Berlebaran
di Sulawesi Selatan ternyata tak melulu soal makanan saja. Sejumlah tradisi
turun-temurun turut melekat dalam setiap aktivitas di hari nan fitri. Sanak
kerabat dan keluarga, baik yang dekat maupun jauh, berkumpul demi merayakan
kebersamaan selepas sebulan penuh berpuasa.
Maka
momen spesial seperti ini turut terjamah nilai-nilai kearifan lokal. Nah, salah
satu kebiasaan masyarakat Tanah Daeng adalah Maleppe'. Secara harafiah,
Maleppe' mengandung makna "melipat". Kenapa harus berhubungan dengan
lipatan?
- Tradisi Maleppe' identik dengan Lebaran milik masyarakat Sulawesi Selatan
Bagi sejumlah kalangan, Maleppe' berkaitan erat dengan makna
Idul Fitri yang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Setelah melewati
Ramadan, orang-orang ibaratnya melipat lembaran penuh noda, memberi ruang bagi
lembaran baru untuk hati yang suci dan bersih.
Secara terminologi, Maleppe' juga mengandung artian
"melepas". Yang dilepas tentu saja adalah dosa-dosa baik dalam diri
sendiri serta melepaskan (atau lebih tepatnya mengikhlaskan) dosa orang lain
dengan cara memberi maaf. Dengan kata lain, prosesi saling memaafkan setelah
shalat Ied merupakan bagian dari Maleppe'.
- Maleppe' kemudian berlanjut dengan kegiatan silaturahmi
Maleppe' juga termanifestasikan dalam
bentuk lain. Segelintir masyarakat Bugis memaknai "melepas" dengan
cara melarung pakaian lama ke sungai atau ke laut sebagai simbol menghanyutkan
segala dosa, sial atau sifat-sifat buruk di masa lalu lalu diganti dengan
busana yang baru. Tradisi ini erat dengan budaya Sulawesi Selatan sebelum
masuknya Islam.
Beranjak dari hal tersebut,
tradisi Maleppe' pun
bertalian erat dengan Lebaran, entah Idul Fitri dan Idul Adha. Belakangan, Maleppe' jadi salah satu penyebutan
untuk Lebaran.
Tradisi ini baru
dilaksanakan seusai shalat Ied, di mana masyarakat saling berkunjung atau
bertukar temu satu sama lain dengan tetangga, kerabat hingga handai taulan.
Kegiatan ini disebut sebagai Assiara yang berarti
silaturahmi.
- Belakangan penyebutan Maleppe' pun identik dengan segala aktivitas berhari raya
Dalam Assiara,
setiap rumah menyajikan makanan khas Lebaran kepada tamunya. Kalangan yang
masih berpegang teguh pada kepercayaan lama, sajian yang bakal diberi ke tetamu
harus Dibaca-bacai (didoakan)
terlebih dahulu oleh Puang Anre Guru atau Daeng Imam yang berposisi setara dengan
pemuka agama.
Nah, itu tadi penjelasan
singkat tentang Maleppe' dalam setiap
Lebaran milik masyarakat Sulawesi Selatan. Sekali lagi, fakta jika budaya
memberi warna tersendiri dalam setiap sendi kehidupan agaknya sulit dibantah.
Panulis : Admin

No comments:
Post a Comment