SAMBUTAN DPP PAO : ASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH, SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DEWAN PENGURUS PUSAT ORGANISASI ASSEDDINGENG WIJANNA OGIE DALAM BAHASA INDONESIA DIKENAL DENGAN NAMA PERSATUAN ANAK OGI (DPP-PAO) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PROVINSI RIAU, PAO ADALAH PERKUMPULAN WARGA MASYARAKAT SUKU BUGIS RANTAU DENGAN BERDASARKAN PANCASILA DAN UDD 45 SERTA DIBAWAH NAUNGAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) DENGAN TUJUAN MEMPERSATUKAN SEGENAP WARGA MASYARAKAT BUGIS SELURUH NUSANTARA MAUPUN MANCA NEGARA DENGAN VISI MISI - MASSEDDI RIPASSEDDI MAPPASSEDDI-TOPADA SIPAMMASE MASE - NIAT MADECENG PADATTA RUPA TAU TERUTAMA SEMPUGIKU TEGA-TEGAKI WANUA DI ONDROWI. WASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH

Friday, 10 April 2020

CERITA SINGKAT TENTANG LEGENDA SAWERIGADING




Sawerigading merupakan Putra Mahkota Raja Luwu Batara Lattu’, dari Kerajaan Luwu Purba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Dalam bahasa asal, sawerigading berasal dari dua kata, yaitu sawe yang berarti menetas (lahir), dan ri gading yang berarti di atas bambu betung. Jadi, sawarigading berarti keturunan dari orang yang menetas (lahir) di atas bambu betung. Menurut cerita, ketika Bataraguru (kakek Sawerigading yang merupakan keturunan dewa) pertama kali diturunkan ke bumi, ia ditempatkan di atas bambu betung. Sawerigading mempunyai saudara kembar perempuan yang bernama We Tenriabeng. Tapi, sejak kecil hingga dewasa mereka dibesarkan secara terpisah, sehingga mereka tidak saling mengenal. Suatu ketika, saat bertemu dengan adik kandungnya itu, Sawerigading jatuh cinta dan berniat untuk melamarnya. Berhasilkah Sawerigading menikahi We Tenriabeng, saudara kandungnya itu? Kisah selengkapnya dapat Anda ikuti dalam leganda Sawerigading berikut ini.

Menurut hikayat, di daerah Luwu, Sulawesi Selatan, hiduplah seorang raja bernama La Togeq Langiq atau dikenal dengan panggilan Batara Lattu’. Sang Raja memiliki dua istri, yaitu satu dari golongan manusia biasa (penduduk dunia nyata) bernama We Opu Sengngeng, dan satu lagi berasal dari bangsa jin. Dari perkawinannya dengan We Opu Sengengeng lahir sepasang anak kembar emas, yakni seorang laki-laki bernama Sawerigading, dan seorang perempuan bernama We Tenriabeng. Berdasarkan ramalan Batara Guru (ayah Raja Luwu), Sawerigading dan We Tenriabeng kelak akan saling jatuh cinta dan menikah. Padahal menurut adat setempat, seseorang sangat pantang menikahi saudara kandung sendiri. Agar tidak melanggar adat tersebut, Raja Luwu pun membesarkan kedua anak kembarnya tersebut secara terpisah. Ia menyembunyikan anak perempuannya (We Tenriabeng) di atas loteng istana sejak masih bayi.

Waktu terus berjalan. Sawerigading tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tampan, sedangkan We Tenriabeng tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Namun, sepasang anak kembar tersebut belum saling mengenal.
Pada suatu hari, Sawerigading bersama sejumlah pengawal istana diutus oleh ayahnya berlayar ke Negeri Taranati (Ternate) untuk mewakili Kerajaan Luwu dalam sebuah pertemuan para pangeran. Namun sebenarnya tujuan utama Sawerigading diutus pergi jauh ke Ternate karena saudara kembarnya We Tenriabeng akan dilantik menjadi bissu dalam sebuah upacara umum, yang tentu saja tidak boleh dihadirinya karena dikhawatirkan akan bertemu dengan We Tenriabeng.

Dalam perjalanan menuju ke Negeri Ternate, Sawerigading mendapat kabar dari seorang pengawalnya bahwa ia mempunyai saudara kembar yang cantik jelita. Sawerigading tersentak kaget mendengar kabar tersebut.

“Apa katamu? Aku mempunyai saudara kembar perempuan?” tanya Sawerigading dengan kaget.

“Benar, Pangeran! Saudaramu itu bernama Tenriabeng. Ia disembunyikan dan dipelihara di atas loteng istana sejak masih kecil,” ungkap pengawal itu.

Sekembalinya dari Ternate, Sawerigading langsung mencari saudara kembarnya yang disembunyikan di atas loteng istana. Tak pelak lagi, Sawergading langsung jatuh cinta saat melihat saudara kembarnya itu dan memutuskan untuk menikahinya. Raja Luwu Batara Lattu’ yang mengetahui rahasia keluarga istana tersebut terbongkar segera memanggil putranya itu untuk menghadap.

“Wahai, Putraku! Mengharap pendamping hidup untuk saling menentramkan hati bukanlah hal yang keliru. Tapi, perlu kamu ketahui bahwa menikahi saudara kandung sendiri merupakan pantangan terbesar dalam adat istiadat kita. Jika adat ini dilanggar, bencana akan menimpa negeri ini. Sebaiknya urungkanlah niatmu itu, Putraku!” bujuk Raja Luwu Batara Lattu’.

Namun, bujukan Ayahandanya tersebut tidak menyurutkan niat Sawerigading untuk menikahi adiknya. Namun, akhirnya Sawerigading mengalah setelah We Tenriabeng memberitahunya bahwa di Negeri Cina (bukan Cina di Tiongkok, tapi di daerah Tanete, Kabupetan Bone, Sulawesi Selatan) mereka mempunyai saudara sepupu yang sangat mirip dengannya.

“Bang! Pergilah ke Negeri Cina! Kita mempunyai saudara sepupu yang bernama We Cudai. Ayahanda pernah bercerita bahwa aku dan We Cudai bagai pinang dibelah dua,” bujuk We Cudai.

“Benar, Putraku! Wajah dan perawakan We Cudai sama benar dengan adikmu, We Tenriabeng,” sahut Raja Luwu Batara Lattu’.

Untuk membuktikan kebenaran kata-katanya, We Tenriabeng memberikan sehelai rambut, sebuah gelang dan cincinnya kepada Sawerigading. We Tenriabeng juga berjanji jika perkataannya tidak benar, ia berbersedia menikah dengan Sawerigading.

“Bang! Jika rambut ini tidak sama panjang dengan rambut We Cudai, gelang dan cincin ini tidak cocok dengan pergelangan dan jarinya, aku bersedia menikah dengan Abang,” kata We Tenriabeng.

Akhirnya, Sawerigading pun bersedia berangkat ke Negeri Cina, walaupun dihatinya ada rasa kecewa kepada orang tuanya karena tidak diizinkan menikahi adiknya. Untuk berlayar ke Negeri Cina, Sawerigading harus menggunakan kapal besar yang terbuat dari kayu welérénngé (kayu belande) yang mampu menahan hantaman badai dan ombak besar di tengah laut.

“Wahai, Putraku! Untuk memenuhi keinginanmu memperistri We Cudai, besok pergilah ke hulu Sungai Saqdan menebang pohon welérénngé raksasa untuk dibuat perahu!” perintah Raja Luwu Batara Lattu’.

Keesokan harinya, berangkatlah Sawerigading ke tempat yang dimaksud ayahnya itu. Ketika sampai di tempat itu, ia pun segera menebang pohon raksasa tersebut. Anehnya, walaupun batang dan pangkalnya telah terpisah, pohon raksasa itu tetap tidak mau roboh. Namun, hal itu tidak membuatnya putus asa. Keesokan harinya, Sawerigading kembali menebang pohon ajaib itu, tapi hasilnya tetap sama. Kejadian aneh ini terulang hingga tiga hari berturut-turut. Sawerigading pun mulai putus asa dan hatinya sangat galau memikirkan apa gerangan penyebabnya.

Mengetahui kegalauan hati abangnya, pada malam harinya We Tenriabeng secara diam-diam pergi ke hulu Sungai Saqdan. Sungguh ajaib! Hanya sekali tebasan, pohon raksasa itu pun roboh ke tanah. Dengan ilmu yang dimilikinya, We Tenriabeng segera mengubah pohon raksasa itu menjadi sebuah perahu layar yang siap untuk mengarungi samudera luas.

Keesokan harinya, Sawerigading kembali ke hulu Sungai Saqdan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat pohon welérénngé raksasa yang tak kunjung bisa dirobohkannya kini telah berubah menjadi sebuah perahu layar.

“Hai, siapa yang melakukan semua ini?” gumam Sawerigading heran.

“Ah, tidak ada gunanya aku memikirkan siapa yang telah membantuku membuat perahu layar ini. Yang pasti aku harus segera pulang untuk menyiapkan perbekalan yang akan aku bawa berlayar ke Negeri Cina,” pungkasnya seraya bergegas pulang ke istana.

Setelah menyiapkan sejumlah pengawal dan perbekalan yang diperlukan, berangkatlah Sawerigading bersama rombongannya menuju Negeri Cina. Dalam perjalanan, mereka menemui berbagai tantangan dan rintangan seperti hantaman badai dan ombak serta serangan para perompak. Namun, berkat izin Tuhan Yang Mahakuasa, Sawerigading bersama pasukannya berhasil melalui semua rintangan tersebut dan selamat sampai di tujuan.

Setibanya di Negeri Cina, Sawerigading mendengar kabar bahwa We Cudai telah bertunangan dengan seorang pemuda bernama Settiyabonga. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk melihat langsung kecantikan wajah We Cudai. Untuk itu, ia pun memutuskan untuk menyamar menjadi pedagang orang oro (berkulit hitam). Untuk memenuhi penyamarannya, ia harus mengorbankan satu nyawa orang oro sebagai tumbal. Pada mulanya, orang oro yang akan dijadikan tumbal tersebut mengiba kepadanya.

“Ampun, Tuan! Jika kulit saya dijadikan pembungkus tubuh Tuan, tentu saya meninggal.”

Namun, setelah Sawerigading membujuknya dengan tutur kata yang halus, akhirnya orang oro itu pun bersedia memenuhi permintaannya. Setelah itu, Sawerigading segera menuju ke istana sebagai oro pedagang. Setibanya di istana, ia terkagum-kagum melihat kecantikan We Cudai.

“Benar kata Ayahanda, We Cudai dan We Tenriabeng bagai pinang dibelah dua. Perawakan mereka benar-benar serupa,” ucap Sawerigading.

Setelah membuktikan kecantikan We Cudai, Sawerigading segera mengirim utusan untuk melamarnya dan lamarannya pun diterima oleh keluarga istana Kerajaan Cina. Namun, sebelum pesta pernikahan dilangsungkan, We Cudai mengirim seorang pengawal istana untuk mengusut siapa sebenarnya calon suaminya itu.

Suatu hari, utusan itu mendekati perahu layar Sawerigading yang tengah bersandar di pelabuhan. Kebetulan, saat itu para pengawal Sawerigading yang berbulu lebat sedang mandi. Utusan itu ketakukan saat melihat tampang mereka yang dikiranya “orang-orang biadab” dan mengira bahwa wujud Sawerigading serupa dengan mereka. Ia pun segera kembali ke istana untuk menyampaikan kabar tersebut kepada We Cudai. Mendengar kabar tersebut, We Cudai pun berniat untuk membatalkan pernikahannya dan mengembalikan semua mahar Sawerigading.

Sawerigading yang mendengar kabar buruk tersebut segera menghapus penyamarannya sebagai orang oro dan mengenaikan pakaian kebesarannya, lalu segera menghadap Raja Cina. Sesampainya di istana, ia pun segera menceritakan asal-usul dan maksud kedatangannya ke Negeri Cina.

“Ampun, Baginda Raja! Perkenalkan nama Ananda Sawerigading Putra Raja Luwu Batara Lattu’ dari Sulawesi Selatan. Ananda datang menghadap membawa amanat Ayahanda, dengan harapan sudilah kiranya Baginda menerima Ananda sebagai menantu Baginda,” ungkap Sawerigading.

“Hai, Anak Muda! Kamu jangan mengaku-ngaku! Apa buktinya bahwa kamu adalah putra dari saudaraku itu?” tanya Raja Cina.

Sawerigading pun segera memperlihatkan sehelai rambut, sebuah gelang dan cincin pemberian We Tenriabeng kepada Raja Cina seraya menceritakan semua kejadian yang dialaminya hingga ia bisa sampai ke Negeri Cina. Mendengar harapan dan permohonan saudaranya melalui keponakannya itu, Raja Cina terdiam sejenak, lalu berkata:

“Baiklah! Sekarang aku percaya bahwa kamu adalah keponakanku. Ayahandamu dulu pernah mengirim kabar kepadaku bahwa ia mempunyai anak kembar emas. Anaknya yang perempuan wajah dan perawakaannya serupa dengan putriku.”

Untuk lebih meyakinkan dirinya, Raja Cina segera memanggil putrinya untuk menghadap. Tak berapa lama, We Cudai pun datang dan duduk di samping ayahandanya. Saat melihat pemuda tampan yang duduk di hadapan ayahandanya, We Cudai tampak gugup dan hatinya tiba-tiba berdetak kencang. Rupanya, ia jatuh hati kepada pemuda itu yang tak lain adalah Sawerigading.

“Ada apa gerangan Ayahanda memanggil Ananda?” tanya We Cundai tertunduk malu-malu.

“Wahai Putriku, ketahuilah! Sesungguhnya orang yang melamarmu beberapa hari yang lalu ternyata sepupumu sendiri. Namanya Sawerigading. Ayahanda bersaudara dengan ayahnya. Tapi, untuk menyakinkan kebenaran ini, cobalah kamu cocokkan panjang rambut ini dengan panjang rambutmu dan pakailah gelang dan cincin ini!” pinta Raja Cina seraya memberikan sehelai rambut, sebuah gelang dan cincin itu kepada putrinya.

Setelah We Cudai mengenakan gelang dan cincin tersebut, maka semakin yakinlah Raja Cina bahwa Sawerigading benar-benar keponakannya. Gelang dan cincin tersebut semuanya cocok dikenakan oleh We Cudai. Begitu pula rambutnya sama panjangnya dengan rambut We Tenriabeng.

“Bagaimana, Putriku! Apakah kamu bersedia menerima kembali lamaran Sawerigading untuk mempererat tali persaudaraan kita dengan keluarga Sawerigading di Sulawesi Selatan?” tanya Raja Cina.

“Baik, Ayahanda! Jika Ayahanda merestui, Ananda bersedia menikah dengan Sawerigading. Ananda mohon maaf karena sebelumnya mengira Sawerigading bukan dari keluarga baik-baik,” jawab We Cudai malu-malu.

Betapa bahagianya perasaan Raja Cina mendengar jawaban putrinya itu. Demikian pula yang dirasakan Sawerigading karena lamarannya diterima. Dengan perasaan bahagia, ia segera kembali ke kapalnya untuk menyampaikan berita gembira itu kepada para pengawalnya dan memerintahkan mereka untuk mengangkat semua barang bawaan yang ada di perahu ke istana untuk keperluan pesta.  Tiga hari kemudian, pesta pernikahaan itu pun dilangsungkan dengan meriah. Segenap rakyat Negeri Cina turut berbahagia menyaksikan pesta pernikahan tersebut.

Setahun kemudian, Sawerigading dan We Cudai dikaruniai oleh seorang anak dan diberi nama La Galigo. Namun, bagi We Cudai, kebahagiaan tersebut terasa belum lengkap jika belum bertemu dengan mertuanya. Suatu hari, ia pun mengajak suaminya ke Sulawesi Selatan untuk mengunjungi mertuanya. Mulanya, Sawerigading menolak ajakan istrinya, karena ia sudah berjanji tidak ingin kembali ke kampung halamannya karena kecewa kepada kedua orang tuanya yang telah menolak keinginannya menikahi saudara kembarnya. Namun, karena istrinya terus mendesaknya, akhirnya ia pun menyetujuinya.
Keesokan harinya, berangkatlah sepasang suami istri itu bersama beberapa orang pengawal menuju Negeri Luwu. Akan tetapi, mereka tidak membawa serta putra mereka (La Galigo) karena masih bayi. Dalam perjalanan, Sawerigading bersama rombongannya kembali menemui banyak rintangan. Perahu yang mereka tumpangi hampir tenggelam di tengah laut karena dihantam badai dan gelombang besar. Berkat pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa, mereka pun selamat sampai di Nengeri Luwu.

Setelah bertahun-tahun lamanya Sawerigading bersama istrinya tinggal di Negeri Luwu terdengarlah kabar bahwa di Tanah Jawa berkembang ajaran agama Islam. Sawerigading pun segera memerintahkan pasukannya untuk memerangi ajaran tersebut. Namun apa yang terjadi setelah pasukannya tiba di Tanah Jawa? Rupanya, mereka bukannya memerangi penganut ajaran agama tersebut, tetapi justru berbalik memeluk agama Islam. Bahkan sebagian anggota pasukannya memutuskan untuk menetap di Tanah Jawa.

Sementara anggota pasukan lainnya kembali ke Negeri Luwu untuk melaporkan kabar tersebut kepada Sawerigading dan sekaligus mengajaknya untuk memeluk agama Islam. Karena kesal atas penghianatan pasukannya itu dan tidak ingin masuk agama Islam, Sawerigading bersama istrinya memutuskan untuk kembali ke Negeri Cina dan berjanji tidak ingin menginjakkan kaki lagi di Negeri Luwu. Dalam perjalanan pulang ke Negeri Cina, kapal yang mereka tumpangi karam di tengah laut. Konon, pasangan suami istri tersebut menjadi penguasa buriq liu atau peretiwi (dunia bawah laut).

Demikian cerita Sawerigading dari daerah Luwu, Sulawesi Selatan. Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah ganjaran yang diterima dari sifat tidak mudah putus asa. Sifat ini ditunjukkan oleh perilaku Sawerigading yang senantiasa tabah dalam menghadapi berbagai rintangan dan cobaan untuk mencapai keinginannya, yakni menikahi We Cudai yang berada di Negeri Cina.


Penulis : Admin

Sunday, 5 April 2020

'SIRI" DALAM POLA ASUH BUDAYA BUGIS.



Pola asuh yang diterapkan orang tua pada anak-anaknya sangat dipengaruhi adat dan budaya dari suku atau etnis darimana orang tua itu berasal. 

Salah satu contoh adalah suku Bugis, sebuah suku yang sejarahnya berasal dari Sulawesi Selatan. Namun kini menyebar ke Suawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan, dan wilayah lainnya. Seperti halnya di etnis-etnis lainnya, 

Seperti halnya di etnis-etnis lainnya, Suku Bugis. Suku Bugis juga mengenal sistem norma dan aturan adat yang disebut Pangaderreng. Dalam Pangaderreng itu, ada yang namanya konsep Siri atau keadaan tertimpa malu atau terhina. Dalam konteks pengasuhan, orang Bugis dimanapun selalu menegakkan budaya siri agar tidak tertimpa rasa malu dan terhina akibat dari perbuatannya. 

Budaya ‘siri’ yang ditekankan orang tua Suku Bugis itu menggugah anak agar tidak melakukan pelanggaran Ade’ atau hukum. Sementara nilai-nilai harga diri atau martabat menuntut seseorang untuk selalu patuh dan hormat pada kaidah-kaidah ade’ 

Karena itu, terhadap anak-anaknya, orang bugis sangat ketat mengajarkan soal keagamaan, kesetiaan memegang janji dan persahabatan, saling memaafkan, saling mengingatkan untuk berbuat kebajikan, tak segan saling memberi pertolongan/pengorbanan, dan memelihara ketertiban adat perkawinan. 

Konsep “siri” dalam pengasuhan terungkap dalam paseng atau nasehat yaitu roloi naptiroang, ritenggai naparaga-raga, rimunriwi napa ampiri (dari depan menjadi suri tauladan, di tengah aktif memberikan bantuan dan dari belakang aktif memberikan dukungan dan dorongan). 

Nilai-nilai Siri yang ditekankan orang tua di suku Bugis mencakup : 

Sipakatau, saling menghargai dan menghormati sesama manusia. 

Pesse, bermakna kesetiakawanan terhadap manusia. 

Parakai sirimu, perasaan tanggung jawab dan pengendalian diri 

Cappa lila, keterampilan berkomunikasi dan berdialog dengan penuh keterbukaan dan tutur kata yang santun 

Rupannamitaue dek naullei ripinra atau hanya wajah manusia yang tidak bisa diubah. Petuah ini bermakna percaya diri dan sikap optimisme terhadap peluang terjadinya perubahan pada diri manusia ke arah yang lebih baik. 

Sipatuo sipatokkong dan sipamali siparappe (saling mengembangkan dan saling menghidupkan) yang berimplikasi kepada saling membantu dan memahami orang lain. 

Pajjama (usaha dan kerja keras)mengandung makna kemandirian, sikap optomis dan dinamis menghadapi masa depan disertai ketekunan dan kerja keras. Getteng (ketegasan prinsip) mengandung makna kepercayaan diri, keberanian menanggung resiko dan adanya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. 






Penulis : Admin

Monday, 30 March 2020

PAPPASENG TO OGI'E




PAPPASENG BUGIS (ppes)

Pappaseng berasal dari kata dasar paseng yang berarti pesan yang harus dipegang sebagai amanat, berisi nasehat, dan merupakan wasiat yang perlu diketahui dan diindahkan. Pappaseng dalam bahasa Bugis mempunyai makna yang sama dengan wasiat dalam bahasa Indonesia. Pappaseng dapat pula diartikan pangaja’ yang bermakna nasihatyang berisi ajakan moral yang patut dituruti. 
Dalam tulisan punagi (1983:1) dinyatakan bahwa pappaseng adalah wasiat orang tua kepada anak cucunya (orang banyak) yang harus selalu diingat sehingga amanatnya perlu dipatuhi dan dilaksanakan atas rasa tanggung jawab.
Mattalitti (1980:5) juga mengemukakan bahwa pappaseng bermakna petunjuk-petunjuk dan nasihat dari nenek moyang orang bugis zaman dahulu untuk anak cucunya agar menjalani hidup dengan baik.
Jadi, pappaseng adalah wasiat orang-orang tua dahulu kepada anak cucunya (generasi berikutnya) yang berisi petunjuk, nasihat, dan amanat yang harus dipatuhi dan dilaksanakan agar dapat menjalani hidup dengan baik.

1.    Pappaseng yang berhubungan dengan kesetiaan
 a.    aEKtu mtu nmlEbo wnuwea. mCji alE lipuea msol lolGEeG. lENEni auG pnsea. msobuni lEPuea ripslni tujuea. tERipgEtE bEciea. siaeR bel tauew. siblublu sibEelbEela. nig riat aiyn riblu. ntuwoaini sErisEri dpurEeG. tEmduPu apiea. risElorE aluea. risepa ptpiea. aiyptu nttEp kErEn neRpi api adE tEmjuelkaiea pbtPulwE.

Engka tu matu namalebbo wanuwae. Mancaji ale’ lipue masola lolange’nge. Leceni unga panase. Masobuni lempue ripasalani tujue. Tenripagetteng bencie. Sianre bale tauwe. Sibalu balu sibelle bellea. Niga riataiyana ribalu. Natuwoini seri-seri dapurengnge. Temmadumpu apie. Riselore’ alue. Risapea patapie. Iyapatu natetepa kerena nanrepi api ide temajulekaie pabatampulaweng.

 b.    “Akan datang suatu masa kelak dimana negeri, ditimpa malapetaka, perkampungan menjadi hutan belantara, pergaulan bebas, nangka tak berputik (kebenaran yang tersembunyi), yang benar disalahkan, tak direntangkan alat pelurus (tak dilaksanakan aturan hukum) saling memakanlah orang seperti ikan (yang kuat dan besar memakan yang kecil), saling menjual, saling membeli, siapa yang kecil terkecoh, dialah yang dijual, dapur ditumbuhi rumput, api tak menyala, lesung ditelungkupkan, niru digantung. Nanilah tertimpa keramatnya adat, jika orang yang bersalah dimakan api adat (baru ada tertib hukum, jika orang yang melanggar hukum dijatuhi pidana)’’.

 c.    Keadaan masyarakat yang kacau balau ditimpa kelaparan dan wabah, dengki, dan perbuatan sewenang-wenang merajalela, pemimpin keadaan baru berubah jika orang-orang yang melanggar hukum benar-benar dijatuhi pidana sesuai dengan hukum yang berlaku. 

2.    Pappaseng yang berhubungan dengan keteguhan
 a.    tElu rial todo aiynritu gEtE. lEPu. n ad toGE.

Tellu riala todo iyanaritu getteng. Lempu. Na ada tongeng.

 b.    “Ada tiga hal yang dijadikan patokan yaitu : ketegasankejujuran, dan ucapan yang benar

 c.    Tidak mungkin ada keteguhan selama diliputi keragu-raguan, sedangkan keragu-raguan timbul diakibatkan oleh perbuatan yang tidak diyakini kebenarannya.

3.    Pappaseng yang berhubungan dengan keagamaan
 a.     aliRuko ri pua altal pua mrj adPE ri lino nEnia ri aehr.

Alinrungko ri puang alataala puang maraja madampeng ri lino nennia ri ahera’

 b.    “Berlindunglah kepada Tuhan, Tuham Maha pemberi ampun di dunia dan di akhirat”

 c.     Bertaubatlah kepada Tuhan, Tuhan pemberi ampun di dunia dan di akhirat. Ada beberapa pendahulu kita yang telah berupaya untuk melestarikan pappaseng ini, baik berupa penulisan kembali naskah pappaseng maupun berupa penelitian dan berbagai bentuk tulisan lainnya, seperti yang telah dilakukan oleh Mangemba(1956), Mattulada(1975); Amir, dkk.(1982), Rahim(1985),. Haddade (1986), Mattalitti, dkk.(1986), Punagi(1989),  Enre(1992), dan Said D.M. (1997). Beberapa tulisan itulah yang memberikan inspirasi kepada penulis menyajikan makalah ini untuk mengungkap nilai-nilai luhur yang terdapat dalam pappaseng yang dianggap masih relevan dengan kehidupan masyarakat Bugis hingga saat iniMeskipun demikian, pappaseng bukan hanya perlu dilestarikan dalam bentuk tulisan dan berbagai dokumen melainkan pappaseng itu perlu disosialisasikan, diajarkan, dan diimplemen-tasikan dalam berbagai aspek kehidupan.


4.    Pappaseng berhubungan dengan tingkah laku
 a.    aj mual wrPr nerko tniy wrPrmu
aj mual aju ripseR nerko tniy iko pseRai
aj mual aju riwEt wli nerk tnia iko Petai

Ajak muala waramparang narekko taniya waramparammu
Ajak muala aju ripasanre narekko tania iko pasanrei
Ajak muala aju riwetta wali narekko tania iko mpettai

 b.    Jangan mengambil barang-barang yang bukan milikmu
Jangan mengambil kayu yang disandarkan jika bukan engkau yang menyandarkannya
Jangan mengambil kayu yang ditetak ujung pangkalnya jika bukan engkau yang menetaknya

 c.    Pappaseng tersebut mengungkapkan kebiasaan orang kampung yang menyandar-nyandarkan  atau menetak kedua ujung kayu yang diambilnya di hutan sebagai tanda sudah berpemilik.


5.    Pappaseng tingkah laku
 a.     Naiy ponlEpuea tElu Rupai aiynritu.
esauw naiyp npoadai kdopi moleaGi.
mduan aiyp npogauai kdopi lurueaGi ri muRipi 
tauea.
mtElun tEneaeRkiea wrPr riplolo tenskrE adad mdiaolon.

“Naiyya ponnalempuq e tellu nrupai iyanaritu :
Seuwwa naiyyapa napoadai kadopi molaengi.
Madduana iyapa napogaui kadopi luruiengi, ri munripi tauwe.
Matelluna tennaenrekie waramparang ripaloloq, tennasakkareng ada-ada madiolonna.

 b.    Yang menjadi pangkal kejujuran ada tiga macam yaitu pertama dikatakan ya bila sanggup melaksanakannya.Kedua dilakukannya bila mampu menanggung resikonya. Ketiga tidak menerima bahan sogokan, tidak meyangkal terhadap kata-kata yang pernah diucapkan.

 c.     Pappaseng ini menjelaskan mengenai dasar kejujuran. Sifat-sifat yang dimiliki orang jujur, orang jujur tidak akan bias menyanggupi sesuatu apabila ia tidak dapat melaksanakannya, menanggung resikonya dan ia tidak akan pernah melupakan apa yang pernah dia katakan.


6.    Pappaseng tingkah laku
 a.     aj llo nslaiko ac sibw lEPu
naiyriasEea ac edgg msaus npogau
edto ad msaus nbli ad medec mlEmea
mtEpEki ri pdt ruptau
naiy riasEeG lEPu mkEsiGii gaun
ptujuai nwnwn medec aeP aePn
nemtau riedwtea

Ajaq nasalaiko acca sibawa lempuq
naiya riasenge acca degaga masaussa napogauk
de`to ada masaussa nabali ada madeceng malem-mak e
mtepekki ri padana rupatau
naiya riasenge lempuq makessingi gaukna
patujui nawa nawana madeceng ampe-ampena
nametau ridewatae.

 b.    Jangan ditinggalkan oleh keckapan dan kejujuran
Yang dinamakan cakap, tidak ada yang sulit dilaksanakan
Tidak ada juga pembicaraan yang sulit disambut dengan kata-kata yang baik serta lemah lembut, percaya kepada sesama manusia
Yang dinamakan jujur, perbuatannya baik, 
dan takut kepada Tuhan

 c.     Dalam pappaseng tersebut dijelaskan bahwa kecakapan dan kejujuran sebaiknya seiring dan saling menunjang. Kecakapan tanpa kejujuran ibarat kapal tanpa nahkoda, sedangkan kejujuran tnpa kecakapan ibarat nahkoda tanpa kapal. 

7.    Pappaseng mengenai kejujuran dan kesucian
 a.    duwmi riyl spo auGn pnsaE sibw bElo knukuea. (duwmi riyl spo lEPuea sibw pcieG)

Duwami riyala sappo ungana panasae sibawa belo kanuku’e (Duwami riyala sappo lempu’e sibawa paccing’e).

 b.    Dua yang dijadikan pagar yaitu kejujuran dan kesucian.

 c.    Ungana panasae (lempu’e) artinya bunga nangka, yang dijadikan simbol kejujuran orang Bugis dan belo kanuku’e (paccing’e) artinya hiasan kuku yang dijadikan simbol kesucian orang Bugis. Pagar diri sebenarnya sudah cukup bila iya memiliki keduanya, yaitu dapat memelihara sifat jujur dan perbuatanya bersih dari noda dan pelanggaran. 
Menurut masyarakat Bugis malempu maksudnya makkebolai ada tongenge ri alena naiyya sampoengngi ada tongengnge belewe. Artinya jujur itu adalah terdapatnya perkataan benar dalam diri seseorang dan yang merusak kejujuran adalah perkataan dusta, atau sifat yang suka berkata bohong. Sedangkan paccing itu terdiri dari empat jenis, yaitu (1) paccing pangkaukeng, yaitu suci dalam tindakan dan perbuatan (2) paccing ateka’ (ati) yaitu suci hati dari nilai-nilai buruk (3) paccing watakkale, yaitu bersih anggot badan dari kotoran atau bau yang tidak enak (4) paccing lila, yaitu bersih lidahnya dari perkataan buruk. Ini menandakan bahwa masyarakat Bugis sungguh sangat menyukai kejujuran dan kesucian dan berharap berada di dalam suasana itu terus menerus.


8.    Pappaseng yang berhubungan dengan etos kerja
 a.    aiiyp nrisE mukuruai sEwaE jmjm nrEko purni rilloai.

Iyyapa narisseng mukkurui sewwae jama-jamang narekko purani rilaloi.

b.      Kita baru dapat mengetahui tingkat atau mengukur kedalaman dan luasnya suatu pekerjaan, apabila kita sudah melakukan atau melaluinya.

c.        Ini salah satu pappaseng orang bugis yang kalau dimaknai kurang lebihnya sebagai berikut:
Sulit tidaknya sebuah pekerjaan ataupun suatu usaha baru dapat diketahui jika telah pernah kita kerjakan atau alami.Orang bugis terkenal jiwa pelautnya, mereka melanglang buana ke seluruh penjuru dunia tidak ada rasa takut dan tidak ada istilah mundur sebelum mencoba. Dalamnya laut, luasnya samudra buka hal yang harus ditakuti tetapi memanfaatkan untuk mencapai tujuan pelayarannya.
Terkadang dalam memulai suatu usaha atau kegiatan akan muncul keraguan, biasanya akan ada bisikan “jangan-jangan!, Kalau gagal gimana, Kalau ini itu!, Sulit itu, Nggak mungkin” yang menyebabkan kita tidak berani mengambil langkah. Akhirnya terkadang peluang yang sudah ada akan berlalu begitu saja.


9.    Pappaseng berbicara
 a.    aj mumtEbE ad ap aiytu adE meag bEtuwn. muatutuaiwi lilmu, ap aiy lilea pewerewer

Ajak mumatebbe ada apak iyatu ade maega bettuwanna. Muatutuiwi lilamu, apak iya lilae pawere-were

 b.    Jangan banyak bicara, sebab bicara itu banyak artinya, jagalah lidahmu, sebab lidah itu pengiris-ngiris

 c.    Bicara banyak menimbulkan hal:
1.               Memburukkan yang baik dan menyalahkan yang benar. Sebaliknya dapat pula membaikkan yang buruk dan membenarkan yang salah.
1.                 Lebih memburukkan yang buruk lebh dan lebih menyalahkan yang salah. Demikan pula sebaliknya.
1.                 Menimbulkan perbedaan pengertian akibat salah tanggapan.
Lilae onronna racungnge sibawa tampa e, artinya lidah adalah tempatnya racun dan penawar. Itulah sebabnya lidah perlu dijaga, karena tergantung kearah mana hendak dibawa. 


10.    Pappaseng pekerjaan
 a.    aj mumealo nbet makl ricpn lteG

Ajak mumaelo nabetta makkala ricappakna latengnge

 b.    Jangan mau didahului menginjakkan kaki di ujung titian

 c.    Pada umumnya titian dapat dilalui seseorang saja, aka siapa yang terdahulu menginjakkan kaki di ujungnya dialah yang berhak meniti lebih dahulu; artinya bertindak mendahuui orang lain. bertindak cepat dengan penuh keberanian mengandung risiko yang besar, tetapi tidak ada kebesaran tanpa perbuatan besar dan tidak ada perbuatan tanpa resiko yang besar. Selain dari itu langkah pertama menuju sukses, ialah menciptakan sesuatu yang baru. 

11.    Pappaseng mengejar cita-cita
 a.    aj mauGowai aoRo, aj to muacinai teR tudeG, edtumuel ai pdE cEGitn. Risppo muaoPE, rijElo pomuaekGau.

Ajak muangowai onrong, ajak to muacinnai tanre tudangeng, dektumulle I pade cengitana. Risappapo muompe, rijellok pomuakke’ngau.

 b.    Janganlah menyerahkan kedudukan. Jangan pula terlalu menginginkan jabatan tinggi. Kamu takkan sanggup memperbaiki negara. Kalau dicari baru akan mucul. Kalau ditunjuk baru kamu megaku (menerima).

 c.    Pada dasarnya semua orang mencita-citakan kedudukan atau jabatan tinggi, tetapi takdir dan kesempatan membawanya kearah lain. tetapi manakalah serakahannya menjadi titik tolak suatu cita-cita maka dalam perjalanan menuju cita-cita itu unsur moral akan dikesampingkan, lebih-lebih lagi kalau ditunjangkan oleh keluasan. Sebaliknya seseorang yang bertingkah baik pada umunya mempunyai harga diri. Oleh sebab itu ia tidak akan mengemis jabatan dengan mengorbangkan harga dirinya. 


12.    Pappaseng kejujuran sebagai penghormatan terhadap hak orang Lain
 a.    aj mual aju ripseR nerko tniy aiko pseRk ai

Ajak muala aju ripasanre narekko taniya iko pasanrek i

 b.    Jangan mengambil kayu yang disandarkan jika bukan engkau yang   menyandarkan.

 c.    Sebatang kayu tidak mungkin sandar sendiri apabila tidak ada orang yang menyandarkannya. seruan tersebut menyiratkan pappaseng mengenai ajaran untuk menghormati hak orang lain disamping mengetahui hak sendiri. Pappaseng tersebut merupakan perwujudan dari nilai kejujuran. Kejujuran tidak boleh dianggap biasa, bahkan disepelekan dalam kehidupan bermasyarakat. Kejujuran hendaknya senantiasa dilestarikan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu penyebab terjadinya ketidakseimbangan dalam masyarakat adalah tidak diaplikasikannya nilai-nilai kejujuran itu. Padahal berlaku jujur merupakan suatu keharusan bagi setiap individu. Kasus seperti bank Century dan adanya makelar kasus serta kasus-kasus yang lain yang menerpa negeri ini salah satu penyebabnya adalah karena nilai-nilai kejujuran itu tidak difungsikan lagi, sulit dibedakan yang mana hak orang lain dan mana milik pribadi. Nilai-nilai pappaseng tidak dapat menjadi kendali bagi para pelakunya karena tidak dijadikan sebagai pedoman hidup. Dengan demikian, nilai-nilai pappaseng alempureng perlu dimasyarakatkan kembali bukan hanya pada masyarakat Bugis, melainkan pada seluruh masyarakat Indonesia.  Oleh karena itu, wahai masyarakat Indonesia mari kita menjadikan Pappaseng alempureng sebagai pedoman hidup dan mengamalkannya, sehingga dapat menjadi kendali dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.        


13.    Pappaseng kejujuran sebagai benteng kehidupan   
 a.    duwai kual spo auNn pnsea neblo knukuea

Duwai kuala sappo, unganna panasae nabelo kanukue

 b.    Ada dua kujadikan pagar, kembang nangka dan penghias kuku   

 c.    Kembang nangka dalam masyarakat Bugis dinamakan lempu, artinya jujur, Adapun penghias kuku dalam masyarakat Bugis dinamakan pacci yang mirip bunyinya dengan kata paccing artinya bersih (suci). Sehubungan dengan hal tersebut, dalam masyarakat Bugis, kejujuran dan kesucian jiwa seseorang dapat dijadikan benteng dan penghias kehidupan, sehingga seseorang tampak kaya dengan budi pekerti yang luhur. Nilai kejujuran itu hendaknya dapat dimiliki oleh setiap orang, karena kejujuran merupakan benteng kehidupan dan kesucian merupakan pancaran kalbu yang teraplikasi melalui kejujuran. Orang yang jujur tidak mudah terpengaruh untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya. Dengan demikian, kejujuran dapat menjadi kendali dalam kehidupan seseorang.    


14.    Pappaseng perjalanan
 a.     nerko loko mkai aejmu                                          
lEtupo riaoRo mu                                                          
np muak aejmu.                                                              
pedecGi pePn Nwmu.                                                     
mgElo mnEpi tpn tau ea mitko                                                  
np mEed. 
                                                                                                                                                                          Narekko loko makkai ajemu
                        lettupo rionrong mu 
                        nappa muakka ajemu.
                        padecengi rampena nyawamu,
                        magello maneppi tappana tau e mitako
                        nappa medde’. 

 b.    Jika ingin mengangkatkan kaki                                                                                            
hendaknya sampai tempat tujuan                                                                                                       
baru mengangkatkan kaki.                                                                                 
Perbaikilah perasaanmu,                                                                                                            
jika orang sudah baik terhadapmu                                                                           
barulah berangkat.

 c.     Jika ingin bepergian, hendaknya perasaan kita lebih dahulu sampai lalu melihat suasana yang ingin kita kunjungi baru berangkat. Memperbaiki perasaan kita, apabila kita merasa orang sudah baik terhadap kita, barulah kita berangkat. 


15.    Pappaseng mengenai keberanian 
 a.    nerko moloaiko musu. aj muemtau mmesaiwi tobrniea msuro nerwE. nsb erko sidupai blit npgKni ritu ekdon tobrniea. naiy tommusuea. nwnw mlEPu sibw ac. aiytonritu plePri suGE.

Narekko moloiko musu, aja mume’tau mamase’iwi tobaranie masuro nare’we. Nasaba rekko siduppai balina napagankani ritu kedona tobaranie, naiya tomamusue. Nawanawa malempu sibawa acca, iyatonaritu palamperi sunge.

 b.    “Jika engkau menghadapi perang, janganlah ragu-ragu mengasihani orang berani yang memohon belas kasihan. Sebab dalam peperangan itu pemberani akan beringas menghadapi musuh, padahal kunci kemenangan dalam peperangan adalah keyakinan yang jujur, dan tekad baik yang dibarengi kepintaran.”

 c.    Orang yang bertempur di medan perang, tidak semata-mata mengejar kemenangan. Jika bisa untuk memperoleh kemenangan sudah menguasai seluruh pikiran seorang pemberani di medan peperangan, maka ia akan bertindak kejam dan berusaha menghabisi semua musuhnya. Tindakan seperti ini bukanlah ksatria. Oleh karena itu, seorang pemberani haruslah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan senantiasa memadukan keyakinan dan kejujuran. Orang yang memiliki keberanian adalah orang yang tak gentar melakukan pekerjaan baik yang sulit maupun yang mudah, ia mengucapkan perkataan kasar maupun lemah lembut, ia berani memutuskan perkara yang sulit maupun yang mudah sesuai dengan kebenaran, ia berani mengingatkan serta menasehati para pembesar maupun orang awam, sesuai dengan kemampuan dan ia juga berani membuat penyampaian, baik yang menyangkut, kebaikan maupun kejahatan menurut wajarnya


16.    Pappaseng yang berhubungan dengan siri’
 a.    nerko sirin nrRE tERitEeRGin nrieaw.

Narekko sirina narampe temritemrengina nariewa.

 b.    “kalau harga diri yang disinggung tanpa tanggapan langsung dilawan.

 c.    Apabila harga diri yang dibicarakan maka tak ada jalan lain kecuali harus dihadapi tanpa mempertimbangkan risiko yang akan diterima, itulah pappaseng yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Bugis. Untuk menangkal siri’ dari berbagai ancaman, kita perlu mawas diri serta senantiasa berbuat kebajikan kepada sesama manusia. Meskipun demikian, kejadian yang tidak menyenangkan biasa muncul dengan tiba-tiba dan tak ada daya untuk menghindarinya.

17.    Pappaseng mengenai kebenaran
 a.    pl aurgea. etbek toGEGE. etcau meagea. etsieaw  situllE.

Pala uragae, tebbakke tongengge, teccau maegae, tessiewa situla’e.

 b.    Tipu daya mungkin berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran tak   termusnahkan, kebenaran tetap akan hidup dan bersinar terus di dalam kalbu manusia.

 c.    Karena sumber kebenaran datangnya dari Tuhan.  Yang sedikit  mungkin mengalahkan yang banyak untuk sementara karena kekuatan. Akan tetapi yang banyak tidak dapat diabaikan atau dimusnahkan. Yang banyak saja sudah satu kekuatan apalagi yang banyak membina kekuatan.tidak mungkin matahari tenggelam di siang hari, seperti tidak mungkinnya memusnahkan kebenaran .



Penilis : Admin