajo. La Janlanti diangkat menjadi komandan Pasukan Wajo di Tempe dengan pangkat Jenderal.
Setelah serangan Belanda terhadap kerajaan sawitto semakin hebat, maka La Sinrang dipanggil pulang oleh ayahnya, dan diangkat menjadi panglima perang. Dalam kepemimpinannya sebagai panglima perang kerjaan Sawitto, senjata yang dipergunakan adalah tombak dan keris. Tombak bentuknya besar menyerupai dayung diberi nama “ La Salaga ‘ sedang kerisnya diberi nama “ JalloE”

3. Arung Palakka (Petta to malampe gemmena)
Seorang Raja Bone yang bisa membebaskan Masyarakat bone dari penindasan oleh kerajaan Gowa dan beliau di Juluki Sang Pembebas. Setelah La Maddaremmeng MatinroE ri Bukaka meninggal dunia, maka digantikanlah oleh kemanakannya yang bernama La Tenri Tatta Arung Palakka MalampeE Gemme’na Petta To RisompaE. La Tenri Tatta To Unru adalah anak dari We Tenri Sui Datu Mario Riwawo dengan suaminya yang bernama La Pottobune Arung Tanatengnga Datu Lompulle. Ibu dari We Tenri Sui adalah We Baji atau We Dangke LebaE ri Mario Riwawo dengan suaminya La Tenri Ruwa Arung Palakka MatinroE ri Bantaeng. La Tenri Ruwalah yang mula-mula menerima agama Islam dari KaraengE ri Gowa yang juga dianggap sebagai orang pertama menerima agama Islam di Celebes Selatan. Karena pada waktu itu orang Bone menolak agama Islam, maka Arumpone La Tenri Ruwa pergi ke Bantaeng dan disanalah ia meninggal dunia sehingga dinamakan MatinroE ri Bantaeng. Ketika La Tenri Tatta To Unru baru berusia 11 tahun, Bone dibawah kepemimpinan La Tenri Ruwa, Bone diserang dan dikalahkan oleh Gowa. Orang tuanya La Pottobune ditangkap dan ditawan bersama Arumpone La Tenri Ruwa serta beberapa anak bangsawan Bone lainnya oleh KaraengE ri Gowa dalam peristiwa yang disebut Beta Pasempe ( Kekalahan di Pasempe ). Pasempe adalah sebuah kampung kecil yang dipilih oleh Arumpone La Tenri Ruwa untuk melakukan perlawanan dan disitulah dia dikalahkan. Semua tawanan Gowa termasuk orang tua La Tenri Tatta Arung Palakka dibawa ke Gowa.

4. KH. Harun

Beliau berasal dari Kerajaan Tallo

5. Petta Barang atau petta To risappae

Konon beliau mallajang diatas kudanya dan penunggu kudanya hingga sekarang masih ada. beliau adalah keturunan raja barru yang kuat akan agama. Menurut informasi yang saya dapat beliau memunyai anak yang bernama Petta Baso Unra (anak pertama petta Barang) Sekitar 3 bulan yang lalu anak pertama dari petta barang ini pernah datang di daerah Lanca, kecamatan Tellusiattinge, kabupaten Bone (Bone Utara) disalah satu rumah warga di daerah lanca.

6. Imam Lapeo

Seorang imam di desa lapeo yang sederhana dan menyebarkan agama islam sampai ketanah bugis. sering memperlihatkan mukzisat dari sang Kuasa

7. Dt. Sangkala
Untuk sekarang ini saya belum mendapatkan info tentang beliau. Saya mohon tambahan dan masukannya mungkin ada yang salah, dan semoga bermanfaat.


Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah “Wali Songo” atau “Wali Sembilan”, maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah “Wali Pitu” atau “Wali Tujuh” yang bahkan lengkap dengan foto-fotonya.

Foto “Wali Tujuh” banyak diagung-agungkan sebagian masyarakat Islam di Sulawesi Selatan, di antaranya ada membingkai lalu memasang di dindingnya bersama dengan foto Syekh Abdul Qadir Al Jaelani, ada pula yang laminating lalu menyimpan di dompetnya sebagai penjaga dompet dan diri penyimpan.

Ada kebanggaan tersendiri bila di dinding rumah terpasang kedua foto ini karena dianggap ahli tarekat yang hebat setidaknya tamu beranggapan bahwa rumah ini milik murid wali tujuh atau Syekh Abdul Qadir Al- Jaelani.

Foto Wali Tujuh biasa juga disimpan para dukun biar lebih dipercayai sama pasiennya. Bila Malam Jumat tiba biasa diasapi dupa kemenyan, agar aromanya menyebar diseluruh ruangan.

Tidak diketahui, siapa sebenarnya yang menyusun foto tersebut kemudian disebutnya “wali pitu”. Hanya dahulu kita sering pula dapatkan di tukang-tukang cuci foto. Ketika tukang foto ditanya foto apa ini, mereka jawab itu “wali pitu” pesanan orang.

Mungkin juga masih ada di antara pembaca yang masih menyimpan di dompet foto sosok “Wali Tujuh” itu atau bahkan ada yang sudah diberi bingkai lalu digantung di ruang tamu saat ini.

Kata ‘wali’ bila ditinjau dari segi bahasa berasal dari kata “al-wilayah” artinya “kekuasaan” dan ‘daerah’ sebagaimana kata tersebut diambil dari kata “al-walayah” yang berarti pertolongan.

Menurut pengertian sebagian ulama ahlussunah, wali adalah orang yang beriman lagi bertakwa tetapi ia bukan seorang nabi. seluruh orang yang beriman lagi bertaqwa adalah disebut wali Allah, dan wali Allah yang paling utama adalah para nabi.

Dan yang paling utama di antara para nabi adalah para rasul, yang paling utama di antara para rasul adalah Ulul ‘azmi, yang paling utama di antara Ulul ‘azmi adalah Muhammad.

Maka para wali Allah tersebut memiliki perberbedaan dalam tingkat keimanan mereka, sebagaimana mereka memiliki tingkat yang berbeda pula dalam kedekatan mereka dengan Allah.

Allah telah menyebutkan ciri para wali-Nya dalam firmannya, “Ingatlah, sesungguhnya para wali-wali Allah Mereka tidak merasa takut dan tidak pula merasa sedih. Yaitu orang-orang yang beriman lagi bertaqwa”. (Yunus: 62-63).

Nah, jika demikian dapat dikatakan, bahwa wali artinya orang yang hebat dalam beragama, kekasih Allah atau para ulama yang berjasa dalam penyebaran agama Islam.

Nah, bagaimana dengan ” Foto Wali Tujuh itu” Mari kita kupas satu persatu ketujuh orang yang ada di foto itu:

Ketujuh orang dalam foto tersebut bukanlah orang yang seumuran, melainkan orang yang hidup di zaman yang berbeda, ada yang hidup diabad ke-17, ada yang di abad ke-19 dan ada yang abad ke-20 dan tidak semuanya adalah ulama.

Foto Wali Tujuh itu diperkirakan dibuat oleh tukang foto pengikut sufi yang suka mengagung-agungkan orang hebat. Di mana ketika ia mengetahui kalau di Jawa ada Wali Songo, maka mereka pun membuat-buat wali dengan mengumpulkan nama-nama tokoh yang bagi mereka sendiri anggap adalah hebat.

Lalu kemudian dicarinya lukisan ketujuh orang tersebut, digunting dan disatukan lalu difoto kembali. Nah, hasil kumpulan foto inilah yang tersebar kemana-mana karena telah dibumbuhi khurafat, bahwa foto itu adalah Wali Tujuh dari Sulawesi Selatan. Maka orangpun mengagung-agungkannya.

Pengagungan foto inilah yang dimanfaatkan setan untuk menyesatkan manusia sampai muncul kesyirikan terhadap foto itu karena ada yang telah menjadikannya jimat.

Siapa ketujuh orang yang dianggap wali itu?
1. Syekh Yusuf dari Gowa
2. Arung Palakka dari Bone
3. La Sinrang dari Pinrang
4. KH. Harun dari Tallo tidak ditahui kisah keulamaannya.
5. Petta Barang (seorang dukun dan pejuang)
6. Imam Lapeo dari Mandar
7. Datu Sangkala (tidak diketahui asalnya)

Dari ketujuh nama di atas, yang ada hubungannya dengan keulamaan kalau mau diberi istilah “wali” hanya 2 orang, yaitu:

1. Syekh Yusuf, yang dikenal sebagai tokoh sufi, penyebar tarekat Khawalatiyah. Syekh Yusuf diagung-agungkan muridnya dengan sebutan “Tuanta Salamaka”.

Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626 dan meninggal di Cape Town, Afrika Selatan, 23 Mei 1699 pada umur 72 tahun adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia.

2. Imam Lapeo, dikenal pula sebagai tokoh sufi, yang terkenal karena kecerdasan keberanian dan budi perkertinya, belajar sufi di Mekah.

Muhammad Thahir Imam Lapeo atau lebih dikenal dengan Imam Lapeo atau Tosalama‟ merupakan tokoh sufi yang dikenal akan kecerdasannya, keberaniannya dan sifatnya yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan,

Imam Lapeo yang mendirikan masjid di daerah Lapeo dan sekaligus menjadi imam pertama di masjid yang didirikannya itu.

Beliau dikenal juga dengan sebutan Kannai Tambul (‘kakek dari Istanbul’) karena beliau pernah menuntut ilmu agama hingga ke Istanbul, Turki.

Imam Lapeo Sufi besar dari Tanah Mandar ini dakwahnya merambah masyarakat nelayan hingga pegunungan. Perjalanan hidupnya sepenuhnya diabadikan untuk ilmu dan umat.

Peranan dan kontribusi Imam Lapeo melalui kerja-kerja sosial-keagamaan dan kebangsaan menjadi lahan persemaian kharisma, popularitas, sehingga masyarakat Mandar memposisikannya sebagai primus inter pares, yang dicirikan melalui pengakuan dan pembenaran secara sosio-kultural sebagai Waliullah.

Sedangkan yang lainnya jika meruntut sejarahnya tidak ada hubungannya dengan kewalian atau keulamaan, yaitu:

1. Arung Palakka, terkenal sebagai Raja Bone yang berani melawan Kerajaan Gowa, membebaskan Bugis, bahkan mengalahkan Gowa. Meskipun digelar Sultan Saaduddin tetapi bukan penyebar Islam.

2. La Sinrang terkenal karena sebagai panglima perang Kerajaan Sawitto Pinrang melawan Belanda.

3. Petta Barang, dikenal hanya karena hilang di atas kudanya bersama dengan pengawalnya.
Petta Barang juga biasa digelari Petta Po Risappae, ia merupakan keturunan raja Barru.


Dalam beberapa ceritera, ia dikisahkan tiba-tiba menghilang dari atas kudanya bersama seorang penuggu kudanya, itu sebabnya Petta Barang diberi gelar Petta To Risappae yang artinya orang dicari keberadaannya.

Petta Barang memulai gerakannya sebagai seorang dukun yang sakti dan “menjual” atau membagikan jimat kepada pasien atau penduduk yang bersedia menjadi pengikutnya. Oleh karena itu, nama dan kesaktian Petta Barang semakin terkenal di masayarakat serta pengaruhnya pun semakin luas, baik di daerah Bone pada khususnya maupun di daerah Bugis pada umumnya.

Setelah kedudukannya cukup kuat, Petta Barang memerintahkan kepada para pengikutnya untuk melancarkan serangan terhadap kedudukan pasukan Belanda di Watampone, Pattiro Bulu, dan sejumlah tempat di daerah Bugis.

Selain itu, juga melakukan penyerangan terhadap pasukan patroli Belanda pada setiap ada kesempatan, sehingga cukup merepotkan pasukan Belanda. Itulah sebabnya pemerintah Belanda memusatkan perhatian dan mengerahkan kekuatan militer untuk menumpas gerakan Petta Barang bersama para pengikutnya.

Usaha-uasaha itu akhirnya membuahkan hasil ketika Petta Barang berhasil ditangkap di Citta, Soppeng pada 1913.

4. KH. Harun, tidak ditahui kisah keulamaannya.

5. Datu Sangkala tidak ada yang tahu kisahnya sama sekali.

Sebenarnya istilah Wali dalam Islam bukan dilihat dari kehebatan atau kesaktiannya, melainkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah. Kalau berpatokan pada Al-Quran maka yang bisa dianggap wali yang berjasa terhadap penyebaran Islam atau dilihat dari keulamaannya, adalah:

1. Tiga wali dari Minangkabau yang menyebarkan Agama Islam, yang disebut Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, dan Datuk Sulaeman (Patimang)

2. Sultan Alauddin, Raja Gowa ke-14 yang memerintahkan penyebaran agama Islam ke kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan sampai ke Sumbawa dan Maluku.

3. La Maddaremmeng, Raja Bone ke-13, yang menerapkan syariat Islam di Kerajaan Bone, yang memerintahkan penghancuran berhala-berhala, penghapusan budak, tetapi akhirnya dipaksa turun sebagai raja, karena pihak keluarganya dan Raja Gowa menolak penerapan syariat Islam.

Dari uraian-uraian di atas, maka dapat dikemukakan, bahwa “Wali Tujuh” yang orangnya ada dalam foto-foto yang tersebar itu hanyalah khurafat, atau buatan orang-orang yang mengagung-agungkan orang yang menurutnya hebat bukan karena keulamaan atau jasa-jasanya dalam penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan. Artinya di antaranya hanya berjasa dalam penyebaran ajaran-ajaran sufi/tarekat.

Jadi foto yang diagung-agungkan banyak orang orang selama ini bukanlah foto tujuh wali yang sebenarnya, melainkan foto yang direka-reka oleh seseorang menurut persangkaannya atau khufarat. Pengertian khufarat adalah sebuah dongeng, cerita, legenda, kisah, asumsi, dugaan, dan lain sebagainya yang merupakan prediksi atau kejadian yang tidak benar adanya.

Karena apabila dilihat dari keagamaan dan keulamaan, serta prestasi dalam penyebaran Islam, maka tentu masuk ketiga wali penyebar Islam dari Minangkabau (Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, dan Datuk Sulaeman/Patimang). Masuk pula Raja Gowa (Sultan Alauddin), dan Raja Bone (La Maddaremmeng) yang berjasa dalam penyebaran Islam dan penerapan syariat Islam di Sulawesi Selatan.

Catatan sejarah:

1. Datuk Pattimang atau Datuk Sulaiman bergelar Khatib Sulung adalah seorang ulama dari Koto Tangah, Minangkabau yang menyebarkan agama Islam ke Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan pada tahun 1593.

Dia bersama dua orang saudaranya yang juga ulama, yaitu Datuk ri Bandang yang bernama asli Abdul Makmur dengan gelar Khatib Tunggal dan Datuk ri Tiro yang bernama asli Nurdin Ariyani dengan gelar Khatib Bungsu merekalah yang menyebarkan agama Islam ke kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan pada masa itu.

2. Sultan Ala’uddin nama aslinya yaitu I Mangngarangi adalah raja ke-14 Gowa dan raja pertama yang masuk Islam ketika memerintah.
Ia berkuasa di Gowa tahun 1593 hingga 15 Juni 1639.

Adalah Datuk ri Bandang seorang pendakwah Minangkabau yang berasal dari Koto Tangah, mengislamkan I Mangngarangi pada tanggal 22 September 1605. Semenjak itu, I Mangngarangi memimpin dengan gelar Sultan Ala’uddin.

Pada masa pemerintahannya Sultan Alauddin melakukan ekspansi besar-besaran. Pada tanggal 10 Juni 1639, Ala’uddin jatuh sakit ketika berada di Cikkoang, lima hari kemudian ia meninggal di Somba Opu.

3. La Maddaremmeng bergelar Sultan Muhammad Saleh, Raja Bone ke-13 tahun 1631-1644. Pada masa pemerintahannya, La Madderemmeng menerapkan syariat Islam dengan memerintahkan kawulanya untuk mematuhi ajaran hukum Islam secara total dan menyeluruh. Ia adalah Arumpone yang menentang perbudakan.

Pada masa itu nasib budak (pekerja), khususnya di Bone dan Sulawesi Selatan pada umumnya sangat tragis. Budak dapat disuruh bekerja sekeras-kerasnya tanpa bayaran, tak ubahnya hewan peliharaan.

La Maddaremmeng kemudian menerapkan aturan Islam secara ketat dan menentang perbudakan karena semua Umat Islam orang yang merdeka dan bersaudara, demikianlah perkembangan Islam di Bone yang begitu pesat dengan penguasa menerapkan aturan-aturan Islam dengan ketat, tak hanya dalam wilayahnya melainkan ke kerajaan tetangga seperti Soppeng dan Wajo.

La Madderemeng, mengeluarkan perintah untuk tidak lagi mempekerjakan ata (budak). Menurutnya, semua umat Islam adalah orang yang merdeka. Apabila seseorang mempekerjakannya maka harus memperoleh nafkah sewajarnya.

Selain pembebasan budak, La Madderemeng Sultan Muhammad Saleh juga menghancurkan berhala dan tidak mengijinkan kepercayaan leluhur yang tidak sesuai syariat Islam. Namun, tindakan itu tak begitu disenangi rakyat dan kalangan istana, bahkan ibunya sendiri, We Tenrisoloreng Datu Pattiro.A kibatnya kerajaan tetangganya merasa tertekan dengan aturan La Maddaremmeng secara perlahan menggalang kekuatan dengan kerajaan Gowa.

Pada 1640, We Tenrisoloreng Datu Pattiro ibunda La Maddaremmeng melakukan perjalanan dan menuju Makassar untuk meminta perlindungan pada Sultan Malikussaid, raja Gowa ke-15 (periode 1639-1653) pengganti Sultan Alaudin yang mangkat.

Gowa didukung Wajo, Soppeng dan Sidenreng menghimpun pasukan dalam jumlah besar dan menyerang Bone. Pada 1644, Bone ditaklukkan. La Maddaremeng ditangkap dan ditawan di Makassar. Sementara adiknya La Tenriaji yang mendukung segala aturan La Madderemeng, melarikan diri.

Kekalahan inilah yang kemudian dalam lontara’ Bone dituliskan, “Naripoatana Bone Seppulo Pitu Taung Ittana.” (maka diperbudaklah Bone tujuh belas tahun lamanya).

Nah, terkait “Foto Wali Tujuh atau Wali Pitu” yang sampai saat ini masih ada yang mengagung-agungkannya kami tidak persalahkan, namun perlu pemikiran cerdas. Allah Maha Mengetahui.


Selain Berbagai Sumber dari Rujukan Penulis sebagian dari Rujukan di ambil dari 
Sumber : Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?/TelukBone

Penulias : Admin

Wednesday, 25 March 2020

SUKU BUGIS DI KERAJAAN MELAYU


Eksistensi Orang Bugis dalam Pemerintahan Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang

Secara garis besar, etnis Bugis dikenal sebagai orang-orang yang mendiami wilayah Sulawesi bagian selatan. Tidak hanya wilayah pesisiran pantai, tetapi mereka juga menetap hingga ke daerah pegunungan. Beberapa daerah yang menjadi tempat bermukim atau asal orang Bugis di antaranya adalah Bone, Luwuk, Wajo, Bulukumba, Soppeng, Maros Palopo, Sinjai, Pangkajene, Enrekang, Selayar, Pinrang, Makasar dan Pare-Pare. Mereka dikenal sebagai pengarung lautan dan tercatat telah singgah dan bahkan menetap di berbagai daerah di Nusantara. Terkait dengan para perantau Bugis yang ada di kawasan semenanjung Melayu dan beberapa pulau di daerah Kepulauan Riau, mereka dikenal sebagai saudagar yang terkenal. Seorang berkebangsaan Inggris bernama Francis Light yang pernah datang ke Pulau Pinang, Malaysia pada 11 Agustus 1786 menyebutkan orang-orang Bugis adalah saudagar yang paling terkenal di pulaupulau sebelah timur. 
Disebutkan mereka memiliki dagangan bernilai tinggi, sama dengan emas bungkah bersama-sama dengan beberapa candu serta kain baju. Hal ini kemudian membuat kedatangan mereka begitu ditunggu dan diharapkan oleh para pedagang. Dari berbagai wilayah yang tercatat pernah disinggahi, kawasan semenanjung Melayu adalah salah satu lokasi yang menjadi tujuan orang-orang Bugis. Sebagai kawasan strategis dalam hal perdagangan, daerah ini menjadi tujuan oleh banyak pedagang dari berbagai daerah. 
Keberadaan Malaka serta kekuasaan Islam di Aceh menjadisemacam pasar tempat terjadinya transaksi bagi para pedagang. Tidak hanya pada masa Islam, aktivitas pelayaran dan perdagangan di kawasan ini bahkan telah ada sejak zaman Hindu-Budha dan bahkan sebelumnya. Pada masa kejayaan Kerajaan Melayu Malaka yang terkenal sebagai pusat perdagangan, orang Bugis merantau dalam rangka bedagang atau mencari penghidupan yang lebih baik. Akan tetapi hal tersebut mulai berubah pada masamasa mendatang. Mereka datang ke daerah barat tidak semata untuk mencari penghidupan, melainkan didorong oleh faktor lain. Migrasi besar-besaran orang Bugis juga disebabkan perang VOC di Makassar yang kemudian berakhir dengan perjanjian Bungaya pada November 1667. 
Dalam perkembangannya, perpindahan migrasi orang Bugis mulai terjadi diakibatkan berbagai faktor. Alasan keamanan akibat situasi politik serta alasan perekonomian juga memicu mereka untuk meninggalkan tanah kelahiran. Pada abad ke-18, perperangan yang terjadi di kawasan Sulawesi menciptakan kondisi yang tidak aman sehingga mereka memutuskan untuk melakukan migrasi. Selain itu, masalah ekonomi juga menjadi salah satu alasan menyebarnya orang Bugis ke berbagai daerah disebabkan keterbatasan lahan pertanian di daerah Bone dan Wajo. Sementara itu di kawasan Semenanjung Melayu dan kawasan Kepulauan Riau masa itu tengah berkembang Kerajaan Johor dengan wilayah kekuasaan Johor, Riau, 
Lingga dan Pahang. Pasca jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, Kerajaan Johor merupakan salah satu kerajaan yang berkembang di kawasan tersebut. Di penghujung abad ke-17, kerajaan mulai dilanda konflik perebutan kekuasaan dengan melibatkan Raja Kecik yang mengaku sebagai keturunan Sultan Mahmud Syah II dengan Tuan Abdul Jalil sebagai pengganti sultan. Konflik perebutan kekuasaan ini kemudian tidak terlepas dari keterlibatan para bangsawan Bugis yang masa itu tengah berada di kawasan tersebut. Pasca direbutnya tahta kerajaan oleh Raja Kecik, aksi tuntut balas pun kemudian dilancarkan oleh keturunan Tun Abdul Jalil dengan bantuan Opu Daeng Lima Bersaudara. Keberhasilan Keturunan Tun Abdul Jalil, Tengku Sulaiman bersama orang-orang Bugis tersebut kemudian mengantarkannya menjadi sultan di Kerajaan Johor, Riau, Lingga dan Pahang dan para orang-orang bugis tersebut mendapat posisi strategis di dalam kerajaan. Salah satu hal menarik dari persoalan ini adalah masuknya orangorang Bugis ke dalam struktur pemerintahan Kerajaan Melayu. 
Sebagaimana dijelaskan di awal, kedatangan Orang Bugis ke Tanah Melayu sejak masa-masa sebelumnya bukanlah dalam rangka ekspansi maupun mencari kekuasaan, melainkan mencari penghidupan atau sekedar ingin lepas dari kondisi politik di daerah mereka yang mulai tidak kondusif. Bersinggungan dengan kepentingan politik keluarga kerajaan Melayu kemudian membawa Opu Daeng Bersaudara ke dalam struktur pemerintahan kerajaan. Beberapa litersi yang berkaitan dengan keterlibatan orang Bugis dalam struktur pemerintahan kerajaan Melayu belumlah terlalu banyak. Beberapa penelitian yang pernah membahas hal serupa di antaranya adalah artikel Sunandar berjudul Melacak Hubungan Kesultanan Sambas dan Bugis yang dimuat di Jurnal Khatulistiwa pada tahun 2014, artikel tersebut berupaya melacak hubungan yang pernah terjadi antara Orang Bugis dengan Kesultanan Sambas. Penelitian lainnya adalah makalah dalam International Seminar on Generating Knowledge Through Research, UUMUMSIDA yang digelar di Universiti Utara Malaysia, Malaysia pada tahun 2016, berjudul Bugis di Kedah 1600-1800: Suatu Tinjauan Awal yang ditulis oleh Jasni bin Ahmad. 
Dalam artikel tersebut Jasni menulis upaya orang Bugis untuk mengambil alih pemerintahan di Kerajaan Kedah. Sementara dalam literatur lain masalah ini hanya menjadi bagian tertentu dari sebuah kajian. Maka, penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan mengambil batasan temporal pada abad ke-17 dan 18. Batasan ini diambil lantaran perebutan kekuasaan kerajaan johor yang melibatkan orang Bugis terjadi pada akhir abad ke-17 dan mulai menjalankan tugas sebagai Yang Dipertuan Muda pada awal abad ke-18. 
Sementara itu batasan tematis dari penelitian ini terkait dengan keterlibatan orang Bugis dalam strutur pemerintahan kerajaan Melayu. Terdapat beberapa langkah yang dilakukan dalam penelitian sejarah, seperti heuristik, kritik sumber, interprestasi dan penulisan. 11 Heuristik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengumpulan sumber-sumber berkaitan dengan peristiwa yang terjadi seputaran abad ke17 dan 18 di kerajaan Johor-Riau-LinggaPahang, serta sumber tentang keberadaan dan eksistensi orang Bugis di kawasan tersebut, baik itu data primer maupun sekunder. Sumber-sumber yang telah terkumpul, nantinya dilakukan kritik, baik itu kritik intern maupun ekstern. 
Dari sumber-sumber yang ditemukan, banyak terdapat kesimpang siuran data, mulai dari tahun hingga nama tempat tentang beberapa peristiwa. Langkah selanjutnya setelah kritik sumber adalah interprestasi. Interprestasi merupakan upaya menformulasikan data agar menjadi susunan peristiwa berdasarkan data yang dinilai paling kuat dan masuk akal. Dari sinilah kemudian mulai disusun narasi sejarah terkait peristiwa yang terjadi. Sementara langkah terakhir dari penelitian ini adalah menuangkannya dalam bentuk karya ilmiah. 



ORANG BUGIS DALAM POLITIK DI SEMENANJUNG MELAYU 

Semenanjung Melayu merupakan kawasan yang bersentuhan langsung dengan banyak etnis yang datang dari berbagai daerah di Nusantara maupun di dunia. Selain orang Bugis maupun Minang, kawasan ini tercatat pernah didiami oleh masyarakat yang pernah bekerja pada Malaka. Tidak hanya itu, dulunya para perantau dari Bawean juga banyak menetap di daerah Malaysia maupun Singapura sekarang. Selain itu, karena merupakan kawasan perdagangan, maka keberadaan etnis Arab, Eropa, India maupu Cina juga cukup eksis di sini.
Dari beberapa kedatangan orang Bugis ke kawasan Semenanjung Melayu, salah satunya adalah kedatangan Opu Daeng Rilaka. Daeng Rilaka merupakan bangsawan dari Kerajaan Luwu di Bagian Selatan Sulawesi yang datang bersama lima orang anaknya, yaitu yaitu Daeng Parani, Daeng Chelak, Daeng Marewa, Daeng Kamasi dan Daeng Maanambun. Sebelum sampai di Semenanjung Melayu, rombongan dikabarkan sempat singgah di Batavia.
Setelah dari Batavia, rombongan Daeng Rilakka melanjutkan pelayaran ke arah utara hingga sampai di daerah Siantan yang berada di kawasan Pulau Tujuh. Di Siantan rombongan bertemu dengan seorang keturunan Bugis bernama Nakhoda Alang yang telah berganti nama menjadi Qori Abdul Malik. Dalam pertemuan tersebut, anak Daeng Rilakka, Daeng Parani mempersunting anak Qori Abdul Malik yang bernama Encik Fatimah. Selanjutnya, dalam perjalanan menuju Malaka, rombongan Daeng Rilakka bertemu dengan rombongan dari Kamboja dan ikut melakukan perjalanan ke negeri tersebut. 
Sekembalinya dari Kamboja, Rombongan Daeng Rilakka kembali merapat di Siantan. Sesampainya di Siantan, Encik Fatimah yang merupakan isteri dari Daeng Parani melahirkan anak pertama mereka, dan kemudian diberi nama Daeng Kemboja.15 Selain kelahiran Daeng Kemboja, tidak lama berselang Daeng Rilakka meninggal dunia dan dimakamkan di suatu tempat bernama Liuk. Setelah wafatnya Daeng Rilakka, pada 1681 Opu Daeng Lima Bersaudara melanjutkan pelayaran dan turut mendirikan pemukiman Bugis di Muara Sungai Kelang dan Sungai Johor.
Sepanjang penelusuran terhadap keterlibatan Bugis dalam ranah politik kekuasaan, setidaknya terdapat dua kasus di kawasan Semenanjung Melayu terkait keterlibatan orang Bugis dalam urusan kekuasaan. Selain Kerajaan Johor, kasus lain juga terjadi di Kerajaan Kedah. Perebutan kekuasaan di kerajaan ini melibatkan Tunku Ngah Putera dengan sultan yang masa itu berkuasa. Tunku Ngah Putera merupakan putera dari Raja Juang Tawa dengan seorang puteri Sultan Kedah. Pergantian pemimpin pascawafatnya sultan tidak berpihak kepada Tunku Ngah Putera, sehingga ia memilih untuk undur diri kembali ke Bugis dan kembali lagi pada tahun 1687 untuk menyerang Kedah. Namun serangan dari Tunku Ngah Putera dapat diredam sehingga ia lari ke Bruas dan kemudian ke Selangor.
Selain oleh Tuanku Ngah Putera yang memiliki hubungan darah dengan kerajaan Kedah, pemberontakan lain terkait kekuasaan juga terjadi pada tahun 1770. Pada tahun tersebut terjadi penentangan dari puak (suku) di negeri Kedah yang menentang sultan lantaran usia sultan yang kian uzur dan urusan pemerintahan dijalankan oleh anaknya Tunku Abdullah gelar Yang Dipertuan Muda. Dalam penentangan tersebut, puak meminta pertolongan kepada orang Bugis. Pada 1771 pasukan Bugis sudah sampai di Kuala Sungai Kedah dan melakukan penyerangan, akan tetapi serangan tersebut dapat dilawan karena pihak kerajaan meminta bantuan kepada Inggris untuk menghalau pasukan Bugis yang datang menyerang.  Ketika Bugis gagal meraih kemenangan dalam perebutan kekuasaan di Kerajaan Kedah, beda cerita dengan peristiwa yang terjadi di Kerajaan Johor. Hal tersebut berawal dari Sultan Mahmud Syah II yang meninggal pada 1699 di Kota Tinggi Johor.19 Karena ketiadaan pengganti, maka pada awal September 1699 bendahara kerajaan yang waktu itu dipegang oleh Tun Abdul Jalil naik untuk mengisi posisi sultan dengan gelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah.
Setelah tampuk pemerintahan dipegang oleh Sultan Abdul Jalil Riayat Syah, maka selanjutnya muncullah Raja Kecik yang mengaku sebagai keturunan dari Sultan Mahmud Syah II.21 Dalam perjalanan untuk merebut kembali kekuasaan dari Sultan Riayat Syah, Raja Kecik bertemu dengan Opu Daeng Bersaudara dan meminta mereka untuk bergabung, dengan kesepakatan apabila upaya mereka untuk merebut kekuasaan berhasil, maka Daeng Parani akan diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda. Setelah pertemuan yang berlangsung di Muara Sungai Johor itu, maka Opu Daeng Bersaudara berangkat menuju Langat yang merupakan tempat bermukim orang Bugis di wilayah Johor.
Selain dari orang Bugis, Raja Kecik juga mendapat bantuan dari daerah Kuala Johor dan Singapura yang mana dulunya wilayah tersebut merupakan basis pendukung Sultan Mahmud Syah. Tanpa menghiraukan kesepakatan dengan Opu Daeng Bersaudara, Raja Kecik melanjutkan perjalanan melakukan penaklukan. Dari peristiwa tersebut, tepatnya pada 21 Maret 1717, Raja Kecik berhasil menaklukkan Johor dan diangkat menjadi sultan dengan gelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, sementara Sultan Abdul Jalil yang sebelumnya memerintah dijadikan bendahara kerajaan.
Keterlibatan orang Bugis, yang dalam hal ini adalah anak-anak dari Daeng Rilaka berlanjut ketika adanya upaya merebut kekuasaan dari Abdul Jalil Rahmat Syah oleh anak Sultan Abdul Jalil yang saat itu sudah kembali menjabat sebagai bendahara kerajaan. Dalam beberapa sumber disebutkan Tengku Sulaiman Sultan Abdul Jalil ingin kembali merebut tahta kerajaan lantaran tidak terima karena merasa dipermainkan oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah.24 Untuk itu, Tengku Sulaiman selanjutnya meminta bantuan kepada anak-anak Daeng Rilakka agar membantunya untuk menggulingkan sultan. Hal tersebut disambut baik oleh Opu Daeng Bersaudara, sebab mereka merasa punya kepentingan untuk membalas dendam kepada Raja Kecik. Rasa tidak senang kepada Raja Kecik sudah muncul semenjak ia meninggalkan mereka ketika sudah membangun kesepakatan untuk menyerang Johor dulu.
Serangan terhadap Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah dipimpin oleh Daeng Marewa. Serangan dari orang-orang Bugis tersebut tidak dapat ditahan sehingga pusat kerajaan dipindahkan ke daerah Riau pada thun 1719. Malangnya, dalam penyerangan tersebut, Sultan Abdul Jalil atau Datuk Bendahara ikut terbunuh oleh anak buah sultan. Selanjutnya, pada tahun 1722, Daeng Parani bersama saudarasaudaranya melanjutkan penyerangan ke daerah Riau dan terjadilah pertempuran di beberapa titik, seperti Pulau Penyengat, Pulau Bayan dan Tanjung Pinang. Akibat serangan tersebut akhirnya Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah terus mundur sampai ke Lingga hingga akhirnya memutuskan untuk lari ke Siak.
Pada 4 Oktober 1722, Tengku Sulaiman kemudian dilantik sebagai Sultan Kemaharajaan Melayu dan seluruh daerah taklukannya dengan gelar Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah I. Sejak saat itu, kerajaan yang berkuasa atas daerah Johor, Pahang, Riau dan Lingga itu dikenal dengan Kerajaan Riau, sementara Daeng Marewa dianugerahi jabatan sebagai Yang Dipertuan Muda.26 Tempat yang dijadikan sebagai pusat pemerintahan itu dikenal dengan Istana Kota Piring yang berada di Pulau Bintan. Istana tersebut mulai difungsikan sejak penabalan atau pelantikan Sultan Sulaiman hingga 10 November 1784.27 Selain diberikan jabatan sebagai Yang Dipertuan Muda, Opu Daeang Bersaudara juga diikat oleh Sultan Sulaiman melalui pernikahan dengan kerabat kerajaan. Daeng Parani dinikahkan dengan adik Sultan Sulaiman, Tengku Tengah. Sementara Daeng Marewa dinikahkan dengan Tun Cik Ayu yang merupakan anak dari Tumenggung Johor. Daeng Chelak dinikahkan dengan Tengku Mandak, adik Sultan Sulaiman yang lain.28 Anak yang menjadi keturunan Melayu-Bugis ini kemudian bergelar ‘Raja’ sebagai simbol kebangsawanan.

YANG DIPERTUAN MUDA DAN PERUBAHAN STRUKTUR KERAJAAN  

 Diangkatnya Daeng Marewa sebagai Yang Dipertuan Muda Riau I menjadi titik balik dari sistem pemerintahan Kerajaan Johor-RiauLingga-Pahang. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak biasa dalam sebuah pemerintahan Kerajaan Melayu. Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, di Kerajaan Kedah, Tun Ngah Putera yang mencoba untuk mengambil alih kekuasaan mengalami kegagalan dan harus menderita kekalahan setelah mengumpulkan pasukan dari Bugis. Akan tetapi, di Kesultanan Johor begitu berbeda. 
 Jabatan sebagai Yang Dipertuan Muda diperoleh keturunan Daeng Rilakka setelah bekerja sama dengan salah satu pihak yang memiliki kepentingan terhadap kekuasaan. Jabatan sebagai Yang   Dipertuan Muda bukanlah jabatan rendah untuk ukuran kerajan Melayu masa itu. Yang Dipertuan Muda dapat dikatakan sebagai jabatan tertingi kedua setelah jabatan sultan yang disebut dengan Yang Dipertuan Besar. Pada masa sebelumnya, jabatan Yang Dipertuan Muda sama dengan jabatan Bendahara Kerajaan. Artinya, selain di tangan Sultan, urusan negeri ada di tangan Yang Dipertuan Muda. 
 Lebih lanjut, Ridwan Melayu dalam tesis berjudul Riau Lingga Dilema Kekuasaan dan Implikasi Perdagangan 1784- 1824 menuliskan sebelumnya di Kerajaan Johor dikenal struktur pemerintahan sultan. Dalam pemerintahan tersebut sultan dibantu oleh Bendahara, Laksmana, Temenggung serta Orang Kaya. Pemangku jabatan ini memiliki jaringan ke masyarakat serta pihak asing dan hubungan mereka juga saling berkaitan antara satu dengan yang lain.
 Terkait pentingnya posisi bendahara kerajaan, sebelum pemerintahan sampai ke tangan Sultan Sulaiman Badul Alamsyah I, segala urusan diurus oleh sultan, menteri dan bendahara. Orang-orang yang akan mengisi jabatan tersebut dipilih langsung oleh sultan dan akan mempertanggungjawabkan seluruh pekerjaan kepada istana. Lebih dari pada itu, sultan juga memiliki ketergantungan terhadap bendahara maupun menteri.
 Dengan keberadan Yang Dipertuan Muda, maka posisi atau jawatan Bendahara Kerajaan pun ditiadakan. Selain itu, Ahmad Dahlan dalam buku Sejarah Melayu menyebutkan posisi sebagai Yang Dipertuan Muda dapat disebut sebagai wakil sultan atau sekelas dengan perdana menteri, sehingga dalam posisi tersebut sangat memungkinkan pemangkunya untuk mengambil kebijakan strategis di lingkungan kerajaan. Sementara pada masa pemerintahan sebelumnya hal tersebut dipercayakan kepada pemegang jabatan menteri serta Majelis Orang Kaya Melayu. Sehingga dengan adanya Yang Dipertuan Muda maka membuka peluang bagi pihak yang tidak lagi memiliki jabatan berubah menjadi oposisi.
 Jabatan Yang Dipertuan Muda juga memiliki kekuasaan yang cukup besar. Padanya mencakup jabatan Panglima Perang dan hubungan luar negeri. Sementara jabatan Yang Dipertuan Besar atau sultan hanya mengurus perihal adat istiadat, agama, hukum, serta keamanan di dalam negeri.35 Dengan kata lain, Yang Dipertuan Besar lebih mengurus pada urusan dalam negeri dan Yang Dipertuan Muda mengemban tugas untuk mengurus pertahan serta urusan eksternal kerajaan. Lambat laun, kondisi ini mulai memperlihatkan ketimpangan dengan mendominasinya peran dari Yang Dipertuan Muda. Persoalan ini pun menjadi persoalan yang mandasar dalam internal kerajaan. Dengan masuknya orang Bugis ke dalam struktur pemerintahan kemudian mulai mengenyampingkan peran sultan. Tidak dapat dipungkiri bahwasanya keikutsertaan orang Bugis dalam perebutan kekuasaan akhirnya merubah struktur pemerintahan tradisional kerajaan Johor hingga akhirnya bubar sebagai Kerajaan Riau Lingga.
 Ketimpangan tersebut kemudian berubah menjadi konflik internal kerajaan. Sejak dijabatnya Yang Dipertuan Muda I oleh Daeng Marewa telah terjadi beberapa konflik, akan tetapi hal tersebut dapat kembali menemui titik temu sehingga masing-masing pihak kembali dapat menjalankan tugasnya masing-masing. Selain konflik politik antara Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Muzaffar Syah dengan Yang Dipertuan Muda Raja Abdul Rahman, sebelumnya juga terjadi hal serupa, sehingga terjadi kekosongan jabatan Yang Dipertuan Muda selama lebih kurang tiga tahun.
 Setelah wafatnya Daeng Chelak sebagai Yang Dipertuan Muda II pada tahun 1745, posisi tersebut sempat mengalami kekosongan. Hal tersebut terjadi lantaran adanya rasa ketidaksengangan pihak Melayu terhadap kekuasaan orang Bugis. Karena jabatan Yang Dipertuan Muda merupakan posisi yang diberikan oleh Sultan Sulaiman, maka pihak-pihak yang tidak senang menghasut sultan untuk mengurangi dominasi orang Bugis. Akan tetapi pada tahun 1948, permasalahan ini kembali mereda setelah diadakan perdamaian antara Daeng Kemboja dengan Sultan Sulaiman. Pada tahun itu Daeng Kemboja kembali mengisi kekosongan jabatan Yang Dipertuan Muda sebagai Yang Dipertuan Muda Riau III.
 Memasuki masa Yang Dipertuan Muda Riau IV yang dijabat oleh Raja Haji, ikatan persaudaraan yang dijalin antara Melayu dengan Bugis semakin kuat. Raja Haji dikenal sebagai sosok Melayu Bugis yang memahami Melayu secara kultur.
 Pada masanya, Kemaharajaan Melayu dinilai mulai mencapai keberhasilan dengan berbagai pencapaian serta disegani di sepanjang Selat Malaka dan Pesisir Timur Sumatera. Keberadaan pelabuhan atau bandar dengan cukai keluar masuk barang serta penimbunan barang di pelabuhan ikut memberikan dampak terhadap peningkatan perekonomian.
 Dalam bidang pendidikan, pada masanya juga dilakukan pemberantasan terhadap buta huruf hijaiyah dan mulai mempelajari Aksara Arab Melayu. Dari sektor keamanan dan pertahanan, kekuatan dan kapasitas armada laut juga mulai ditingkatkan, sembari dibarengi dengan pembangunan benteng-benteng pertahanan.
 Pada beberapa pertempuran dengan pihak kompeni Raja Haji kerab membawa kemenangan bagi pihak Melayu. Sekalipun demikian, tidak jarang pula pertempuran tersebut berakhir dengan kekalahan lantaran pihak lawan dilengkapi dengan persenjataan yang lengkap. Selain itu, Raja Haji juga tidak lagi menggunakan ‘Daeng’ di awal namanya, akan tetapi menggunakan ‘Raja’.

Para Yang dipertuan Muda Riau

1) Daeng Marewah / Yang Dipertuan Muda Riau I (1722-1728) - Merupakan anak Daeng Rilakka. 
2) Daeng Chelak / Yang Dipertuan Muda Riau II (1728-1745) - Merupakan anak Daeng Rilakka. 
3) Daeng Kamboja / Yang DipertuanMuda Riau III (1748-1777) - Merupakan anak dari Daeng Parani dengan Encik fatimah. 
4) Raja Haji / Yang Dipertuan Muda Riau IV (1777-1784) - Merupakan anak dari Daeng Chelak yang menikah dengan adinda Sultan Sulaiman Johor. 
5) Raja Ali / Yang Dipertuan Muda Riau V (1784-1806) – Merupakan anak dari Daeng Kemboja. 
6) Raja Jaafar / Yang Dipertuan Muda Riau VI (1806-1831) – Merupakan anak dari Raja Haji. 
7) Raja Abdul Rahman / Yang dipertuan Raja Muda Riau VII (1833- 1843) – Merupakan anak dari Raja Jaafar. Diangkat pada 2 Desember 1833 lantaran tidak ditemukan pengganti dan Sultan Abdurrahman juga terlebih dulu sakit dan mangkat di Lingga. Ia diangkat oleh Sultan Muhammad Syah di Lingga.
8) Raja Ali/ Yang Dipertuan Muda Riau VIII (1845-1857) – Merupakan anak Raja Jaafar. 9) Raja Abdullah/ Yang Dipertuan Muda Riau IX (1857-1858) – Merupakan anak Raja Jaafar. 10) Raja M. Yusuf/ Yang Dipertuan Muda Riau X (1858-1899) – Merupakan anak Raja Ali dan cucu dari Raja Jaafar. Raja M Yusuf kemudian menikahi Tengku Embung Fatimah. Dari pernikahan tersebut lahir Raja Abdurrahaman yang kemudian menjabat sebagai sultan Kerajaan Riau Lingga dengan gelar sultan Abdurrahman Muazamsyah II dan merupakan sultan terakhir tersebut sebelum dibubarkan oleh Belanda pada tahun 1913. 

Kehadiran orang Bugis dalam Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang membawa perubahan yang berarti dalam struktur pemerintahan kerajaan tersebut. Tak dapat dipungkiri bahwa sistem pemerintahan tradisional kerajaan Melayu mulai berubah seiring masuknya Bugis dalam struktur pemerintahan sebagai Yang Dipertuan Muda. Jabatan yang diberikan oleh Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah I itu khusus diperuntukkan bagi keturunan Daeng Rilakka yang telah membantunya merebut tahta dari Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Posisi sebagai Yang Dipertuan Muda dapat disamakan dengan posisi seorang perdana menteri. Ketika penabalan atau pengukuhan Sultan Sulaiman sebagai sultan serta penunjukan Daeng Marewa sebagai Yang Dipertuan Muda, secara otomatis beberapa jabatan lama seperti bendahara kerajaan dihapuskan. Jabatan yang dipegang oleh keturunan Bugis itu berlaku turun temurun dari generasi ke generasi. Kiprah Yang Dipertuan Muda selanjutnya dinilai sangat mendominasi, sehingga secara tidak langsung mengenyampingkan sultan sebagai Yang Dipertuan Besar. Ketidaksenangan dari sebagian Melayu menjadi halangan tersendiri bagi keturunan Bugis, akan tetapi persoalan-persoaln tersebut tetap dapat teratasi dengan diplomasi serta pengulangan kembali sumpah setia Melayu Bugis. Dalam perkembangannya, dedikasi para Yang Dipertuan Muda untuk membangun, mengembangkan serta mempertahankan Kerajaan Riau Lingga mulai menghilangkan batas antara Melayu dan Bugis.

Sumber Pustaka :
Ahmad, Jasni bin, “Bugis di Kedah 1600- 1800: Suatu Tinjauan Awal”, dalam Proceeding of ICECRS, 1 2016, Universiti Utara Malaysia, Malaysia, 2016. 
Dahlan, Ahmad. Sejarah Melayu. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2014. 
Kadir, Daud, dkk. Sejarah Kesultanan Lingga-Riau. Pemerintah Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau, 2008. 
Liamsi, Rida K, “Berhutang Pada Persebatian Melayu Bugis”, dalam Firdaus L.N dkk, Tamadun Melayu Lingga. Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, 2018 
Mansyur, “Migrasi Dan Jaringan Ekonomi Suku Bugis di Wilayah Tanah Bumbu, Keresidenan Borneo Bagian Selatan dan Timur 1930-1942”, dalam Jurnal Sejarah Citra Lekha, Vol. 1, No. 1, 2016. 
Melay, Ridwan. Riau Lingga Dilema Kekuasaan dan Implikasi Perdagangan 1784-1824. Jakarta: Tesis Ilmu Sejarah UI, 1999. 
Naim, Mochtar. Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1979.
Omar, Rahilah, dkk, “Sejarah kedatangan masyarakat Bugis ke Tanah Melayu: Kajian Kes di Johor”, dalam Jebat 36, 2009. 
Samin, Suwardi Mohammad, “Kerajaan dan Kesultanan Dunia Melayu: Kasus Sumatra Dan Semenanjung Malaysia”, dalam Jurnal Criksetra, Volume 4, Nomor 7, Februari 2015. 
Shamad, Irhash. A. Ilmu Sejarah. Jakarta: Hayfa Press, 2003. 
Sunandar, “Melacak Hubungan Kesultanan Sambas dan Bugis (Studi Awal terhadap Naskah Tuhfat al-Nafis)”, dalam Jurnal Khatulistiwa – Journal of Islamic Studies, Volume 4 Nomor 2 September 2014. 
Sofyan, Faisal. Sejarah Persemendaan Melayu dan Bugis. Tanjung Pinang: Milaz Grafika, 2013. 
Syahri, Aswandi, Raja Murad. Cogan Regalian Kerajaan Johor-Riau-LinggaPahang. Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Provinsi Kepulauan Riau, 2006. 
Totok Roesmanto, “Rekonstruksi Arsitektur Istana Kota Piring”, dalam Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur, Vol. 32, No. 1, Juli 2004. 
Umar. Perantau Bugis dalam Narasi Sejarah: Sebuah Kritik Historiografi. Yogyakarta: Tesis Ilmu Religi dan BudayaUniversitas Shanata Dharma, 2018.
Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu P-ISSN 2656-7202 E-ISSN 2655-6626 Volume 2 Nomor 1, Januari-Juni 2019 DOI: 10.35961/perada.v2i1.25 - Syahrul Rahmat

Penulis : Admin