SAMBUTAN DPP PAO : ASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH, SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DEWAN PENGURUS PUSAT ORGANISASI ASSEDDINGENG WIJANNA OGIE DALAM BAHASA INDONESIA DIKENAL DENGAN NAMA PERSATUAN ANAK OGI (DPP-PAO) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PROVINSI RIAU, PAO ADALAH PERKUMPULAN WARGA MASYARAKAT SUKU BUGIS RANTAU DENGAN BERDASARKAN PANCASILA DAN UDD 45 SERTA DIBAWAH NAUNGAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) DENGAN TUJUAN MEMPERSATUKAN SEGENAP WARGA MASYARAKAT BUGIS SELURUH NUSANTARA MAUPUN MANCA NEGARA DENGAN VISI MISI - MASSEDDI RIPASSEDDI MAPPASSEDDI-TOPADA SIPAMMASE MASE - NIAT MADECENG PADATTA RUPA TAU TERUTAMA SEMPUGIKU TEGA-TEGAKI WANUA DI ONDROWI. WASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH

Tuesday, 19 May 2020

TRADISI LEBARAN ORANG BUGIS YANG UNIK “MALEPPE”


Berlebaran di Sulawesi Selatan ternyata tak melulu soal makanan saja. Sejumlah tradisi turun-temurun turut melekat dalam setiap aktivitas di hari nan fitri. Sanak kerabat dan keluarga, baik yang dekat maupun jauh, berkumpul demi merayakan kebersamaan selepas sebulan penuh berpuasa.

Maka momen spesial seperti ini turut terjamah nilai-nilai kearifan lokal. Nah, salah satu kebiasaan masyarakat Tanah Daeng adalah Maleppe'. Secara harafiah, Maleppe' mengandung makna "melipat". Kenapa harus berhubungan dengan lipatan?

  • Tradisi Maleppe' identik dengan Lebaran milik masyarakat Sulawesi Selatan


Bagi sejumlah kalangan, Maleppe' berkaitan erat dengan makna Idul Fitri yang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Setelah melewati Ramadan, orang-orang ibaratnya melipat lembaran penuh noda, memberi ruang bagi lembaran baru untuk hati yang suci dan bersih.
Secara terminologi, Maleppe' juga mengandung artian "melepas". Yang dilepas tentu saja adalah dosa-dosa baik dalam diri sendiri serta melepaskan (atau lebih tepatnya mengikhlaskan) dosa orang lain dengan cara memberi maaf. Dengan kata lain, prosesi saling memaafkan setelah shalat Ied merupakan bagian dari Maleppe'.

  • Maleppe' kemudian berlanjut dengan kegiatan silaturahmi


Maleppe' juga termanifestasikan dalam bentuk lain. Segelintir masyarakat Bugis memaknai "melepas" dengan cara melarung pakaian lama ke sungai atau ke laut sebagai simbol menghanyutkan segala dosa, sial atau sifat-sifat buruk di masa lalu lalu diganti dengan busana yang baru. Tradisi ini erat dengan budaya Sulawesi Selatan sebelum masuknya Islam.

Beranjak dari hal tersebut, tradisi Maleppe' pun bertalian erat dengan Lebaran, entah Idul Fitri dan Idul Adha. Belakangan, Maleppe' jadi salah satu penyebutan untuk Lebaran.
Tradisi ini baru dilaksanakan seusai shalat Ied, di mana masyarakat saling berkunjung atau bertukar temu satu sama lain dengan tetangga, kerabat hingga handai taulan. Kegiatan ini disebut sebagai Assiara yang berarti silaturahmi.

  • Belakangan penyebutan Maleppe' pun identik dengan segala aktivitas berhari raya

Dalam Assiara, setiap rumah menyajikan makanan khas Lebaran kepada tamunya. Kalangan yang masih berpegang teguh pada kepercayaan lama, sajian yang bakal diberi ke tetamu harus Dibaca-bacai (didoakan) terlebih dahulu oleh Puang Anre Guru atau Daeng Imam yang berposisi setara dengan pemuka agama.
Nah, itu tadi penjelasan singkat tentang Maleppe' dalam setiap Lebaran milik masyarakat Sulawesi Selatan. Sekali lagi, fakta jika budaya memberi warna tersendiri dalam setiap sendi kehidupan agaknya sulit dibantah.





Panulis : Admin

No comments: