SAMBUTAN DPP PAO : ASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH, SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DEWAN PENGURUS PUSAT ORGANISASI ASSEDDINGENG WIJANNA OGIE DALAM BAHASA INDONESIA DIKENAL DENGAN NAMA PERSATUAN ANAK OGI (DPP-PAO) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PROVINSI RIAU, PAO ADALAH PERKUMPULAN WARGA MASYARAKAT SUKU BUGIS RANTAU DENGAN BERDASARKAN PANCASILA DAN UDD 45 SERTA DIBAWAH NAUNGAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) DENGAN TUJUAN MEMPERSATUKAN SEGENAP WARGA MASYARAKAT BUGIS SELURUH NUSANTARA MAUPUN MANCA NEGARA DENGAN VISI MISI - MASSEDDI RIPASSEDDI MAPPASSEDDI-TOPADA SIPAMMASE MASE - NIAT MADECENG PADATTA RUPA TAU TERUTAMA SEMPUGIKU TEGA-TEGAKI WANUA DI ONDROWI. WASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH

Tuesday, 24 March 2020

Sejarah Songkok Recca




Songkok Recca biasa juga disebut Songkok Pamiring sering pula disebut Songko’ To Bone. Mana yang benar dari ketiga nama tersebut ? Semuanya benar namun penyebutan ketiga nama tersebut masing-masing mempunyai kisah dan rentang waktu yang berbeda. Awalnya dinamakan Songkok Recca ketika Raja Bone Ke-15 Arung Palakka menyerang Tanah Toraja (Tator) tahun 1683 hanya berhasil menduduki beberapa desa di wilayah Makale-Rantepao. Tentara Tator melakukan perlawanan sengit terhadap pasukan Arung Palakka.

Salah satu ciri khas tentara kerajaan Bone pada masa lalu memakai sarung yang diikatkan di pinggang (Mabbida atau Mappangare’ Lipa’). Prajurit Tator juga mempunyai kebiasaan memakai sarung tetapi diselempang (Massuleppang Lipa) sehingga bila terjadi pertempuran dimalam hari kedua pasukan sulit dibedakan yang mana lawan dan kawan, dikira lawan padahal kawan karena baik prajurit Tator maupun Bone masing-masing memakai sarung. 

Untuk menyiasati keadaan seperti itu, Arung Palakka mencari strategi dengan memerintahkan para prajuritnya memasang tanda di kepala sebagai pembeda dengan memakai songkok recca’. Selanjutnya pada masa pemerintahan Raja Bone Ke-32 Lamappanyukki tahun 1931 songko recca’ menjadi semacam kopiah resmi atau songkok kebesaran bagi raja, bangsawan, dan para ponggawa-pongawa kerajaan. Untuk membedakan tingkat kederajatan di antara mereka, maka songko’ recca dibuat dengan pinggiran emas (pamiring pulaweng) yang menunjukkan strata pemakainya. 

Itulah yang membuatnya istimewa dan oleh karenanya, songkok recca yang bercorak lapisan emas itu disebut juga Songkok pamiring. Pada masa kerajaan-kerajaan Bugis dan Makassar, benang emas yang melingkar pada songkok pamiring memiliki makna, makin tinggi lingkaran emasnya, pertanda semakin tinggi derajat kebangsawanan pemakainya. Hanya Sombayya ri Gowa dan Petta Mangkaue di Bone serta raja yang sederajat berhak memakai lingkar emas yang tertinggi ( kira-kira hanya satu centimeter tersisa tanpa balutan emas). 

Pada waktu itu terdapat aturan yang berlaku bagi pemakai songkok pamiring, di mana bangsawan tinggi atau yang berkedudukan sebagai raja dan juga bagi anak raja yang dianggap berdarah biru (Maddara Takku), anak Mattola, boleh menggunakan songkok pamiring yang seluruhnya terbuat dari emas murni. Golongan yang disebut Arung Mattola Menre, Anak Arung Manrapi, Anak Arung Sipue dan Anakkarung boleh memakai songkok pamiring dengan lebar emas tiga-per-lima bagian dari tinggi songkoknya. 

Golongan yang disebut Rajeng Matase, Rajeng Malebbi boleh memakai songkok pamiring dengan lebar emas setengah bagian dari tinggi songkoknya. Golongan yang disebut Tau Deceng, Tau Maradeka dan Tau Sama diperkenankan memakai songkok recca dengan pinggiran emas. Sedangkan golongan yang disebut Ata sama sekali tidak dibolehkan memakai songkok ini. 

Seiring dengan perkembangan masyarakat yang tidak lagi memandang adanya perbedaan kasta, aturan-aturan tersebut tidak berlaku lagi dan semua lapisan masyarakat boleh memakainya. Namun songkok ini masih tetap istimewa karena menunjukkan karisma pemakainya. Keistimewaan itu akan tampak jika songkok ini berada diatas kepala orang-orang atau tokoh penting dan terkenal, pejabat, keturunan bangsawan, orang-orang kaya, dan semacamnya. Selain mahal harganya, songkok pamiring menjadi lebih istimewa jika benang keemasan yang menghias pinggiran songkok itu diganti dengan emas murni. Terlebih jika susunan emas itu dilebur dan dibuat menyerupai benang yang hampir menutupi seluruh sisi songkok. 

Songkok pamiring bukan lagi milik para raja atau kaum bangsawan, namun bagi mereka yang mengerti akan filosofi songkok pamiring, tidak akan sembarangan memakainya. Selain menunjukkan karisma pemakainya, songkok pamiring juga menunjukkan siapa sebenarnya orang yang memakainya. Karena semakin “bagus” songkok pamiring yang dipakai, diukur dengan hiasan emas yang menutupinya, maka akan menunjukkan tingkat prestasi pemakainya. 

Dengan kata lain, songkok pamiring sebagai penanda “siapa sebenarnya kita”. Kemudian setelah masa kerajaan berakhir songko’ recca atau songkok pamiring tersebut semua kalangan bisa memakainya tanpa mengenal strata sehingga dinamakan Songko’ To Bone artinya songkoknya seluruh orang Bone. Karena songko’ recca atau songkok pamiring selain memang berasal dari Bone yang merupakan cipta, rasa, dan karsa orang Bone. 

Meskipun sekarang ini banyak songkok recca diproduksi di luar daerah Bone. Karena itu tidaklah dipertentangkan songko’ reca atau songko’ pamiring atau songko To Bone sama saja hanya rentang masa yang membedakan. Mengapa Dinamakan Songko’ Recca ? Songkok Recca’ terbuat dari serat pelepah daun lontar dengan cara dipukul-pukul (dalam bahasa Bugis : direcca-recca) pelepah daun lontar tersebut hingga yang tersisa hanya seratnya. Serat ini biasanya berwarna putih, akan tetapi setelah dua atau tiga jam kemudian warnanya berubah menjadi kecoklat-coklatan. 

Untuk mengubah menjadi hitam maka serat tersebut direndam dalam lumpur selama beberapa hari. Jadi serat yang berwarna hitam itu bukanlah karena sengaja diberi pewarna sehingga menjadi hitam. Serat tersebut ada yang halus ada yang kasar, sehingga untuk membuat songkok recca’ yang halus maka serat haluslah yang diambil dan sebaliknya serat yang kasar menghasilkan hasil yang agak kasar pula tergantung pesanan. 

Untuk menganyam serat menjadi songkok menggunakan acuan atau pola yang disebut Assareng yang terbuat dari kayu nangka kemudian dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai songkok. Acuan atau assareng itulah yang digunakan untuk merangkai serat hingga menjadi songkok recca’. Ukuran Assareng tergantung dari besar kecilnya songkok yang akan dibuat. 

Di Kabupaten Bone Songkok Recca/Songkok To Bone diproduksi di Desa Paccing Kecamatan Awangpone. Di daerah tersebut terdapat komunitas masyarakat secara turun temurun menafkahi keluarganya dari hasil prosesi mengayam pelepah daun lontar ini yang dinamakan Songkok Recca/Songkok Pamiring/Songko’ To Bone. Anda Berminat ?

Untuk yang Berada di Kabupaten Indragiri Hilir Bisa Pesan Lewat Saudara kita Ilham Daeng Mattemmu : Fb- https://web.facebook.com/ilham.daengmatemmu




Penulis : Admin

Monday, 23 March 2020

ININNAWA SABBARA'E



Selain lagu “Paseng Riati/pesan dari lubuk hati yang dalam” ada juga satu lagu yang acapkali menjadi senandung kalangan Bugis pada waktu menidurkan anak-anaknya, yakni Ininnawa. Lagu penyejuk hati ini dikategorikan lagu-lagu Yabelale atau lagu nina bobok. Bahkan lagu Ininnawa lebih populer dibanding “Paseng Riati”.

Sebagian orang memberinya judul ” Ininnawa Sabbarae “, namun lagu ini judul aslinya adalah “Ininnawa” artinya Hati Yang Tulus Ikhlas. Terdiri atas tujuh bait saja. Makna syair tiap bait terhubung antara satu dengan yang lainnya.

Syair lagu “Ininnawa Sabbarae” ini sudah ada sejak tahun 1912 Masehi. Sampai saat ini belum diketahu siapa penciptanya. Syair lagu Ininnawa Sabbarae ditemukan oleh seseorang yang tersimpan di dalam sebuah Ceropong (Batang Bambu Sejenis Teropong) dengan naskah lontara Bugis.

Seperti kebiasaan orang Bugis masa lalu kalau ada surat yang dianggap penting mereka simpan dalam Ceropong Bambu. Lagu inipun sarat dengan petuah.

Lagu Ininnawa Sabbarae terdiri dari 7 bait bercerita tentang orang yang selalu bersabar akan memperoleh kebahagiaan, dan kebahagian itu akan datang jika disertai usaha dan ikhtiar.

Lagu ini menawarkan petuah berupa pesan moral yang mengajarkan kita untuk selalu bersabar dan bersyukur dan apabila kita mendapat kebahagiaan, janganlah lupa kepada Maha Pencipta.

Seperti diketahui ayunan pada tubuh akan merangsang otak kecil anak yang secara otomatis akan meningkatkan daya kognitif anak. “Jangan hanya diayun, tapi dinyanyikan. Ini akan jadi satu latihan kinestetik awal yang baik bagi anak.

Kinestetik merupakan keistimewaan pada orang-orang tertentu yang lebih cepat memahami ilmu atau pelajaran dengan aktivitas dibanding membaca dan menghafal.

Misalnya saja mempelajari proses turunnya hujan. Bagi anak kinestetik, jangan disuruh menghafal kalimat demi kalimat. Tapi, dengan memberi contoh melalui gerakan-gerakan tangan maka cepat dicerna oleh anak.





Berikut syair lagu Ininnawa Sabbarae

I. ININNAWA SABBARA’E 2X

(Ketulusan dan Kesabaran)

LOLONGENG GARE’ DECENG

(Konon Mendapatkan Kebaikan)

ALA TOSABBARAEDE

(jua Orang Penyabar)


II. PITU TAUNNA SABBARA’ 2X

(Tujuh Tahun Bersabar)

TENGGINANG KULOLONGENG

(Belumlah Kudapatkan)

ALA RIYASENGNGE DECENG

(Jua namanya Kebaikan)


III. DECENG ENRE’KI RI BOLA 2X

(Kebaikan Naiklah di Rumah)

TEJJALI TETAPPERE

(Tanpa Tikar Permadani)

ALA BANNA MASE-MASE

(Jua dalam Kesederhanaan)


IV. MASE-MASE IDI’NAGA 2X

(Kesederhanaan inilah)

RISURO MATTARANA

(Ditasbihkan Mengasuh Anak)

ALA MUTEA MABELA

(Jua Engkau Tak Menjauh)


V. MABELAMPI KUTIROKI 2X

(Dari Jauh Kumelihatmu)

MUJOPPA ALE-ALE

(Engka Berjalan Sendiri)

ALA MUTELLU SITINRO

(Jua Engkau bertiga )


VI. TELLU MEMENGNGA SITINRO 2X

(Tiga memang saya jalan bersama)

NYAWAKU NA TUBUKU

(Nyawaku, dan Tubuhku)

ALA PASSENGERENGNGEDE

(Jua amal perbuatan)


VII. SENGERENGMU PADA BULU 2X

(Kebaikan Setinggi Gunung)

ADATTA SILAPPAE

(walau Satu Kata Saja)

ALLA RUTTUNGENG MANENGNGI

(Semua Akan Runtuh)


Makna Syair bait I :

I. ININNAWA SABBARA’E 2X

(Ketulusan dan Kesabaran)

LOLONGENG GARE’ DECENG

(Konon Mendapatkan Kebaikan)

ALA TOSABBARAEDE

(jua Orang Penyabar)


Bahwa ketulusan, kesabaran, dan ketabahan kita akan memperoleh kebaikan. Setiap pekerjaan apabila diawali dengan niat, dilakukan dengan tulus ikhlas niscaya akan memperoleh hasil. Ketabahan seseorang diukur dari kemampuannya dalam bersabar.


Makna syair bait II :

II. PITU TAUNNA SABBARA’ 2X

(Tujuh Tahun Bersabar)

TENGGINANG KULOLONGENG

(Belumlah Kudapatkan)

ALA RIYASENGNGE DECENG

(Jua namanya Kebaikan)


Dalam mengarungi hidup, meskipun kita berusaha dan berikhtiar selama tujuh tahun lamanya, belum tentu kita bisa memperoleh apa yang diimpikan, apalagi kalau kita tidak berusaha maka harapan itu semakin jauh.


Makna syair bait III :

III. DECENG ENRE’KI RI BOLA 2X

(Kebaikan Naiklah di Rumah)

TEJJALI TETAPPERE

(Tanpa Tikar Permadani)

ALA BANNA MASE-MASE

(Jua dalam Kesederhanaan)


Untuk memperoleh hasil yang diharapkan maka kebaikan itu harus dijemput. Kebaikan itu tidak akan datang dengan sendirinya bila kita tidak berusaha mencarinya. Oleh karenanya kita tidak boleh jenuh dan berputus asa meskipun disongsong dengan kesederhanaan hidup.


Makna syair bait IV :

IV. MASE-MASE IDI’NAGA 2X

(Kesederhanaan inilah)

RISURO MATTARANA

(Ditasbihkan Mengasuh Anak)

ALA MUTEA MABELA

(Jua Engkau Tak Menjauh)


Meskipun kita hidup dalam kesederhanaan niscayalah bisa mendatangkan kebaikan yang diibaratkan seorang ibu mengasuh anaknya yang senantiasa berharap atas kebahagiaan hidup anaknya dikemudian hari.


Makna syair bait V :

V. MABELAMPI KUTIROKI 2X

(Dari Jauh Kumelihatmu)

MUJOPPA ALE-ALE

(Engkau Berjalan Sendiri)

ALA MUTELLU SITINRO

(Jua Engkau bertiga)


Kebaikan itu ibarat orang yang sedang berjalan, meskipun ia kelihatannya hanya sendiri, pada hakikatnya orang itu ditemani oleh tiga hal. Demikian juga kebaikan diliputi oleh tiga hal yakni niat,usaha, dan doa.


Makna syair bait VI :

VI. TELLU MEMENGNGA SITINRO 2X

(Tiga memang saya jalan bersama)

NYAWAKU NA TUBUKU

(Nyawaku, dan Tubuhku)

ALA PASSENGERENGNGEDE

(Jua amal perbuatan)

Manusia adalah mahluk yang paling mulia diciptakan oleh Allah yang dikarunai cipta, rasa, dan karsa. Dalam tubuh manusia mengandung tiga hal tak terpisahkan, adalah nyawa, jasad, dan amal. Untuk mencapai kebaikan dan kebahagiaan, ketiganya harus bersanding dan terpelihara selama kita hidup di dunia.


Makna syair bait VII :

VII. SENGERENGMU PADA BULU 2X

(Kebaikan Setinggi Gunung)

ADATTA SILAPPAE

(walau Satu Kata Saja)

ALLA RUTTUNGENG MANENGNGI

(Semua Akan Runtuh)


Walaupun kebaikan dan amal perbuatan seseorang setinggi gunung, maka segalanya ia akan runtuh hanya dengan satu ucapan. Hal ini dimaksudkan agar dalam melakukan interaksi sosial prilaku dan tutur kata harus dijaga guna menghindari ketersinggungan orang lain. Oleh karena yang dikatakan manusia dilihat dari tutur kata, tingkah laku, dan perbuatannya.


Penutup :


Lagu Ininnawa Sabbarae bertemakan kesabaran dan Ketabahan yang mengandung makna kesabaran dan ketabahan, serta doa akan memperoleh kebahagiaan dikemudian hari.


Adapun pesan moral pada Lagu Ininnawa Sabbarae adalah mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga moral, bersabar, tabah, berprilaku dengan tutur kata yang baik. Hidup sederhana, mensyukuri nikmat Allah.


Dibedah dan diterjemahkan oleh : Mursalim/Teluk Bone






Penulis : Admin

Friday, 20 March 2020

PAPPASENG TORIOLO / PETUAH ORANG BUGIS


Di kalangan Bangsa Bugis, mungkin tidak asing di telinga kita ungkapan-ungkapan leluhur (To Riolota). Ungkapan Tradisonal sebagai aspek budaya yang diakui mengandung nilai-nilai yang perlu dilestarikan. Hal semacam ini sekarang sudah sangat langka. Hanya sesekali ada terdengar diucapkan oleh orang-orang tua disaat ada pertemuan tradisi (acara Budaya). Selain kandungan yang ada didalamnya juga segi sastranya sangat halus, sampai tidak mudah dibuat oleh orang.

Ungkapan ini biasanya disampaikan kepada anak untuk melakukan sesuatu kebiasaan baik yang baik maupun tidak baik, tetapi membuatkan semacam sebab akibat yang sangat ditakuti oleh si anak. Misalnya ibu mati, dia bisa pendek umur, ia terlambat besar. Begitu pula sebaliknya, ada yang sesungguhnya diperintahkan melakukannya, dengan akibat baik apabila dilakukannya.

Beberapa Ada-ada To Riolo yang merupakan nasihat orang tua kepada anaknya antara lain sebagai berikut:



1.MAUNI COPPO' BOLANA GURUTTA' RIUJA MADORAKAMONI'

Artinya : Walaupun bubungan atap rumah Guru yang dicela, maka kita pun berdosa.

FungsI : Agar anak senantiasa menghormati Gurunya.

Nilai : Pendidikan akhlak.



2.AJA' MUOPPANG NASABA MATEI MATI INDO'MU

Artinya : Jangan Engkau tidur tengkurap/ meniarap, nanti mati ibumu.

Fungsi : Supaya anak menghentikan kebiasaan yang merugikan dirinya yakni bisa berakibat sesak nafas

Nilai : Pendidikan kesehatan.



3. NAREKKO PURANI RIACCINAUNGI PASSIRING BOLANA TAUWE TEMPEDDINNI RINAWA-NAWA MAJA

Artinya : Kalau kita sudah berteduh dibawah atap rumahnya seseorang, sudah tidak boleh lagi dibenci (diusahakan ia binasa).

Fungsi : Supaya anak tahu menghargai budi orang lain.

Nilai : Pendidikan akhlak



4. AJA MULEU RI TANAE, KONALLEKKAIKO MANU-MANU MATEITU INDO'MU

Artinya : Jangan kamu baring ditanah, karena kalau ada burung melewatimu ibumu akan mati.

Fungsi : Supaya anak jangan mengotori dirinya.

Nilai : Pendidikan kesehatan.



5. AJA MUALA AJU PURA RETTE' WALIE NAKOTENNA IKO RETTE'I, AJA' TO MUALA AJU RIPASANRE'E, KOTENNA IKO PASANREI

Artinya : Jangan kau ambil kayu yang sudah dipotong ujung dan pangkalnya. Dan jangan pula engkau ambil kayu yang tersandar, kalau bukan kau yang sandarkan.

Fungsi : Supaya anak tahu menghargai hak orang lain.

Nilai : Pendidikan kejujuran.



6. AJA MUINUNG TETTONG, MALAMPEI LASOMU

Artinya : Jangan minum berdiri, nanti panjang kemaluanmu.

Fungsi : Supaya gelas tidak jatuh/pecah.

Nilai : Memelihara keselamatan barang.



7. AJA MUNAMPUI TANAE, MATARUKO

Artinya : Jangan menumbuk tanah, karena kamu bisa jadi tuli.

Fungsi : Supaya anak tidak mengotori dirinya sendiri.

Nilai : Pendidikan kebersihan.



8. NGOWA NA KELLAE, SAPU RIPALE PAGGANGKANNA

Artinya : Loba dan tamak, berakibat kehampaan.

Fungsi : Supaya anak tahu mensyukuri yang ada (sedikit tapi halal).

Nilai : Pendidikan untuk menghormati hak orang lain (tidak serakah)



9. AJA MUANRE TEBBU RI LEUREMMU, MATEI INDO'MU

Artinya : Jangan makan tebu ditempat tidurmu, akan mati ibumu.

Fungsi : Supaya anak tidak kotor, dan dikerumuni semut.

Nilai : Pendidikan kebersihan.



10. RICAU AMACCANGNGE, RIABBIASANGENGNGE

Artinya : Kalah kepintaran dari kebiasaan atau pengalaman.

Fungsi : Supaya anak rajin membiasakan diri belajar.

Nilai : Pendidikan kepatuhan.



11. Aja Muakkelong Riyolo Dapureng, Tomatowa Matu Muruntu’

Artinya : Jangan menyanyi di muka dapur, jodohmu nanti orang tua.

Fungsi : Supaya anak tahu menempatkan sesuatu pada posisinya masing-masing.

Nilai : Pendidikan ketertiban.



12.GETTENG LEMPU ADATONGENG

Artinya : Tegas, jujur serta berkata benar.

Fungsi : Supaya anak teguh pada pendirian,,jujur, dan berbudi bahasa yang baik.

Nilai : Pendidikan mental.



13. Aja Mubuangi Sanru’e, Maponco Sunge tauwe.

Artinya : Jangan menjatuhkan sendok, kita pendek umur.

Fungsi : Supaya sendok tak jatuh kotor.

Nilai : Pendidikan kebersihan.



14. Komuturusiwi Nafessummu, padaitu mutonanginna lopi Masebbo’E.

Artinya : Kalau kamu menuruti nafsumu, sama saja engkau menumpang perahu bocor.

Fungsi : Kalau tidak tahu mengendalikan diri, pasti binasa.

Nilai : Pendidikan untuk mengendalikan diri (amarah).



15. Engkatu Ada Matarengngi Nagajangnge.

Artinya : Ada perkataan lebih tajam dari keris.

Fungsi : Supaya anak memelihara selalu bahasanya kepada orang lain.

Nilai : Pendidikan akhlak.



16. Naiyya Balibolae, Padai Selessurengnge.

Artinya : Adapun tetangga itu sama dengan saudara.

Fungsi : Supaya kita menghormati tetangga.

Nilai : Pendidikan akhlak bermasyarakat.



17. Aja Mutudang risumpangnge, Mulawai dalle’E.

Artinya : Jangan duduk dimuka pintu, kau menghambat rezeki.

Fungsi : Supaya anak tidak menghalangi orang yang mau lewat.

Nilai : Pendidikan Tatakrama.



18. Rekko Mupakalebbi’i Tauwe, Alemutu Mupakalebbi.

Artinya : Kalau kamu memuliakan orang, berarti dirimulah yang kau muliakan.

Fungsi : Agar anak senantiasa memuliakan dan menghargai orang lain.

Nilai : Pendidikan Tatakrama.



19. Aja’ Muasseringangngi Pale’mu, Sapu ripalekko.

Artinya : Jangan jadikan sapu telapak tanganmu, nanti kamu hampa tangan.

Fungsi : Supaya anak jangan mengotori tangannya, dan bisa kena benda tajam.

Nilai : Pendidikan kebersihan.



20. Aja Mutudangiki angkangulungnge, malettakko.

Artinya : Jangan menduduki bantal, nanti kau kena bisul.

Fungsi : Agar anak tidak merusak alat tempat tidur.

Nilai : Pendidikan untuk tetap memelihara peralatan.



21. Anreo Dekke inanre, Namalampe Welua’mu.

Artinya : Makanlah Nasi yang hangus pada dasar periuk supaya panjang rambutmu.

Fungsi : Membuat anak mau saja makan nasi yang tidak baik (hangus).

Nilai : Pendidikan pembiasaan anak tidak mubazir.



22. Resopa Natemmangingngi, Malomo nNletei Pammase Dewata Artinya : Hanya kerja disertai ketekunan, mudah mendatangkan rezeki Tuhan. Fungsi : Agar anak tidak malu bekerja keras untuk mendapat rezeki. Nilai : Pendidikan kerajinan dan ketekunan.



23. Naiyya Olokolo’E Tuluna Riattenning, Naiyya Tauwe Adanna Riattenning.

Artinya : Kalau binatang, talinyalah yang dipegang, kalau manusia perkataannya yang dipegang.

Fungsi : Agar anak konsisten dapat menepati perkataannya. Nilai : Pendidikan kejujuran (akhlak).



24. Cicemmitu tauwe Tai ri lalengnge, Idi’na sini riaseng. Artinya : Sekali kita berak di jalan, maka kitalah yang selalu dituduh.

Fungsi : Jangan sekali-kali kita berbuat yang tidak baik, karena selalu kitalah yang dituduh kalau ada perlakuan yang sama.

Nilai : Pendidikan anak jangan melakukan yang buruk.



25. Panni’na manue muanre, Malessiko lari.

Artinya : Sayapnyalah ayam yang kau makan, jadinya kau kuat lari.

Fungsi : Supaya anak tidak manja dalam memilih makan.

Nilai : Pendidikan agar anak tidak membuat masalah terhadap makanan keluarga.



26. AJA MURENNUANGNGI ANU DEE RI LIMAMMU

Artinya : Janganlah engkau terlalu mengharapkan apa yang belum ada pada tanganmu.

Fungsi : Supaya tidak terlalu berani mengharapkan barang (uang) yang belum tentu didapat (hari) itu.

Nilai : Peringatan agar tidak meremehkan janji, sampai salah jadinya