SAMBUTAN DPP PAO : ASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH, SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DEWAN PENGURUS PUSAT ORGANISASI ASSEDDINGENG WIJANNA OGIE DALAM BAHASA INDONESIA DIKENAL DENGAN NAMA PERSATUAN ANAK OGI (DPP-PAO) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PROVINSI RIAU, PAO ADALAH PERKUMPULAN WARGA MASYARAKAT SUKU BUGIS RANTAU DENGAN BERDASARKAN PANCASILA DAN UDD 45 SERTA DIBAWAH NAUNGAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) DENGAN TUJUAN MEMPERSATUKAN SEGENAP WARGA MASYARAKAT BUGIS SELURUH NUSANTARA MAUPUN MANCA NEGARA DENGAN VISI MISI - MASSEDDI RIPASSEDDI MAPPASSEDDI-TOPADA SIPAMMASE MASE - NIAT MADECENG PADATTA RUPA TAU TERUTAMA SEMPUGIKU TEGA-TEGAKI WANUA DI ONDROWI. WASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH

Sunday, 26 April 2020

6 Falsafah Hidup Masyarakat Bugis yang Bisa Ditiru



Suku Bugis merupakan salah satu suku tertua yang ada di Indonesia. Suku ini mendiami sebagian besar wilayah daratan di Sulawesi Selatan. 
Dalam kesehariannya, masyarakat Bugis dikenal menganut banyak prinsip dan nilai-nilai kehidupan yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya serta kultur Bugis penuh dengan nuansa religi, hikmah, etika dan estetika, perasaan dan kejujuran yang dihajatkan kepada Tuhan.
Selain itu, kearifan lokal kelompok masyarakat Bugis juga mengandung pelajaran tentang kejatuhan dan kebangkitan, serta percaya pada takdir dan perubahan nasib.
Nah, Web Pallapi Arona Ogi'e (PAO) merangkum 6 falsafah hidup masyarakat Bugis yang bisa kamu jadikan sebagai pelajaran berharga dalam menjalani kehidupanmu.

1. Ininnawa

Secara harfiah, ininnawa berasal dari kata nawa atau nawa-nawa yang berarti sebuah perencanaan yang masih relatif, entah itu baik atau buruk. Jika itu baik, maka disebut ininnawa. 
Makna dari konsep ini adalah mengajak kita untuk melakukan sesuatu sesuai dengan nalar dan kata hati yang tentu saja memiliki niat yang luhur. Bukankah hati tidak pernah berbohong?

2. Sitinaja

Dalam budaya masyarakat Bugis, dikenal juga istilah sitinaja yang artinya kepatutan. Dalam konsep sitinaja, kepatutan ini berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan porsinya.
Konsep sitinaja dalam suku Bugis membuat masyarakatnya harus mampu menempatkan dirinya sesuai kedudukan. Misalnya tidak mengambil hak-hak orang lain melainkan menghormati hak-hak itu.

3. Siri na pacce

Secara harfiah, siri artinya rasa malu sedangkan pacce artinya pedih. Secara istilah, falsafah ini artinya hidup dengan menjunjung tinggi harkat, martabat, dan harga diri, dan rasa kasihan yang timbul dari dalam hati ketika melihat penderitaan orang lain.
Dalam buku 'The Miracle of Pride' karangan Venantius Dwi Riyanto (2014:2), disebutkan bahwa masyarakat Bugis Makassar sangat menjunjung tinggi budaya siri. Mereka sangat mengutamakan ideologi harga diri. Maka tak heran apabila mereka sangat malu apabila harga dirinya tercoreng.
Salah satu contoh siri yaitu giat bekerja demi mengangkat harkat dan martabat keluarga, sedangkan contoh pacce adalah menumbuhkan empati terhadap siapa pun yang mengalami kesusahan.

4. Resopa temanginggi' namalomo naletei pammase Dewata

Falsafah ini menegaskan bahwa untuk mencapai sebuah tujuan, diperlukan kerja keras dan ketekunan. Dengan begitu, maka akan mudah mendapatkan rida dari Yang Maha Kuasa. 
Pepatah ini, selalu dipegang kuat oleh sebagian besar masyarakat Bugis untuk memacu semangat mencapai keberhasilan, khususnya bagi mereka yang meninggalkan tanah Bugis menuju perantauan.

5. Sipakange, sipakatau, dan sipakalebbi

Sipakainge berarti saling mengingatkan, sipakatau artinya saling memanusiakan manusia dalam kondisi apapun, dan sipakalebbi artinya saling menghargai satu sama lain.
Prinsip inilah yang terus diamalkan masyarakat Bugis untuk membangun pendidikan karakter, khususnya di tengah derasnya arus globalisasi. Sebab bagi masyarakat Bugis, pendidikan karakter merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan. 

6. Taro ada taro gau

Pepatah tersebut mengartikan apa yang terucap dari mulut haruslah seiring dengan perbuatan. Makna dari pepatah ini mengajak kita untuk senantiasa menjaga konsistensi antara perbuatan dengan ucapan.
Bagi masyarakat Bugis, ketika perbuatan selaras dengan ucapan, maka orang lain akan semakin memberikan kepercayaannya. Dengan kepercayaan itu, maka tidak akan sulit mendapatkan cinta dari orang lain.
Nah, dari keenam falsafah masyarakat Bugis itu, mana nih yang sudah kamu terapkan?


Penulis : Admin


Wednesday, 22 April 2020

KALIMAT EWAKO DAN TIGA NILAI DASAR MASYARAKAT BUGIS



 Ewako atau rewako adalah sebuah kata yang akrab di telinga masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Bugis Makassar. Penyebutan kata ewako biasanya digandengkan dengan sebuah komunitas atau kelompok masyarakat tertentu.
Para suporter PSM memekikkan “Ewako PSM” ketika tim kebanggaannya berlaga di lapangan hijau. “Rewako Gowa” juga terukir indah pada sebuah tebing, sebelum masuk ke kota bunga Malino nan sejuk. Kata tersebut telah berfungsi sebagai pembakar solidaritas masyarakat Sulawesi Selatan.
Menurut Kamus Populer Inggris-Makassar, Indonesia-Makassar, kata rewako merupakan terjemahan dari kata ‘berani’ dalam bahasa Indonesia, dan ‘brave’ dalam bahasa Inggris. Keberanian masyarakat Bugis-Makassar tergambar dalam semboyan pelaut Bugis-Makassar “Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai”.
Kata ewako kadang juga dikonotasikan negatif apabila kita tidak memahami makna sebenarnya dengan tepat. Ewako dapat dipahami hanya sebuah kata emosional dari seseorang yang menantang orang lainnya untuk berkelahi. Untuk itu kita harus memaknai kata ewako dengan tepat.
Salah satu perspektif untuk memaknai kata ewako ialah dengan menggali dan menghayati nilai-nilai kultural masyarakat Bugis-Makassar itu sendiri.
Paling tidak ada tiga hal yang sangat dijunjung oleh masyarakat Bugis-Makassar, yaitu siri’, pesse’, dan were’.

Siri’ merupakan sebuah sistem nilai sosio-kultural dan kepribadian, yang merupakan pranata pertahanan diri dan martabat manusia sebagai individu dan anggota masyarakat.
Dengan kata lain, siri’ adalah pandangan hidup yang bertujuan untuk mempertahankan harkat dan martabat pribadi, orang lain atau kelompok, dan terutama negara.

Pesse’ atau dalam bahasa Makassar pacce’ secara bahasa berarti pedih, perih. Ini berarti pacce’ mengandung makna rasa iba. Pesse’ bisa juga diartikan sebagai rasa kemanusiaan yang adil dan beradab, yang menyalakan semangat rela berkorban, bekerja keras dan pantang mundur.

Were’ adalah kepercayaan pada diri sendiri yang teguh, bahwa hanya dengan ketekunan dan kerajinan yang dilandasi dengan kecakapan, kejujuran, kebenaran, ketegangan serta kesabaran, maka nasib seseorang atau sesama warga negara dapat diperbaiki.
Kepercayaan pada diri sendiri ini tidaklah dapat dipisahkan dari kepasrahan dan pengandalan diri orang terhadap Tuhan. Hal ini tergambar dalam pengajaran adat Bugis-Makassar, Teako assalaknu rannuang, pangngapettaina Allataala rannuang. Artinya: Janganlah mengharapkan asal-usul keturunan, kasih Tuhanlah yang harus diharapkan. Ini mengajarkan agar manusia tidak berlaku sombong dengan membanggakan asal keturunannya, karena ada yang berkuasa terhadap manusia yaitu Tuhan.

Bokona Loko
“Teai Mangkasara’ Punna Bokona Loko”. Sepenggal peribahasa yang menunjukkan sebuah simbol keberanian orang Makassar, yang pantang mundur dalam menghadapi masalah. Sama persis dengan peribahasa Bugis yang berbunyi “Majeppu tania ugi,narekko tania arona maloo”. Ini sangat berkaitan dengan semangat ewako yang dimiliki orang Bugis-Makassar. Semangat dan jiwa keberanian ini pula yang mengantarkan orang-orang Bugis-Makassar berkeliling nusantara melawan penjajah, dan sekaligus menuntut balas atas kekalahan mereka.
Kita baca dalam sejarah, bagaimana sepak terjang dan keberanian Karaeng Galesong di Madura, Syech Yusuf di Banten atau Raja Haji Fisabililah di bumi Melayu. Mereka adalah contoh kecil dari banyak tokoh Makassar yang menorehkan sejarah di bumi persada maupun di mancanegara, yang jasa-jasa dan hasil perjuangannya tetap terkenang abadi sampai saat ini.

Sumber : islamindonesia.id
Penulis : Admin


Tuesday, 21 April 2020

PAO BERSAMA PEMUDA KREATIF MENGADAKAN BAKTI SOSIAL PEDULI MASYARAKAT KECAMATAN ENOK


Organisasi Sosial Pallapi Arona Ogi’e (PAO) bersama Pemuda Kreatif mengadakan kegiatan bakti sosial peduli Masyarakat Sebagai Bentuk Partisipasi mengatasi Dampak Lockdown dari Aturan Pemerintah yang di terapkan di Kabupaten Indragiri Hilir akibat Wabah Covid-19 dengan membagikan Beras kepada Warga di Kecamatan Enok secara Simbolis Oleh Panglima PAO beserta Anggota dan Pemuda Kreatif Kecamatan Enaok (21/4/2020).















Penulis : Admin

Friday, 17 April 2020

KUE KHAS SULAWESI SELATAN


Melanjutkan Postingan Admin Sebelumnya,Cerita tentang Sulawesi-Selatan tak akan pernah ada habisnya. Bukan hanya tentang wisatanya yang menarik akan tetapi lebih dari ini berbagai macam kuliner pun bisa ditemukan disini. Menariknya lagi karena hampir tiap daerah memiliki kuliner khas tersendiri dengan jenis, bentuk dan rasa yang berbeda. Satu yang pasti, berkunjung kesini tidak akan pernah membuat teman-teman kecewa. Penasaran dengan kuliner tradisional yang ada di kota ini. yuk kita intip beberapa kue khas dibawah ini.

1) Bassang
Bassang merupakan makanan khas dari Sulawesi Selatan. Makanan ini sejenis bubur yang terbuat dari jagung pulut (jagung ketan), tepung terigu, air, gula dan garam. Bassang lebih baik dihidangkan dalam keadaan panas dan diberi gula pasir secukupnya pada waktu disajikan.


Bassang

2)Jagung Marning
Jagung Marning merupakan sebuah cemilan khas daerah Bulukumba yang cukup populer. Cemilan ini terbuat dari olahan jagung ditambah dengan bumbu penyedap yang kemudian di goreng hingga kriuk. Cemilan ini sudah membudaya sehingga bukan hanya dapat ditemukan di daerah ini, namun dapat pula di temukan di daerah sekitarnya karena sudah tersebar dibeberapa daerah.



Jagung Marning

3) Uhu-Uhu
Uhu-Uhu merupakan kue khas dari kabupaten Bulukumba. Uhu-uhu sering juga diartikan dengan bannang-bannang karena bentuknya yang menyerupai benang, atau Uhu yang juga bisa diartikan dengan rambut. Kue ini memang terlihat seperti kumpulan benang atau rambut yang digulung. Cara pembuatannya cukup sederhana dan dengan bahan yang mudah.



Uhu-Uhu

Kue ini terasa renyah dibuat dengan bahan gula merah dan tepung beras. Adonan yang sudah jadi kemudian dimasukkan ke dalam tempurung kelapa yang telah dilubangi sehingga adonan akan mengalir ke bawah seperti benang-benang atau rambut. Aliran adonan ini akan langsung digoreng di minyak panas sehingga mendapatkan tekstur yang renyah. Setelah berwarna kecoklatan lalu ditiriskan dan didinginkan.

4) Jalangkote
Jalangkote merupakan makanan ringan khas Makassar yang bentuknya serupa dengan kue pastel. Bedanya dengan kue pastel terletak pada ketebalan kulit, serta cara memakannya. Jalangkote biasanya dicampur dengan cairan lombok berupa cuka atau cape sedangkan pastel dimakan bersama cabe rawit.


Jalangkote

Jalangkote memiliki isi wortel dan kentang yang dipotong menyerupai dadu, tauge, serta laksa yang ditumis dengan menggunakan bawang putih, bawang merah, merica, dan bumbu-bumbu lainnya. Namun saat ini jalangkote sudah mengalami perubahan isi dengan tambahan seperempat atau setengah telur rebus dan daging cincang untuk isinya. Kulit jalangkote terbuat dari bahan dasar tepung terigu, telur, santan, mentega, dan garam.

Soal nama, Jalangkote berasal dari dua pemaknaan yakni jalang yang berarti berkeliling dan kote yang berarti berteriak. Jadi Jalangkote berarti berjalan sambil berteriak. Konon katanya, penamaan ini diambil dari kebiasaan menjajakan kue ini dengan cara berkeliling sambil berteriak.

5) Roti Maros
Roti Maros adalah salah satu makanan khas tradisional Bugis-Makassar. Roti ini mengambil nama daerah asal pembuatannya, yakni Kabupaten Maros dan telah menjadi icon dari kabupaten.

Roti Maros

Awalnya Roti Maros hanya merupakan roti kampung biasa, yang konon dibuat bagi konsumsi masyarakat menengah ke bawah. Seiring perkembangan waktu, industri rumah tangga pembuat Roti Maros menjadi industri potensial. Industri Roti Maros di mulai sejak puluhan tahun silam.

Konon katanya, bentuk Roti Maros awalnya seperti bakpao berwarna putih. Begitu pula dengan cara pembuatannya hanya menggunakan alat-alat yang cukup sederhana. Biasanya, itu menggunakan alat pemanggang roti yang dindingnya terbuat dari batu bata. Sementara mesin pompa digunakan untuk membuat pembakaran.

Saat ini pembuat Roti Maros sudah menggunakan peralatan modern, seperti oven berbahan bakar gas elpiji, mixer, rak roti, loyang, proofing final box' untuk mempercepat pengembangan adonan roti dan mempercantik kulit roti setelah dioven.

Dulunya roti ini hanya dibungkus dengan plastik bening, namun, sejak harga kertas roti naik kira-kira tahun 1990-an, maka kertas roti pun diganti dengan kertas koran, yang ternyata justru menjadi ciri khas yang unik.

6) Bandang
Kue bandang merupakan salah satu kue khas tradisional Bugis-Makassar. ada dua jenis yaitu Bandang Lojo dan Bandang-bandang. Bandang lojo merupakan kue bandang tanpa pembungkus yang ditaburi kelapa, sedangkan bandang-bandang dibungkus daun pisang dan berbahan dasar pisang juga. Untuk resep kali ini admin akan membahas kue bugis bandang-bandang yang merupakan kue basah.



Bandang-bandang



7) Pallu Butung
Pallu Butung adalah makanan khas Sulawesi Selatan, kue ini sering dijadikan hidangan untuk berbuka puasa di saat bulan ramadhan. Pallu Butung ini hampir mirip dengan Pisang Ijo.



Pallu butung


Kue ini terbuat dari campuran tepung beras, santan, gula pasir, daun pandan, vanili dan garam yang kemudian sampai matang dan kental. lalu dimasukkan potongan-potongan pisang raja yang juga sudah masak lalu diaduk. Pallu Butung dapat dihidangkan hangat-hangat, juga bisa dihidangkan dingin dengan menambah parutan es serta bisa ditambahkan sedikit sirup untuk menambah varian warna dan rasanya.

8) Putu Cangkiri
Putu Cangkir merupakan cemilan khas Bugis – Makassar. Cemilan ini memiliki bentuk mirip sepertiga dari ukuran cangkir, sehingga diberi nama putu cangkiri.



Putu Cangkiri

Putu cangkiri merupakan jajanan pasar yang memiliki aroma tradisional yang banyak dijual oleh para pedagang kaki lima atau pedagang keliling. Cemilan sederhana yang ada, melalui tangan kreatif suku bugis ini dibuat dari tepung beras sebagai bahan dasarnya yang dicampur dengan beras ketan dan juga gula merah sisir.

9) Pisang Ijo
Pisang Ijo merupakan salah satu sajian khas dari Makassar. Dinamakan pisang hijau karena terbuat dari bahan utama pisang yang dibalut dengan adonan tepung berwarna hijau. Adonan tersebut dibuat dari tepung, air, dan pewarna hijau alami dari campuran daun pandan dan daun suji.


Pisang Ijo

Pisang Ijo biasanya disajikan dengan tambahan sirup berwarna merah dan bubur sumsum yang sangat lembut. Rasanya yang manis segar sangat cocok dihidangkan saat siang hari dan terik.


10) Tenteng Malino
Tenteng Tenteng Malino adalah cemilan khas dari kota Malino. Bahan dasar dari cemilan ini adalah gula merah dan kacang tanah. Bentuk kemasannya seperti permen dengan pembungkus dari Kulit jagung. Tapi seiring perkembangan, Kemasannya diganti menjadi plastik.



Tenteng


Proses pembuatannya dimulai dari mencairkan gula merah pada wajan atau panci sampai mengental lalu dicampurkannya Kacang tanah ke dalam lumeran Gula merah. Diaduk hingga mulai mendingin dan dicetak sesuai ukuran dan dikemas dengan plastik.

11) Baroncong
Baroncong adalah nama kue tradisional khas dari Kota Makassar. Jenis kue ini memiliki rasa yang gurih, bentuknya seperti busur atau setengah lingkaran, atau mirip dengan kue pukis. Bahan-bahan dari kue ini adalah tepung terigu, gula pasir, parutan kelapa muda, dan penambah aroma rasa.

Baroncong

Kue ini dipanggang dalam cetakan dengan api berasal dari kayu bakar. Adapun nama lain dari kue ini adalah Guroncong atau Buroncong dalam versi Bahasa Bugis.

12) Baje Bandong
Baje Baje merupakan makanan tradisional etnis Bugis, Makassar dan Mandar Sulawesi Selatan. Kue ini banyak dijual di pasar-pasar tradisional dan warung-warung makan. Kue ini terbuat dari beras ketan putih dicampur gula pasir dan kelapa parut. Dulunya, kue ini merupakan oleh-oleh wajib yang harus dibawa oleh perantau Bugis-Makassar.




Baje Bandong

13) Doko'-Doko'
Doko-doko Cangkuning dalam bahasa bugis. Kue ini merupakan salah satu kue tradisonal Bugis yang sebenarnya sudah ada diseluruh nusantara, meski serupa namun pada dasarnya tidak sama.


Doko'-Doko'

Di Jawa, kue ini dikenal dengan nama kue mendut, dibungkus dengan daun pisang muda dengan dilipat segi empat sedangkan di Sumatera, terutama Sumatera Barat, kue ini disebut dengan nama “lapek bugis” atau “lepat bugis”, dibungkus dengan daun pisang dan dilipat menyerupai piramida.

Doko artinya pembungkus yang berisi dengan adnonan bugis yang disebut cangkuning. Karena dibungkus lagi dengan daun, makanya dinamakan doko-doko cangkuning.

14) Barongko
Kue Barongko telah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia. Penetapan ini diberikan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Barongko

Pengakuan ini merupakan upaya perlindungan warisan budaya di Indonesia agar tidak punah. Sertifikat Barongko sebagai warisan budaya bernomor 60128/MPK.E/KB/2017.

Barongko merupakan makanan khas Bugis-Makassar yang terbuat dari pisang. Dihaluskan kemudian dicampur telur, santan, gula pasir, dan garam. Kemudian dibungkus daun pisang lalu dikukus. Jika sudah matang, Barongko biasa disimpan dalam kulkas.

15) Pisang Epe
Pisang epe memiliki proses pengolahan sangat sederhana. Pisang dikupas dan dipanggang di atas bara api hingga setengah matang. Kalau sudah cukup lembek, pisang diletakkan di atas alat yang terbuat dari balok kayu untuk kemudian ditekan hingga berbentuk pipih atau agak gepeng. Lalu pisang tersebut dipanggang lagi.


Pisang Epe

Proses pembakaran pisang dilakukan dua tahap dengan tujuan agar pisang terasa sedikit renyah saat dinikmati. Setelah proses pembakaran selesai, pisang diletakkan di atas piring saji dan diguyur dengan lelehan gula merah beraroma durian atau nangka.

16) Baruasa
Kue baruasa ini termasuk kedalam jajaran kue kering yang merupakan ciri khas dari daerah Bugis, Makassar. Masyarakat Bugis biasa menyantap kue baruasa ini saat acara perayaan hari keagamaan atau saat menyelenggarakan pesta pernikahan.


Baruasa

Kue berbentuk bulat ini terbuat dari bahan dasar tepung beras dan kelapa parut yang disangrai. Terdapat dua varian rasa, yang menggunakan campuran gula merah atau gula pasir (original). Kudapan yang memiliki cita rasa manis dan gurih ini sangat cocok sekali bila disantap bersama kopi susu atau teh hangat.

17) Dange
Dange merupakan jajanan tradisional khas daerah Pangkep. Dulunya kue ini sempat dijadikan sebagai makanan pokok yang termasuk kedalam jajaran kue basah yang memiliki cita rasa manis legit dan juga gurih.



Dange

Kue ini terbuat dari olahan tepung ketan hitam dengan campuran kelapa parut, gula merah, dan garam. Jika lapar menyerang, kue ini bisa disantap sebagai alternatif sembari ditemani secangkir kopi hangat.

18) Cucuru Bayao


Cucuru Bayao

Cucuru Bayao juga merupakan kue yang berasal dari daerah Pangkep, Makassar, Sulawesi Selatan. Telur dan gula pasir menjadi bahan dasar untuk membuatnya. Kue tradisional dengan cita rasa yang super manis ini identik sekali dengan pesta pernikahan.

Cara penyajiannya pun terbilang unik, selesai dikukus kue tersebut tidak bisa langsung dinikmati, melainkan harus direndam dulu kedalam air gula, jika dirasa sudah cukup barulah kamu bisa menyantapnya.

19) Biji Nangka
Kue Biji Nangka karena bentuknya kue ini memang seperti biji nangka. Kue ini sangat cocok disajikan dalam berbagai suasana, untuk sajian saat hari raya lebaran. Kue ini terbuat dari bahan kentang yang dikukus kemudian dihaluskan.


Biji Nangka

20) Sanggara peppe
Sanggara peppe merupakan makanan khas Makassar yang terbuat dari pisang yang digoreng kemudian digeprek dan yang membuat makanan ini terlihat unik yaitu cara menikmatinya.

Sanggara Pe'pe

Sanggara itu artinya goreng sedangkan peppe berarti digeprek jadi kalau disambungkan arti dari kata sanggara peppe adalah pisang yang digoreng kemudian digeprek.

21) Bolu Peca


Bolu Peca

Bolu Peca merupakan kue khas bugis makassar yang terbuat dari telur, tepung beras sangrai, dan gula. Uniknya dari kue yang satu ini karena setelah kuenya jadi masih ada tahap terakhir yang perlu dilakukan yakni dengan merendamnya kedalam cairan gula.


22) Bolu Cukke


Bolu Cukke

Bolu Cukke merupakan kue tradisional asal bugis yang berbeda dengan kue tradisional lainnya. Bentuknya mungil, dan terlihat padat. kue ini berasal dari daerah Soppeng. Kue ini berbahan dasar tepung beras dan gula merah. Serta taburan gula putih, dibagian atasnya menghadirkan rasa manis dan nikmat saat dicicipi.

23) Dangke

 

Dangke

Dangke merupakan makanan Khas Enrekang ini sering orang menyebutnya sebagai keju Eropa. Makanan ini terbuat dari susu sapi, garam pepaya, dan nanas yang di masak menjadi satu. Makanan ini juga bisa dijadikan Krupuk yang mempunyai rasa yang gurih dan renyah.

25) Deppa Tetekang


Deppa Tetekang

Deppa Tetekang merupakan kue yang berasal dari bahan baku tepung beras ketan dengan dicampuri biji wijen. Rasanya enak dan nikmat.

26) Sawalla



Sawalla

Sawalla adalah salah satu kue khas dari daerah Enrekang, provinsi Sulawesi Selatan. kue ini sangat populer karena bentuknya yang unik yakni bundar dan berwarna coklat tua serta cara penyajiannya dengan cara ditusuk seperti sate, sehingga sering dianalogikan dengan bakso tusuk.

Makanan ini dikategorikan dalam jenis kue-kue atau makanan ringan tetapi dapat mengenyangkan perut karena berbahan dasar tepung beras ketan.

27) Apang Paranggi


Apang paranggi

Kue apang paranggi berbahan dasar gula aren dan tepung terigu. kue basah bercitarasa manis ini sangat cocok ditemani dengan segelas teh hangat. Di beberapa daerah lain juga ada kue yang mirip dengan apang. Di daerah Kalimantan disebut apam, sedangkan di kawasan Jawa disebut apem

28) Roti Mantao
Roti mantao memang tidak boleh sampai kelewat untuk dicicip kalau sedang di Parepare. Bahan – bahan dalam membuat roti mantau ini cukup mudah yaitu tepung terigu, susu, gula, air, dan tentunya ragi agar adonan bisa mengembang.


Roti mantao

Istimewanya terletak pada isian kue mantau yang bervariasi seperti kacang, coklat, stroberi, dan lainnya. Ketika membeli roti mantao biasanya sudah jadi seperti roti, tetapi sebelum menyantapnya harus digoreng terlebih dulu.

29) Baje Tenteng


Baje Tenteng

Baje tenteng merupakan cemilan khas Parepare satu ini terbuat dari gula merah cair dan kacang tanah yang sudah disangrai. Cara pembuatannya cukup sederhana, setelah mencampur dua bahan tersebut, adonan diletakkan di atas loyang dibentuk bundar. Lalu ditunggu hingga mengeras, setelah itu dibungkus. Bisa dengan bungkus daun pisang atau plastik.

30) Kacipo’


Kacipo’

Kacipo’ merupakan camilan Parepare. Jajanan kering ini terbuat dari tepung terigu dan wijen, bentuknya mirip dengan onde – onde tapi berukuran lebih kecil. Memiliki citarasa manis yang pas dan sedikit gurih. Kacipo’ lebih dikenal dengan sebutan kue keciput di kawasan lain.

31) Beppa Janda
Beppa Janda merupakan salah satu kue tradisional yang unik dan masih bertahan sampai saat ini. Kampung yang memproduksi kue inipun juga unik. keadaan kampungnya pula sama dengan nama kue tradisional tersebut.


Beppa Janda

Beppa Janda merupakan kue tradisional berbahan dasar gula merah. Jika dilihat dari tekstur dan rasanya sudah sangat kental akan gula merah yang juga produksi terbesar di kota ini.

32) Apang



Apang

Apang merupakan kue tradisional kota Barru yang sudah ada sejak jaman dulu dan diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang. Kebanyakan kue apang dijual di pasar induk Mattirowalie kota Barru. memasak apang cukup mudah, cukup dengan menghaluskan beras putih lalu mencampurkannya dengan gula merah dan bubuk pengembang, kemudian mengukusnya selama kurang lebih 15 menit.

33) Onde-Onde


Onde-Onde

Onde-Onde berbentuk bola-bola kecil dengan tekstur yang kenyal dan memiliki isi gula jawa, jajanan pasar ini merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan yang dibentuk menjadi bola kecil. Kue ini memiliki dua warna yaitu putih dan hijau, warna hijau pada kue ini biasanya ditambah dengan bahan pewarna dari daun suji atau daun pandan. Pada saat dimakan, tekstur kenyalnya akan terasa nikmat ketika gula merah atau gula jawa meleleh keluar dimulut.

34) Sarikung
Sarikung salah satu krupuk khas warga Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulsel. Krupuk renyah dan gurih. Krupuk yang terbuat dari telur, gula, terigu, mentega dan santan.



Sarikung

Proses pembuatannya butuh keterampilan khusus karena semua bahan dicampur jadi satu sampai mengental. Setelah itu ambil satu sendok makan adonan lalu dibakar menggunakan cetakan, dibolak balik sampai kecoklatan. Setelah matang cetakan diangkat. Krupuk ini harus langsung di gulung jika tidak maka kerupuk akan keras dan hancur.

35) Doi'-Doi'


Doi-doi

Kue doi-doi atau kue berbentuk koin merupakan kue khas Bugis berasal dari Kecamatan Ma'rang Kabupaten Pangkep, Sulsel. Kue ini terbuat dari bahan utama rumput laut memiliki rasa yang renyah dan nikmat.

36) Roti Berre


Roti Berre

Roti berre atau roti werre berbentuk bundar. Salah satu sisinya melengkung tampak putih karena mengembang. Sisi lain datar agak sedikit gelap karena bersentuhan langsung dengan wajan panas saat dibuat. Kue ini hanya ada di Kabupaten Sidrap.

37) Bagea


Bagea

Bagea merupakan kue tradisional khas Maluku, Maluku Utara, dan Kota Palopo. Bagea biasanya berbentuk bulat dan warnanya cokelat pucat. Bagea sifatnya keras, dan susah dimakan, orang yang tak terbiasa memakannya akan kesulitan. Bagea adalah salah satu olahan dari sagu. Biasanya Bagea disantap dengan teh atau kopi.

Bahan-bahan untuk membuat Bagea adalah gula halus, biji kenari yang telah dicincang, tepung sagu, minyak sayur, tepung terigu yang telah diayak, kacang tanah yang dicincang halus, kayu manis bubuk, dan cengkih bubuk.

Demikian Berbagai Kue Khas Sulawesi Selatan kami tampilkan.




Penulis : Admin
Sumber : akbarpost.com