SAMBUTAN DPP PAO : ASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH, SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DEWAN PENGURUS PUSAT ORGANISASI ASSEDDINGENG WIJANNA OGIE DALAM BAHASA INDONESIA DIKENAL DENGAN NAMA PERSATUAN ANAK OGI (DPP-PAO) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PROVINSI RIAU, PAO ADALAH PERKUMPULAN WARGA MASYARAKAT SUKU BUGIS RANTAU DENGAN BERDASARKAN PANCASILA DAN UDD 45 SERTA DIBAWAH NAUNGAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) DENGAN TUJUAN MEMPERSATUKAN SEGENAP WARGA MASYARAKAT BUGIS SELURUH NUSANTARA MAUPUN MANCA NEGARA DENGAN VISI MISI - MASSEDDI RIPASSEDDI MAPPASSEDDI-TOPADA SIPAMMASE MASE - NIAT MADECENG PADATTA RUPA TAU TERUTAMA SEMPUGIKU TEGA-TEGAKI WANUA DI ONDROWI. WASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH

Friday, 29 May 2020

PANGLIMA PAO MENJALIN SILATURRAHIM DI KECAMATAN KATEMAN PARIT 3 DENDAN KECIL


KATEMAN;- Dalam Rangka Hari Raya Idul Fitri 1441H. Panglima Pallapi Arona Ogi'e (PAO) Saudara Anawawik atau yang sering di sapa AWI didampingi Istri dan Rekan-rekan dari PAO kali ini berkunjung di Kecamatan Kateman atau lebih dikenal Sungai Guntung tepatnya di Parit 3 Dendan Kecil , dalam kunjungan tersebut di sambut oleh masyarakat setempat dengan bersama-sama mengunjungi Rumah kediaman saudara-saudara kita di Dendan Kecil, tak sampai di situ masyarakat setempat membuat acara bersama Tudang Sipulung dengan memotong seekor Kambing untuk di buat Sate dengan menyambut warga tetangga seperti  Kampung baru Kuala Selat, dan warga tetangga lainnya. acara tersebut digelar di kediaman Daeng Lottong / Azhar  hadir juga Muhammad Safar , Ikhsan Kaluku, dan banyak lagi yang tak bisa kami sebutkan satu persatu

Dalam Kesempatan ini Panglima PAO merasa Bersyukur dan Berterima Kasih Kepada Masyarakat setempat dengan penuh haru menyaksikan kekompakan masyarakat selessureng Sempugita

"DEGAGA WISSENG PAU SENGADINNA UCAPAN TRIMA KASIH BANYAK DAN MOHON MAAF TELAH MEREPOTKAN KI SEMUA, BUAT SILESSURENG YAMANENNA TAMPA TERKECUALI RI GUNTUNG MAUPUN RI DENDANG, SERTA YAMANENNA SILESSURENG YG BELUM SEMPAT KAMI BERSILATURRAHMI. SMOGA RI BALASKI RI PUANG ALLAH TAALA YG SETIMPAL ATAS SEMUANYA "Ungkap AWI

Sebagian Kecil Dokumentasi pada saat Kunjungan di Dendan Kecil :



















Penulis : Admin

Friday, 22 May 2020

PANETTA SIBAWA PAMMUSA

https://pallapiaronaogie.blogspot.com/2020/05/panetta-sibawa-pammusa.html


Bangsa Bugis khususnya pengguna atau penggemar senjata tajam sangat mengenal istilah ini. Pammusa’ atau Panetta adalah salah satu bagian dari upaya membuat senjata tajam menjadi bertuah atau bermanfaat secara maksimal. Pammusa’ atau panetta ini merupakan GAU’ GAUKENG yang di lakukan sebelum badik atau keris di pasang pada hulu/handlenya. Sebagian besar mempercayai bahwa MAPPAMUSSA/MAPPANETTA’ adalah langkah terakhir yang harus dilakukan sebelum senjata digunakan atau di simpan dengan baik. Walaupun badik adalah senjata akan tetapi tidak jarang benda ini di gunakan sebagai AZIMAT saja yang di simpan di rumah tanpa di pakai untuk berperang atau berkelahi. Pammusa’ ini sifatnya sebagai SENNURENG atau harapan. Sebagai manusia modern, sennureng harus dianggap sebagai permohonan bantuan kepada Tuhan atau sebagai Doa. Jadi sifatnya TIDAK MUTLAK, kalau Tuhan mengizinkan maka Sennureng ini akan JADI, maka JADILAH. Apabila Tuhan tidak mengizinkan maka TIDAK JADI. Saya sendiri menyatakan bahwa tulisan ini hanya untuk mengetahui tatacara pendahulu kita dalam memperlakukan senjatanya, kalau pada zaman sekarang ini mau di manfaatkan, akan kembali kepada pribadi diri masing masing, mau menggunakannya atau tidak. Bagi yang memahami tatacara Pamussa’ hampir dapat di pastikan bahwa mereka juga memahami PABBUNONA PAMUSSA’E (Penawar Pamussa’). 

Bagian badik atau keris yang di berikan PAMMUSA’ adalah bagian OTING atau ATI yaitu pangkal keris yang di tancapkan pada hulu. Lasimnya Oting ini bentuknya bundar dan jauh lebih kecil dari bilah besi. 

Manfaat Gaukeng ini sangat tergantung pada NIAT, PERLAKUAN dan BENDA yang di gunakan. Apabila niat tidak sesuai dengan benda yang dipakai, maka tidak akan JADI. Begitupula bila perlakuan terhadap benda yang dipakai, tidak sesuai pun tidak akan JADI. Pendahulu kita menggunakan bahan atau benda Pammusa’ dari sekitarnya atau bagian dari tubuhnya. 


A. PAMMUSA’ SALAWUU/SALAFUU 

Salawuu atau Salafuu apabila di artikan ke dalam Bahasa Indonesia secara Harfiah maka akan berarti KABUT. Akan tetapi maksud dari Pammusa’ Salawuu adalah mengaburkan penglihatan orang lain. Sennureng ini biasanya di pakai oleh LAMPA’ (orang yang kerjanya merampok, mencuri, Preman dll) agar tidak terlihat oleh orang yang akan di rampok. Biasanya juga di pakai badik yang di harapkan tidak akan di tangkap oleh petugas keamanan. Jenis Pammusa’ ini menggunakan bahan sebagai berikut: 


1. BULU MATA 
Bulu mata sebelah kanan di cabut satu atau dua lembar. Kemudian di taruh di lubang hulu atau di lilitkan di oting keris, setelah itu di berikan perekat atau lem lalu di pasang. Kenapa bulu mata????, menurut pengetahuan orang dulu bahwa tidak seorang pun bisa melihat bulu matanya pada bulu mata sangat dekat dengan indera penglihatan yaitu mata. Begitu pula orang lain, tidak melihat bulu mata kita kecuali di perhatikan atau di tatap dengan khusus, tentu bukan bulu mata palsu yang banyak di gunakan gadis gadis sekarang ini, walaupun jaraknya lima meter tetap akan kelihatan. Niat yang dibaca adalah UNIAKENGNGI MALA PASSALAWUU dan seterusnya. 

2. SALO TEMMETTI’ atau PALLAWANGENG 
Salo Temmetti’ atau Pallawangeng adalah bagian bibir yang berada antara ujung bibir dengan hidung yang letaknya di antara dua lobang hidung. Jarak tersebut di ukur menggunakan lidi (tulang daun kelapa), kemudian di lipat 3 (tiga) kali. Bagian pangkal di buang ke kanan dan bagian ujung di buang ke kiri tubuh. Bagian tengah di ambil dan di taruh pada lubang hulu keris. Lalu di baca niat UNIAKENGNGI MALA PASSALAWUU dan seterusnya, kemudian oting di berikan perekat lalu di pasang. 

Sebagian besar ahli senjata tradisional BUGIS menyarankan senjata yang diperlakukan dengan Pammusa’ ini sebaiknya jangan di simpan di rumah, lebih baik di simpan di tempat yang agak jauh dari rumah. Apabila keris tersbut mau di gunakan, barulah di ambil. 


B. PAMMUSA’ MURAH REZEKI 

Seperti yang di jelaskan sebelumnya bahwa sebagian pendahulu kita tidak membuat senjata untuk berkelahi atau berperang akan tetapi di gunakan sebagai JIMAT atau SIMA’ yang tidak di bawa kemana mana, dan di simpan di rumah saja. Bahan di gunakan sebagai Pamussa’ jenis ini adalah sebagai berikut: 

1. PALLACA’ LAWASOJI 
Lawasoji adalah pembata atau dinding yang terbuat dari bilah bamboo, biasanya di gunakan pada saat ada acara adat atau pengantin. Akan tetapi yang di gunakan sebagai Pamussa’ adalah Lawasoji yang bentuknya seperti kota tanpa penutup yang di gunakan sebagai tempat barang bawaan pengantin ketika akan pesta perkawinan atau Lawasoji tempat sesajen yang di simpan dalam lumbung padi (RAKKEANG). Lawasoji ini bentuknya kecil, paling besar berukuran 1 x 2 meter. Biasanya isi Lawasoji ini berupa Inang padi, kelapa, tebu, pisang, nangka, beras dan ayam yang kesemuanya adalah symbol makanan pokok dan bahan makanan yang enak enak. Semua Lawasoji memiliki PALLACA’ yaitu bambu yang menjadi penghubung atau perekat antara sisa satu dengan sisi yang lainnya. Kalau bukan pakai Pallaca’ berarti menggunakan rautan rotan (PASSIO) yang mengikat sisi sisi Lawasoji. Pallaca’ atau Passio ini sama saja, salah satunya bisa di gunakan sebagai Pammusa’. Sedikit dari pallaca’ atau passio ini di ambil, lalu di masukkan ke lubang hulu keris dan di bacakan niat “ UNIAKENGNGI MALA PAPPASEMPO DALLE dan seterusnya”. Lalu di berikan lem dan oting dimasukkan ke dalam lubang hulu. 

2. CAPPA’ KANUKU dan CAPPA’ WELUA 
Ujung kuku dan ujung rambut. Ujung kuku yang di ambil adalah kuku jari manis sebelah kiri, jari yang sering dipakaikan cincin. Dan beberapa helai ujung rambut di potong, dan keduanya dimasukkan dalam lubang hulu, lalu niat yang di baca “UNIAKENGNGI MALA PAPASEMPO DALLE dan seterusnya”. Menurut pengetahuan orang dulu, kuku dan rambut tidak akan pernah berhenti bertambah panjang sampai ajal tiba. 


C. PAMMUSA’ SANGI (PASSIGAJANG) 

Jenis ini biasanya di gunakan oleh orang yang suka berkelahi dengan senjata tajam (Passigajang) dan di kuatirkan lawan kebal senjata atau pemilik senjata tidak bisa menakar (ragu ragu) terhadap kekuatan lawannya. Bahan yang digunakan adalah nasi yang tidak sempat di makan dan jatuh dari piring secara tidak disengaja. Nasi tersebut di lekatkan di telapak kaki, kemudian di hancurkan dengan cara di pencet melebar. Setelah nasi tersebut menyebar rata di telapak kaki lalu oting keris atau badik di asah (sangi) di tepalak kaki yang ada bekas nasi sambit membaca mantera, “SANGADI DE’MUANREI dan seterusnya”. Lalu lubang hulu di berikan perekat/lem dan di tancapkan. Setelah itu mata badik atau keris di arahkan di antara ibu jari kaki dengan jari kaki kedua dan dibacakan mantera,”SANGADI ENGKA BUKUNNA dan seterusnya”. Perlu di pahami kenapa menggunakan butir nasi yang terjatuh, artinya nasi tersebut tidak bermanfaat atau energinya tidak berguna bagi manusia. Kenapa di letakkan pada telapak kaki? Artinya lawan selalu berada di bawah pengaruh kita. Senjata yang di berikan Pammusa’ jenis ini, jangankan di tudukkan kepada lawan, walaupun hanya di lemparkan dari jarak jauh akan melukai lawan yang kebal tersebut. Senjata ini juga disarankan tidak selalu di bawa bepergian kecuali tidak ada jalan lain. 


D. PAMMUSA’ PATTOLA’BALA 

Jenis ini di pakai sebagai Pattola’Bala atau keselamatan dari kesusahan. Urusan lancer tanpa hambatan yang berarti. Bahan yang di gunakan sebagai Pammusa’ adalah CAPPA BAKKAWENG (ujung atap). Atap yang di maksud adalah atap nipah atau atap sagu atau atap daun kelapa. Tentu bukan atap seng atau atap genteng. Tentu semua mengerti kegunaan atap pada sebuah rumah. Atap rumah melindungi dari panas matahari dan dinginnya air hujan. Bahkan selain dinding rumah, atap juga bermanfaat sebagai pelindung dari benda benda yang jatuh dari angkasa. Ujung atap tersebut di ambil kemudian di masukkan ke dalam lubang hulu lalu di niatkan, “UNIAKENGGI MALA dan seterusnya”. Kemudian lubang di berikan perekat atau lem dan oting di tancapkan. 


E. PAMMUSA’ PATTAFO DARAH 

Pattafo adalah istilah Bugis lain dari PATTEPPO. Pattafo darah arti harfiahnya membendung darah atau menghambat darah untuk keluar. Apabila terjadi perkelahian dengan senjata, tidak mesti kebal untuk tidak mengalirkan darah. Pada intinya, pendahulu kita mengharapkan darahnya tidak tumpah ketika berkelahi dengan senjata. Bahan yang digunakan untuk pamussa ini adalah kuku atau rambut. Akan tetapi mantera atau niat yang dibacakan tidak sama dengan pammusa’ pesempo dale. Rambut dan kuku di masukkan pada lubang hulu keris kemudian di bacakan mantera dan seterusnya”. 


F. PAMMUSA’ NYAMENG ININNAWA. 

Pammusa’ jenis ini termasuk untuk keselamatan karena kegunaannya agar semua orang merasa senang atau merasa nyaman apabila berhadapan dengan kita, bahkan pammusa’ ini bisa meredam amarah bagi orang yang sedang bertengkar. Pammusa’ ini justru tidak menggunakan bahan apapun. Kecuali menggunakan pernapasan dan PARENGNGERANG (Jawa = eling). Pada saat senjata akan di pasang pada hulunya, pernapasan di atur dengan baik dan pelan tidak terburu buru. Semua perasaan susah di buang jauh jauh, semua kesusahan hidup di lupakan. Yang ada hanya perasaan tenang, bahagia dan gembira. Ingatan kembali pada masa balita atau bayi di mana semua orang senang dan gemas. Lalu tarikan napas yang pelan di rendahkan lagi seakan menghadap TUHAN, MADDARARING. Pada saat terasa embun pagi menyentuh ubun ubun, angin sepoi lembut menyelemuti badan, cahaya rembulan yang berwarna kebiruan menerpa wajah. Secara perlahan, badan yang sedang duduk bersila dengan kedua tangan berdoa, naik ke angkasa, semakin lama bumi kelihatan semakin kecil, pada akhirnya berhenti di depan cahaya terang benderang tapi sejuk tidak menyilaukan. (Maafkan saya, tidak bermaksud menggunakan bahasa kotor), pada saat itu tanpa ereksi dan terangsang, keluarlah cairan kenikmatan bagi orang dewasa. Ketika berada pada perasaan tersebut, senjata tajam di pasangkan pada hulunya dengan di iringi dengan membaca niat dan mantera. Pammusa’ jenis ini sangat mengandalkan PARENGNGERANG (Ingatan = Eling). Yang mana di maksud Parengngerang itu?. Coba simak analog berikut: 

Pada saat anak anak bermain dan bergembira berlebihan tidak mengenal waktu, terkadang orang tuanya mengatakan,” E KALAKI’, AJA’MU MABO’ ARENGNGERANGKO”. Artinya, HAI ANAKKU SEMUA, JANGAN BERLEBIHAN, INGATLAH/SADARLAH. Maksud dari perkataan ini adalah Ingatlah Tuhanmu. 

Akan panjang ceritanya ketika kita bertanya bahwa sesuatu yang akan di ingat adalah sesuatu yang pernah di lihat, pernah di rasakan, atau pernah bertemu. Lalu apa dan siapa yang ingat???? Apa dan Siapa yang pernah di lihat, pernah di rasakan dan pernah bertemu tersebut???? Tentu butuh perjalanan jauh untuk hal ini. 

Sebenarnya banyak sekali pammusa’ dan panetta’ yang di gunakan para pendahulu kita. Pada intinya semua adalah SENNU-SENNURENG , yaitu harapan dan doa. Semua kembali kepada Yang Maha Menentukan. Hanya Pencipta Yang Maha Hebat. Kehebatan Sang Pencipta akan terlihat pada kehebatan Ciptaan-Nya. Ciptaan Tuhan berjenis jenis, hanya manusia jenis ciptaan yang paling ISTIMEWA. Akan tetapi keistimewaan manusia bisa berubah setiap saat. Hari ini istimewa, mungkin besok menjadi hina. Bisa jadi besoknya lagi kembali istimewa. Tidak ada ciptaan Tuhan yang sia sia, tidak ada yang tidak bermakna. Serapuhnya kayu, selemahnya jerami bisa juga mendidihkan air. Jangan anggap remeh semua ciptaan Tuhan. Semua karya Tuhan adalah Istimewa. Keistimewaan ciptaan tidak akan menyamai keistimewaan Penciptanya. Oleh karena itu, manusia harus menjaga keistimewaannya, dan menjaga keistimewaan ciptaan Tuhan lainnya. Manusia yang menganggap ciptaan Tuhan lebih istimewa dari dirinya, berarti dia kurang yakin akan keistimewaannya. Yakinkah anda bahwa anda adalah ISTIMEWA???? 









Sumber: Latulu Kalula
Penulis : Admin

Tuesday, 19 May 2020

TRADISI LEBARAN ORANG BUGIS YANG UNIK “MALEPPE”


Berlebaran di Sulawesi Selatan ternyata tak melulu soal makanan saja. Sejumlah tradisi turun-temurun turut melekat dalam setiap aktivitas di hari nan fitri. Sanak kerabat dan keluarga, baik yang dekat maupun jauh, berkumpul demi merayakan kebersamaan selepas sebulan penuh berpuasa.

Maka momen spesial seperti ini turut terjamah nilai-nilai kearifan lokal. Nah, salah satu kebiasaan masyarakat Tanah Daeng adalah Maleppe'. Secara harafiah, Maleppe' mengandung makna "melipat". Kenapa harus berhubungan dengan lipatan?

  • Tradisi Maleppe' identik dengan Lebaran milik masyarakat Sulawesi Selatan


Bagi sejumlah kalangan, Maleppe' berkaitan erat dengan makna Idul Fitri yang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Setelah melewati Ramadan, orang-orang ibaratnya melipat lembaran penuh noda, memberi ruang bagi lembaran baru untuk hati yang suci dan bersih.
Secara terminologi, Maleppe' juga mengandung artian "melepas". Yang dilepas tentu saja adalah dosa-dosa baik dalam diri sendiri serta melepaskan (atau lebih tepatnya mengikhlaskan) dosa orang lain dengan cara memberi maaf. Dengan kata lain, prosesi saling memaafkan setelah shalat Ied merupakan bagian dari Maleppe'.

  • Maleppe' kemudian berlanjut dengan kegiatan silaturahmi


Maleppe' juga termanifestasikan dalam bentuk lain. Segelintir masyarakat Bugis memaknai "melepas" dengan cara melarung pakaian lama ke sungai atau ke laut sebagai simbol menghanyutkan segala dosa, sial atau sifat-sifat buruk di masa lalu lalu diganti dengan busana yang baru. Tradisi ini erat dengan budaya Sulawesi Selatan sebelum masuknya Islam.

Beranjak dari hal tersebut, tradisi Maleppe' pun bertalian erat dengan Lebaran, entah Idul Fitri dan Idul Adha. Belakangan, Maleppe' jadi salah satu penyebutan untuk Lebaran.
Tradisi ini baru dilaksanakan seusai shalat Ied, di mana masyarakat saling berkunjung atau bertukar temu satu sama lain dengan tetangga, kerabat hingga handai taulan. Kegiatan ini disebut sebagai Assiara yang berarti silaturahmi.

  • Belakangan penyebutan Maleppe' pun identik dengan segala aktivitas berhari raya

Dalam Assiara, setiap rumah menyajikan makanan khas Lebaran kepada tamunya. Kalangan yang masih berpegang teguh pada kepercayaan lama, sajian yang bakal diberi ke tetamu harus Dibaca-bacai (didoakan) terlebih dahulu oleh Puang Anre Guru atau Daeng Imam yang berposisi setara dengan pemuka agama.
Nah, itu tadi penjelasan singkat tentang Maleppe' dalam setiap Lebaran milik masyarakat Sulawesi Selatan. Sekali lagi, fakta jika budaya memberi warna tersendiri dalam setiap sendi kehidupan agaknya sulit dibantah.





Panulis : Admin

Sunday, 10 May 2020

DUA TEMMASARANG TELLU TEMMALLAISENG



Jangan pernah mengaku keturunan atau wija bugis jika tidak mengenal kata-kata petuah-petuah berbahasa bugis yang pernah dituturkan leluhur kita, minimal pernah mendengar kalaupun tidak paham maknanya, apalagi kalau sampai tidak mampu menuturkan bahasa bugis. Tapi fakta kadang berbicara lain, banyak saya temui pemuda-pemudi jaman sekarang mengaku keturunan bugis, tapi bahasa bugis saja tidak paham, apalagi makna dari kata bugis itu sendiri. ketakutan saya 20 tahun kedepan generasi penerus sudah lebih memahami budaya luar dari pada budaya bugis, bahkan sudah tidak mampu lagi menuturkan bahasa bugis.
Karena saya adalah pemuda yang tumbuh dilingkungan bugis, jadi dari kecil saya sedikit banyak sering mendengar kata-kata bijak atau tetuah leluhur bugis, misalnya saja “mali siparappe, rebba sipatokkong, malilung sipakainge. Resopa temmangingngi malomo naletei pammase dewata. Duami kuala sappo unganna kanukue belona panasae, Yili’ka buaja patompang aje tedong kusala rimajeng. Siapakatau, sipakalebbi, sipakainge.” tak jarang juga kata-kata bijak berbahasa bugis yang memiliki makna spiritual tinggi, misalnya saja kalimat “dua temmassarang ritellue temmallaiseng, jenne telluka sempajang teppettu. Jenne’ telluka Sempajang Teppettu.
Saya tidak akan membedah satu per satu kalimat petua bugis yang saya tuliskan pada paragraph sebelumnya. Tapi saya hanya akan menguraikan sedikit makna tentang kalimat dua temmassarnga ritellue tengmmallaiseng sesuai dengan kada pengetahuan saya. ketertarikan saya dalam mengulas kalimat tersebut berawal disaat setelah saya mendengar lantunan ceramah Ust. Tommy Thompson yang bertema Tasawwuf Bugis. kalimat ”Dua temmassarang ritellue temmalaiseng”sepadan dengan kalimat “Dua yang tak terpisahkan didalam tiga yang saling bekesinambungan” dalam bahasa Indonesia.
kata tersebut memiliki makna yang sangat dalam dan bisa menghasilkan beragam penafsiran, dan penafsiran yang coba saya sampaikan berhubungan konsep spiritual yang bersifat sufistik. berangkat dari ceramah ust. Tommy Thompson bahwa yang dimaksud dari kata “dua Temmassarang” (dua yang tak terpisahkan) ini adalah antara Tuhan dengan Hamba, dia berbeda tapi tidak terpisahkan dan tidak mungkin terpisahkan. logika sederhananya begini, kira-kira ketika tidak ada Hamba siapa yang bertindak sebagai Tuhan? sebagaimana yang kita pahami bahwa Tuhan menicayakan Hamba, dan begitupun sebaliknya ketika tidak ada tuhan apakah hamba masih bisa dikatakan sebagai hamba? dari pernyataan sebelumnya, bisa disimpulkan bahwa Hamba adalah bagian dari tuhan, namun hamba bukanlah tuhan.
kalimat selanjutnya “tellu temmallaiseng” yang berarti tiga saling berkesinambungan atau berkaitan, dimana ketika sala satunya mengalami patahan, maka yang lainpun akan bermasalah. makna yang dapat saya tangkap dari ceramah tersebut yang dimaksud dengan tiga saling berkaitan ini adalah, antara kata hati, perbuatan, dan ucapan. ketika kata hati selaras dengan ucapan, maka begitupun dengan tindakan seseorang. ketika dipadukan dengan makna sebelumnya artinya perbuatan kita sebenarnya itu adalah perbuatan tuhan karena antara hamba yang bertindak dengan tuhan tidak terpisahkan. konsep ini sudah dijelaskan oleh Ibn Arabi antara tahun 560-638 H yang kemudian sampai saat ini dikenal dengan konsep Wahdat Al-Wujud. dan ternyata disisi lain konsep ini telah mengakar dalam jiwa setiap orang bugis sejak Islam menjadi keyakinan orang bugis.
Konsep dasar Wahdat Al-Wujud merupakan “suatu ajaran yang melihat masalah wujud dalam hal ini Tuhan, alam dan manusia sebagai suatu kesatuan. Namun berada pada dimensinya masing-masing, dan Tuhan meliputi segala yang ada. Sehingga yang ada bersifat nisbi; merupakan ada yang diadakan tidak lain dari yang mengadakannya. Sebab apa yang ada merupakan penampakan bagi diri-Nya, dan segala yang ada bersumber dari-Nya serta Dia pulalah yang menjadi esensinya. Namun itu tidak berarti yang diadakan dan yang terbatas menjadi Yang Tak Terbatas. Tidak berarti alam semesta dan manusia menjelma menjadi Tuhan dan Tuhan menjadi manusia. Antara Tuhan, alam semesta dan manusia sekalipun dikatakan berbeda dalam satu keberadaan atau wahdatu al wujud namun alam semesta dan manusia nisbi dan terbatas. Keberadaannya bergantung pada Yang Tak Terbatas. Sedang Tuhan yang tidak terbatas ada di luar relasi, bukan yang ada dalam pengertian dan perasaan. Tuhan adalah independen atau mandiri dari semua makhluk-Nya. Ada-Nya bukan dari luar diri-Nya dan bukan pula karena selain diri-Nya. Akan tetapi ada karena diri-Nya dan oleh diri-Nya sendiri. Ia meliputi semua yang diciptakanNya. Hubungan dengan segala yang dicipytakanNya. Dia membutuhkan mereka dalam kaitannya dengan ketuhananNya. Sebab tanpa makhluk ciptaanNya Dia tidak dikenal sebagai Tuhan; yaitu objek pujaan (ilah) sampai maluh (komplemen logis dari ilah) diketahui. Maka Ibnu Arabi melihat realitas alam dan manusia tidak lain dari tajalli ilahi sekaligus sebagai cermin untuk melihat diriNya yang Maha Sempurna. Demikian pula sebagai pengenalan akan keberadaanNya. Hal yang demikian ini pulalah yang menjadi tujuan dari penciptaan-Nya.”
Begitu dalam sebenarnya makna dari kata “Dua Temmassarang ritellue Temmallaiseng” Cuma terkadang kita tidak tertarik untuk mengkaji kearifan dari leluhur kita. saya baru menyadari kalau ternyata leluhur kita telah mengenal konsep Wahdat Al-Wujud jauh sebelum buku-buku dari timur dengah berdatangan ke negeri ini hanya untuk menjelaskan konsep tersebut, yang ternyata orang bugis juga telah memahami hal tersebut. saya merasa sangat menyesal ketika baru menyadari bahwa kearifan kita menyimpan begitu banyak nilai yang bisa dikaji kemudian diamalkan. ini baru satu kalimat yang saya kemukakan, dan bisa jadi teori-teori lain dari luar yang selama ini kita berusaha pelajari dan pahami ternyata tersimpan rapat dimulut para penutur bugis. Wallahu alam.




Penulis : Admin

Wednesday, 6 May 2020

CERITA RAKYAT MEONGMPALO KARELLAE, MADDOJA BINE, DAN HARMONISASI LINGKUNGAN



Meonglalo Karellae adalah tokoh protagonis dalam epos “Meong Mpalo”. Ia dideskripsikan sebagai seekor kucing yang setia mengikuti tuannya We Oddang Riu, putri Batara Guru, dalam petualangannya sejak turun ke bumi (Pertiwi). Meski digambarkan sebagai seekor kucing, namun Meonglalo Karellae bukanlah seekor kucing biasa. Ia adalah kucing jelmaan dari ibu susuan (Inannyumparenna) We Oddang Riu, jadi ia memang “pengasuh” sang putri We Oddang Riu.
Nama We Oddang Riu memang hanya dikenal pada epos La Galigo, tetapi dalam petualangannya di epos lain yang masih merupakan bagian dari cerita I La Galigo, yaitu serat (pau-paunna) “Meonglalo Karellae” We Oddang Riu telah menggunakan nama lain, yaitu “Sangiasseri” (dikenal sebagai Dewi Padi). Dalam versi lain ada pula diceritrakan bahwa setelah putri We Oddang Riu meninggal dunia dan dikuburkan di bumi maka di atas kuburannya tumbuh dua jenis tumbuhan yang berbeda. Yang satu berdaun lebat dengan tangkai dan bulir-bulir buah yang kuning dan indah bergoyang-goyang diterpa angin yang kelak dinamai padi, dan yang lain tumbuh subur dengan daun yang menari-nari diterpa angin tetapi tidak memiliki buah yang kelak dikenal sebagai rumput ilalang. Karena itulah ada ungkapan mengatakan “padi ditanam tumbuh ilalang” karena memang keduanya merupakan tanaman kembar tapi masing-masing memiliki karakter yang berbeda dan memberi manfaat yang berbeda pula bagi manusia.

Sangiasseri dan Meong Mpalo

Nama Sangiasseri (dalam cerita melayu dikenal pula mitologi Sang Hyang Sri, apakah ada hubungannya ?) kemudian lebih dikenal sebagai dewi padi dalam mitos “Meonglalo Karellae”. Pada mitos itu diceritrakan pengembaraan Sangiasseri bersama “joa” nya (pengikutnya) turun ke bumi, ke negeri-negeri Bugis untuk mencari “ade’ pangngampe madecengge” (tatanan kehidupan dan prilaku yang baik).
Ayahanda We Oddang Riu (Sangiasseri) yaitu Batara Guru adalah putra tertua dari To Patoto (Sang Pengatur Takdir), yang digelari pula sebagai To Palanroe (Sang Pencipta). Ia digambarkan sebagai mahadewa yang berkuasa di Boting Langi. Bersama Datu Palinge (Wanita Sang Pencipta) mereka diutus turun ke Pertiwi (bumi) setelah para pemangku kekuasaan yang lain (para keluarga besar mahadewa) di Boting Langi (langit) melakukan musyawarah. Batara Guru bersama Datu Palinge diutus ke Pertiwi (bumi) untuk menegakkan “tiang bumi” yang ketika itu masih kacau balau, sehingga dapat didiami oleh manusia kelak.
Tapi dengan alasan bahwa Batara Guru sebagai sebagai pencipta tidak boleh tinggal di bumi, maka misi suci ini kemudian dijalankan oleh  kakak lelaki kembar ibunya –mahadewa dari dunia bawah—bernama Guru ri Sa’lang dan istrinya dari saudari kembar Patotoe yang bernama Sinau Toja (dinaungi oleh air) dan anak perempuan mereka yang bernama We Nyili Timo To Ompoe Ri Busa Empong (yaitu orang yang muncul dari buih gelombang). Merekalah yang dikirim ke bumi untuk menciptakan kedamaian sehingga bumi dapat menjadi tempat tinggal yang aman bagi para manusia.
Adapun Batara Guru dengan pengiringnya memang kemudian turun pula ke bumi tapi melalui jembatan pelangi yang menghubungkan langit dengan serumpun bambu. Sedang We Nyili Timo dengan rombongannya muncul dari buih-buih ombak di lautan. Kedua tim ini memang sempat bertemu di bumi dan tempat pertemuan mereka disinyalir di seputar daerah Luwu yang pada waktu itu dinamai Wara’. Dari sinilah peradaban menyebar selanjutnya ke seluruh Sulawesi, dan bahkan keluar negeri, (Tafsir Morris,2007:5-7).
Pada episode lain pertemuan ini diceritakan bahwa pada suatu hari Batara Guru termenung dan melepaskan pandangan ke arah matahari terbit. Tiba-tiba dilihatnya di sebelah timur datang sebuah sinar menerangi lautan, laksana bara api memercik-mercik berkilau-kilau di permukaan laut terhampar. Maka berkatalah Manurunge (Batara Guru) pada “joa” nya :
”Apakah itu, wahai We Senriu, wahai We Lele-Ellung, wahai Apputalaga ? Saya melihat ada sinar bagai api menyala-nyala di atas samudera?”
Belum lepas pertanyaan Manurunge, muncullah We Nyili’ Timo di atas air (Busa empong), di elu-elukan oleh cahaya cemerlang laut terhampar. Manurunge terpesona. Dan dengan penuh rasa gembira, Manurunnge pun melihat kedatangan sepupunya, teroleng-oleng di atas lautan, maka bersabdalah Batara Guru :
“Terberangkatilah engkau semua putera-puteri dewata, menerangi, menyonsong kedatangan Datu junjunganmu!”
Pada epos La Galigo diceritakan pertemuan ini sebagai berikut :  

“Maka sekalian anak Datu sama melompat berenang, menyonsong Datu junjungannya. Seolah-olah madu tergenang dalam hati Batara Guru memandang sepupunya, menyuruh angkat naik ke pantai, dan mengundang masuk istana. Pada saat itu, lupalah Batara Guru kehidupan di Botillangi (dunia atas) setelah bergaul dengan sepupunya sebagai suami-isteri. Mereka senantiasa duduk bersanding, menikmati kipasan angin dari kipas emas kemilau. Sesudah tiga bulan lamanya, We Nyili’timo berdiam diatas bumi, ia pun mengidamlah. Tak enak perasaannya, tidak ada barang sesuatu yang dapat diterima oleh perutnya. Pada suatu hari yang cerah, kedua suami-isteri melepaskan pandangan melewati jendela istana. Wenyili’timo pun memandang burung-burung beterbangan. Di antaranya burung-burung itu terlihat seekor yang menerbangkan buah nangka di paruhnya, ada yang menerbangkan pepaya masak dan pisang. We Nyili’timo’ pun menyeru, memanggil burung-burung itu dan berkata :”Bawaan burung-burung itu tak akan memabokkan, karenanya ingin saya memakannya”.

Kelahiran We Oddang Riu

Episode yang menceritrakan We Oddang Riu yang kelak dikenal bernama Sangiasseri itu adalah sebagai berikut:
“Tepat ketika matahari bersemayam di tengah-tengah langit, bayang-bayang tak condong ke barat ataupun ke timur, maka diulurkanlah turun Puang ri Lae-lae yang tinggal di lereng gunung Latimojong, diulur juga I We Ampang Langi’, yang akan menjadi dukun beranak di istana. Sesudah tujuh bulan kandungan We Nyili’timo’, bersalinlah ia seorang puteri, diberinya nama We Oddang-Riu’. Tetapi tujuh hari saja usia puteri itu, terseranglah ia penyakit perut yang menyebabkan kematiannya. Maka dicarinya hutan untuk tempat menyimpannya, tempat yang akan dijadikan kuburannya. Setelah tiga malam meninggalnya We Oddang Riu’, datanglah kerinduan dalam hati Manurunnge kepada almarhumah puterinya. Ia pun keluar menuju kuburan puteri tercinta. Tetapi apa yang dijumpainya hanyalah padi menguning. Itulah Sangiangserri. Ada yang putih, ada yang hitam, ada yang merah memenuhi padang, meliputi daratan, memenuhi parit-parit. Maka dibawanya Sangiangseri itu pulang ke istananya.
Maka berkatalah To PalanroE (Lapatotoe) di Botillangi’ kepada puteranya : ”Hai anakku itulah puterimu yang menjelma menjadi sangiangseri”. Tetapi janganlah engkau memakannya dulu. Nantilah setelah lewat beberapa tahun, setelah engkau telah melupakannya, barulah engkau memakannya. Sebelumnya makanlah jagung”. (Mattulada;1985:395-396).
Tatkala Sangiangseri (Dewi Padi) yang merupakan jelmaan putri We Oddang Riu ini merasa tidak lagi dihargai oleh orang-orang Luwu, ia tidak lagi di tempatkan pada singgasananya, penduduk tidak lagi mematuhi petuah dan pantangan dan larangan-larangannya, ia pun dimakan tikus pada malam hari, di totok ayam pada siang hari, dan Meongmpalo Karellae yang mengawalnya mendapat disiksaan pula oleh manusia. Maka Sangiasseri pun sepakat dengan Meongmpalo Karellae dan pengawal-pengawalnya yang lain untuk pergi mengembara (Sompe) ke negeri-negeri Bugis lainnya. Mereka bersama rombongan meninggalkan Luwu.
Diceritrakan dalam epos “Meongmpalo Karellae” bahwa dalam pengembaraan itu, mula-mula Sangiangseri dan rombongan tiba di Enrekang, lalu terdampar di Maiwa (Duri), kemudian berturut-turut ke Soppeng, Langkemme, terus ke Kessi, Watu, Lisu, sampai akhirnya tiba di Barru. Perjalanan panjang dari Enrekang sampai ke Lisu ini, penuh dengan tantangan dan penderitaan, sikap dan perlakuan orang-orang yang tidak senonoh. Sang pengawal Meongmpalo Karellae disiksa habis-habisan, mereka kelaparan, kehausan, dan kepanasan menimpanya pada siang hari, dan kedinginan pada malam hari. Diceritrakan di awal epos “Meongmpalo Karellae” sebagai berikut:

“Passaleng pannesaengngi iyanae galigona Meongmpalo karellae/rampe-rampenna cokie/iyanaro napoada/Meongpalo makerek e/iya monrokku ri Tempe/mabbanuaku ri Wage/mauni balanak kuanre/mau bete kulariang/tengngina ku ripassia./Sabbaraki na malabo/puangku punna bolae./Natunaimana langi/nateaiya dewata/manai ri rua lette/ri awa peretiwi/kuripaenre ri Soppeng/ku tatteppa ri Bulu/kutatteppa ri Lamuru/pole pasa e puangku/napoleang ceppe-ceppe/kuwalluruna sitta e//dappinna ro battowae/napppekka tonrong bangkung/puangku punna bolae/sala mareppak ulukku/sala tattere coccokku/sala tappessik matakku/mallala majasuloku/kulari tapposo-poso/kulettu’na ri Enrekang/takkadapi ri Maiya/ukutikna dekke nanre/kugareppu buku bale/kurirempek si sakkaleng/kulari mua maccekkeng/ri papenna dapureng ede/napeppek sika pabberung/ puakku tomannasue/urek-urek marennikku/ sining lappa-lappku./Upabbalobo manenni/ jenne uwae matakku/ulari mangessu-essu/makkipeddikengngi ulukku./Kularisi makkacuruk riyawa dapureng ede/narorosika ro aju/puakku to mannasue/kumabuang ri tanae/napatitisikka asu/marukka wampang tauwe/orowane makkunrai./Kularina maccekkeng/ri lebok palungeng ede/napeppesika ronnang alu/puakku pannampu ede//”

Tetapi ketika rombongan pengembara ini sudah tiba di Barru, mereka menemukan sesuatu yang lain, sesuatu “panggadereng” (Ade Panggampe). Sangiangserri (Sanghyangsri) dan rombongannya mendapat sambutan yang hangat, dijamu sebagai tamu dan dapat beristirahat dengan enak di Rakkiyang (tempat penyimpnan padi pada bagian atas rumah Bugis). Sifat ramah-tamah msyarakat Barru, keadilan dan kebijaksanaan penguasanya ketika itu, membuat Sangiangserri dan rombongannya menjadi betah tinggal di Barru.
Diceritrakan pada bagian lain epos “Meong Mpalo Karellae” sebagai berikut :

“/Mappenedding maneng mua/urek-urek marajana/Datunna Sangiasseri/nadapina pekka laleng/mattuju lao ri Berru/nasessu sompa makkeda/sining ase maegae/pegana puang mattuju/iyaga puang riola/mattuju ede ri Berru/Mabbali ada makkeda/Datunna Sangiasseri/ia madeceng rioloa/mattuju ede ri Berru/naiyana taleppangi/bolana pabbicarae/jennangiengngi ri Berru/bara iya kionroi/namamase peretiwi/rianrini talolongeng/situju nawa-nawae/sabbara mappesonae/musu’i nappesunna/makka i sai samona.”

Di Barru Sangiasseri telah menemukan apa yang dicarinya, yaitu “Ade Panggampe”. Sayang sekali Sangiangseri sudah terlalu letih, lelah, dan sedih mengingat suka duka perjalanannya, dan sifat-sifat anak manusia yang ditemuinya, sehingga ia bertekad untuk meninggalkan bumi, untuk “moksa” kembali ke langit menyusul kedua orang tuanya yang ketika itu sudah kembali bertahta di Boting Langi (Kerajaan Langit).
Tetapi daulat langit tak mengizinkan Sangiasseri tinggal di sana. Kedua orang tuanya menolak Sangiasseri bersama rombongannya untuk tinggal di Boting Langi karena mereka sudah ditakdirkan untuk tinggal di bumi (pertiwi) untuk memberi kehidupan kepada umat manusia. Mereka pun terpaksa kembali ke bumi dan bumi yang ditujunya sebagai tempat bermukim adalah bumi Barru.
Diceritrakan tujuh hari tujuh malam sesudah Sangiangseri tiba di Barru, barulah ia memberikan petunjuk-petunjuk, petuah-petuah, nasehat-nasehat, serta pantangan-pantangan, khususnya yang berhubungan dengan norma-norma kehidupan bagi masyarakat Bugis dan masalah-masalah bercocok tanam. Tatanan itu dalam masyarakat Bugis diwujudkan dalam berbagai ritual seperti upacara ritual Mappalili, upacara ritual Maddoja Bine, dan upacara ritual Mappadendang sebagai rangkaian upacara “turun sawah”.

Prosesi Maddoja Bine

Di atas sudah disebutkan bahwa “Meongmpalo Karellae” sebagai penjaga Sangiasseri (Dewi Padi) maka sudah pastilah epos “Meongmpalo Karellae” memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Bugis. Ia menjadi “kitab yang disucikan”. Karena itu berdasarkan kepercayaan masyarakat Bugis membaca epos ini tidak boleh dilakukan di sembarang tempat. Nilai-nilai “mitis” yang bersumber dari epos La Galigo yang diyakini oleh masyarakat Bugis dahulu sebagai sejarah asal-usul manusia Bugis, menjadikannya sebagai “kitab suci” yang dibaca pada tiap upacara ritual “Mappalili”, “Maddoja Bine” dan “Mappadendang”. Pembacanya pun bukanlah orang-orang sembarangan, tetap dilakukan oleh para “Bissu” (laki-laki transvertites yang dianggap sebagai pendeta agama Bugis) atau orang-orang tertentu yang memang mahir dalam pembacaan “Meongmpalo” yang disebut “Passure”.
Budayawan Andi Ahmad Saransi mengatakan “Galigo Meong Mpalo KarellaE yang sampai saat ini masih kental di hormati warga dalam kegiatan Maddoja Bine (Begadang Beni-red) di mana dalam kegiatan ini adalah suatu kegiatan warga dalam menyiapkan penyemaian benih padi. Semalam atau bahkan tiga malam suntuk masyarakat melakukan kegiatan Maddoja Bine atau menunggu Bibit Benih Padi yang akan di semai.”
Dalam Maddoja Bine ini, kata Ahmad Saransi, warga begadang sambil membaca epos atau kisah Meong Mpalo KarellaE. Yang mana Meong Mpalo KarellaE ini di yakini merupakan penjelmaan Sangiasseri yang menjaga benih padi agar tetap baik saat diperam di rumah, maupun setelah disebar di sawah nantinya.”
Upacara ritual Maddoja Bine dilakukan dengan dengan serangkaian kegiatan yang dimulai ketika sawah sudah siap ditanami. Benih padi dimasukkan ke dalam wadah yang disebut “Baka” (Semacam tas dari anyaman daun bambu”. Setelah itu direndam di sungai atau di telaga-telaga kecil yang berair. Setelah benih direndam benih-benih dalam wadahnya itu diperam di atas rumah mengelilingi tiang tengah rumah. Benih-benih itu ditumpuk menggunung dan dibungkus dengan karung atau terpal atas pembungkus lainnya. Pemeraman ini dilakukan hingga tiga hari saat diperkirakan benih tersebut sudah pecah dan tunas-tunas mudanya sudah mulai muncul.
Selama pemeraman inilah upacara ritual “maddoja bine” dilakukan. Rangkaian upacara ritual itu dimulai dengan “ma’barazanji” pada awal malam, biasanya lepas shalat Magrib. Seterusnya, setelah acara “Ma’barazanji” selesai dan para tamu sebagian sudah pulang dan sebagian lagi yang ingin mengikuti ritual berikutnya, yaitu pembacaan “Meong Mpalo Karellae” masih boleh tinggal “begadang” hingga tengah malam. Karena itulah acara ini disebut “Maddoja Bine”. Maddoja artinya begadang dan Bine artinya benih padi. Jadi “Maddoja Beni” secara harafiah sesungguhnya berarti “Begadang menunggu benih padi”.
Pembacaan epos “Meong Palo Karellae” dilantunkan oleh “Passure” setelah lepas Isya hingga tengah malam. Alunan-alunan nada dalam massure ini demikian sakral sehingga orang-orang yang mendungarkannya ikut hanyut dalam kisah Meong Mpalo yang menyedihkan itu. Tak sedikit pendengar yang sampai meneteskan air mata mendengarkan perlakuan kejam manusia terhadap Meongmpalo Karellae yang diyakini sebagai penjaga Sangiasseri itu.

Makna Harmonisasi

Makna penting epos “Meongmpalo Karellae” (sering juga disebut Meongpalo Bolongnge) memang tidak hanya pada kisat tragedi yang dialami oleh protagonis Meongmpalo Karellae, tapi juga terutama harmonisasi kehidupan. Di Sulawesi Selatan, kata Prof. Dr. Nurhayati Rahman, M.Hum, tatanan kehidupan manusia telah diaturdalam berbagai peninggalan nenek moyang mereka baik yang tertulis maupun lisan. Salah satu di antaranya adalah naskah Meongpalo Bolongnge (=Meongmpalo Karellae-BA).” Selanjutnya Nurhayati Rahman mengatakan :
Naskah Meongmpalo Bolongnge menggambarkan seluruh komponen alam, baik tumbuh-tumbuhan, binatang, hujan, guntur, kilat, angin, pelangi, langit, bumi, laut dan sebagainya mempunyai kehidupan yang setara dengan mahluk-mahluk yang lain. Mereka juga mempunyai perasaan, pikiran, naluri dan kebebasan untuk berekspresi, melawan ketika diperlakukan tidak adil, tak ubahnya dengan apa yang dimiliki manusia. Itulah sebabnya sehingga tokoh-tokoh yang ada dalam naskah Meong Mpalo Bolongnge ini pada umumnya diperankan oleh alam itu sendiri namun mempunyai karakter atau perwatakan tak ubahnya dengan manusia.” (Nurhayati Rahman, 2012).
Memang tidak sedikit makna yang dapat dipetik dari epos “Meongmpalo Karellae” yang dapat menjadi tuntunan dalam kehidupan nyata masyarakat, khususnya pada masyarakat Bugis. Harmonisasi kehidupan dengan alam, sesama manusia dan dengan Sang Pencipta dituturkan secara tersirat maupun tersurat. Apalagi dengan menyakini bahwa “Meongmpalo Karellae” bukanlah bukanlah sebuah kisah narasi atau fiksi biasa yang disusun oleh seorang pujangga, melainkan sebuah kitab “kanon” (kitab yang berisi ajaran-ajaran adiluhung), sehingga penulisnya pun hiangga saat ini masih anonim atau belum diketahui. Apakah I Lagaligo dan Meongmpalo Karellae awalnya disusun oleh seorang dewa, entahlah.
Yang pasti bahwa masyarakat Bugis zaman dahulu sangat memercayai bahwa “Meongmpalo Karellae” adalah sebuah cerita yang mengandung kisah-kisah sakral, karena itu Meongmpalo Karellae menjadi bacaan sakral yang hanya boleh dibacakan saat-saat upacara ritual seperti Mappassili, Maddoja Bine dan Mappadendang.

Upacara-upacara ritual itu, oleh masyarakat Bugis terus dipertahankan secara turun temurun dari abad ke abad hingga memasuki abad ke 21 (Tahun 2000-an) di mana teknologi sudah berkembang pesat di berbagai bidang, termasuk di bidang pertanian, yang kelak mengusir paham-paham animisme dan dinamisme ke luar dari jagat pikiran kita. Sains dan teknologi menjadi kepercayaan baru bagi masyarakat milineal, sehingga sistem sistem dan tatacara kehidupan selalu berlandaskan pada pemikiran modern berbasis sains dan teknologi (tepat guna). Di bidang pertanian, pengembangan intensifikasi untuk peningkatan kualitas, pemanfaatan pupuk, insektisida, dan cara-cara pengolahan lahan yang efektif dan efisien diyakini dapat meningkatkan produktivitas.
Kendati demikian paham-paham yang telah ditanamkan oleh “Lagaligo” tetap menjadi bagian dari tatanan kehidupan masyarakat Bugis, yang sebagian masih mempertahankannya sebagai kekayaan budaya masa lalu yang mesti revitalisasi dan dilestarikan.

Daftar Bacaan
http://sulawesiekspress.com/2018/11/09/andi-ahmad-saransi-festival-budaya-dan-seminar-internasional-iii-kekayaan-budaya-sulawesi-selatan/
Mattulada.1995. Latoa, Hasanuddin University Press, Makassar.
Morris D.F Van Braam, 2007. Kerajaan Luwu, toACCAe, Makassar.
M. Tang.2007. Kongres Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Selatan I Tahun 2007, Panitia Penyelenggara, Makassar.
Rahman, N. 1990. Episode Meong Palo Bolonge Dalam La Galigo (Satu Kajian Filologi Sastra Bugis
Rahman, Nurhayati. 2012. Suara-Suara dalam Lokalitas, La Galigo Press, Makassar.
Rahim.Rahman.1985. Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis, LEPHAS, Makassar. Klasik), Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung
Salim, Drs. Muh. 1980. Pau-Paunna Meongpalo, Bahan Penataran Guru Bahasa Daerah, Makassar.



Sumber : badaruddinamir.wordpress.com
Penulis : Admin