SAMBUTAN DPP PAO : ASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH, SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DEWAN PENGURUS PUSAT ORGANISASI ASSEDDINGENG WIJANNA OGIE DALAM BAHASA INDONESIA DIKENAL DENGAN NAMA PERSATUAN ANAK OGI (DPP-PAO) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PROVINSI RIAU, PAO ADALAH PERKUMPULAN WARGA MASYARAKAT SUKU BUGIS RANTAU DENGAN BERDASARKAN PANCASILA DAN UDD 45 SERTA DIBAWAH NAUNGAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) DENGAN TUJUAN MEMPERSATUKAN SEGENAP WARGA MASYARAKAT BUGIS SELURUH NUSANTARA MAUPUN MANCA NEGARA DENGAN VISI MISI - MASSEDDI RIPASSEDDI MAPPASSEDDI-TOPADA SIPAMMASE MASE - NIAT MADECENG PADATTA RUPA TAU TERUTAMA SEMPUGIKU TEGA-TEGAKI WANUA DI ONDROWI. WASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH

Sunday, 5 April 2020

'SIRI" DALAM POLA ASUH BUDAYA BUGIS.



Pola asuh yang diterapkan orang tua pada anak-anaknya sangat dipengaruhi adat dan budaya dari suku atau etnis darimana orang tua itu berasal. 

Salah satu contoh adalah suku Bugis, sebuah suku yang sejarahnya berasal dari Sulawesi Selatan. Namun kini menyebar ke Suawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan, dan wilayah lainnya. Seperti halnya di etnis-etnis lainnya, 

Seperti halnya di etnis-etnis lainnya, Suku Bugis. Suku Bugis juga mengenal sistem norma dan aturan adat yang disebut Pangaderreng. Dalam Pangaderreng itu, ada yang namanya konsep Siri atau keadaan tertimpa malu atau terhina. Dalam konteks pengasuhan, orang Bugis dimanapun selalu menegakkan budaya siri agar tidak tertimpa rasa malu dan terhina akibat dari perbuatannya. 

Budaya ‘siri’ yang ditekankan orang tua Suku Bugis itu menggugah anak agar tidak melakukan pelanggaran Ade’ atau hukum. Sementara nilai-nilai harga diri atau martabat menuntut seseorang untuk selalu patuh dan hormat pada kaidah-kaidah ade’ 

Karena itu, terhadap anak-anaknya, orang bugis sangat ketat mengajarkan soal keagamaan, kesetiaan memegang janji dan persahabatan, saling memaafkan, saling mengingatkan untuk berbuat kebajikan, tak segan saling memberi pertolongan/pengorbanan, dan memelihara ketertiban adat perkawinan. 

Konsep “siri” dalam pengasuhan terungkap dalam paseng atau nasehat yaitu roloi naptiroang, ritenggai naparaga-raga, rimunriwi napa ampiri (dari depan menjadi suri tauladan, di tengah aktif memberikan bantuan dan dari belakang aktif memberikan dukungan dan dorongan). 

Nilai-nilai Siri yang ditekankan orang tua di suku Bugis mencakup : 

Sipakatau, saling menghargai dan menghormati sesama manusia. 

Pesse, bermakna kesetiakawanan terhadap manusia. 

Parakai sirimu, perasaan tanggung jawab dan pengendalian diri 

Cappa lila, keterampilan berkomunikasi dan berdialog dengan penuh keterbukaan dan tutur kata yang santun 

Rupannamitaue dek naullei ripinra atau hanya wajah manusia yang tidak bisa diubah. Petuah ini bermakna percaya diri dan sikap optimisme terhadap peluang terjadinya perubahan pada diri manusia ke arah yang lebih baik. 

Sipatuo sipatokkong dan sipamali siparappe (saling mengembangkan dan saling menghidupkan) yang berimplikasi kepada saling membantu dan memahami orang lain. 

Pajjama (usaha dan kerja keras)mengandung makna kemandirian, sikap optomis dan dinamis menghadapi masa depan disertai ketekunan dan kerja keras. Getteng (ketegasan prinsip) mengandung makna kepercayaan diri, keberanian menanggung resiko dan adanya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. 






Penulis : Admin

No comments: