SAMBUTAN DPP PAO : ASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH, SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DEWAN PENGURUS PUSAT ORGANISASI ASSEDDINGENG WIJANNA OGIE DALAM BAHASA INDONESIA DIKENAL DENGAN NAMA PERSATUAN ANAK OGI (DPP-PAO) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PROVINSI RIAU, PAO ADALAH PERKUMPULAN WARGA MASYARAKAT SUKU BUGIS RANTAU DENGAN BERDASARKAN PANCASILA DAN UDD 45 SERTA DIBAWAH NAUNGAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) DENGAN TUJUAN MEMPERSATUKAN SEGENAP WARGA MASYARAKAT BUGIS SELURUH NUSANTARA MAUPUN MANCA NEGARA DENGAN VISI MISI - MASSEDDI RIPASSEDDI MAPPASSEDDI-TOPADA SIPAMMASE MASE - NIAT MADECENG PADATTA RUPA TAU TERUTAMA SEMPUGIKU TEGA-TEGAKI WANUA DI ONDROWI. WASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH

Friday, 17 April 2020

KUE KHAS SULAWESI SELATAN


Melanjutkan Postingan Admin Sebelumnya,Cerita tentang Sulawesi-Selatan tak akan pernah ada habisnya. Bukan hanya tentang wisatanya yang menarik akan tetapi lebih dari ini berbagai macam kuliner pun bisa ditemukan disini. Menariknya lagi karena hampir tiap daerah memiliki kuliner khas tersendiri dengan jenis, bentuk dan rasa yang berbeda. Satu yang pasti, berkunjung kesini tidak akan pernah membuat teman-teman kecewa. Penasaran dengan kuliner tradisional yang ada di kota ini. yuk kita intip beberapa kue khas dibawah ini.

1) Bassang
Bassang merupakan makanan khas dari Sulawesi Selatan. Makanan ini sejenis bubur yang terbuat dari jagung pulut (jagung ketan), tepung terigu, air, gula dan garam. Bassang lebih baik dihidangkan dalam keadaan panas dan diberi gula pasir secukupnya pada waktu disajikan.


Bassang

2)Jagung Marning
Jagung Marning merupakan sebuah cemilan khas daerah Bulukumba yang cukup populer. Cemilan ini terbuat dari olahan jagung ditambah dengan bumbu penyedap yang kemudian di goreng hingga kriuk. Cemilan ini sudah membudaya sehingga bukan hanya dapat ditemukan di daerah ini, namun dapat pula di temukan di daerah sekitarnya karena sudah tersebar dibeberapa daerah.



Jagung Marning

3) Uhu-Uhu
Uhu-Uhu merupakan kue khas dari kabupaten Bulukumba. Uhu-uhu sering juga diartikan dengan bannang-bannang karena bentuknya yang menyerupai benang, atau Uhu yang juga bisa diartikan dengan rambut. Kue ini memang terlihat seperti kumpulan benang atau rambut yang digulung. Cara pembuatannya cukup sederhana dan dengan bahan yang mudah.



Uhu-Uhu

Kue ini terasa renyah dibuat dengan bahan gula merah dan tepung beras. Adonan yang sudah jadi kemudian dimasukkan ke dalam tempurung kelapa yang telah dilubangi sehingga adonan akan mengalir ke bawah seperti benang-benang atau rambut. Aliran adonan ini akan langsung digoreng di minyak panas sehingga mendapatkan tekstur yang renyah. Setelah berwarna kecoklatan lalu ditiriskan dan didinginkan.

4) Jalangkote
Jalangkote merupakan makanan ringan khas Makassar yang bentuknya serupa dengan kue pastel. Bedanya dengan kue pastel terletak pada ketebalan kulit, serta cara memakannya. Jalangkote biasanya dicampur dengan cairan lombok berupa cuka atau cape sedangkan pastel dimakan bersama cabe rawit.


Jalangkote

Jalangkote memiliki isi wortel dan kentang yang dipotong menyerupai dadu, tauge, serta laksa yang ditumis dengan menggunakan bawang putih, bawang merah, merica, dan bumbu-bumbu lainnya. Namun saat ini jalangkote sudah mengalami perubahan isi dengan tambahan seperempat atau setengah telur rebus dan daging cincang untuk isinya. Kulit jalangkote terbuat dari bahan dasar tepung terigu, telur, santan, mentega, dan garam.

Soal nama, Jalangkote berasal dari dua pemaknaan yakni jalang yang berarti berkeliling dan kote yang berarti berteriak. Jadi Jalangkote berarti berjalan sambil berteriak. Konon katanya, penamaan ini diambil dari kebiasaan menjajakan kue ini dengan cara berkeliling sambil berteriak.

5) Roti Maros
Roti Maros adalah salah satu makanan khas tradisional Bugis-Makassar. Roti ini mengambil nama daerah asal pembuatannya, yakni Kabupaten Maros dan telah menjadi icon dari kabupaten.

Roti Maros

Awalnya Roti Maros hanya merupakan roti kampung biasa, yang konon dibuat bagi konsumsi masyarakat menengah ke bawah. Seiring perkembangan waktu, industri rumah tangga pembuat Roti Maros menjadi industri potensial. Industri Roti Maros di mulai sejak puluhan tahun silam.

Konon katanya, bentuk Roti Maros awalnya seperti bakpao berwarna putih. Begitu pula dengan cara pembuatannya hanya menggunakan alat-alat yang cukup sederhana. Biasanya, itu menggunakan alat pemanggang roti yang dindingnya terbuat dari batu bata. Sementara mesin pompa digunakan untuk membuat pembakaran.

Saat ini pembuat Roti Maros sudah menggunakan peralatan modern, seperti oven berbahan bakar gas elpiji, mixer, rak roti, loyang, proofing final box' untuk mempercepat pengembangan adonan roti dan mempercantik kulit roti setelah dioven.

Dulunya roti ini hanya dibungkus dengan plastik bening, namun, sejak harga kertas roti naik kira-kira tahun 1990-an, maka kertas roti pun diganti dengan kertas koran, yang ternyata justru menjadi ciri khas yang unik.

6) Bandang
Kue bandang merupakan salah satu kue khas tradisional Bugis-Makassar. ada dua jenis yaitu Bandang Lojo dan Bandang-bandang. Bandang lojo merupakan kue bandang tanpa pembungkus yang ditaburi kelapa, sedangkan bandang-bandang dibungkus daun pisang dan berbahan dasar pisang juga. Untuk resep kali ini admin akan membahas kue bugis bandang-bandang yang merupakan kue basah.



Bandang-bandang



7) Pallu Butung
Pallu Butung adalah makanan khas Sulawesi Selatan, kue ini sering dijadikan hidangan untuk berbuka puasa di saat bulan ramadhan. Pallu Butung ini hampir mirip dengan Pisang Ijo.



Pallu butung


Kue ini terbuat dari campuran tepung beras, santan, gula pasir, daun pandan, vanili dan garam yang kemudian sampai matang dan kental. lalu dimasukkan potongan-potongan pisang raja yang juga sudah masak lalu diaduk. Pallu Butung dapat dihidangkan hangat-hangat, juga bisa dihidangkan dingin dengan menambah parutan es serta bisa ditambahkan sedikit sirup untuk menambah varian warna dan rasanya.

8) Putu Cangkiri
Putu Cangkir merupakan cemilan khas Bugis – Makassar. Cemilan ini memiliki bentuk mirip sepertiga dari ukuran cangkir, sehingga diberi nama putu cangkiri.



Putu Cangkiri

Putu cangkiri merupakan jajanan pasar yang memiliki aroma tradisional yang banyak dijual oleh para pedagang kaki lima atau pedagang keliling. Cemilan sederhana yang ada, melalui tangan kreatif suku bugis ini dibuat dari tepung beras sebagai bahan dasarnya yang dicampur dengan beras ketan dan juga gula merah sisir.

9) Pisang Ijo
Pisang Ijo merupakan salah satu sajian khas dari Makassar. Dinamakan pisang hijau karena terbuat dari bahan utama pisang yang dibalut dengan adonan tepung berwarna hijau. Adonan tersebut dibuat dari tepung, air, dan pewarna hijau alami dari campuran daun pandan dan daun suji.


Pisang Ijo

Pisang Ijo biasanya disajikan dengan tambahan sirup berwarna merah dan bubur sumsum yang sangat lembut. Rasanya yang manis segar sangat cocok dihidangkan saat siang hari dan terik.


10) Tenteng Malino
Tenteng Tenteng Malino adalah cemilan khas dari kota Malino. Bahan dasar dari cemilan ini adalah gula merah dan kacang tanah. Bentuk kemasannya seperti permen dengan pembungkus dari Kulit jagung. Tapi seiring perkembangan, Kemasannya diganti menjadi plastik.



Tenteng


Proses pembuatannya dimulai dari mencairkan gula merah pada wajan atau panci sampai mengental lalu dicampurkannya Kacang tanah ke dalam lumeran Gula merah. Diaduk hingga mulai mendingin dan dicetak sesuai ukuran dan dikemas dengan plastik.

11) Baroncong
Baroncong adalah nama kue tradisional khas dari Kota Makassar. Jenis kue ini memiliki rasa yang gurih, bentuknya seperti busur atau setengah lingkaran, atau mirip dengan kue pukis. Bahan-bahan dari kue ini adalah tepung terigu, gula pasir, parutan kelapa muda, dan penambah aroma rasa.

Baroncong

Kue ini dipanggang dalam cetakan dengan api berasal dari kayu bakar. Adapun nama lain dari kue ini adalah Guroncong atau Buroncong dalam versi Bahasa Bugis.

12) Baje Bandong
Baje Baje merupakan makanan tradisional etnis Bugis, Makassar dan Mandar Sulawesi Selatan. Kue ini banyak dijual di pasar-pasar tradisional dan warung-warung makan. Kue ini terbuat dari beras ketan putih dicampur gula pasir dan kelapa parut. Dulunya, kue ini merupakan oleh-oleh wajib yang harus dibawa oleh perantau Bugis-Makassar.




Baje Bandong

13) Doko'-Doko'
Doko-doko Cangkuning dalam bahasa bugis. Kue ini merupakan salah satu kue tradisonal Bugis yang sebenarnya sudah ada diseluruh nusantara, meski serupa namun pada dasarnya tidak sama.


Doko'-Doko'

Di Jawa, kue ini dikenal dengan nama kue mendut, dibungkus dengan daun pisang muda dengan dilipat segi empat sedangkan di Sumatera, terutama Sumatera Barat, kue ini disebut dengan nama “lapek bugis” atau “lepat bugis”, dibungkus dengan daun pisang dan dilipat menyerupai piramida.

Doko artinya pembungkus yang berisi dengan adnonan bugis yang disebut cangkuning. Karena dibungkus lagi dengan daun, makanya dinamakan doko-doko cangkuning.

14) Barongko
Kue Barongko telah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia. Penetapan ini diberikan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Barongko

Pengakuan ini merupakan upaya perlindungan warisan budaya di Indonesia agar tidak punah. Sertifikat Barongko sebagai warisan budaya bernomor 60128/MPK.E/KB/2017.

Barongko merupakan makanan khas Bugis-Makassar yang terbuat dari pisang. Dihaluskan kemudian dicampur telur, santan, gula pasir, dan garam. Kemudian dibungkus daun pisang lalu dikukus. Jika sudah matang, Barongko biasa disimpan dalam kulkas.

15) Pisang Epe
Pisang epe memiliki proses pengolahan sangat sederhana. Pisang dikupas dan dipanggang di atas bara api hingga setengah matang. Kalau sudah cukup lembek, pisang diletakkan di atas alat yang terbuat dari balok kayu untuk kemudian ditekan hingga berbentuk pipih atau agak gepeng. Lalu pisang tersebut dipanggang lagi.


Pisang Epe

Proses pembakaran pisang dilakukan dua tahap dengan tujuan agar pisang terasa sedikit renyah saat dinikmati. Setelah proses pembakaran selesai, pisang diletakkan di atas piring saji dan diguyur dengan lelehan gula merah beraroma durian atau nangka.

16) Baruasa
Kue baruasa ini termasuk kedalam jajaran kue kering yang merupakan ciri khas dari daerah Bugis, Makassar. Masyarakat Bugis biasa menyantap kue baruasa ini saat acara perayaan hari keagamaan atau saat menyelenggarakan pesta pernikahan.


Baruasa

Kue berbentuk bulat ini terbuat dari bahan dasar tepung beras dan kelapa parut yang disangrai. Terdapat dua varian rasa, yang menggunakan campuran gula merah atau gula pasir (original). Kudapan yang memiliki cita rasa manis dan gurih ini sangat cocok sekali bila disantap bersama kopi susu atau teh hangat.

17) Dange
Dange merupakan jajanan tradisional khas daerah Pangkep. Dulunya kue ini sempat dijadikan sebagai makanan pokok yang termasuk kedalam jajaran kue basah yang memiliki cita rasa manis legit dan juga gurih.



Dange

Kue ini terbuat dari olahan tepung ketan hitam dengan campuran kelapa parut, gula merah, dan garam. Jika lapar menyerang, kue ini bisa disantap sebagai alternatif sembari ditemani secangkir kopi hangat.

18) Cucuru Bayao


Cucuru Bayao

Cucuru Bayao juga merupakan kue yang berasal dari daerah Pangkep, Makassar, Sulawesi Selatan. Telur dan gula pasir menjadi bahan dasar untuk membuatnya. Kue tradisional dengan cita rasa yang super manis ini identik sekali dengan pesta pernikahan.

Cara penyajiannya pun terbilang unik, selesai dikukus kue tersebut tidak bisa langsung dinikmati, melainkan harus direndam dulu kedalam air gula, jika dirasa sudah cukup barulah kamu bisa menyantapnya.

19) Biji Nangka
Kue Biji Nangka karena bentuknya kue ini memang seperti biji nangka. Kue ini sangat cocok disajikan dalam berbagai suasana, untuk sajian saat hari raya lebaran. Kue ini terbuat dari bahan kentang yang dikukus kemudian dihaluskan.


Biji Nangka

20) Sanggara peppe
Sanggara peppe merupakan makanan khas Makassar yang terbuat dari pisang yang digoreng kemudian digeprek dan yang membuat makanan ini terlihat unik yaitu cara menikmatinya.

Sanggara Pe'pe

Sanggara itu artinya goreng sedangkan peppe berarti digeprek jadi kalau disambungkan arti dari kata sanggara peppe adalah pisang yang digoreng kemudian digeprek.

21) Bolu Peca


Bolu Peca

Bolu Peca merupakan kue khas bugis makassar yang terbuat dari telur, tepung beras sangrai, dan gula. Uniknya dari kue yang satu ini karena setelah kuenya jadi masih ada tahap terakhir yang perlu dilakukan yakni dengan merendamnya kedalam cairan gula.


22) Bolu Cukke


Bolu Cukke

Bolu Cukke merupakan kue tradisional asal bugis yang berbeda dengan kue tradisional lainnya. Bentuknya mungil, dan terlihat padat. kue ini berasal dari daerah Soppeng. Kue ini berbahan dasar tepung beras dan gula merah. Serta taburan gula putih, dibagian atasnya menghadirkan rasa manis dan nikmat saat dicicipi.

23) Dangke

 

Dangke

Dangke merupakan makanan Khas Enrekang ini sering orang menyebutnya sebagai keju Eropa. Makanan ini terbuat dari susu sapi, garam pepaya, dan nanas yang di masak menjadi satu. Makanan ini juga bisa dijadikan Krupuk yang mempunyai rasa yang gurih dan renyah.

25) Deppa Tetekang


Deppa Tetekang

Deppa Tetekang merupakan kue yang berasal dari bahan baku tepung beras ketan dengan dicampuri biji wijen. Rasanya enak dan nikmat.

26) Sawalla



Sawalla

Sawalla adalah salah satu kue khas dari daerah Enrekang, provinsi Sulawesi Selatan. kue ini sangat populer karena bentuknya yang unik yakni bundar dan berwarna coklat tua serta cara penyajiannya dengan cara ditusuk seperti sate, sehingga sering dianalogikan dengan bakso tusuk.

Makanan ini dikategorikan dalam jenis kue-kue atau makanan ringan tetapi dapat mengenyangkan perut karena berbahan dasar tepung beras ketan.

27) Apang Paranggi


Apang paranggi

Kue apang paranggi berbahan dasar gula aren dan tepung terigu. kue basah bercitarasa manis ini sangat cocok ditemani dengan segelas teh hangat. Di beberapa daerah lain juga ada kue yang mirip dengan apang. Di daerah Kalimantan disebut apam, sedangkan di kawasan Jawa disebut apem

28) Roti Mantao
Roti mantao memang tidak boleh sampai kelewat untuk dicicip kalau sedang di Parepare. Bahan – bahan dalam membuat roti mantau ini cukup mudah yaitu tepung terigu, susu, gula, air, dan tentunya ragi agar adonan bisa mengembang.


Roti mantao

Istimewanya terletak pada isian kue mantau yang bervariasi seperti kacang, coklat, stroberi, dan lainnya. Ketika membeli roti mantao biasanya sudah jadi seperti roti, tetapi sebelum menyantapnya harus digoreng terlebih dulu.

29) Baje Tenteng


Baje Tenteng

Baje tenteng merupakan cemilan khas Parepare satu ini terbuat dari gula merah cair dan kacang tanah yang sudah disangrai. Cara pembuatannya cukup sederhana, setelah mencampur dua bahan tersebut, adonan diletakkan di atas loyang dibentuk bundar. Lalu ditunggu hingga mengeras, setelah itu dibungkus. Bisa dengan bungkus daun pisang atau plastik.

30) Kacipo’


Kacipo’

Kacipo’ merupakan camilan Parepare. Jajanan kering ini terbuat dari tepung terigu dan wijen, bentuknya mirip dengan onde – onde tapi berukuran lebih kecil. Memiliki citarasa manis yang pas dan sedikit gurih. Kacipo’ lebih dikenal dengan sebutan kue keciput di kawasan lain.

31) Beppa Janda
Beppa Janda merupakan salah satu kue tradisional yang unik dan masih bertahan sampai saat ini. Kampung yang memproduksi kue inipun juga unik. keadaan kampungnya pula sama dengan nama kue tradisional tersebut.


Beppa Janda

Beppa Janda merupakan kue tradisional berbahan dasar gula merah. Jika dilihat dari tekstur dan rasanya sudah sangat kental akan gula merah yang juga produksi terbesar di kota ini.

32) Apang



Apang

Apang merupakan kue tradisional kota Barru yang sudah ada sejak jaman dulu dan diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang. Kebanyakan kue apang dijual di pasar induk Mattirowalie kota Barru. memasak apang cukup mudah, cukup dengan menghaluskan beras putih lalu mencampurkannya dengan gula merah dan bubuk pengembang, kemudian mengukusnya selama kurang lebih 15 menit.

33) Onde-Onde


Onde-Onde

Onde-Onde berbentuk bola-bola kecil dengan tekstur yang kenyal dan memiliki isi gula jawa, jajanan pasar ini merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan yang dibentuk menjadi bola kecil. Kue ini memiliki dua warna yaitu putih dan hijau, warna hijau pada kue ini biasanya ditambah dengan bahan pewarna dari daun suji atau daun pandan. Pada saat dimakan, tekstur kenyalnya akan terasa nikmat ketika gula merah atau gula jawa meleleh keluar dimulut.

34) Sarikung
Sarikung salah satu krupuk khas warga Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulsel. Krupuk renyah dan gurih. Krupuk yang terbuat dari telur, gula, terigu, mentega dan santan.



Sarikung

Proses pembuatannya butuh keterampilan khusus karena semua bahan dicampur jadi satu sampai mengental. Setelah itu ambil satu sendok makan adonan lalu dibakar menggunakan cetakan, dibolak balik sampai kecoklatan. Setelah matang cetakan diangkat. Krupuk ini harus langsung di gulung jika tidak maka kerupuk akan keras dan hancur.

35) Doi'-Doi'


Doi-doi

Kue doi-doi atau kue berbentuk koin merupakan kue khas Bugis berasal dari Kecamatan Ma'rang Kabupaten Pangkep, Sulsel. Kue ini terbuat dari bahan utama rumput laut memiliki rasa yang renyah dan nikmat.

36) Roti Berre


Roti Berre

Roti berre atau roti werre berbentuk bundar. Salah satu sisinya melengkung tampak putih karena mengembang. Sisi lain datar agak sedikit gelap karena bersentuhan langsung dengan wajan panas saat dibuat. Kue ini hanya ada di Kabupaten Sidrap.

37) Bagea


Bagea

Bagea merupakan kue tradisional khas Maluku, Maluku Utara, dan Kota Palopo. Bagea biasanya berbentuk bulat dan warnanya cokelat pucat. Bagea sifatnya keras, dan susah dimakan, orang yang tak terbiasa memakannya akan kesulitan. Bagea adalah salah satu olahan dari sagu. Biasanya Bagea disantap dengan teh atau kopi.

Bahan-bahan untuk membuat Bagea adalah gula halus, biji kenari yang telah dicincang, tepung sagu, minyak sayur, tepung terigu yang telah diayak, kacang tanah yang dicincang halus, kayu manis bubuk, dan cengkih bubuk.

Demikian Berbagai Kue Khas Sulawesi Selatan kami tampilkan.




Penulis : Admin
Sumber : akbarpost.com

Tuesday, 14 April 2020

BULAN PUASA DENGAN MAKANAN KHAS ORANG BUGIS

Suku Bugis merupakan salah satu wilayah di Sulawesi Selatan yang menghasilkan beragam makanan khas Bugis dengan rasa nikmat dan lezat. Jika kamu sedang berada di Sulawesi Selatan atau memiliki rencana untuk mengunjungi suku Bugis maka jangan lupa untuk menikmati beragam sajian lezatnya. Di Sulawesi Selatan terdapat banyak makanan asli Bugis yang unik-unik sehingga sangat sayang sekali manakala dilewatkan.
Berikut ini sudah kami rangkum beberapa makanan khas Bugis yang bukan hanya terkenal di Indonesia saja melainkan juga sudah terkenal hingga ke penjuru dunia. Berikut uraian lengkapnya

1. Coto Makasar Bugis 

Kuliner dari Makasar yang wajib dicicipi ketika berkunjung ke Makasar adalah Coto Makasar. Coto Makasar memiliki nama lain Coto Mangkasara yang merupakan makanan asli dari Suku Bugis Makasar serta sudah dikenal dibeberapa kota besar lainnya. 
Coto Makasar merupakan jenis makanan berkuah yang didalamnya terdapat campuran jeroan. Sebelum dihidangkan jeroan sapi direbus terlebih dahulu dengan menggunakan bumbu yang secara khusus sudah diracik. Coto Makasar ini akan disajikan dengan ketupat serta burasa. 
Burasa adalah nama makanan khas bugis dan juga Makassar yang dikenal juga dengan sebutan lapat dan lontong bersantan. 
Bentuk dari burasa itu sendiri mirip semisal lontong dengan ukuran sedikit pipih dan proses memasaknya dengan cara tersendiri. Kalau kamu ada keinginan untuk mencicipi coto Makassar ini langsung dari tempat asalnya, kamu bisa datang ke warung-warung makan di pinggiran jalan Kota Makassar. 

2. Pallu Basa Makanan Khas Bugis 

Masih dengan olahan sapi, makanan dari Makasar yang kedua ini menggunakan jeroan dari sapi serta kerbau. Secara sekilas Pallubasa ini memiliki tampilan seperti Coto Makassar akan tetapi ketika dinikmati keduanya ternyata berbeda.
Yang membedakan antara keduanya yaitu terletak pada proses memasak daging serta cara menyajikannya. 
Jika Coto Makasar disajikan dengan menggunakan burasa, berbeda dengan Pallu basa yang disajikan dengan menggunakan nasi putih. Makanan satu ini menjadi salah makanan wajib yang harus dicicipi ketika berkunjung ke Makasar. 

3. Konro 

Konro merupakan hidangan dengan menggunakan iga sapi sebagai bahan dasarnya. Daging sapi tersebut kemudian direbus bersamaan dengan asam jawa, kayu manis serta beberapa jenis bahan lainnya. 
Selain itu juga ditambahkan beberapa tumisan seperti pala, merica, kacang merah dan beberapa bahan lainnya yang dituangkan dalam rebusan iga sapi. Konro menghasilkan warna glep yang terbuat dari buah kluwak yang memang memiliki warna hitam. 

4. Konro Bakar Makanan Khas Bugis 

Konro juga ada yang berbentuk bakar. Jika pada sup konro iga sapinya direbus, berbeda dengan konro bakar yang yang cara penyajiannya dengan cara dibakar kemudian disajikan. Untuk rasanya tidak perlu ditanyakan lagi, konro bakar ini juga memiliki rasa yang tidak kalah lezatnya dengan sup konro. 
Tulang yang masih terbungkus tersebut kemudian dihidangkan bersama dengan guyuran bumbu kacang serta kuah sup konro dengan warna kehitaman. 

5. Pallumara 

Secara sekilas pallumara ini terdengar sama dengan pallubasa. Akan tetapi pallumara menggunakan rempah-rempah sebagai bahan utamanya sehingga akan Nampak perbedaan yang mencolok. 
Jika kamu yang baru mendengar namanya, Pallumara ini merupakan jenis makanan berkuah dengan bahan utama berupa daging ikan atau kepala ikan kakap merah besar. Daging ikan tersebut kemudian ditenggelamkan dalam kuah kental. 
Makanan satu ini juga cukup unik dimana kuahnya tidak menggunakan santan kelapa melainkan menggunakan kemiri. Tidak hanya itu saja, kuah sup ikan ini juga dibuat bersama dengan campuran rempah sehingga akan menghasilkan cita rasa yang gurih, asam serta pedas. 

6. Pallu Kacci Makanan Khas Bugis 

Masih dengan nama pallu, dalam Bahasa Indonesia Pallu memiliki makna masak atau masakan sedangkan kacci berarti asam. Dengan ini maka bisa disimpulkan jika pallu kaci ini memiliki artian makanan dengan cita rasa asam. Sajian nikmat dari Makasar ini adalah jenis makanan berkuah seperti sup dan memiliki warna kuah berwarna kuning. 
Pallu kacci ini merupakan jenis olahan dengan menggunakan bahan dasar ikan. 
Orang Makassar biasanya menggunakan ikan bolu atau di daerah yang lain lebih umum dengan sebutan ikan bandeng. Selain ikan bandeng, ikan cakalang dan tuna juga merupakan ikan yang biasa dipilih untuk memasak makanan khas yang satu ini. 

7. Ikan Bakar Khas Makasar 

Ikan bakar yang berasal dari Suku Bugis ini sudah terkenal kelezatannya yang mampu menggoyang lidah siapa saja yang mencicipinya. Ikan bakar khas Makasar ini menggunakan ikan laut yang masih segar sebagai bahan utamanya. 
Ikan bawal, ikan baronang, ikan papakulu, ikan bandeng serta ikan sukang merupakan jenis ikan yang banyak digunakan. Sebelum dibakar, terlebih dahulu ikan diberikan bumbu ringan seperti garam, kunyit, bawang putih serta jahe. 
Cara penyajiannya sama dengan penyajian ikan dibeberapa daerah lain dimana ikan khas Makasar ini dapat dinikmati bersama dengan kecap dan lalapan sayur seperti timun, tomat serta kemangi. 

8. Sop Ubi 

Setelah ikan bakar maka beralih ke makanan yang berkuah. Makanan berkuah dari Makasar ini adalah Sop Ubi. Hanya di Makasar kamu bisa menjumpai ubi yang digunakan sebagai Sop. Sop ubi merupakan jenis kuliner yang tinggi akan kerbohidrat sehingga siap mengganjal perut kamu. 
Sop ubi ini mirip dengan sup pada umumnya dimana terdapat kuah kaldu serta beberapa macam sayuran. Bukan hanya sayuran saja, sop ubi juga diberi beberapa bahan seperti daun bawang, bihun, serta perasan jeruk nipis. 
Sop ubi ini memiliki lemak tinggi sehingga diperlukan jeruk nipis untuk menetralisir rasanya. 

9. Es Pisang Hijau 

Es pisang hijau merupakan jenis minuman yang cukup digemari oleh banyak orang. Es pisang hijau disukai banyak orang bukan karena rasanya saja yang enak melainkan juga tampilannya yang cantik. Bahan utama yang digunakan untuk membuat es pisang ijo yaitu pisang. Pisang yang digunakan merupakan pisang yang masih segar sehingga memberikan warna yang segar. 
Setelah pisang sudah dalam keadaan terbungkus adonan, berikutnya sebelum disajikan harus dikukus terlebih dahulu. Penyajian es pisang ijo umumnya dicampur dengan bubur sumsum, es batu, susu kental dan sirup dengan warna merah. 

10. Es Palu Butung 

Kota Makasar juga memiliki minuman unik yang mirip dengan es pisang hijau, namanya es pallu butung. Es pallu butung ini juga menggunakan pisang sebagai bahan utamanya. Yang membedakan antara es pallu butung dengan es pisang hijau yaitu pada cara pengolahannya. 
Pada es pallu butung, terlebih dahulu pisang direbus, kalau sudah direbus lalu dipotong-potong kecil dan kemudian disiram menggunakan bubur dengan warna putih yang terbuat dari bahan tepung beras dan santan. 


Penilis : Admin

Friday, 10 April 2020

CERITA SINGKAT TENTANG LEGENDA SAWERIGADING




Sawerigading merupakan Putra Mahkota Raja Luwu Batara Lattu’, dari Kerajaan Luwu Purba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Dalam bahasa asal, sawerigading berasal dari dua kata, yaitu sawe yang berarti menetas (lahir), dan ri gading yang berarti di atas bambu betung. Jadi, sawarigading berarti keturunan dari orang yang menetas (lahir) di atas bambu betung. Menurut cerita, ketika Bataraguru (kakek Sawerigading yang merupakan keturunan dewa) pertama kali diturunkan ke bumi, ia ditempatkan di atas bambu betung. Sawerigading mempunyai saudara kembar perempuan yang bernama We Tenriabeng. Tapi, sejak kecil hingga dewasa mereka dibesarkan secara terpisah, sehingga mereka tidak saling mengenal. Suatu ketika, saat bertemu dengan adik kandungnya itu, Sawerigading jatuh cinta dan berniat untuk melamarnya. Berhasilkah Sawerigading menikahi We Tenriabeng, saudara kandungnya itu? Kisah selengkapnya dapat Anda ikuti dalam leganda Sawerigading berikut ini.

Menurut hikayat, di daerah Luwu, Sulawesi Selatan, hiduplah seorang raja bernama La Togeq Langiq atau dikenal dengan panggilan Batara Lattu’. Sang Raja memiliki dua istri, yaitu satu dari golongan manusia biasa (penduduk dunia nyata) bernama We Opu Sengngeng, dan satu lagi berasal dari bangsa jin. Dari perkawinannya dengan We Opu Sengengeng lahir sepasang anak kembar emas, yakni seorang laki-laki bernama Sawerigading, dan seorang perempuan bernama We Tenriabeng. Berdasarkan ramalan Batara Guru (ayah Raja Luwu), Sawerigading dan We Tenriabeng kelak akan saling jatuh cinta dan menikah. Padahal menurut adat setempat, seseorang sangat pantang menikahi saudara kandung sendiri. Agar tidak melanggar adat tersebut, Raja Luwu pun membesarkan kedua anak kembarnya tersebut secara terpisah. Ia menyembunyikan anak perempuannya (We Tenriabeng) di atas loteng istana sejak masih bayi.

Waktu terus berjalan. Sawerigading tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tampan, sedangkan We Tenriabeng tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Namun, sepasang anak kembar tersebut belum saling mengenal.
Pada suatu hari, Sawerigading bersama sejumlah pengawal istana diutus oleh ayahnya berlayar ke Negeri Taranati (Ternate) untuk mewakili Kerajaan Luwu dalam sebuah pertemuan para pangeran. Namun sebenarnya tujuan utama Sawerigading diutus pergi jauh ke Ternate karena saudara kembarnya We Tenriabeng akan dilantik menjadi bissu dalam sebuah upacara umum, yang tentu saja tidak boleh dihadirinya karena dikhawatirkan akan bertemu dengan We Tenriabeng.

Dalam perjalanan menuju ke Negeri Ternate, Sawerigading mendapat kabar dari seorang pengawalnya bahwa ia mempunyai saudara kembar yang cantik jelita. Sawerigading tersentak kaget mendengar kabar tersebut.

“Apa katamu? Aku mempunyai saudara kembar perempuan?” tanya Sawerigading dengan kaget.

“Benar, Pangeran! Saudaramu itu bernama Tenriabeng. Ia disembunyikan dan dipelihara di atas loteng istana sejak masih kecil,” ungkap pengawal itu.

Sekembalinya dari Ternate, Sawerigading langsung mencari saudara kembarnya yang disembunyikan di atas loteng istana. Tak pelak lagi, Sawergading langsung jatuh cinta saat melihat saudara kembarnya itu dan memutuskan untuk menikahinya. Raja Luwu Batara Lattu’ yang mengetahui rahasia keluarga istana tersebut terbongkar segera memanggil putranya itu untuk menghadap.

“Wahai, Putraku! Mengharap pendamping hidup untuk saling menentramkan hati bukanlah hal yang keliru. Tapi, perlu kamu ketahui bahwa menikahi saudara kandung sendiri merupakan pantangan terbesar dalam adat istiadat kita. Jika adat ini dilanggar, bencana akan menimpa negeri ini. Sebaiknya urungkanlah niatmu itu, Putraku!” bujuk Raja Luwu Batara Lattu’.

Namun, bujukan Ayahandanya tersebut tidak menyurutkan niat Sawerigading untuk menikahi adiknya. Namun, akhirnya Sawerigading mengalah setelah We Tenriabeng memberitahunya bahwa di Negeri Cina (bukan Cina di Tiongkok, tapi di daerah Tanete, Kabupetan Bone, Sulawesi Selatan) mereka mempunyai saudara sepupu yang sangat mirip dengannya.

“Bang! Pergilah ke Negeri Cina! Kita mempunyai saudara sepupu yang bernama We Cudai. Ayahanda pernah bercerita bahwa aku dan We Cudai bagai pinang dibelah dua,” bujuk We Cudai.

“Benar, Putraku! Wajah dan perawakan We Cudai sama benar dengan adikmu, We Tenriabeng,” sahut Raja Luwu Batara Lattu’.

Untuk membuktikan kebenaran kata-katanya, We Tenriabeng memberikan sehelai rambut, sebuah gelang dan cincinnya kepada Sawerigading. We Tenriabeng juga berjanji jika perkataannya tidak benar, ia berbersedia menikah dengan Sawerigading.

“Bang! Jika rambut ini tidak sama panjang dengan rambut We Cudai, gelang dan cincin ini tidak cocok dengan pergelangan dan jarinya, aku bersedia menikah dengan Abang,” kata We Tenriabeng.

Akhirnya, Sawerigading pun bersedia berangkat ke Negeri Cina, walaupun dihatinya ada rasa kecewa kepada orang tuanya karena tidak diizinkan menikahi adiknya. Untuk berlayar ke Negeri Cina, Sawerigading harus menggunakan kapal besar yang terbuat dari kayu welérénngé (kayu belande) yang mampu menahan hantaman badai dan ombak besar di tengah laut.

“Wahai, Putraku! Untuk memenuhi keinginanmu memperistri We Cudai, besok pergilah ke hulu Sungai Saqdan menebang pohon welérénngé raksasa untuk dibuat perahu!” perintah Raja Luwu Batara Lattu’.

Keesokan harinya, berangkatlah Sawerigading ke tempat yang dimaksud ayahnya itu. Ketika sampai di tempat itu, ia pun segera menebang pohon raksasa tersebut. Anehnya, walaupun batang dan pangkalnya telah terpisah, pohon raksasa itu tetap tidak mau roboh. Namun, hal itu tidak membuatnya putus asa. Keesokan harinya, Sawerigading kembali menebang pohon ajaib itu, tapi hasilnya tetap sama. Kejadian aneh ini terulang hingga tiga hari berturut-turut. Sawerigading pun mulai putus asa dan hatinya sangat galau memikirkan apa gerangan penyebabnya.

Mengetahui kegalauan hati abangnya, pada malam harinya We Tenriabeng secara diam-diam pergi ke hulu Sungai Saqdan. Sungguh ajaib! Hanya sekali tebasan, pohon raksasa itu pun roboh ke tanah. Dengan ilmu yang dimilikinya, We Tenriabeng segera mengubah pohon raksasa itu menjadi sebuah perahu layar yang siap untuk mengarungi samudera luas.

Keesokan harinya, Sawerigading kembali ke hulu Sungai Saqdan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat pohon welérénngé raksasa yang tak kunjung bisa dirobohkannya kini telah berubah menjadi sebuah perahu layar.

“Hai, siapa yang melakukan semua ini?” gumam Sawerigading heran.

“Ah, tidak ada gunanya aku memikirkan siapa yang telah membantuku membuat perahu layar ini. Yang pasti aku harus segera pulang untuk menyiapkan perbekalan yang akan aku bawa berlayar ke Negeri Cina,” pungkasnya seraya bergegas pulang ke istana.

Setelah menyiapkan sejumlah pengawal dan perbekalan yang diperlukan, berangkatlah Sawerigading bersama rombongannya menuju Negeri Cina. Dalam perjalanan, mereka menemui berbagai tantangan dan rintangan seperti hantaman badai dan ombak serta serangan para perompak. Namun, berkat izin Tuhan Yang Mahakuasa, Sawerigading bersama pasukannya berhasil melalui semua rintangan tersebut dan selamat sampai di tujuan.

Setibanya di Negeri Cina, Sawerigading mendengar kabar bahwa We Cudai telah bertunangan dengan seorang pemuda bernama Settiyabonga. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk melihat langsung kecantikan wajah We Cudai. Untuk itu, ia pun memutuskan untuk menyamar menjadi pedagang orang oro (berkulit hitam). Untuk memenuhi penyamarannya, ia harus mengorbankan satu nyawa orang oro sebagai tumbal. Pada mulanya, orang oro yang akan dijadikan tumbal tersebut mengiba kepadanya.

“Ampun, Tuan! Jika kulit saya dijadikan pembungkus tubuh Tuan, tentu saya meninggal.”

Namun, setelah Sawerigading membujuknya dengan tutur kata yang halus, akhirnya orang oro itu pun bersedia memenuhi permintaannya. Setelah itu, Sawerigading segera menuju ke istana sebagai oro pedagang. Setibanya di istana, ia terkagum-kagum melihat kecantikan We Cudai.

“Benar kata Ayahanda, We Cudai dan We Tenriabeng bagai pinang dibelah dua. Perawakan mereka benar-benar serupa,” ucap Sawerigading.

Setelah membuktikan kecantikan We Cudai, Sawerigading segera mengirim utusan untuk melamarnya dan lamarannya pun diterima oleh keluarga istana Kerajaan Cina. Namun, sebelum pesta pernikahan dilangsungkan, We Cudai mengirim seorang pengawal istana untuk mengusut siapa sebenarnya calon suaminya itu.

Suatu hari, utusan itu mendekati perahu layar Sawerigading yang tengah bersandar di pelabuhan. Kebetulan, saat itu para pengawal Sawerigading yang berbulu lebat sedang mandi. Utusan itu ketakukan saat melihat tampang mereka yang dikiranya “orang-orang biadab” dan mengira bahwa wujud Sawerigading serupa dengan mereka. Ia pun segera kembali ke istana untuk menyampaikan kabar tersebut kepada We Cudai. Mendengar kabar tersebut, We Cudai pun berniat untuk membatalkan pernikahannya dan mengembalikan semua mahar Sawerigading.

Sawerigading yang mendengar kabar buruk tersebut segera menghapus penyamarannya sebagai orang oro dan mengenaikan pakaian kebesarannya, lalu segera menghadap Raja Cina. Sesampainya di istana, ia pun segera menceritakan asal-usul dan maksud kedatangannya ke Negeri Cina.

“Ampun, Baginda Raja! Perkenalkan nama Ananda Sawerigading Putra Raja Luwu Batara Lattu’ dari Sulawesi Selatan. Ananda datang menghadap membawa amanat Ayahanda, dengan harapan sudilah kiranya Baginda menerima Ananda sebagai menantu Baginda,” ungkap Sawerigading.

“Hai, Anak Muda! Kamu jangan mengaku-ngaku! Apa buktinya bahwa kamu adalah putra dari saudaraku itu?” tanya Raja Cina.

Sawerigading pun segera memperlihatkan sehelai rambut, sebuah gelang dan cincin pemberian We Tenriabeng kepada Raja Cina seraya menceritakan semua kejadian yang dialaminya hingga ia bisa sampai ke Negeri Cina. Mendengar harapan dan permohonan saudaranya melalui keponakannya itu, Raja Cina terdiam sejenak, lalu berkata:

“Baiklah! Sekarang aku percaya bahwa kamu adalah keponakanku. Ayahandamu dulu pernah mengirim kabar kepadaku bahwa ia mempunyai anak kembar emas. Anaknya yang perempuan wajah dan perawakaannya serupa dengan putriku.”

Untuk lebih meyakinkan dirinya, Raja Cina segera memanggil putrinya untuk menghadap. Tak berapa lama, We Cudai pun datang dan duduk di samping ayahandanya. Saat melihat pemuda tampan yang duduk di hadapan ayahandanya, We Cudai tampak gugup dan hatinya tiba-tiba berdetak kencang. Rupanya, ia jatuh hati kepada pemuda itu yang tak lain adalah Sawerigading.

“Ada apa gerangan Ayahanda memanggil Ananda?” tanya We Cundai tertunduk malu-malu.

“Wahai Putriku, ketahuilah! Sesungguhnya orang yang melamarmu beberapa hari yang lalu ternyata sepupumu sendiri. Namanya Sawerigading. Ayahanda bersaudara dengan ayahnya. Tapi, untuk menyakinkan kebenaran ini, cobalah kamu cocokkan panjang rambut ini dengan panjang rambutmu dan pakailah gelang dan cincin ini!” pinta Raja Cina seraya memberikan sehelai rambut, sebuah gelang dan cincin itu kepada putrinya.

Setelah We Cudai mengenakan gelang dan cincin tersebut, maka semakin yakinlah Raja Cina bahwa Sawerigading benar-benar keponakannya. Gelang dan cincin tersebut semuanya cocok dikenakan oleh We Cudai. Begitu pula rambutnya sama panjangnya dengan rambut We Tenriabeng.

“Bagaimana, Putriku! Apakah kamu bersedia menerima kembali lamaran Sawerigading untuk mempererat tali persaudaraan kita dengan keluarga Sawerigading di Sulawesi Selatan?” tanya Raja Cina.

“Baik, Ayahanda! Jika Ayahanda merestui, Ananda bersedia menikah dengan Sawerigading. Ananda mohon maaf karena sebelumnya mengira Sawerigading bukan dari keluarga baik-baik,” jawab We Cudai malu-malu.

Betapa bahagianya perasaan Raja Cina mendengar jawaban putrinya itu. Demikian pula yang dirasakan Sawerigading karena lamarannya diterima. Dengan perasaan bahagia, ia segera kembali ke kapalnya untuk menyampaikan berita gembira itu kepada para pengawalnya dan memerintahkan mereka untuk mengangkat semua barang bawaan yang ada di perahu ke istana untuk keperluan pesta.  Tiga hari kemudian, pesta pernikahaan itu pun dilangsungkan dengan meriah. Segenap rakyat Negeri Cina turut berbahagia menyaksikan pesta pernikahan tersebut.

Setahun kemudian, Sawerigading dan We Cudai dikaruniai oleh seorang anak dan diberi nama La Galigo. Namun, bagi We Cudai, kebahagiaan tersebut terasa belum lengkap jika belum bertemu dengan mertuanya. Suatu hari, ia pun mengajak suaminya ke Sulawesi Selatan untuk mengunjungi mertuanya. Mulanya, Sawerigading menolak ajakan istrinya, karena ia sudah berjanji tidak ingin kembali ke kampung halamannya karena kecewa kepada kedua orang tuanya yang telah menolak keinginannya menikahi saudara kembarnya. Namun, karena istrinya terus mendesaknya, akhirnya ia pun menyetujuinya.
Keesokan harinya, berangkatlah sepasang suami istri itu bersama beberapa orang pengawal menuju Negeri Luwu. Akan tetapi, mereka tidak membawa serta putra mereka (La Galigo) karena masih bayi. Dalam perjalanan, Sawerigading bersama rombongannya kembali menemui banyak rintangan. Perahu yang mereka tumpangi hampir tenggelam di tengah laut karena dihantam badai dan gelombang besar. Berkat pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa, mereka pun selamat sampai di Nengeri Luwu.

Setelah bertahun-tahun lamanya Sawerigading bersama istrinya tinggal di Negeri Luwu terdengarlah kabar bahwa di Tanah Jawa berkembang ajaran agama Islam. Sawerigading pun segera memerintahkan pasukannya untuk memerangi ajaran tersebut. Namun apa yang terjadi setelah pasukannya tiba di Tanah Jawa? Rupanya, mereka bukannya memerangi penganut ajaran agama tersebut, tetapi justru berbalik memeluk agama Islam. Bahkan sebagian anggota pasukannya memutuskan untuk menetap di Tanah Jawa.

Sementara anggota pasukan lainnya kembali ke Negeri Luwu untuk melaporkan kabar tersebut kepada Sawerigading dan sekaligus mengajaknya untuk memeluk agama Islam. Karena kesal atas penghianatan pasukannya itu dan tidak ingin masuk agama Islam, Sawerigading bersama istrinya memutuskan untuk kembali ke Negeri Cina dan berjanji tidak ingin menginjakkan kaki lagi di Negeri Luwu. Dalam perjalanan pulang ke Negeri Cina, kapal yang mereka tumpangi karam di tengah laut. Konon, pasangan suami istri tersebut menjadi penguasa buriq liu atau peretiwi (dunia bawah laut).

Demikian cerita Sawerigading dari daerah Luwu, Sulawesi Selatan. Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah ganjaran yang diterima dari sifat tidak mudah putus asa. Sifat ini ditunjukkan oleh perilaku Sawerigading yang senantiasa tabah dalam menghadapi berbagai rintangan dan cobaan untuk mencapai keinginannya, yakni menikahi We Cudai yang berada di Negeri Cina.


Penulis : Admin

Sunday, 5 April 2020

'SIRI" DALAM POLA ASUH BUDAYA BUGIS.



Pola asuh yang diterapkan orang tua pada anak-anaknya sangat dipengaruhi adat dan budaya dari suku atau etnis darimana orang tua itu berasal. 

Salah satu contoh adalah suku Bugis, sebuah suku yang sejarahnya berasal dari Sulawesi Selatan. Namun kini menyebar ke Suawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan, dan wilayah lainnya. Seperti halnya di etnis-etnis lainnya, 

Seperti halnya di etnis-etnis lainnya, Suku Bugis. Suku Bugis juga mengenal sistem norma dan aturan adat yang disebut Pangaderreng. Dalam Pangaderreng itu, ada yang namanya konsep Siri atau keadaan tertimpa malu atau terhina. Dalam konteks pengasuhan, orang Bugis dimanapun selalu menegakkan budaya siri agar tidak tertimpa rasa malu dan terhina akibat dari perbuatannya. 

Budaya ‘siri’ yang ditekankan orang tua Suku Bugis itu menggugah anak agar tidak melakukan pelanggaran Ade’ atau hukum. Sementara nilai-nilai harga diri atau martabat menuntut seseorang untuk selalu patuh dan hormat pada kaidah-kaidah ade’ 

Karena itu, terhadap anak-anaknya, orang bugis sangat ketat mengajarkan soal keagamaan, kesetiaan memegang janji dan persahabatan, saling memaafkan, saling mengingatkan untuk berbuat kebajikan, tak segan saling memberi pertolongan/pengorbanan, dan memelihara ketertiban adat perkawinan. 

Konsep “siri” dalam pengasuhan terungkap dalam paseng atau nasehat yaitu roloi naptiroang, ritenggai naparaga-raga, rimunriwi napa ampiri (dari depan menjadi suri tauladan, di tengah aktif memberikan bantuan dan dari belakang aktif memberikan dukungan dan dorongan). 

Nilai-nilai Siri yang ditekankan orang tua di suku Bugis mencakup : 

Sipakatau, saling menghargai dan menghormati sesama manusia. 

Pesse, bermakna kesetiakawanan terhadap manusia. 

Parakai sirimu, perasaan tanggung jawab dan pengendalian diri 

Cappa lila, keterampilan berkomunikasi dan berdialog dengan penuh keterbukaan dan tutur kata yang santun 

Rupannamitaue dek naullei ripinra atau hanya wajah manusia yang tidak bisa diubah. Petuah ini bermakna percaya diri dan sikap optimisme terhadap peluang terjadinya perubahan pada diri manusia ke arah yang lebih baik. 

Sipatuo sipatokkong dan sipamali siparappe (saling mengembangkan dan saling menghidupkan) yang berimplikasi kepada saling membantu dan memahami orang lain. 

Pajjama (usaha dan kerja keras)mengandung makna kemandirian, sikap optomis dan dinamis menghadapi masa depan disertai ketekunan dan kerja keras. Getteng (ketegasan prinsip) mengandung makna kepercayaan diri, keberanian menanggung resiko dan adanya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. 






Penulis : Admin