SAMBUTAN DPP PAO : ASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH, SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DEWAN PENGURUS PUSAT ORGANISASI ASSEDDINGENG WIJANNA OGIE DALAM BAHASA INDONESIA DIKENAL DENGAN NAMA PERSATUAN ANAK OGI (DPP-PAO) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PROVINSI RIAU, PAO ADALAH PERKUMPULAN WARGA MASYARAKAT SUKU BUGIS RANTAU DENGAN BERDASARKAN PANCASILA DAN UDD 45 SERTA DIBAWAH NAUNGAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) DENGAN TUJUAN MEMPERSATUKAN SEGENAP WARGA MASYARAKAT BUGIS SELURUH NUSANTARA MAUPUN MANCA NEGARA DENGAN VISI MISI - MASSEDDI RIPASSEDDI MAPPASSEDDI-TOPADA SIPAMMASE MASE - NIAT MADECENG PADATTA RUPA TAU TERUTAMA SEMPUGIKU TEGA-TEGAKI WANUA DI ONDROWI. WASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH

Friday, 27 March 2020

PALLAPI ARONA OGI'E ''PITUE MASSINRING PULU EPPA MASSUMPANG MINANGA'''

Syeck Yusuf (Toanta Salamaka), Petta Lasinrang (Petta Lolo), Arung Palakka (Petta to malampe gemmena), KH. Harun, Pettabarang, Imam Lapeo, Dt. Sangkala

1. Syeck Yusuf (Toanta Salamaka)
Syeikh Yusuf Makasar pembela dan penjunjung kebenaran Seorang Penyebar agama islam dari tanah mekkah sampai Banten - Syahdan, di Negeri Tallo, pada 13 Juli 1626 M atau bertepatan 8 Syawal 1036 H, muncul dari langit cahaya terang benderang menyinari negeri itu hingga Negeri Gowa. Maka, gemparlah masyarakat Gowa melihat cahaya itu. Mereka pun berangkat ke Tallo menceritakan serta mencari tahu fenomena luar biasa yang terlihat di Gowa. Namun orang Tallo tak tahu apa-apa. Yang mereka tahu, di negerinya telah lahir seorang anak bernama Yusuf. Kisah yang tertoreh dalam lontara Riwayakna Tuanta Salamaka ri Gowa (RTSG) itu menggambarkan kelahiran seorang ulama besar yang juga termasyhur sebagai sufi dan pejuang bernama Asy-Syaikh al-haj Yusuf Abu al-Mahasin Hidayatullah Taj Al-Khalwati al-Makasari atau Syekh Yusuf. Syekh Yusuf, menurut Abu Hamid dalam bukunya Syekh Yusuf: Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang lahir dalam masyarakat yang kompleks dan penuh dinamika. Saat itu, peperangan tengah berkecamuk di antara kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan dan terjadi persaingan melawan kompeni Belanda yang tengah sibuk berebut jalur perdagangan. Suasana keagamaan juga berada dalam masa transisi, sehingga kepercayaan lama dan Islam masih bercampur-baur.

Asal-usul ulama besar itu memang tak dapat dipastikan kebenarannya, karena bersumber dari cerita dan legenda. Menurut lontarak RTSG versi Gowa, ibu Syekh Yusuf bernama Aminah puteri Gallarang Moncongloe dan ayahnya seorang tua yang tak diketahui asal kedatangannya. Orang tua itu dikenal sebagai orang suci yang konon mempunyai banyak keramat. Buya Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam Jilid IV meyebutkan ayah Syekh Yusuf bernama Abdullah. Dan tambahan pengetahuan dr sa, bahwa beliau merupakan Maha Guru dari salah satu perguruan yg ada di Sulawesi Selatan yaitu PS NR(Perguruan Silat Nur Rachmat Indonesia).

2. Petta Lasinrang (Petta Lolo)
Sekitar tahun 1856, keluarga raja dan pembesar kerajaan Sawitto, diliputi suasana bahagia atas lahirnya putra La Tamma yaitu La Sinrang. Kemudian dikenal dengan nama Petta Lolo La Sinrang. Putra La Tamma Addatuang Sawitto ini, dilahirkan di Dolangeng sebuah kota kecil yang terletak kira-kira 17 km sebelah selatan kota Pinrang. Karena ibunya bernama I Raima (Keturunan rakyat biasa) berasal dari Dolangeng. Sejak lahirnya La Sinrang memang memiliki keistimewaan dimana dadanya ditumbuhi buluh dengan arah berlawanan yaitu arah keatas ke atas (bulu sussang).
Dalam perjalanan hidupnya, La Sinrang banyak mendapat bimbingan dan pendidikan daripamannya (saudara I Raima), yaitu orang yang mempunyai pengaruh dan disegani serta dikenal sebagai ahli piker kerajaan. Sehingga, La Sinrang menjadi seorang pemuda yang cukup berwibawa dan jujur. Hal ini merupakan suatu cirri bahwa putra Addatuang sawitto ini, adalah seorang calon pemimpin yang baik.
Diwaktu kecil La Sinrang gemar permaianan rakyat seperti dalam bahasa bugis mallogo, maggasing, massaung dan lain-lain. Namun, kegemaran utamanya yang berlanjut sampai usia menanjak dewasa yaitu “ Massaung “. Menyabung ayam. Dari kegemaran ini, La Sinrang selalu menggunakan “ Manu “ bakka “ (ayam yang bulunya berwarna putih berbintik-bintik merah padabagian dada melingkar kebelakang), ayam jenis ini jarang dimiliki orang
Kegemaran menyabung ayam dengan “ manu bakka “ tersiar keluar daerah, sehingga La Sinrang dikenal dengan julukan “ Bakka Lolona Sawitto “ juga dapat diartikan “ Pemuda berani dari Sawitto . Julukan ini semakin popular disaat La Sinrang mengadakan perlawanan terhadap belanda.
Juga kegemaran La Sinrang di usia remaja/dewasa adalah permainan “Pajjoge” yaitu tari-tarian dari asal Bone, sehingga ketika Pajjoge dari Pammana (Wajo) mengadakan pertunjukan di Sawitto maka La Sinrang semakin tertarik dengan Permian tersebut.
La sinrang ke Pammana, dimana setelah tinggal di Pammana dia memperlihatkan gerak-gerik yang menarik perhatian orang banyak, utamanya Datu Pammana sendiri. Datu Pammana La Gabambong ( La Tanrisampe) juga merangkap Pilla Wajo tertarik untuk menanyakan asal-usul keturunannya.
La Sinrang pun dididik dan diterima Datu Pammana menjadi pemberani, terutama dalam hal menghadapi peperangan. Setelah itu, La Sinrang kembali ke daerah asalnya yaitu Sawitto, saat itu La Sinrang mempunyai dua orang putra yakni La Koro dan La Mappanganro darihasil perkawinan dengan Indo Jamarro dan Indo Intang.
Tiba di Sawitto diajaknya kerajaan Suppa, Alitta, binanga Karaeng, Ruba’E, Madallo, Cempa, JampuE, dll kerajaan kecil disekitar Sawitto untuk berperang, dan apabila kerajaan tersebut tidak bersedia, berarti bahwa kerajaan itu berada dibawah kekuasaan Sawitto. Dengan demikian, dalam waktu singkat terkenallah La Sinrang keseluruh pelosok, baik keberanian, kewibaan, maupun kepemimpinannya
La Sinrang selama berada di Sawitto semakin nakal, akhirnya diasingkan ke Bone, baru setahun di Bone, terpaksa menyingkir ke Wajo karena membunuh salah seorang pegawai istana di Bone yaitu Pakkalawing Epu’na Arungpone.
Selama di Wajo ia mendapat didikan dari La Jalanti Putra Arung Matawo Wajo yaitu La Koro Arung Padali yang bergelar Batara Wajo. La Janlanti diangkat menjadi komandan Pasukan Wajo di Tempe dengan pangkat Jenderal.
Setelah serangan Belanda terhadap kerajaan sawitto semakin hebat, maka La Sinrang dipanggil pulang oleh ayahnya, dan diangkat menjadi panglima perang. Dalam kepemimpinannya sebagai panglima perang kerjaan Sawitto, senjata yang dipergunakan adalah tombak dan keris. Tombak bentuknya besar menyerupai dayung diberi nama “ La Salaga ‘ sedang kerisnya diberi nama “ JalloE”

3. Arung Palakka (Petta to malampe gemmena)
Seorang Raja Bone yang bisa membebaskan Masyarakat bone dari penindasan oleh kerajaan Gowa dan beliau di Juluki Sang Pembebas. Setelah La Maddaremmeng MatinroE ri Bukaka meninggal dunia, maka digantikanlah oleh kemanakannya yang bernama La Tenri Tatta Arung Palakka MalampeE Gemme’na Petta To RisompaE. La Tenri Tatta To Unru adalah anak dari We Tenri Sui Datu Mario Riwawo dengan suaminya yang bernama La Pottobune Arung Tanatengnga Datu Lompulle. Ibu dari We Tenri Sui adalah We Baji atau We Dangke LebaE ri Mario Riwawo dengan suaminya La Tenri Ruwa Arung Palakka MatinroE ri Bantaeng. La Tenri Ruwalah yang mula-mula menerima agama Islam dari KaraengE ri Gowa yang juga dianggap sebagai orang pertama menerima agama Islam di Celebes Selatan. Karena pada waktu itu orang Bone menolak agama Islam, maka Arumpone La Tenri Ruwa pergi ke Bantaeng dan disanalah ia meninggal dunia sehingga dinamakan MatinroE ri Bantaeng. Ketika La Tenri Tatta To Unru baru berusia 11 tahun, Bone dibawah kepemimpinan La Tenri Ruwa, Bone diserang dan dikalahkan oleh Gowa. Orang tuanya La Pottobune ditangkap dan ditawan bersama Arumpone La Tenri Ruwa serta beberapa anak bangsawan Bone lainnya oleh KaraengE ri Gowa dalam peristiwa yang disebut Beta Pasempe ( Kekalahan di Pasempe ). Pasempe adalah sebuah kampung kecil yang dipilih oleh Arumpone La Tenri Ruwa untuk melakukan perlawanan dan disitulah dia dikalahkan. Semua tawanan Gowa termasuk orang tua La Tenri Tatta Arung Palakka dibawa ke Gowa.

4. KH. Harun

Beliau berasal dari Kerajaan Tallo

5. Petta Barang atau petta To risappae

Konon beliau mallajang diatas kudanya dan penunggu kudanya hingga sekarang masih ada. beliau adalah keturunan raja barru yang kuat akan agama. Menurut informasi yang saya dapat beliau memunyai anak yang bernama Petta Baso Unra (anak pertama petta Barang) Sekitar 3 bulan yang lalu anak pertama dari petta barang ini pernah datang di daerah Lanca, kecamatan Tellusiattinge, kabupaten Bone (Bone Utara) disalah satu rumah warga di daerah lanca.

6. Imam Lapeo

Seorang imam di desa lapeo yang sederhana dan menyebarkan agama islam sampai ketanah bugis. sering memperlihatkan mukzisat dari sang Kuasa

7. Dt. Sangkala
Untuk sekarang ini saya belum mendapatkan info tentang beliau. Saya mohon tambahan dan masukannya mungkin ada yang salah, dan semoga bermanfaat.


Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah “Wali Songo” atau “Wali Sembilan”, maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah “Wali Pitu” atau “Wali Tujuh” yang bahkan lengkap dengan foto-fotonya.

Foto “Wali Tujuh” banyak diagung-agungkan sebagian masyarakat Islam di Sulawesi Selatan, di antaranya ada membingkai lalu memasang di dindingnya bersama dengan foto Syekh Abdul Qadir Al Jaelani, ada pula yang laminating lalu menyimpan di dompetnya sebagai penjaga dompet dan diri penyimpan.

Ada kebanggaan tersendiri bila di dinding rumah terpasang kedua foto ini karena dianggap ahli tarekat yang hebat setidaknya tamu beranggapan bahwa rumah ini milik murid wali tujuh atau Syekh Abdul Qadir Al- Jaelani.

Foto Wali Tujuh biasa juga disimpan para dukun biar lebih dipercayai sama pasiennya. Bila Malam Jumat tiba biasa diasapi dupa kemenyan, agar aromanya menyebar diseluruh ruangan.

Tidak diketahui, siapa sebenarnya yang menyusun foto tersebut kemudian disebutnya “wali pitu”. Hanya dahulu kita sering pula dapatkan di tukang-tukang cuci foto. Ketika tukang foto ditanya foto apa ini, mereka jawab itu “wali pitu” pesanan orang.

Mungkin juga masih ada di antara pembaca yang masih menyimpan di dompet foto sosok “Wali Tujuh” itu atau bahkan ada yang sudah diberi bingkai lalu digantung di ruang tamu saat ini.

Kata ‘wali’ bila ditinjau dari segi bahasa berasal dari kata “al-wilayah” artinya “kekuasaan” dan ‘daerah’ sebagaimana kata tersebut diambil dari kata “al-walayah” yang berarti pertolongan.

Menurut pengertian sebagian ulama ahlussunah, wali adalah orang yang beriman lagi bertakwa tetapi ia bukan seorang nabi. seluruh orang yang beriman lagi bertaqwa adalah disebut wali Allah, dan wali Allah yang paling utama adalah para nabi.

Dan yang paling utama di antara para nabi adalah para rasul, yang paling utama di antara para rasul adalah Ulul ‘azmi, yang paling utama di antara Ulul ‘azmi adalah Muhammad.

Maka para wali Allah tersebut memiliki perberbedaan dalam tingkat keimanan mereka, sebagaimana mereka memiliki tingkat yang berbeda pula dalam kedekatan mereka dengan Allah.

Allah telah menyebutkan ciri para wali-Nya dalam firmannya, “Ingatlah, sesungguhnya para wali-wali Allah Mereka tidak merasa takut dan tidak pula merasa sedih. Yaitu orang-orang yang beriman lagi bertaqwa”. (Yunus: 62-63).

Nah, jika demikian dapat dikatakan, bahwa wali artinya orang yang hebat dalam beragama, kekasih Allah atau para ulama yang berjasa dalam penyebaran agama Islam.

Nah, bagaimana dengan ” Foto Wali Tujuh itu” Mari kita kupas satu persatu ketujuh orang yang ada di foto itu:

Ketujuh orang dalam foto tersebut bukanlah orang yang seumuran, melainkan orang yang hidup di zaman yang berbeda, ada yang hidup diabad ke-17, ada yang di abad ke-19 dan ada yang abad ke-20 dan tidak semuanya adalah ulama.

Foto Wali Tujuh itu diperkirakan dibuat oleh tukang foto pengikut sufi yang suka mengagung-agungkan orang hebat. Di mana ketika ia mengetahui kalau di Jawa ada Wali Songo, maka mereka pun membuat-buat wali dengan mengumpulkan nama-nama tokoh yang bagi mereka sendiri anggap adalah hebat.

Lalu kemudian dicarinya lukisan ketujuh orang tersebut, digunting dan disatukan lalu difoto kembali. Nah, hasil kumpulan foto inilah yang tersebar kemana-mana karena telah dibumbuhi khurafat, bahwa foto itu adalah Wali Tujuh dari Sulawesi Selatan. Maka orangpun mengagung-agungkannya.

Pengagungan foto inilah yang dimanfaatkan setan untuk menyesatkan manusia sampai muncul kesyirikan terhadap foto itu karena ada yang telah menjadikannya jimat.

Siapa ketujuh orang yang dianggap wali itu?
1. Syekh Yusuf dari Gowa
2. Arung Palakka dari Bone
3. La Sinrang dari Pinrang
4. KH. Harun dari Tallo tidak ditahui kisah keulamaannya.
5. Petta Barang (seorang dukun dan pejuang)
6. Imam Lapeo dari Mandar
7. Datu Sangkala (tidak diketahui asalnya)

Dari ketujuh nama di atas, yang ada hubungannya dengan keulamaan kalau mau diberi istilah “wali” hanya 2 orang, yaitu:

1. Syekh Yusuf, yang dikenal sebagai tokoh sufi, penyebar tarekat Khawalatiyah. Syekh Yusuf diagung-agungkan muridnya dengan sebutan “Tuanta Salamaka”.

Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626 dan meninggal di Cape Town, Afrika Selatan, 23 Mei 1699 pada umur 72 tahun adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia.

2. Imam Lapeo, dikenal pula sebagai tokoh sufi, yang terkenal karena kecerdasan keberanian dan budi perkertinya, belajar sufi di Mekah.

Muhammad Thahir Imam Lapeo atau lebih dikenal dengan Imam Lapeo atau Tosalama‟ merupakan tokoh sufi yang dikenal akan kecerdasannya, keberaniannya dan sifatnya yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan,

Imam Lapeo yang mendirikan masjid di daerah Lapeo dan sekaligus menjadi imam pertama di masjid yang didirikannya itu.

Beliau dikenal juga dengan sebutan Kannai Tambul (‘kakek dari Istanbul’) karena beliau pernah menuntut ilmu agama hingga ke Istanbul, Turki.

Imam Lapeo Sufi besar dari Tanah Mandar ini dakwahnya merambah masyarakat nelayan hingga pegunungan. Perjalanan hidupnya sepenuhnya diabadikan untuk ilmu dan umat.

Peranan dan kontribusi Imam Lapeo melalui kerja-kerja sosial-keagamaan dan kebangsaan menjadi lahan persemaian kharisma, popularitas, sehingga masyarakat Mandar memposisikannya sebagai primus inter pares, yang dicirikan melalui pengakuan dan pembenaran secara sosio-kultural sebagai Waliullah.

Sedangkan yang lainnya jika meruntut sejarahnya tidak ada hubungannya dengan kewalian atau keulamaan, yaitu:

1. Arung Palakka, terkenal sebagai Raja Bone yang berani melawan Kerajaan Gowa, membebaskan Bugis, bahkan mengalahkan Gowa. Meskipun digelar Sultan Saaduddin tetapi bukan penyebar Islam.

2. La Sinrang terkenal karena sebagai panglima perang Kerajaan Sawitto Pinrang melawan Belanda.

3. Petta Barang, dikenal hanya karena hilang di atas kudanya bersama dengan pengawalnya.
Petta Barang juga biasa digelari Petta Po Risappae, ia merupakan keturunan raja Barru.


Dalam beberapa ceritera, ia dikisahkan tiba-tiba menghilang dari atas kudanya bersama seorang penuggu kudanya, itu sebabnya Petta Barang diberi gelar Petta To Risappae yang artinya orang dicari keberadaannya.

Petta Barang memulai gerakannya sebagai seorang dukun yang sakti dan “menjual” atau membagikan jimat kepada pasien atau penduduk yang bersedia menjadi pengikutnya. Oleh karena itu, nama dan kesaktian Petta Barang semakin terkenal di masayarakat serta pengaruhnya pun semakin luas, baik di daerah Bone pada khususnya maupun di daerah Bugis pada umumnya.

Setelah kedudukannya cukup kuat, Petta Barang memerintahkan kepada para pengikutnya untuk melancarkan serangan terhadap kedudukan pasukan Belanda di Watampone, Pattiro Bulu, dan sejumlah tempat di daerah Bugis.

Selain itu, juga melakukan penyerangan terhadap pasukan patroli Belanda pada setiap ada kesempatan, sehingga cukup merepotkan pasukan Belanda. Itulah sebabnya pemerintah Belanda memusatkan perhatian dan mengerahkan kekuatan militer untuk menumpas gerakan Petta Barang bersama para pengikutnya.

Usaha-uasaha itu akhirnya membuahkan hasil ketika Petta Barang berhasil ditangkap di Citta, Soppeng pada 1913.

4. KH. Harun, tidak ditahui kisah keulamaannya.

5. Datu Sangkala tidak ada yang tahu kisahnya sama sekali.

Sebenarnya istilah Wali dalam Islam bukan dilihat dari kehebatan atau kesaktiannya, melainkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah. Kalau berpatokan pada Al-Quran maka yang bisa dianggap wali yang berjasa terhadap penyebaran Islam atau dilihat dari keulamaannya, adalah:

1. Tiga wali dari Minangkabau yang menyebarkan Agama Islam, yang disebut Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, dan Datuk Sulaeman (Patimang)

2. Sultan Alauddin, Raja Gowa ke-14 yang memerintahkan penyebaran agama Islam ke kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan sampai ke Sumbawa dan Maluku.

3. La Maddaremmeng, Raja Bone ke-13, yang menerapkan syariat Islam di Kerajaan Bone, yang memerintahkan penghancuran berhala-berhala, penghapusan budak, tetapi akhirnya dipaksa turun sebagai raja, karena pihak keluarganya dan Raja Gowa menolak penerapan syariat Islam.

Dari uraian-uraian di atas, maka dapat dikemukakan, bahwa “Wali Tujuh” yang orangnya ada dalam foto-foto yang tersebar itu hanyalah khurafat, atau buatan orang-orang yang mengagung-agungkan orang yang menurutnya hebat bukan karena keulamaan atau jasa-jasanya dalam penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan. Artinya di antaranya hanya berjasa dalam penyebaran ajaran-ajaran sufi/tarekat.

Jadi foto yang diagung-agungkan banyak orang orang selama ini bukanlah foto tujuh wali yang sebenarnya, melainkan foto yang direka-reka oleh seseorang menurut persangkaannya atau khufarat. Pengertian khufarat adalah sebuah dongeng, cerita, legenda, kisah, asumsi, dugaan, dan lain sebagainya yang merupakan prediksi atau kejadian yang tidak benar adanya.

Karena apabila dilihat dari keagamaan dan keulamaan, serta prestasi dalam penyebaran Islam, maka tentu masuk ketiga wali penyebar Islam dari Minangkabau (Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, dan Datuk Sulaeman/Patimang). Masuk pula Raja Gowa (Sultan Alauddin), dan Raja Bone (La Maddaremmeng) yang berjasa dalam penyebaran Islam dan penerapan syariat Islam di Sulawesi Selatan.

Catatan sejarah:

1. Datuk Pattimang atau Datuk Sulaiman bergelar Khatib Sulung adalah seorang ulama dari Koto Tangah, Minangkabau yang menyebarkan agama Islam ke Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan pada tahun 1593.

Dia bersama dua orang saudaranya yang juga ulama, yaitu Datuk ri Bandang yang bernama asli Abdul Makmur dengan gelar Khatib Tunggal dan Datuk ri Tiro yang bernama asli Nurdin Ariyani dengan gelar Khatib Bungsu merekalah yang menyebarkan agama Islam ke kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan pada masa itu.

2. Sultan Ala’uddin nama aslinya yaitu I Mangngarangi adalah raja ke-14 Gowa dan raja pertama yang masuk Islam ketika memerintah.
Ia berkuasa di Gowa tahun 1593 hingga 15 Juni 1639.

Adalah Datuk ri Bandang seorang pendakwah Minangkabau yang berasal dari Koto Tangah, mengislamkan I Mangngarangi pada tanggal 22 September 1605. Semenjak itu, I Mangngarangi memimpin dengan gelar Sultan Ala’uddin.

Pada masa pemerintahannya Sultan Alauddin melakukan ekspansi besar-besaran. Pada tanggal 10 Juni 1639, Ala’uddin jatuh sakit ketika berada di Cikkoang, lima hari kemudian ia meninggal di Somba Opu.

3. La Maddaremmeng bergelar Sultan Muhammad Saleh, Raja Bone ke-13 tahun 1631-1644. Pada masa pemerintahannya, La Madderemmeng menerapkan syariat Islam dengan memerintahkan kawulanya untuk mematuhi ajaran hukum Islam secara total dan menyeluruh. Ia adalah Arumpone yang menentang perbudakan.

Pada masa itu nasib budak (pekerja), khususnya di Bone dan Sulawesi Selatan pada umumnya sangat tragis. Budak dapat disuruh bekerja sekeras-kerasnya tanpa bayaran, tak ubahnya hewan peliharaan.

La Maddaremmeng kemudian menerapkan aturan Islam secara ketat dan menentang perbudakan karena semua Umat Islam orang yang merdeka dan bersaudara, demikianlah perkembangan Islam di Bone yang begitu pesat dengan penguasa menerapkan aturan-aturan Islam dengan ketat, tak hanya dalam wilayahnya melainkan ke kerajaan tetangga seperti Soppeng dan Wajo.

La Madderemeng, mengeluarkan perintah untuk tidak lagi mempekerjakan ata (budak). Menurutnya, semua umat Islam adalah orang yang merdeka. Apabila seseorang mempekerjakannya maka harus memperoleh nafkah sewajarnya.

Selain pembebasan budak, La Madderemeng Sultan Muhammad Saleh juga menghancurkan berhala dan tidak mengijinkan kepercayaan leluhur yang tidak sesuai syariat Islam. Namun, tindakan itu tak begitu disenangi rakyat dan kalangan istana, bahkan ibunya sendiri, We Tenrisoloreng Datu Pattiro.A kibatnya kerajaan tetangganya merasa tertekan dengan aturan La Maddaremmeng secara perlahan menggalang kekuatan dengan kerajaan Gowa.

Pada 1640, We Tenrisoloreng Datu Pattiro ibunda La Maddaremmeng melakukan perjalanan dan menuju Makassar untuk meminta perlindungan pada Sultan Malikussaid, raja Gowa ke-15 (periode 1639-1653) pengganti Sultan Alaudin yang mangkat.

Gowa didukung Wajo, Soppeng dan Sidenreng menghimpun pasukan dalam jumlah besar dan menyerang Bone. Pada 1644, Bone ditaklukkan. La Maddaremeng ditangkap dan ditawan di Makassar. Sementara adiknya La Tenriaji yang mendukung segala aturan La Madderemeng, melarikan diri.

Kekalahan inilah yang kemudian dalam lontara’ Bone dituliskan, “Naripoatana Bone Seppulo Pitu Taung Ittana.” (maka diperbudaklah Bone tujuh belas tahun lamanya).

Nah, terkait “Foto Wali Tujuh atau Wali Pitu” yang sampai saat ini masih ada yang mengagung-agungkannya kami tidak persalahkan, namun perlu pemikiran cerdas. Allah Maha Mengetahui.


Selain Berbagai Sumber dari Rujukan Penulis sebagian dari Rujukan di ambil dari 
Sumber : Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?/TelukBone

Penulias : Admin

Thursday, 26 March 2020

MINESSANGI RAHASIANA OMPONA ULENGNGE


"Minessangi Rahasiana Ompona Ulengnge"
  • 3 ompona ulengnge. nari passuna neneta adam pole risuruga
  • 5 ompona ulengnge natelleng lopinna nabi nohong ritengngatasi
  • 12 ompona ulengnge naritunu nabi iberahim as pole nabi namrut rajana kapere’e
  • 16 ompona ulengnge nari buang nabi yusupu nori bujungnge kudaenna
  • 21 ompona ulengnge narilanti fir’aun puanna kapere’e
  • 24 ompona ulengnge yemme’i bale nabi yunus as ritengnga tasi’e
  • 25 ompona ulengnge nakenna tikka tana arab pitu taung ettana ananami nabalu naengka nare
..........................................................................................................................
"Panessainge Esso Natuju Muharram"
  • senin = mega dalle / mega bosi/mega anging
  • selasa = makura bosi / mega anana jaji / malessi taueruntu abala
  • rabu = mompo masagalae/ serrangi / mega tau masolang aga banna nasaba mabbettui bulue
  • kamis = maega ricu / mega bosi / masussai pemerintahange / menre maneng agagae
  • Jumat = biasa taue punoi baenena makanja asselena taneng tanengnge
  • sabtu = maega bosi biasa kedo tanae maega dalle
  • ahad = makanjai taneng tanenge makurang wassele
.......................................................................................................................

"Ompona Ulengnge"

1 ompona ulengnge
"esso nyarangi majai yappanoreng bine, isaureng tennung yappatetongeng bola"


2 ompona ulengnge
"esso jongai anana jaji mawijai, agi-agi ripegau madeceng manengngi, madeceng rilaungeng sompe, madeceng rilaungeng mamusu, pakalaki"


3 ompona ulengnge
"esso singa’i maja yappabottingeng, yattanengeng, yappatettongeng bola, yappanoreng bine, yattaneneng, rilaungi wanua runtukki lasa"

4 ompona ulengnge
"esso meongi najajiangngi ana oroane madeceng, madeceng yappanoreng bine, yappamulang balu-balu, yappabottingeng, yattanengeng"

5 ompona ulengnge
"esso tedong nakennaki lasa maladdei, agi agi ripugau majamanengngi ritu, anana jaji madorakai, wettu natelleng lopinna nabi nohong"

6 ompona ulengnge
" esso laoi madeceng rialaungeng sompe, yappa bottingeng yangelliang olokolo, yappanoreng bine"

7 ompona ulengnge
"esso balei maja tomminreng nakennaki lasa maladdei, madecengmi yonroi mebbu parewa pakkaja"

8 ompona ulengnge
"esso sapingngi medeceng yappabottingeng, ateddengengngi masitta moi iruntu"

9 ompona ulengnge
"esso asui rilaongengngi wanua runtukki abala, maja yappatetongeng bola, madeceng yonroi massinge"

10 ompona ulengnge
"esso nagai najajianggi ana mancaji ana maufe masempo dalle, nakennaki lasa magatimui paja, makessing rilaungeng sompe, matteppang bibi ri pangempangnge."

11 ompona ulengnge
"esso macangngi madeceng ri laungeng wanua, yenrekeng mekkah, yappamulang balu-balu, makessing narekko engka anana jaji masmpo dalle"

12 ompona ulengnge
"esso nyarangi madeceng rilaungeng makara-kara ri kantoroe pakalaki, madeceng ri yabbolang, yappammulang balu-balu"

13 ompona ulengnge
" esso gajai agi-agi ri jama maja manengngi ritu, laoki ri wanua runtuki lasa karing"

14 ompona ulengnge
"esso sapingngi madeceng yappamulang balu-balu, yappatettongeng, yappabottingeng, rekko malasaki masitta paja, esso najajiangnge nabi sulaiman"

15 ompona ulengnge
"esso bembe maja yappatetongeng bola tennasalai lasa bolata, rilaung wanua naka anajaji makanja tapi matengnge totona kawin"

16 ompona ulengnge
"esso bawi madeceng yonroi taneng ana lorong-lorong, agi-agi rijama maja maneng rit, madeceng toi yonroi mebbu sepu doi (tabungeng)"

17 ompona ulengnge
"esso jakariniai madeceng rialungeng sompe, madeceng rilaungeng madduta, rilauang tau mapparentae, malasaki magatti paja, ateddengeki magatti iruntu"

18 ompona ulengnge
"esso sapingngi madeceng rilaungeng sompe, jajiang ana makessing rupa, esso ri ebbuna majanna ulengnge"

19 ompona ulengnge
"esso monye’i madecengngi yappamulang balu-balu, rilauang wanua, jajiang ana masempo dallei"

20 ompona ulengnge
" esso walli madeceng rilauangeng madduta itarimaki insya allah, najajiangngi anana malampe sungei masempo dallei manyameng kininnawa toi lao ri padanna ri pancaji naiyya esso najaiangngi nabi ismail"

21 ompona ulengnge
"esso macangngi najajiangi anana madorakai ri puangnge, maja yappabottingeng, madeceng yappamulangeng lanro bessi"

22 ompona ulengnge
"esso tau esso ripanjajinna malaekae, madeceng rilauangeng sompe, rilaungeng mammusu pakalaki, idi rilaoi rikalaki, agi-agi rijama madeceng maneng, malasaki masittamui paja"

23 ompona ulengnge
"esso ulai madeceng riappatettongeng bola, yappabottingeng, yappasangeng belle, maja yappanoreng bine, madeceng yonroi melli pakiang masitta tattamba"

24 ompona ulengnge
" esso pariwi maja yappabbottingeng maponco’i, madeceng yonroi lati arung, esso najajiangnge firaun, matoai bale nabi yunus, maja narekko anana jaji"

25 ompona ulengnge
"esso anyarangi maja riloang sompe mateki rilaotta, riappabottingeng maponcoi, majai ri laoang mabbalu, esso najajiangngi iblis, najajiangngi anana madorakai"

26 ompona ulengnge
"esso sarai madeceng rilaoang sompe, riangelliang, yappabottingeng, najajiangngi anana malampe sungei"

27 ompona ulengnge
"esso ulengngi najajiangi anana maraja taoi ripadanna ripancaji ripuangnge, makessing riappanoreng bine sibawa mabbalu-balu"

28 ompona ulengnge
"esso kalapungngi madeceng yonroi mabbu parewa pakkaja, rilaoang, yappabottingeng, yataneng-tanengeng"

29 ompona ulengnge
"esso atiwi makessing rilaoang madduta, sompe cabigi, najajianggi anana pallasalasangngi"

30 ompona ulengnge
"esso manningi madeceng yappamulang dangkang, mattaneng taneng, narekko rilaoangi wanua assarapi, najajiangi anana matinului pigau pasuroanna allahu taala, duae pajajianna iyana wettu ripancajinna esso wennie"

"Moara'i Ma'kki'Guna'ki"
Wassalam..!


Penulis : Admin

Wednesday, 25 March 2020

SUKU BUGIS DI KERAJAAN MELAYU


Eksistensi Orang Bugis dalam Pemerintahan Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang

Secara garis besar, etnis Bugis dikenal sebagai orang-orang yang mendiami wilayah Sulawesi bagian selatan. Tidak hanya wilayah pesisiran pantai, tetapi mereka juga menetap hingga ke daerah pegunungan. Beberapa daerah yang menjadi tempat bermukim atau asal orang Bugis di antaranya adalah Bone, Luwuk, Wajo, Bulukumba, Soppeng, Maros Palopo, Sinjai, Pangkajene, Enrekang, Selayar, Pinrang, Makasar dan Pare-Pare. Mereka dikenal sebagai pengarung lautan dan tercatat telah singgah dan bahkan menetap di berbagai daerah di Nusantara. Terkait dengan para perantau Bugis yang ada di kawasan semenanjung Melayu dan beberapa pulau di daerah Kepulauan Riau, mereka dikenal sebagai saudagar yang terkenal. Seorang berkebangsaan Inggris bernama Francis Light yang pernah datang ke Pulau Pinang, Malaysia pada 11 Agustus 1786 menyebutkan orang-orang Bugis adalah saudagar yang paling terkenal di pulaupulau sebelah timur. 
Disebutkan mereka memiliki dagangan bernilai tinggi, sama dengan emas bungkah bersama-sama dengan beberapa candu serta kain baju. Hal ini kemudian membuat kedatangan mereka begitu ditunggu dan diharapkan oleh para pedagang. Dari berbagai wilayah yang tercatat pernah disinggahi, kawasan semenanjung Melayu adalah salah satu lokasi yang menjadi tujuan orang-orang Bugis. Sebagai kawasan strategis dalam hal perdagangan, daerah ini menjadi tujuan oleh banyak pedagang dari berbagai daerah. 
Keberadaan Malaka serta kekuasaan Islam di Aceh menjadisemacam pasar tempat terjadinya transaksi bagi para pedagang. Tidak hanya pada masa Islam, aktivitas pelayaran dan perdagangan di kawasan ini bahkan telah ada sejak zaman Hindu-Budha dan bahkan sebelumnya. Pada masa kejayaan Kerajaan Melayu Malaka yang terkenal sebagai pusat perdagangan, orang Bugis merantau dalam rangka bedagang atau mencari penghidupan yang lebih baik. Akan tetapi hal tersebut mulai berubah pada masamasa mendatang. Mereka datang ke daerah barat tidak semata untuk mencari penghidupan, melainkan didorong oleh faktor lain. Migrasi besar-besaran orang Bugis juga disebabkan perang VOC di Makassar yang kemudian berakhir dengan perjanjian Bungaya pada November 1667. 
Dalam perkembangannya, perpindahan migrasi orang Bugis mulai terjadi diakibatkan berbagai faktor. Alasan keamanan akibat situasi politik serta alasan perekonomian juga memicu mereka untuk meninggalkan tanah kelahiran. Pada abad ke-18, perperangan yang terjadi di kawasan Sulawesi menciptakan kondisi yang tidak aman sehingga mereka memutuskan untuk melakukan migrasi. Selain itu, masalah ekonomi juga menjadi salah satu alasan menyebarnya orang Bugis ke berbagai daerah disebabkan keterbatasan lahan pertanian di daerah Bone dan Wajo. Sementara itu di kawasan Semenanjung Melayu dan kawasan Kepulauan Riau masa itu tengah berkembang Kerajaan Johor dengan wilayah kekuasaan Johor, Riau, 
Lingga dan Pahang. Pasca jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, Kerajaan Johor merupakan salah satu kerajaan yang berkembang di kawasan tersebut. Di penghujung abad ke-17, kerajaan mulai dilanda konflik perebutan kekuasaan dengan melibatkan Raja Kecik yang mengaku sebagai keturunan Sultan Mahmud Syah II dengan Tuan Abdul Jalil sebagai pengganti sultan. Konflik perebutan kekuasaan ini kemudian tidak terlepas dari keterlibatan para bangsawan Bugis yang masa itu tengah berada di kawasan tersebut. Pasca direbutnya tahta kerajaan oleh Raja Kecik, aksi tuntut balas pun kemudian dilancarkan oleh keturunan Tun Abdul Jalil dengan bantuan Opu Daeng Lima Bersaudara. Keberhasilan Keturunan Tun Abdul Jalil, Tengku Sulaiman bersama orang-orang Bugis tersebut kemudian mengantarkannya menjadi sultan di Kerajaan Johor, Riau, Lingga dan Pahang dan para orang-orang bugis tersebut mendapat posisi strategis di dalam kerajaan. Salah satu hal menarik dari persoalan ini adalah masuknya orangorang Bugis ke dalam struktur pemerintahan Kerajaan Melayu. 
Sebagaimana dijelaskan di awal, kedatangan Orang Bugis ke Tanah Melayu sejak masa-masa sebelumnya bukanlah dalam rangka ekspansi maupun mencari kekuasaan, melainkan mencari penghidupan atau sekedar ingin lepas dari kondisi politik di daerah mereka yang mulai tidak kondusif. Bersinggungan dengan kepentingan politik keluarga kerajaan Melayu kemudian membawa Opu Daeng Bersaudara ke dalam struktur pemerintahan kerajaan. Beberapa litersi yang berkaitan dengan keterlibatan orang Bugis dalam struktur pemerintahan kerajaan Melayu belumlah terlalu banyak. Beberapa penelitian yang pernah membahas hal serupa di antaranya adalah artikel Sunandar berjudul Melacak Hubungan Kesultanan Sambas dan Bugis yang dimuat di Jurnal Khatulistiwa pada tahun 2014, artikel tersebut berupaya melacak hubungan yang pernah terjadi antara Orang Bugis dengan Kesultanan Sambas. Penelitian lainnya adalah makalah dalam International Seminar on Generating Knowledge Through Research, UUMUMSIDA yang digelar di Universiti Utara Malaysia, Malaysia pada tahun 2016, berjudul Bugis di Kedah 1600-1800: Suatu Tinjauan Awal yang ditulis oleh Jasni bin Ahmad. 
Dalam artikel tersebut Jasni menulis upaya orang Bugis untuk mengambil alih pemerintahan di Kerajaan Kedah. Sementara dalam literatur lain masalah ini hanya menjadi bagian tertentu dari sebuah kajian. Maka, penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan mengambil batasan temporal pada abad ke-17 dan 18. Batasan ini diambil lantaran perebutan kekuasaan kerajaan johor yang melibatkan orang Bugis terjadi pada akhir abad ke-17 dan mulai menjalankan tugas sebagai Yang Dipertuan Muda pada awal abad ke-18. 
Sementara itu batasan tematis dari penelitian ini terkait dengan keterlibatan orang Bugis dalam strutur pemerintahan kerajaan Melayu. Terdapat beberapa langkah yang dilakukan dalam penelitian sejarah, seperti heuristik, kritik sumber, interprestasi dan penulisan. 11 Heuristik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengumpulan sumber-sumber berkaitan dengan peristiwa yang terjadi seputaran abad ke17 dan 18 di kerajaan Johor-Riau-LinggaPahang, serta sumber tentang keberadaan dan eksistensi orang Bugis di kawasan tersebut, baik itu data primer maupun sekunder. Sumber-sumber yang telah terkumpul, nantinya dilakukan kritik, baik itu kritik intern maupun ekstern. 
Dari sumber-sumber yang ditemukan, banyak terdapat kesimpang siuran data, mulai dari tahun hingga nama tempat tentang beberapa peristiwa. Langkah selanjutnya setelah kritik sumber adalah interprestasi. Interprestasi merupakan upaya menformulasikan data agar menjadi susunan peristiwa berdasarkan data yang dinilai paling kuat dan masuk akal. Dari sinilah kemudian mulai disusun narasi sejarah terkait peristiwa yang terjadi. Sementara langkah terakhir dari penelitian ini adalah menuangkannya dalam bentuk karya ilmiah. 



ORANG BUGIS DALAM POLITIK DI SEMENANJUNG MELAYU 

Semenanjung Melayu merupakan kawasan yang bersentuhan langsung dengan banyak etnis yang datang dari berbagai daerah di Nusantara maupun di dunia. Selain orang Bugis maupun Minang, kawasan ini tercatat pernah didiami oleh masyarakat yang pernah bekerja pada Malaka. Tidak hanya itu, dulunya para perantau dari Bawean juga banyak menetap di daerah Malaysia maupun Singapura sekarang. Selain itu, karena merupakan kawasan perdagangan, maka keberadaan etnis Arab, Eropa, India maupu Cina juga cukup eksis di sini.
Dari beberapa kedatangan orang Bugis ke kawasan Semenanjung Melayu, salah satunya adalah kedatangan Opu Daeng Rilaka. Daeng Rilaka merupakan bangsawan dari Kerajaan Luwu di Bagian Selatan Sulawesi yang datang bersama lima orang anaknya, yaitu yaitu Daeng Parani, Daeng Chelak, Daeng Marewa, Daeng Kamasi dan Daeng Maanambun. Sebelum sampai di Semenanjung Melayu, rombongan dikabarkan sempat singgah di Batavia.
Setelah dari Batavia, rombongan Daeng Rilakka melanjutkan pelayaran ke arah utara hingga sampai di daerah Siantan yang berada di kawasan Pulau Tujuh. Di Siantan rombongan bertemu dengan seorang keturunan Bugis bernama Nakhoda Alang yang telah berganti nama menjadi Qori Abdul Malik. Dalam pertemuan tersebut, anak Daeng Rilakka, Daeng Parani mempersunting anak Qori Abdul Malik yang bernama Encik Fatimah. Selanjutnya, dalam perjalanan menuju Malaka, rombongan Daeng Rilakka bertemu dengan rombongan dari Kamboja dan ikut melakukan perjalanan ke negeri tersebut. 
Sekembalinya dari Kamboja, Rombongan Daeng Rilakka kembali merapat di Siantan. Sesampainya di Siantan, Encik Fatimah yang merupakan isteri dari Daeng Parani melahirkan anak pertama mereka, dan kemudian diberi nama Daeng Kemboja.15 Selain kelahiran Daeng Kemboja, tidak lama berselang Daeng Rilakka meninggal dunia dan dimakamkan di suatu tempat bernama Liuk. Setelah wafatnya Daeng Rilakka, pada 1681 Opu Daeng Lima Bersaudara melanjutkan pelayaran dan turut mendirikan pemukiman Bugis di Muara Sungai Kelang dan Sungai Johor.
Sepanjang penelusuran terhadap keterlibatan Bugis dalam ranah politik kekuasaan, setidaknya terdapat dua kasus di kawasan Semenanjung Melayu terkait keterlibatan orang Bugis dalam urusan kekuasaan. Selain Kerajaan Johor, kasus lain juga terjadi di Kerajaan Kedah. Perebutan kekuasaan di kerajaan ini melibatkan Tunku Ngah Putera dengan sultan yang masa itu berkuasa. Tunku Ngah Putera merupakan putera dari Raja Juang Tawa dengan seorang puteri Sultan Kedah. Pergantian pemimpin pascawafatnya sultan tidak berpihak kepada Tunku Ngah Putera, sehingga ia memilih untuk undur diri kembali ke Bugis dan kembali lagi pada tahun 1687 untuk menyerang Kedah. Namun serangan dari Tunku Ngah Putera dapat diredam sehingga ia lari ke Bruas dan kemudian ke Selangor.
Selain oleh Tuanku Ngah Putera yang memiliki hubungan darah dengan kerajaan Kedah, pemberontakan lain terkait kekuasaan juga terjadi pada tahun 1770. Pada tahun tersebut terjadi penentangan dari puak (suku) di negeri Kedah yang menentang sultan lantaran usia sultan yang kian uzur dan urusan pemerintahan dijalankan oleh anaknya Tunku Abdullah gelar Yang Dipertuan Muda. Dalam penentangan tersebut, puak meminta pertolongan kepada orang Bugis. Pada 1771 pasukan Bugis sudah sampai di Kuala Sungai Kedah dan melakukan penyerangan, akan tetapi serangan tersebut dapat dilawan karena pihak kerajaan meminta bantuan kepada Inggris untuk menghalau pasukan Bugis yang datang menyerang.  Ketika Bugis gagal meraih kemenangan dalam perebutan kekuasaan di Kerajaan Kedah, beda cerita dengan peristiwa yang terjadi di Kerajaan Johor. Hal tersebut berawal dari Sultan Mahmud Syah II yang meninggal pada 1699 di Kota Tinggi Johor.19 Karena ketiadaan pengganti, maka pada awal September 1699 bendahara kerajaan yang waktu itu dipegang oleh Tun Abdul Jalil naik untuk mengisi posisi sultan dengan gelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah.
Setelah tampuk pemerintahan dipegang oleh Sultan Abdul Jalil Riayat Syah, maka selanjutnya muncullah Raja Kecik yang mengaku sebagai keturunan dari Sultan Mahmud Syah II.21 Dalam perjalanan untuk merebut kembali kekuasaan dari Sultan Riayat Syah, Raja Kecik bertemu dengan Opu Daeng Bersaudara dan meminta mereka untuk bergabung, dengan kesepakatan apabila upaya mereka untuk merebut kekuasaan berhasil, maka Daeng Parani akan diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda. Setelah pertemuan yang berlangsung di Muara Sungai Johor itu, maka Opu Daeng Bersaudara berangkat menuju Langat yang merupakan tempat bermukim orang Bugis di wilayah Johor.
Selain dari orang Bugis, Raja Kecik juga mendapat bantuan dari daerah Kuala Johor dan Singapura yang mana dulunya wilayah tersebut merupakan basis pendukung Sultan Mahmud Syah. Tanpa menghiraukan kesepakatan dengan Opu Daeng Bersaudara, Raja Kecik melanjutkan perjalanan melakukan penaklukan. Dari peristiwa tersebut, tepatnya pada 21 Maret 1717, Raja Kecik berhasil menaklukkan Johor dan diangkat menjadi sultan dengan gelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, sementara Sultan Abdul Jalil yang sebelumnya memerintah dijadikan bendahara kerajaan.
Keterlibatan orang Bugis, yang dalam hal ini adalah anak-anak dari Daeng Rilaka berlanjut ketika adanya upaya merebut kekuasaan dari Abdul Jalil Rahmat Syah oleh anak Sultan Abdul Jalil yang saat itu sudah kembali menjabat sebagai bendahara kerajaan. Dalam beberapa sumber disebutkan Tengku Sulaiman Sultan Abdul Jalil ingin kembali merebut tahta kerajaan lantaran tidak terima karena merasa dipermainkan oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah.24 Untuk itu, Tengku Sulaiman selanjutnya meminta bantuan kepada anak-anak Daeng Rilakka agar membantunya untuk menggulingkan sultan. Hal tersebut disambut baik oleh Opu Daeng Bersaudara, sebab mereka merasa punya kepentingan untuk membalas dendam kepada Raja Kecik. Rasa tidak senang kepada Raja Kecik sudah muncul semenjak ia meninggalkan mereka ketika sudah membangun kesepakatan untuk menyerang Johor dulu.
Serangan terhadap Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah dipimpin oleh Daeng Marewa. Serangan dari orang-orang Bugis tersebut tidak dapat ditahan sehingga pusat kerajaan dipindahkan ke daerah Riau pada thun 1719. Malangnya, dalam penyerangan tersebut, Sultan Abdul Jalil atau Datuk Bendahara ikut terbunuh oleh anak buah sultan. Selanjutnya, pada tahun 1722, Daeng Parani bersama saudarasaudaranya melanjutkan penyerangan ke daerah Riau dan terjadilah pertempuran di beberapa titik, seperti Pulau Penyengat, Pulau Bayan dan Tanjung Pinang. Akibat serangan tersebut akhirnya Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah terus mundur sampai ke Lingga hingga akhirnya memutuskan untuk lari ke Siak.
Pada 4 Oktober 1722, Tengku Sulaiman kemudian dilantik sebagai Sultan Kemaharajaan Melayu dan seluruh daerah taklukannya dengan gelar Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah I. Sejak saat itu, kerajaan yang berkuasa atas daerah Johor, Pahang, Riau dan Lingga itu dikenal dengan Kerajaan Riau, sementara Daeng Marewa dianugerahi jabatan sebagai Yang Dipertuan Muda.26 Tempat yang dijadikan sebagai pusat pemerintahan itu dikenal dengan Istana Kota Piring yang berada di Pulau Bintan. Istana tersebut mulai difungsikan sejak penabalan atau pelantikan Sultan Sulaiman hingga 10 November 1784.27 Selain diberikan jabatan sebagai Yang Dipertuan Muda, Opu Daeang Bersaudara juga diikat oleh Sultan Sulaiman melalui pernikahan dengan kerabat kerajaan. Daeng Parani dinikahkan dengan adik Sultan Sulaiman, Tengku Tengah. Sementara Daeng Marewa dinikahkan dengan Tun Cik Ayu yang merupakan anak dari Tumenggung Johor. Daeng Chelak dinikahkan dengan Tengku Mandak, adik Sultan Sulaiman yang lain.28 Anak yang menjadi keturunan Melayu-Bugis ini kemudian bergelar ‘Raja’ sebagai simbol kebangsawanan.

YANG DIPERTUAN MUDA DAN PERUBAHAN STRUKTUR KERAJAAN  

 Diangkatnya Daeng Marewa sebagai Yang Dipertuan Muda Riau I menjadi titik balik dari sistem pemerintahan Kerajaan Johor-RiauLingga-Pahang. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak biasa dalam sebuah pemerintahan Kerajaan Melayu. Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, di Kerajaan Kedah, Tun Ngah Putera yang mencoba untuk mengambil alih kekuasaan mengalami kegagalan dan harus menderita kekalahan setelah mengumpulkan pasukan dari Bugis. Akan tetapi, di Kesultanan Johor begitu berbeda. 
 Jabatan sebagai Yang Dipertuan Muda diperoleh keturunan Daeng Rilakka setelah bekerja sama dengan salah satu pihak yang memiliki kepentingan terhadap kekuasaan. Jabatan sebagai Yang   Dipertuan Muda bukanlah jabatan rendah untuk ukuran kerajan Melayu masa itu. Yang Dipertuan Muda dapat dikatakan sebagai jabatan tertingi kedua setelah jabatan sultan yang disebut dengan Yang Dipertuan Besar. Pada masa sebelumnya, jabatan Yang Dipertuan Muda sama dengan jabatan Bendahara Kerajaan. Artinya, selain di tangan Sultan, urusan negeri ada di tangan Yang Dipertuan Muda. 
 Lebih lanjut, Ridwan Melayu dalam tesis berjudul Riau Lingga Dilema Kekuasaan dan Implikasi Perdagangan 1784- 1824 menuliskan sebelumnya di Kerajaan Johor dikenal struktur pemerintahan sultan. Dalam pemerintahan tersebut sultan dibantu oleh Bendahara, Laksmana, Temenggung serta Orang Kaya. Pemangku jabatan ini memiliki jaringan ke masyarakat serta pihak asing dan hubungan mereka juga saling berkaitan antara satu dengan yang lain.
 Terkait pentingnya posisi bendahara kerajaan, sebelum pemerintahan sampai ke tangan Sultan Sulaiman Badul Alamsyah I, segala urusan diurus oleh sultan, menteri dan bendahara. Orang-orang yang akan mengisi jabatan tersebut dipilih langsung oleh sultan dan akan mempertanggungjawabkan seluruh pekerjaan kepada istana. Lebih dari pada itu, sultan juga memiliki ketergantungan terhadap bendahara maupun menteri.
 Dengan keberadan Yang Dipertuan Muda, maka posisi atau jawatan Bendahara Kerajaan pun ditiadakan. Selain itu, Ahmad Dahlan dalam buku Sejarah Melayu menyebutkan posisi sebagai Yang Dipertuan Muda dapat disebut sebagai wakil sultan atau sekelas dengan perdana menteri, sehingga dalam posisi tersebut sangat memungkinkan pemangkunya untuk mengambil kebijakan strategis di lingkungan kerajaan. Sementara pada masa pemerintahan sebelumnya hal tersebut dipercayakan kepada pemegang jabatan menteri serta Majelis Orang Kaya Melayu. Sehingga dengan adanya Yang Dipertuan Muda maka membuka peluang bagi pihak yang tidak lagi memiliki jabatan berubah menjadi oposisi.
 Jabatan Yang Dipertuan Muda juga memiliki kekuasaan yang cukup besar. Padanya mencakup jabatan Panglima Perang dan hubungan luar negeri. Sementara jabatan Yang Dipertuan Besar atau sultan hanya mengurus perihal adat istiadat, agama, hukum, serta keamanan di dalam negeri.35 Dengan kata lain, Yang Dipertuan Besar lebih mengurus pada urusan dalam negeri dan Yang Dipertuan Muda mengemban tugas untuk mengurus pertahan serta urusan eksternal kerajaan. Lambat laun, kondisi ini mulai memperlihatkan ketimpangan dengan mendominasinya peran dari Yang Dipertuan Muda. Persoalan ini pun menjadi persoalan yang mandasar dalam internal kerajaan. Dengan masuknya orang Bugis ke dalam struktur pemerintahan kemudian mulai mengenyampingkan peran sultan. Tidak dapat dipungkiri bahwasanya keikutsertaan orang Bugis dalam perebutan kekuasaan akhirnya merubah struktur pemerintahan tradisional kerajaan Johor hingga akhirnya bubar sebagai Kerajaan Riau Lingga.
 Ketimpangan tersebut kemudian berubah menjadi konflik internal kerajaan. Sejak dijabatnya Yang Dipertuan Muda I oleh Daeng Marewa telah terjadi beberapa konflik, akan tetapi hal tersebut dapat kembali menemui titik temu sehingga masing-masing pihak kembali dapat menjalankan tugasnya masing-masing. Selain konflik politik antara Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Muzaffar Syah dengan Yang Dipertuan Muda Raja Abdul Rahman, sebelumnya juga terjadi hal serupa, sehingga terjadi kekosongan jabatan Yang Dipertuan Muda selama lebih kurang tiga tahun.
 Setelah wafatnya Daeng Chelak sebagai Yang Dipertuan Muda II pada tahun 1745, posisi tersebut sempat mengalami kekosongan. Hal tersebut terjadi lantaran adanya rasa ketidaksengangan pihak Melayu terhadap kekuasaan orang Bugis. Karena jabatan Yang Dipertuan Muda merupakan posisi yang diberikan oleh Sultan Sulaiman, maka pihak-pihak yang tidak senang menghasut sultan untuk mengurangi dominasi orang Bugis. Akan tetapi pada tahun 1948, permasalahan ini kembali mereda setelah diadakan perdamaian antara Daeng Kemboja dengan Sultan Sulaiman. Pada tahun itu Daeng Kemboja kembali mengisi kekosongan jabatan Yang Dipertuan Muda sebagai Yang Dipertuan Muda Riau III.
 Memasuki masa Yang Dipertuan Muda Riau IV yang dijabat oleh Raja Haji, ikatan persaudaraan yang dijalin antara Melayu dengan Bugis semakin kuat. Raja Haji dikenal sebagai sosok Melayu Bugis yang memahami Melayu secara kultur.
 Pada masanya, Kemaharajaan Melayu dinilai mulai mencapai keberhasilan dengan berbagai pencapaian serta disegani di sepanjang Selat Malaka dan Pesisir Timur Sumatera. Keberadaan pelabuhan atau bandar dengan cukai keluar masuk barang serta penimbunan barang di pelabuhan ikut memberikan dampak terhadap peningkatan perekonomian.
 Dalam bidang pendidikan, pada masanya juga dilakukan pemberantasan terhadap buta huruf hijaiyah dan mulai mempelajari Aksara Arab Melayu. Dari sektor keamanan dan pertahanan, kekuatan dan kapasitas armada laut juga mulai ditingkatkan, sembari dibarengi dengan pembangunan benteng-benteng pertahanan.
 Pada beberapa pertempuran dengan pihak kompeni Raja Haji kerab membawa kemenangan bagi pihak Melayu. Sekalipun demikian, tidak jarang pula pertempuran tersebut berakhir dengan kekalahan lantaran pihak lawan dilengkapi dengan persenjataan yang lengkap. Selain itu, Raja Haji juga tidak lagi menggunakan ‘Daeng’ di awal namanya, akan tetapi menggunakan ‘Raja’.

Para Yang dipertuan Muda Riau

1) Daeng Marewah / Yang Dipertuan Muda Riau I (1722-1728) - Merupakan anak Daeng Rilakka. 
2) Daeng Chelak / Yang Dipertuan Muda Riau II (1728-1745) - Merupakan anak Daeng Rilakka. 
3) Daeng Kamboja / Yang DipertuanMuda Riau III (1748-1777) - Merupakan anak dari Daeng Parani dengan Encik fatimah. 
4) Raja Haji / Yang Dipertuan Muda Riau IV (1777-1784) - Merupakan anak dari Daeng Chelak yang menikah dengan adinda Sultan Sulaiman Johor. 
5) Raja Ali / Yang Dipertuan Muda Riau V (1784-1806) – Merupakan anak dari Daeng Kemboja. 
6) Raja Jaafar / Yang Dipertuan Muda Riau VI (1806-1831) – Merupakan anak dari Raja Haji. 
7) Raja Abdul Rahman / Yang dipertuan Raja Muda Riau VII (1833- 1843) – Merupakan anak dari Raja Jaafar. Diangkat pada 2 Desember 1833 lantaran tidak ditemukan pengganti dan Sultan Abdurrahman juga terlebih dulu sakit dan mangkat di Lingga. Ia diangkat oleh Sultan Muhammad Syah di Lingga.
8) Raja Ali/ Yang Dipertuan Muda Riau VIII (1845-1857) – Merupakan anak Raja Jaafar. 9) Raja Abdullah/ Yang Dipertuan Muda Riau IX (1857-1858) – Merupakan anak Raja Jaafar. 10) Raja M. Yusuf/ Yang Dipertuan Muda Riau X (1858-1899) – Merupakan anak Raja Ali dan cucu dari Raja Jaafar. Raja M Yusuf kemudian menikahi Tengku Embung Fatimah. Dari pernikahan tersebut lahir Raja Abdurrahaman yang kemudian menjabat sebagai sultan Kerajaan Riau Lingga dengan gelar sultan Abdurrahman Muazamsyah II dan merupakan sultan terakhir tersebut sebelum dibubarkan oleh Belanda pada tahun 1913. 

Kehadiran orang Bugis dalam Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang membawa perubahan yang berarti dalam struktur pemerintahan kerajaan tersebut. Tak dapat dipungkiri bahwa sistem pemerintahan tradisional kerajaan Melayu mulai berubah seiring masuknya Bugis dalam struktur pemerintahan sebagai Yang Dipertuan Muda. Jabatan yang diberikan oleh Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah I itu khusus diperuntukkan bagi keturunan Daeng Rilakka yang telah membantunya merebut tahta dari Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Posisi sebagai Yang Dipertuan Muda dapat disamakan dengan posisi seorang perdana menteri. Ketika penabalan atau pengukuhan Sultan Sulaiman sebagai sultan serta penunjukan Daeng Marewa sebagai Yang Dipertuan Muda, secara otomatis beberapa jabatan lama seperti bendahara kerajaan dihapuskan. Jabatan yang dipegang oleh keturunan Bugis itu berlaku turun temurun dari generasi ke generasi. Kiprah Yang Dipertuan Muda selanjutnya dinilai sangat mendominasi, sehingga secara tidak langsung mengenyampingkan sultan sebagai Yang Dipertuan Besar. Ketidaksenangan dari sebagian Melayu menjadi halangan tersendiri bagi keturunan Bugis, akan tetapi persoalan-persoaln tersebut tetap dapat teratasi dengan diplomasi serta pengulangan kembali sumpah setia Melayu Bugis. Dalam perkembangannya, dedikasi para Yang Dipertuan Muda untuk membangun, mengembangkan serta mempertahankan Kerajaan Riau Lingga mulai menghilangkan batas antara Melayu dan Bugis.

Sumber Pustaka :
Ahmad, Jasni bin, “Bugis di Kedah 1600- 1800: Suatu Tinjauan Awal”, dalam Proceeding of ICECRS, 1 2016, Universiti Utara Malaysia, Malaysia, 2016. 
Dahlan, Ahmad. Sejarah Melayu. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2014. 
Kadir, Daud, dkk. Sejarah Kesultanan Lingga-Riau. Pemerintah Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau, 2008. 
Liamsi, Rida K, “Berhutang Pada Persebatian Melayu Bugis”, dalam Firdaus L.N dkk, Tamadun Melayu Lingga. Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, 2018 
Mansyur, “Migrasi Dan Jaringan Ekonomi Suku Bugis di Wilayah Tanah Bumbu, Keresidenan Borneo Bagian Selatan dan Timur 1930-1942”, dalam Jurnal Sejarah Citra Lekha, Vol. 1, No. 1, 2016. 
Melay, Ridwan. Riau Lingga Dilema Kekuasaan dan Implikasi Perdagangan 1784-1824. Jakarta: Tesis Ilmu Sejarah UI, 1999. 
Naim, Mochtar. Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1979.
Omar, Rahilah, dkk, “Sejarah kedatangan masyarakat Bugis ke Tanah Melayu: Kajian Kes di Johor”, dalam Jebat 36, 2009. 
Samin, Suwardi Mohammad, “Kerajaan dan Kesultanan Dunia Melayu: Kasus Sumatra Dan Semenanjung Malaysia”, dalam Jurnal Criksetra, Volume 4, Nomor 7, Februari 2015. 
Shamad, Irhash. A. Ilmu Sejarah. Jakarta: Hayfa Press, 2003. 
Sunandar, “Melacak Hubungan Kesultanan Sambas dan Bugis (Studi Awal terhadap Naskah Tuhfat al-Nafis)”, dalam Jurnal Khatulistiwa – Journal of Islamic Studies, Volume 4 Nomor 2 September 2014. 
Sofyan, Faisal. Sejarah Persemendaan Melayu dan Bugis. Tanjung Pinang: Milaz Grafika, 2013. 
Syahri, Aswandi, Raja Murad. Cogan Regalian Kerajaan Johor-Riau-LinggaPahang. Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Provinsi Kepulauan Riau, 2006. 
Totok Roesmanto, “Rekonstruksi Arsitektur Istana Kota Piring”, dalam Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur, Vol. 32, No. 1, Juli 2004. 
Umar. Perantau Bugis dalam Narasi Sejarah: Sebuah Kritik Historiografi. Yogyakarta: Tesis Ilmu Religi dan BudayaUniversitas Shanata Dharma, 2018.
Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu P-ISSN 2656-7202 E-ISSN 2655-6626 Volume 2 Nomor 1, Januari-Juni 2019 DOI: 10.35961/perada.v2i1.25 - Syahrul Rahmat

Penulis : Admin

Tuesday, 24 March 2020

Sejarah Songkok Recca




Songkok Recca biasa juga disebut Songkok Pamiring sering pula disebut Songko’ To Bone. Mana yang benar dari ketiga nama tersebut ? Semuanya benar namun penyebutan ketiga nama tersebut masing-masing mempunyai kisah dan rentang waktu yang berbeda. Awalnya dinamakan Songkok Recca ketika Raja Bone Ke-15 Arung Palakka menyerang Tanah Toraja (Tator) tahun 1683 hanya berhasil menduduki beberapa desa di wilayah Makale-Rantepao. Tentara Tator melakukan perlawanan sengit terhadap pasukan Arung Palakka.

Salah satu ciri khas tentara kerajaan Bone pada masa lalu memakai sarung yang diikatkan di pinggang (Mabbida atau Mappangare’ Lipa’). Prajurit Tator juga mempunyai kebiasaan memakai sarung tetapi diselempang (Massuleppang Lipa) sehingga bila terjadi pertempuran dimalam hari kedua pasukan sulit dibedakan yang mana lawan dan kawan, dikira lawan padahal kawan karena baik prajurit Tator maupun Bone masing-masing memakai sarung. 

Untuk menyiasati keadaan seperti itu, Arung Palakka mencari strategi dengan memerintahkan para prajuritnya memasang tanda di kepala sebagai pembeda dengan memakai songkok recca’. Selanjutnya pada masa pemerintahan Raja Bone Ke-32 Lamappanyukki tahun 1931 songko recca’ menjadi semacam kopiah resmi atau songkok kebesaran bagi raja, bangsawan, dan para ponggawa-pongawa kerajaan. Untuk membedakan tingkat kederajatan di antara mereka, maka songko’ recca dibuat dengan pinggiran emas (pamiring pulaweng) yang menunjukkan strata pemakainya. 

Itulah yang membuatnya istimewa dan oleh karenanya, songkok recca yang bercorak lapisan emas itu disebut juga Songkok pamiring. Pada masa kerajaan-kerajaan Bugis dan Makassar, benang emas yang melingkar pada songkok pamiring memiliki makna, makin tinggi lingkaran emasnya, pertanda semakin tinggi derajat kebangsawanan pemakainya. Hanya Sombayya ri Gowa dan Petta Mangkaue di Bone serta raja yang sederajat berhak memakai lingkar emas yang tertinggi ( kira-kira hanya satu centimeter tersisa tanpa balutan emas). 

Pada waktu itu terdapat aturan yang berlaku bagi pemakai songkok pamiring, di mana bangsawan tinggi atau yang berkedudukan sebagai raja dan juga bagi anak raja yang dianggap berdarah biru (Maddara Takku), anak Mattola, boleh menggunakan songkok pamiring yang seluruhnya terbuat dari emas murni. Golongan yang disebut Arung Mattola Menre, Anak Arung Manrapi, Anak Arung Sipue dan Anakkarung boleh memakai songkok pamiring dengan lebar emas tiga-per-lima bagian dari tinggi songkoknya. 

Golongan yang disebut Rajeng Matase, Rajeng Malebbi boleh memakai songkok pamiring dengan lebar emas setengah bagian dari tinggi songkoknya. Golongan yang disebut Tau Deceng, Tau Maradeka dan Tau Sama diperkenankan memakai songkok recca dengan pinggiran emas. Sedangkan golongan yang disebut Ata sama sekali tidak dibolehkan memakai songkok ini. 

Seiring dengan perkembangan masyarakat yang tidak lagi memandang adanya perbedaan kasta, aturan-aturan tersebut tidak berlaku lagi dan semua lapisan masyarakat boleh memakainya. Namun songkok ini masih tetap istimewa karena menunjukkan karisma pemakainya. Keistimewaan itu akan tampak jika songkok ini berada diatas kepala orang-orang atau tokoh penting dan terkenal, pejabat, keturunan bangsawan, orang-orang kaya, dan semacamnya. Selain mahal harganya, songkok pamiring menjadi lebih istimewa jika benang keemasan yang menghias pinggiran songkok itu diganti dengan emas murni. Terlebih jika susunan emas itu dilebur dan dibuat menyerupai benang yang hampir menutupi seluruh sisi songkok. 

Songkok pamiring bukan lagi milik para raja atau kaum bangsawan, namun bagi mereka yang mengerti akan filosofi songkok pamiring, tidak akan sembarangan memakainya. Selain menunjukkan karisma pemakainya, songkok pamiring juga menunjukkan siapa sebenarnya orang yang memakainya. Karena semakin “bagus” songkok pamiring yang dipakai, diukur dengan hiasan emas yang menutupinya, maka akan menunjukkan tingkat prestasi pemakainya. 

Dengan kata lain, songkok pamiring sebagai penanda “siapa sebenarnya kita”. Kemudian setelah masa kerajaan berakhir songko’ recca atau songkok pamiring tersebut semua kalangan bisa memakainya tanpa mengenal strata sehingga dinamakan Songko’ To Bone artinya songkoknya seluruh orang Bone. Karena songko’ recca atau songkok pamiring selain memang berasal dari Bone yang merupakan cipta, rasa, dan karsa orang Bone. 

Meskipun sekarang ini banyak songkok recca diproduksi di luar daerah Bone. Karena itu tidaklah dipertentangkan songko’ reca atau songko’ pamiring atau songko To Bone sama saja hanya rentang masa yang membedakan. Mengapa Dinamakan Songko’ Recca ? Songkok Recca’ terbuat dari serat pelepah daun lontar dengan cara dipukul-pukul (dalam bahasa Bugis : direcca-recca) pelepah daun lontar tersebut hingga yang tersisa hanya seratnya. Serat ini biasanya berwarna putih, akan tetapi setelah dua atau tiga jam kemudian warnanya berubah menjadi kecoklat-coklatan. 

Untuk mengubah menjadi hitam maka serat tersebut direndam dalam lumpur selama beberapa hari. Jadi serat yang berwarna hitam itu bukanlah karena sengaja diberi pewarna sehingga menjadi hitam. Serat tersebut ada yang halus ada yang kasar, sehingga untuk membuat songkok recca’ yang halus maka serat haluslah yang diambil dan sebaliknya serat yang kasar menghasilkan hasil yang agak kasar pula tergantung pesanan. 

Untuk menganyam serat menjadi songkok menggunakan acuan atau pola yang disebut Assareng yang terbuat dari kayu nangka kemudian dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai songkok. Acuan atau assareng itulah yang digunakan untuk merangkai serat hingga menjadi songkok recca’. Ukuran Assareng tergantung dari besar kecilnya songkok yang akan dibuat. 

Di Kabupaten Bone Songkok Recca/Songkok To Bone diproduksi di Desa Paccing Kecamatan Awangpone. Di daerah tersebut terdapat komunitas masyarakat secara turun temurun menafkahi keluarganya dari hasil prosesi mengayam pelepah daun lontar ini yang dinamakan Songkok Recca/Songkok Pamiring/Songko’ To Bone. Anda Berminat ?

Untuk yang Berada di Kabupaten Indragiri Hilir Bisa Pesan Lewat Saudara kita Ilham Daeng Mattemmu : Fb- https://web.facebook.com/ilham.daengmatemmu




Penulis : Admin

Monday, 23 March 2020

ININNAWA SABBARA'E



Selain lagu “Paseng Riati/pesan dari lubuk hati yang dalam” ada juga satu lagu yang acapkali menjadi senandung kalangan Bugis pada waktu menidurkan anak-anaknya, yakni Ininnawa. Lagu penyejuk hati ini dikategorikan lagu-lagu Yabelale atau lagu nina bobok. Bahkan lagu Ininnawa lebih populer dibanding “Paseng Riati”.

Sebagian orang memberinya judul ” Ininnawa Sabbarae “, namun lagu ini judul aslinya adalah “Ininnawa” artinya Hati Yang Tulus Ikhlas. Terdiri atas tujuh bait saja. Makna syair tiap bait terhubung antara satu dengan yang lainnya.

Syair lagu “Ininnawa Sabbarae” ini sudah ada sejak tahun 1912 Masehi. Sampai saat ini belum diketahu siapa penciptanya. Syair lagu Ininnawa Sabbarae ditemukan oleh seseorang yang tersimpan di dalam sebuah Ceropong (Batang Bambu Sejenis Teropong) dengan naskah lontara Bugis.

Seperti kebiasaan orang Bugis masa lalu kalau ada surat yang dianggap penting mereka simpan dalam Ceropong Bambu. Lagu inipun sarat dengan petuah.

Lagu Ininnawa Sabbarae terdiri dari 7 bait bercerita tentang orang yang selalu bersabar akan memperoleh kebahagiaan, dan kebahagian itu akan datang jika disertai usaha dan ikhtiar.

Lagu ini menawarkan petuah berupa pesan moral yang mengajarkan kita untuk selalu bersabar dan bersyukur dan apabila kita mendapat kebahagiaan, janganlah lupa kepada Maha Pencipta.

Seperti diketahui ayunan pada tubuh akan merangsang otak kecil anak yang secara otomatis akan meningkatkan daya kognitif anak. “Jangan hanya diayun, tapi dinyanyikan. Ini akan jadi satu latihan kinestetik awal yang baik bagi anak.

Kinestetik merupakan keistimewaan pada orang-orang tertentu yang lebih cepat memahami ilmu atau pelajaran dengan aktivitas dibanding membaca dan menghafal.

Misalnya saja mempelajari proses turunnya hujan. Bagi anak kinestetik, jangan disuruh menghafal kalimat demi kalimat. Tapi, dengan memberi contoh melalui gerakan-gerakan tangan maka cepat dicerna oleh anak.





Berikut syair lagu Ininnawa Sabbarae

I. ININNAWA SABBARA’E 2X

(Ketulusan dan Kesabaran)

LOLONGENG GARE’ DECENG

(Konon Mendapatkan Kebaikan)

ALA TOSABBARAEDE

(jua Orang Penyabar)


II. PITU TAUNNA SABBARA’ 2X

(Tujuh Tahun Bersabar)

TENGGINANG KULOLONGENG

(Belumlah Kudapatkan)

ALA RIYASENGNGE DECENG

(Jua namanya Kebaikan)


III. DECENG ENRE’KI RI BOLA 2X

(Kebaikan Naiklah di Rumah)

TEJJALI TETAPPERE

(Tanpa Tikar Permadani)

ALA BANNA MASE-MASE

(Jua dalam Kesederhanaan)


IV. MASE-MASE IDI’NAGA 2X

(Kesederhanaan inilah)

RISURO MATTARANA

(Ditasbihkan Mengasuh Anak)

ALA MUTEA MABELA

(Jua Engkau Tak Menjauh)


V. MABELAMPI KUTIROKI 2X

(Dari Jauh Kumelihatmu)

MUJOPPA ALE-ALE

(Engka Berjalan Sendiri)

ALA MUTELLU SITINRO

(Jua Engkau bertiga )


VI. TELLU MEMENGNGA SITINRO 2X

(Tiga memang saya jalan bersama)

NYAWAKU NA TUBUKU

(Nyawaku, dan Tubuhku)

ALA PASSENGERENGNGEDE

(Jua amal perbuatan)


VII. SENGERENGMU PADA BULU 2X

(Kebaikan Setinggi Gunung)

ADATTA SILAPPAE

(walau Satu Kata Saja)

ALLA RUTTUNGENG MANENGNGI

(Semua Akan Runtuh)


Makna Syair bait I :

I. ININNAWA SABBARA’E 2X

(Ketulusan dan Kesabaran)

LOLONGENG GARE’ DECENG

(Konon Mendapatkan Kebaikan)

ALA TOSABBARAEDE

(jua Orang Penyabar)


Bahwa ketulusan, kesabaran, dan ketabahan kita akan memperoleh kebaikan. Setiap pekerjaan apabila diawali dengan niat, dilakukan dengan tulus ikhlas niscaya akan memperoleh hasil. Ketabahan seseorang diukur dari kemampuannya dalam bersabar.


Makna syair bait II :

II. PITU TAUNNA SABBARA’ 2X

(Tujuh Tahun Bersabar)

TENGGINANG KULOLONGENG

(Belumlah Kudapatkan)

ALA RIYASENGNGE DECENG

(Jua namanya Kebaikan)


Dalam mengarungi hidup, meskipun kita berusaha dan berikhtiar selama tujuh tahun lamanya, belum tentu kita bisa memperoleh apa yang diimpikan, apalagi kalau kita tidak berusaha maka harapan itu semakin jauh.


Makna syair bait III :

III. DECENG ENRE’KI RI BOLA 2X

(Kebaikan Naiklah di Rumah)

TEJJALI TETAPPERE

(Tanpa Tikar Permadani)

ALA BANNA MASE-MASE

(Jua dalam Kesederhanaan)


Untuk memperoleh hasil yang diharapkan maka kebaikan itu harus dijemput. Kebaikan itu tidak akan datang dengan sendirinya bila kita tidak berusaha mencarinya. Oleh karenanya kita tidak boleh jenuh dan berputus asa meskipun disongsong dengan kesederhanaan hidup.


Makna syair bait IV :

IV. MASE-MASE IDI’NAGA 2X

(Kesederhanaan inilah)

RISURO MATTARANA

(Ditasbihkan Mengasuh Anak)

ALA MUTEA MABELA

(Jua Engkau Tak Menjauh)


Meskipun kita hidup dalam kesederhanaan niscayalah bisa mendatangkan kebaikan yang diibaratkan seorang ibu mengasuh anaknya yang senantiasa berharap atas kebahagiaan hidup anaknya dikemudian hari.


Makna syair bait V :

V. MABELAMPI KUTIROKI 2X

(Dari Jauh Kumelihatmu)

MUJOPPA ALE-ALE

(Engkau Berjalan Sendiri)

ALA MUTELLU SITINRO

(Jua Engkau bertiga)


Kebaikan itu ibarat orang yang sedang berjalan, meskipun ia kelihatannya hanya sendiri, pada hakikatnya orang itu ditemani oleh tiga hal. Demikian juga kebaikan diliputi oleh tiga hal yakni niat,usaha, dan doa.


Makna syair bait VI :

VI. TELLU MEMENGNGA SITINRO 2X

(Tiga memang saya jalan bersama)

NYAWAKU NA TUBUKU

(Nyawaku, dan Tubuhku)

ALA PASSENGERENGNGEDE

(Jua amal perbuatan)

Manusia adalah mahluk yang paling mulia diciptakan oleh Allah yang dikarunai cipta, rasa, dan karsa. Dalam tubuh manusia mengandung tiga hal tak terpisahkan, adalah nyawa, jasad, dan amal. Untuk mencapai kebaikan dan kebahagiaan, ketiganya harus bersanding dan terpelihara selama kita hidup di dunia.


Makna syair bait VII :

VII. SENGERENGMU PADA BULU 2X

(Kebaikan Setinggi Gunung)

ADATTA SILAPPAE

(walau Satu Kata Saja)

ALLA RUTTUNGENG MANENGNGI

(Semua Akan Runtuh)


Walaupun kebaikan dan amal perbuatan seseorang setinggi gunung, maka segalanya ia akan runtuh hanya dengan satu ucapan. Hal ini dimaksudkan agar dalam melakukan interaksi sosial prilaku dan tutur kata harus dijaga guna menghindari ketersinggungan orang lain. Oleh karena yang dikatakan manusia dilihat dari tutur kata, tingkah laku, dan perbuatannya.


Penutup :


Lagu Ininnawa Sabbarae bertemakan kesabaran dan Ketabahan yang mengandung makna kesabaran dan ketabahan, serta doa akan memperoleh kebahagiaan dikemudian hari.


Adapun pesan moral pada Lagu Ininnawa Sabbarae adalah mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga moral, bersabar, tabah, berprilaku dengan tutur kata yang baik. Hidup sederhana, mensyukuri nikmat Allah.


Dibedah dan diterjemahkan oleh : Mursalim/Teluk Bone






Penulis : Admin