SAMBUTAN DPP PAO : ASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH, SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DEWAN PENGURUS PUSAT ORGANISASI ASSEDDINGENG WIJANNA OGIE DALAM BAHASA INDONESIA DIKENAL DENGAN NAMA PERSATUAN ANAK OGI (DPP-PAO) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PROVINSI RIAU, PAO ADALAH PERKUMPULAN WARGA MASYARAKAT SUKU BUGIS RANTAU DENGAN BERDASARKAN PANCASILA DAN UDD 45 SERTA DIBAWAH NAUNGAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) DENGAN TUJUAN MEMPERSATUKAN SEGENAP WARGA MASYARAKAT BUGIS SELURUH NUSANTARA MAUPUN MANCA NEGARA DENGAN VISI MISI - MASSEDDI RIPASSEDDI MAPPASSEDDI-TOPADA SIPAMMASE MASE - NIAT MADECENG PADATTA RUPA TAU TERUTAMA SEMPUGIKU TEGA-TEGAKI WANUA DI ONDROWI. WASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH

Wednesday, 6 May 2020

CERITA RAKYAT MEONGMPALO KARELLAE, MADDOJA BINE, DAN HARMONISASI LINGKUNGAN



Meonglalo Karellae adalah tokoh protagonis dalam epos “Meong Mpalo”. Ia dideskripsikan sebagai seekor kucing yang setia mengikuti tuannya We Oddang Riu, putri Batara Guru, dalam petualangannya sejak turun ke bumi (Pertiwi). Meski digambarkan sebagai seekor kucing, namun Meonglalo Karellae bukanlah seekor kucing biasa. Ia adalah kucing jelmaan dari ibu susuan (Inannyumparenna) We Oddang Riu, jadi ia memang “pengasuh” sang putri We Oddang Riu.
Nama We Oddang Riu memang hanya dikenal pada epos La Galigo, tetapi dalam petualangannya di epos lain yang masih merupakan bagian dari cerita I La Galigo, yaitu serat (pau-paunna) “Meonglalo Karellae” We Oddang Riu telah menggunakan nama lain, yaitu “Sangiasseri” (dikenal sebagai Dewi Padi). Dalam versi lain ada pula diceritrakan bahwa setelah putri We Oddang Riu meninggal dunia dan dikuburkan di bumi maka di atas kuburannya tumbuh dua jenis tumbuhan yang berbeda. Yang satu berdaun lebat dengan tangkai dan bulir-bulir buah yang kuning dan indah bergoyang-goyang diterpa angin yang kelak dinamai padi, dan yang lain tumbuh subur dengan daun yang menari-nari diterpa angin tetapi tidak memiliki buah yang kelak dikenal sebagai rumput ilalang. Karena itulah ada ungkapan mengatakan “padi ditanam tumbuh ilalang” karena memang keduanya merupakan tanaman kembar tapi masing-masing memiliki karakter yang berbeda dan memberi manfaat yang berbeda pula bagi manusia.

Sangiasseri dan Meong Mpalo

Nama Sangiasseri (dalam cerita melayu dikenal pula mitologi Sang Hyang Sri, apakah ada hubungannya ?) kemudian lebih dikenal sebagai dewi padi dalam mitos “Meonglalo Karellae”. Pada mitos itu diceritrakan pengembaraan Sangiasseri bersama “joa” nya (pengikutnya) turun ke bumi, ke negeri-negeri Bugis untuk mencari “ade’ pangngampe madecengge” (tatanan kehidupan dan prilaku yang baik).
Ayahanda We Oddang Riu (Sangiasseri) yaitu Batara Guru adalah putra tertua dari To Patoto (Sang Pengatur Takdir), yang digelari pula sebagai To Palanroe (Sang Pencipta). Ia digambarkan sebagai mahadewa yang berkuasa di Boting Langi. Bersama Datu Palinge (Wanita Sang Pencipta) mereka diutus turun ke Pertiwi (bumi) setelah para pemangku kekuasaan yang lain (para keluarga besar mahadewa) di Boting Langi (langit) melakukan musyawarah. Batara Guru bersama Datu Palinge diutus ke Pertiwi (bumi) untuk menegakkan “tiang bumi” yang ketika itu masih kacau balau, sehingga dapat didiami oleh manusia kelak.
Tapi dengan alasan bahwa Batara Guru sebagai sebagai pencipta tidak boleh tinggal di bumi, maka misi suci ini kemudian dijalankan oleh  kakak lelaki kembar ibunya –mahadewa dari dunia bawah—bernama Guru ri Sa’lang dan istrinya dari saudari kembar Patotoe yang bernama Sinau Toja (dinaungi oleh air) dan anak perempuan mereka yang bernama We Nyili Timo To Ompoe Ri Busa Empong (yaitu orang yang muncul dari buih gelombang). Merekalah yang dikirim ke bumi untuk menciptakan kedamaian sehingga bumi dapat menjadi tempat tinggal yang aman bagi para manusia.
Adapun Batara Guru dengan pengiringnya memang kemudian turun pula ke bumi tapi melalui jembatan pelangi yang menghubungkan langit dengan serumpun bambu. Sedang We Nyili Timo dengan rombongannya muncul dari buih-buih ombak di lautan. Kedua tim ini memang sempat bertemu di bumi dan tempat pertemuan mereka disinyalir di seputar daerah Luwu yang pada waktu itu dinamai Wara’. Dari sinilah peradaban menyebar selanjutnya ke seluruh Sulawesi, dan bahkan keluar negeri, (Tafsir Morris,2007:5-7).
Pada episode lain pertemuan ini diceritakan bahwa pada suatu hari Batara Guru termenung dan melepaskan pandangan ke arah matahari terbit. Tiba-tiba dilihatnya di sebelah timur datang sebuah sinar menerangi lautan, laksana bara api memercik-mercik berkilau-kilau di permukaan laut terhampar. Maka berkatalah Manurunge (Batara Guru) pada “joa” nya :
”Apakah itu, wahai We Senriu, wahai We Lele-Ellung, wahai Apputalaga ? Saya melihat ada sinar bagai api menyala-nyala di atas samudera?”
Belum lepas pertanyaan Manurunge, muncullah We Nyili’ Timo di atas air (Busa empong), di elu-elukan oleh cahaya cemerlang laut terhampar. Manurunge terpesona. Dan dengan penuh rasa gembira, Manurunnge pun melihat kedatangan sepupunya, teroleng-oleng di atas lautan, maka bersabdalah Batara Guru :
“Terberangkatilah engkau semua putera-puteri dewata, menerangi, menyonsong kedatangan Datu junjunganmu!”
Pada epos La Galigo diceritakan pertemuan ini sebagai berikut :  

“Maka sekalian anak Datu sama melompat berenang, menyonsong Datu junjungannya. Seolah-olah madu tergenang dalam hati Batara Guru memandang sepupunya, menyuruh angkat naik ke pantai, dan mengundang masuk istana. Pada saat itu, lupalah Batara Guru kehidupan di Botillangi (dunia atas) setelah bergaul dengan sepupunya sebagai suami-isteri. Mereka senantiasa duduk bersanding, menikmati kipasan angin dari kipas emas kemilau. Sesudah tiga bulan lamanya, We Nyili’timo berdiam diatas bumi, ia pun mengidamlah. Tak enak perasaannya, tidak ada barang sesuatu yang dapat diterima oleh perutnya. Pada suatu hari yang cerah, kedua suami-isteri melepaskan pandangan melewati jendela istana. Wenyili’timo pun memandang burung-burung beterbangan. Di antaranya burung-burung itu terlihat seekor yang menerbangkan buah nangka di paruhnya, ada yang menerbangkan pepaya masak dan pisang. We Nyili’timo’ pun menyeru, memanggil burung-burung itu dan berkata :”Bawaan burung-burung itu tak akan memabokkan, karenanya ingin saya memakannya”.

Kelahiran We Oddang Riu

Episode yang menceritrakan We Oddang Riu yang kelak dikenal bernama Sangiasseri itu adalah sebagai berikut:
“Tepat ketika matahari bersemayam di tengah-tengah langit, bayang-bayang tak condong ke barat ataupun ke timur, maka diulurkanlah turun Puang ri Lae-lae yang tinggal di lereng gunung Latimojong, diulur juga I We Ampang Langi’, yang akan menjadi dukun beranak di istana. Sesudah tujuh bulan kandungan We Nyili’timo’, bersalinlah ia seorang puteri, diberinya nama We Oddang-Riu’. Tetapi tujuh hari saja usia puteri itu, terseranglah ia penyakit perut yang menyebabkan kematiannya. Maka dicarinya hutan untuk tempat menyimpannya, tempat yang akan dijadikan kuburannya. Setelah tiga malam meninggalnya We Oddang Riu’, datanglah kerinduan dalam hati Manurunnge kepada almarhumah puterinya. Ia pun keluar menuju kuburan puteri tercinta. Tetapi apa yang dijumpainya hanyalah padi menguning. Itulah Sangiangserri. Ada yang putih, ada yang hitam, ada yang merah memenuhi padang, meliputi daratan, memenuhi parit-parit. Maka dibawanya Sangiangseri itu pulang ke istananya.
Maka berkatalah To PalanroE (Lapatotoe) di Botillangi’ kepada puteranya : ”Hai anakku itulah puterimu yang menjelma menjadi sangiangseri”. Tetapi janganlah engkau memakannya dulu. Nantilah setelah lewat beberapa tahun, setelah engkau telah melupakannya, barulah engkau memakannya. Sebelumnya makanlah jagung”. (Mattulada;1985:395-396).
Tatkala Sangiangseri (Dewi Padi) yang merupakan jelmaan putri We Oddang Riu ini merasa tidak lagi dihargai oleh orang-orang Luwu, ia tidak lagi di tempatkan pada singgasananya, penduduk tidak lagi mematuhi petuah dan pantangan dan larangan-larangannya, ia pun dimakan tikus pada malam hari, di totok ayam pada siang hari, dan Meongmpalo Karellae yang mengawalnya mendapat disiksaan pula oleh manusia. Maka Sangiasseri pun sepakat dengan Meongmpalo Karellae dan pengawal-pengawalnya yang lain untuk pergi mengembara (Sompe) ke negeri-negeri Bugis lainnya. Mereka bersama rombongan meninggalkan Luwu.
Diceritrakan dalam epos “Meongmpalo Karellae” bahwa dalam pengembaraan itu, mula-mula Sangiangseri dan rombongan tiba di Enrekang, lalu terdampar di Maiwa (Duri), kemudian berturut-turut ke Soppeng, Langkemme, terus ke Kessi, Watu, Lisu, sampai akhirnya tiba di Barru. Perjalanan panjang dari Enrekang sampai ke Lisu ini, penuh dengan tantangan dan penderitaan, sikap dan perlakuan orang-orang yang tidak senonoh. Sang pengawal Meongmpalo Karellae disiksa habis-habisan, mereka kelaparan, kehausan, dan kepanasan menimpanya pada siang hari, dan kedinginan pada malam hari. Diceritrakan di awal epos “Meongmpalo Karellae” sebagai berikut:

“Passaleng pannesaengngi iyanae galigona Meongmpalo karellae/rampe-rampenna cokie/iyanaro napoada/Meongpalo makerek e/iya monrokku ri Tempe/mabbanuaku ri Wage/mauni balanak kuanre/mau bete kulariang/tengngina ku ripassia./Sabbaraki na malabo/puangku punna bolae./Natunaimana langi/nateaiya dewata/manai ri rua lette/ri awa peretiwi/kuripaenre ri Soppeng/ku tatteppa ri Bulu/kutatteppa ri Lamuru/pole pasa e puangku/napoleang ceppe-ceppe/kuwalluruna sitta e//dappinna ro battowae/napppekka tonrong bangkung/puangku punna bolae/sala mareppak ulukku/sala tattere coccokku/sala tappessik matakku/mallala majasuloku/kulari tapposo-poso/kulettu’na ri Enrekang/takkadapi ri Maiya/ukutikna dekke nanre/kugareppu buku bale/kurirempek si sakkaleng/kulari mua maccekkeng/ri papenna dapureng ede/napeppek sika pabberung/ puakku tomannasue/urek-urek marennikku/ sining lappa-lappku./Upabbalobo manenni/ jenne uwae matakku/ulari mangessu-essu/makkipeddikengngi ulukku./Kularisi makkacuruk riyawa dapureng ede/narorosika ro aju/puakku to mannasue/kumabuang ri tanae/napatitisikka asu/marukka wampang tauwe/orowane makkunrai./Kularina maccekkeng/ri lebok palungeng ede/napeppesika ronnang alu/puakku pannampu ede//”

Tetapi ketika rombongan pengembara ini sudah tiba di Barru, mereka menemukan sesuatu yang lain, sesuatu “panggadereng” (Ade Panggampe). Sangiangserri (Sanghyangsri) dan rombongannya mendapat sambutan yang hangat, dijamu sebagai tamu dan dapat beristirahat dengan enak di Rakkiyang (tempat penyimpnan padi pada bagian atas rumah Bugis). Sifat ramah-tamah msyarakat Barru, keadilan dan kebijaksanaan penguasanya ketika itu, membuat Sangiangserri dan rombongannya menjadi betah tinggal di Barru.
Diceritrakan pada bagian lain epos “Meong Mpalo Karellae” sebagai berikut :

“/Mappenedding maneng mua/urek-urek marajana/Datunna Sangiasseri/nadapina pekka laleng/mattuju lao ri Berru/nasessu sompa makkeda/sining ase maegae/pegana puang mattuju/iyaga puang riola/mattuju ede ri Berru/Mabbali ada makkeda/Datunna Sangiasseri/ia madeceng rioloa/mattuju ede ri Berru/naiyana taleppangi/bolana pabbicarae/jennangiengngi ri Berru/bara iya kionroi/namamase peretiwi/rianrini talolongeng/situju nawa-nawae/sabbara mappesonae/musu’i nappesunna/makka i sai samona.”

Di Barru Sangiasseri telah menemukan apa yang dicarinya, yaitu “Ade Panggampe”. Sayang sekali Sangiangseri sudah terlalu letih, lelah, dan sedih mengingat suka duka perjalanannya, dan sifat-sifat anak manusia yang ditemuinya, sehingga ia bertekad untuk meninggalkan bumi, untuk “moksa” kembali ke langit menyusul kedua orang tuanya yang ketika itu sudah kembali bertahta di Boting Langi (Kerajaan Langit).
Tetapi daulat langit tak mengizinkan Sangiasseri tinggal di sana. Kedua orang tuanya menolak Sangiasseri bersama rombongannya untuk tinggal di Boting Langi karena mereka sudah ditakdirkan untuk tinggal di bumi (pertiwi) untuk memberi kehidupan kepada umat manusia. Mereka pun terpaksa kembali ke bumi dan bumi yang ditujunya sebagai tempat bermukim adalah bumi Barru.
Diceritrakan tujuh hari tujuh malam sesudah Sangiangseri tiba di Barru, barulah ia memberikan petunjuk-petunjuk, petuah-petuah, nasehat-nasehat, serta pantangan-pantangan, khususnya yang berhubungan dengan norma-norma kehidupan bagi masyarakat Bugis dan masalah-masalah bercocok tanam. Tatanan itu dalam masyarakat Bugis diwujudkan dalam berbagai ritual seperti upacara ritual Mappalili, upacara ritual Maddoja Bine, dan upacara ritual Mappadendang sebagai rangkaian upacara “turun sawah”.

Prosesi Maddoja Bine

Di atas sudah disebutkan bahwa “Meongmpalo Karellae” sebagai penjaga Sangiasseri (Dewi Padi) maka sudah pastilah epos “Meongmpalo Karellae” memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Bugis. Ia menjadi “kitab yang disucikan”. Karena itu berdasarkan kepercayaan masyarakat Bugis membaca epos ini tidak boleh dilakukan di sembarang tempat. Nilai-nilai “mitis” yang bersumber dari epos La Galigo yang diyakini oleh masyarakat Bugis dahulu sebagai sejarah asal-usul manusia Bugis, menjadikannya sebagai “kitab suci” yang dibaca pada tiap upacara ritual “Mappalili”, “Maddoja Bine” dan “Mappadendang”. Pembacanya pun bukanlah orang-orang sembarangan, tetap dilakukan oleh para “Bissu” (laki-laki transvertites yang dianggap sebagai pendeta agama Bugis) atau orang-orang tertentu yang memang mahir dalam pembacaan “Meongmpalo” yang disebut “Passure”.
Budayawan Andi Ahmad Saransi mengatakan “Galigo Meong Mpalo KarellaE yang sampai saat ini masih kental di hormati warga dalam kegiatan Maddoja Bine (Begadang Beni-red) di mana dalam kegiatan ini adalah suatu kegiatan warga dalam menyiapkan penyemaian benih padi. Semalam atau bahkan tiga malam suntuk masyarakat melakukan kegiatan Maddoja Bine atau menunggu Bibit Benih Padi yang akan di semai.”
Dalam Maddoja Bine ini, kata Ahmad Saransi, warga begadang sambil membaca epos atau kisah Meong Mpalo KarellaE. Yang mana Meong Mpalo KarellaE ini di yakini merupakan penjelmaan Sangiasseri yang menjaga benih padi agar tetap baik saat diperam di rumah, maupun setelah disebar di sawah nantinya.”
Upacara ritual Maddoja Bine dilakukan dengan dengan serangkaian kegiatan yang dimulai ketika sawah sudah siap ditanami. Benih padi dimasukkan ke dalam wadah yang disebut “Baka” (Semacam tas dari anyaman daun bambu”. Setelah itu direndam di sungai atau di telaga-telaga kecil yang berair. Setelah benih direndam benih-benih dalam wadahnya itu diperam di atas rumah mengelilingi tiang tengah rumah. Benih-benih itu ditumpuk menggunung dan dibungkus dengan karung atau terpal atas pembungkus lainnya. Pemeraman ini dilakukan hingga tiga hari saat diperkirakan benih tersebut sudah pecah dan tunas-tunas mudanya sudah mulai muncul.
Selama pemeraman inilah upacara ritual “maddoja bine” dilakukan. Rangkaian upacara ritual itu dimulai dengan “ma’barazanji” pada awal malam, biasanya lepas shalat Magrib. Seterusnya, setelah acara “Ma’barazanji” selesai dan para tamu sebagian sudah pulang dan sebagian lagi yang ingin mengikuti ritual berikutnya, yaitu pembacaan “Meong Mpalo Karellae” masih boleh tinggal “begadang” hingga tengah malam. Karena itulah acara ini disebut “Maddoja Bine”. Maddoja artinya begadang dan Bine artinya benih padi. Jadi “Maddoja Beni” secara harafiah sesungguhnya berarti “Begadang menunggu benih padi”.
Pembacaan epos “Meong Palo Karellae” dilantunkan oleh “Passure” setelah lepas Isya hingga tengah malam. Alunan-alunan nada dalam massure ini demikian sakral sehingga orang-orang yang mendungarkannya ikut hanyut dalam kisah Meong Mpalo yang menyedihkan itu. Tak sedikit pendengar yang sampai meneteskan air mata mendengarkan perlakuan kejam manusia terhadap Meongmpalo Karellae yang diyakini sebagai penjaga Sangiasseri itu.

Makna Harmonisasi

Makna penting epos “Meongmpalo Karellae” (sering juga disebut Meongpalo Bolongnge) memang tidak hanya pada kisat tragedi yang dialami oleh protagonis Meongmpalo Karellae, tapi juga terutama harmonisasi kehidupan. Di Sulawesi Selatan, kata Prof. Dr. Nurhayati Rahman, M.Hum, tatanan kehidupan manusia telah diaturdalam berbagai peninggalan nenek moyang mereka baik yang tertulis maupun lisan. Salah satu di antaranya adalah naskah Meongpalo Bolongnge (=Meongmpalo Karellae-BA).” Selanjutnya Nurhayati Rahman mengatakan :
Naskah Meongmpalo Bolongnge menggambarkan seluruh komponen alam, baik tumbuh-tumbuhan, binatang, hujan, guntur, kilat, angin, pelangi, langit, bumi, laut dan sebagainya mempunyai kehidupan yang setara dengan mahluk-mahluk yang lain. Mereka juga mempunyai perasaan, pikiran, naluri dan kebebasan untuk berekspresi, melawan ketika diperlakukan tidak adil, tak ubahnya dengan apa yang dimiliki manusia. Itulah sebabnya sehingga tokoh-tokoh yang ada dalam naskah Meong Mpalo Bolongnge ini pada umumnya diperankan oleh alam itu sendiri namun mempunyai karakter atau perwatakan tak ubahnya dengan manusia.” (Nurhayati Rahman, 2012).
Memang tidak sedikit makna yang dapat dipetik dari epos “Meongmpalo Karellae” yang dapat menjadi tuntunan dalam kehidupan nyata masyarakat, khususnya pada masyarakat Bugis. Harmonisasi kehidupan dengan alam, sesama manusia dan dengan Sang Pencipta dituturkan secara tersirat maupun tersurat. Apalagi dengan menyakini bahwa “Meongmpalo Karellae” bukanlah bukanlah sebuah kisah narasi atau fiksi biasa yang disusun oleh seorang pujangga, melainkan sebuah kitab “kanon” (kitab yang berisi ajaran-ajaran adiluhung), sehingga penulisnya pun hiangga saat ini masih anonim atau belum diketahui. Apakah I Lagaligo dan Meongmpalo Karellae awalnya disusun oleh seorang dewa, entahlah.
Yang pasti bahwa masyarakat Bugis zaman dahulu sangat memercayai bahwa “Meongmpalo Karellae” adalah sebuah cerita yang mengandung kisah-kisah sakral, karena itu Meongmpalo Karellae menjadi bacaan sakral yang hanya boleh dibacakan saat-saat upacara ritual seperti Mappassili, Maddoja Bine dan Mappadendang.

Upacara-upacara ritual itu, oleh masyarakat Bugis terus dipertahankan secara turun temurun dari abad ke abad hingga memasuki abad ke 21 (Tahun 2000-an) di mana teknologi sudah berkembang pesat di berbagai bidang, termasuk di bidang pertanian, yang kelak mengusir paham-paham animisme dan dinamisme ke luar dari jagat pikiran kita. Sains dan teknologi menjadi kepercayaan baru bagi masyarakat milineal, sehingga sistem sistem dan tatacara kehidupan selalu berlandaskan pada pemikiran modern berbasis sains dan teknologi (tepat guna). Di bidang pertanian, pengembangan intensifikasi untuk peningkatan kualitas, pemanfaatan pupuk, insektisida, dan cara-cara pengolahan lahan yang efektif dan efisien diyakini dapat meningkatkan produktivitas.
Kendati demikian paham-paham yang telah ditanamkan oleh “Lagaligo” tetap menjadi bagian dari tatanan kehidupan masyarakat Bugis, yang sebagian masih mempertahankannya sebagai kekayaan budaya masa lalu yang mesti revitalisasi dan dilestarikan.

Daftar Bacaan
http://sulawesiekspress.com/2018/11/09/andi-ahmad-saransi-festival-budaya-dan-seminar-internasional-iii-kekayaan-budaya-sulawesi-selatan/
Mattulada.1995. Latoa, Hasanuddin University Press, Makassar.
Morris D.F Van Braam, 2007. Kerajaan Luwu, toACCAe, Makassar.
M. Tang.2007. Kongres Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Selatan I Tahun 2007, Panitia Penyelenggara, Makassar.
Rahman, N. 1990. Episode Meong Palo Bolonge Dalam La Galigo (Satu Kajian Filologi Sastra Bugis
Rahman, Nurhayati. 2012. Suara-Suara dalam Lokalitas, La Galigo Press, Makassar.
Rahim.Rahman.1985. Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis, LEPHAS, Makassar. Klasik), Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung
Salim, Drs. Muh. 1980. Pau-Paunna Meongpalo, Bahan Penataran Guru Bahasa Daerah, Makassar.



Sumber : badaruddinamir.wordpress.com
Penulis : Admin