Meonglalo Karellae adalah
tokoh protagonis dalam epos “Meong Mpalo”. Ia dideskripsikan sebagai seekor
kucing yang setia mengikuti tuannya We Oddang Riu, putri Batara
Guru, dalam petualangannya sejak turun ke bumi (Pertiwi). Meski digambarkan
sebagai seekor kucing, namun Meonglalo Karellae bukanlah
seekor kucing biasa. Ia adalah kucing jelmaan dari ibu susuan
(Inannyumparenna) We Oddang Riu, jadi ia memang “pengasuh” sang
putri We Oddang Riu.
Nama We Oddang Riu memang
hanya dikenal pada epos La Galigo, tetapi dalam
petualangannya di epos lain yang masih merupakan bagian dari cerita I
La Galigo, yaitu serat (pau-paunna) “Meonglalo Karellae” We
Oddang Riu telah menggunakan nama lain, yaitu “Sangiasseri”
(dikenal sebagai Dewi Padi). Dalam versi lain ada pula diceritrakan bahwa
setelah putri We Oddang Riu meninggal dunia dan dikuburkan di
bumi maka di atas kuburannya tumbuh dua jenis tumbuhan yang berbeda. Yang satu
berdaun lebat dengan tangkai dan bulir-bulir buah yang kuning dan indah
bergoyang-goyang diterpa angin yang kelak dinamai padi, dan yang lain tumbuh
subur dengan daun yang menari-nari diterpa angin tetapi tidak memiliki buah
yang kelak dikenal sebagai rumput ilalang. Karena itulah ada ungkapan
mengatakan “padi ditanam tumbuh ilalang” karena memang keduanya merupakan
tanaman kembar tapi masing-masing memiliki karakter yang berbeda dan memberi
manfaat yang berbeda pula bagi manusia.
Sangiasseri dan Meong Mpalo
Nama Sangiasseri (dalam
cerita melayu dikenal pula mitologi Sang Hyang Sri, apakah ada
hubungannya ?) kemudian lebih dikenal sebagai dewi padi dalam mitos “Meonglalo
Karellae”. Pada mitos itu diceritrakan pengembaraan Sangiasseri bersama
“joa” nya (pengikutnya) turun ke bumi, ke negeri-negeri Bugis untuk mencari
“ade’ pangngampe madecengge” (tatanan kehidupan dan prilaku yang baik).
Ayahanda We Oddang Riu (Sangiasseri)
yaitu Batara Guru adalah putra tertua dari To Patoto (Sang
Pengatur Takdir), yang digelari pula sebagai To Palanroe (Sang Pencipta). Ia
digambarkan sebagai mahadewa yang berkuasa di Boting
Langi. Bersama Datu Palinge (Wanita Sang Pencipta) mereka
diutus turun ke Pertiwi (bumi) setelah para pemangku kekuasaan
yang lain (para keluarga besar mahadewa) di Boting Langi (langit)
melakukan musyawarah. Batara Guru bersama Datu Palinge diutus
ke Pertiwi (bumi) untuk menegakkan “tiang bumi” yang ketika itu masih kacau
balau, sehingga dapat didiami oleh manusia kelak.
Tapi dengan alasan bahwa Batara
Guru sebagai sebagai pencipta tidak boleh tinggal di bumi, maka misi
suci ini kemudian dijalankan oleh kakak lelaki kembar ibunya –mahadewa
dari dunia bawah—bernama Guru ri Sa’lang dan istrinya dari
saudari kembar Patotoe yang bernama Sinau Toja (dinaungi
oleh air) dan anak perempuan mereka yang bernama We Nyili Timo To Ompoe
Ri Busa Empong (yaitu orang yang muncul dari buih gelombang).
Merekalah yang dikirim ke bumi untuk menciptakan kedamaian sehingga bumi dapat
menjadi tempat tinggal yang aman bagi para manusia.
Adapun Batara Guru dengan
pengiringnya memang kemudian turun pula ke bumi tapi melalui jembatan pelangi
yang menghubungkan langit dengan serumpun bambu. Sedang We Nyili Timo dengan
rombongannya muncul dari buih-buih ombak di lautan. Kedua tim ini memang sempat
bertemu di bumi dan tempat pertemuan mereka disinyalir di seputar daerah Luwu
yang pada waktu itu dinamai Wara’. Dari sinilah peradaban menyebar selanjutnya
ke seluruh Sulawesi, dan bahkan keluar negeri, (Tafsir Morris,2007:5-7).
Pada episode lain pertemuan ini
diceritakan bahwa pada suatu hari Batara Guru termenung dan
melepaskan pandangan ke arah matahari terbit. Tiba-tiba dilihatnya di sebelah
timur datang sebuah sinar menerangi lautan, laksana bara api memercik-mercik
berkilau-kilau di permukaan laut terhampar. Maka berkatalah Manurunge (Batara
Guru) pada “joa” nya :
”Apakah itu, wahai We Senriu,
wahai We Lele-Ellung, wahai Apputalaga ? Saya melihat ada sinar bagai api
menyala-nyala di atas samudera?”
Belum lepas pertanyaan Manurunge,
muncullah We Nyili’ Timo di atas air (Busa empong), di
elu-elukan oleh cahaya cemerlang laut terhampar. Manurunge terpesona.
Dan dengan penuh rasa gembira, Manurunnge pun melihat
kedatangan sepupunya, teroleng-oleng di atas lautan, maka bersabdalah Batara
Guru :
“Terberangkatilah engkau semua
putera-puteri dewata, menerangi, menyonsong kedatangan Datu junjunganmu!”
Pada epos La Galigo diceritakan
pertemuan ini sebagai berikut :
“Maka sekalian anak Datu sama
melompat berenang, menyonsong Datu junjungannya. Seolah-olah madu tergenang
dalam hati Batara Guru memandang sepupunya, menyuruh angkat naik ke pantai, dan
mengundang masuk istana. Pada saat itu, lupalah Batara Guru kehidupan di
Botillangi (dunia atas) setelah bergaul dengan sepupunya sebagai suami-isteri.
Mereka senantiasa duduk bersanding, menikmati kipasan angin dari kipas emas
kemilau. Sesudah tiga bulan lamanya, We Nyili’timo berdiam diatas bumi, ia pun
mengidamlah. Tak enak perasaannya, tidak ada barang sesuatu yang dapat diterima
oleh perutnya. Pada suatu hari yang cerah, kedua suami-isteri melepaskan
pandangan melewati jendela istana. Wenyili’timo pun memandang burung-burung
beterbangan. Di antaranya burung-burung itu terlihat seekor yang menerbangkan
buah nangka di paruhnya, ada yang menerbangkan pepaya masak dan pisang. We
Nyili’timo’ pun menyeru, memanggil burung-burung itu dan berkata :”Bawaan
burung-burung itu tak akan memabokkan, karenanya ingin saya memakannya”.
Kelahiran We Oddang Riu
Episode yang menceritrakan We
Oddang Riu yang kelak dikenal bernama Sangiasseri itu
adalah sebagai berikut:
“Tepat ketika matahari
bersemayam di tengah-tengah langit, bayang-bayang tak condong ke barat ataupun
ke timur, maka diulurkanlah turun Puang ri Lae-lae yang tinggal di lereng
gunung Latimojong, diulur juga I We Ampang Langi’, yang akan menjadi dukun
beranak di istana. Sesudah tujuh bulan kandungan We Nyili’timo’, bersalinlah ia
seorang puteri, diberinya nama We Oddang-Riu’. Tetapi tujuh hari saja usia
puteri itu, terseranglah ia penyakit perut yang menyebabkan kematiannya. Maka
dicarinya hutan untuk tempat menyimpannya, tempat yang akan dijadikan
kuburannya. Setelah tiga malam meninggalnya We Oddang Riu’, datanglah kerinduan
dalam hati Manurunnge kepada almarhumah puterinya. Ia pun keluar menuju kuburan
puteri tercinta. Tetapi apa yang dijumpainya hanyalah padi menguning. Itulah
Sangiangserri. Ada yang putih, ada yang hitam, ada yang merah memenuhi padang,
meliputi daratan, memenuhi parit-parit. Maka dibawanya Sangiangseri itu pulang
ke istananya.
Maka berkatalah To PalanroE
(Lapatotoe) di Botillangi’ kepada puteranya : ”Hai anakku itulah puterimu yang
menjelma menjadi sangiangseri”. Tetapi janganlah engkau memakannya dulu.
Nantilah setelah lewat beberapa tahun, setelah engkau telah melupakannya,
barulah engkau memakannya. Sebelumnya makanlah jagung”.
(Mattulada;1985:395-396).
Tatkala Sangiangseri (Dewi
Padi) yang merupakan jelmaan putri We Oddang Riu ini merasa
tidak lagi dihargai oleh orang-orang Luwu, ia tidak lagi di tempatkan pada
singgasananya, penduduk tidak lagi mematuhi petuah dan pantangan dan
larangan-larangannya, ia pun dimakan tikus pada malam hari, di totok ayam pada
siang hari, dan Meongmpalo Karellae yang mengawalnya mendapat
disiksaan pula oleh manusia. Maka Sangiasseri pun sepakat
dengan Meongmpalo Karellae dan pengawal-pengawalnya yang lain
untuk pergi mengembara (Sompe) ke negeri-negeri Bugis lainnya. Mereka bersama
rombongan meninggalkan Luwu.
Diceritrakan dalam epos “Meongmpalo
Karellae” bahwa dalam pengembaraan itu, mula-mula Sangiangseri dan
rombongan tiba di Enrekang, lalu terdampar di Maiwa (Duri), kemudian
berturut-turut ke Soppeng, Langkemme, terus ke Kessi, Watu, Lisu, sampai
akhirnya tiba di Barru. Perjalanan panjang dari Enrekang sampai ke Lisu ini,
penuh dengan tantangan dan penderitaan, sikap dan perlakuan orang-orang yang
tidak senonoh. Sang pengawal Meongmpalo Karellae disiksa
habis-habisan, mereka kelaparan, kehausan, dan kepanasan menimpanya pada siang
hari, dan kedinginan pada malam hari. Diceritrakan di awal epos “Meongmpalo
Karellae” sebagai berikut:
“Passaleng pannesaengngi
iyanae galigona Meongmpalo karellae/rampe-rampenna cokie/iyanaro
napoada/Meongpalo makerek e/iya monrokku ri Tempe/mabbanuaku ri Wage/mauni
balanak kuanre/mau bete kulariang/tengngina ku ripassia./Sabbaraki na
malabo/puangku punna bolae./Natunaimana langi/nateaiya dewata/manai ri rua
lette/ri awa peretiwi/kuripaenre ri Soppeng/ku tatteppa ri Bulu/kutatteppa ri
Lamuru/pole pasa e puangku/napoleang ceppe-ceppe/kuwalluruna sitta e//dappinna
ro battowae/napppekka tonrong bangkung/puangku punna bolae/sala mareppak
ulukku/sala tattere coccokku/sala tappessik matakku/mallala majasuloku/kulari
tapposo-poso/kulettu’na ri Enrekang/takkadapi ri Maiya/ukutikna dekke
nanre/kugareppu buku bale/kurirempek si sakkaleng/kulari mua maccekkeng/ri
papenna dapureng ede/napeppek sika pabberung/ puakku tomannasue/urek-urek
marennikku/ sining lappa-lappku./Upabbalobo manenni/ jenne uwae matakku/ulari
mangessu-essu/makkipeddikengngi ulukku./Kularisi makkacuruk riyawa dapureng
ede/narorosika ro aju/puakku to mannasue/kumabuang ri tanae/napatitisikka asu/marukka
wampang tauwe/orowane makkunrai./Kularina maccekkeng/ri lebok palungeng
ede/napeppesika ronnang alu/puakku pannampu ede//”
Tetapi ketika rombongan
pengembara ini sudah tiba di Barru, mereka menemukan sesuatu yang lain, sesuatu
“panggadereng” (Ade Panggampe). Sangiangserri (Sanghyangsri) dan rombongannya
mendapat sambutan yang hangat, dijamu sebagai tamu dan dapat beristirahat
dengan enak di Rakkiyang (tempat penyimpnan padi pada bagian
atas rumah Bugis). Sifat ramah-tamah msyarakat Barru, keadilan dan
kebijaksanaan penguasanya ketika itu, membuat Sangiangserri dan rombongannya
menjadi betah tinggal di Barru.
Diceritrakan pada bagian lain
epos “Meong Mpalo Karellae” sebagai berikut :
“/Mappenedding maneng
mua/urek-urek marajana/Datunna Sangiasseri/nadapina pekka laleng/mattuju lao ri
Berru/nasessu sompa makkeda/sining ase maegae/pegana puang mattuju/iyaga puang
riola/mattuju ede ri Berru/Mabbali ada makkeda/Datunna Sangiasseri/ia madeceng
rioloa/mattuju ede ri Berru/naiyana taleppangi/bolana pabbicarae/jennangiengngi
ri Berru/bara iya kionroi/namamase peretiwi/rianrini talolongeng/situju
nawa-nawae/sabbara mappesonae/musu’i nappesunna/makka i sai samona.”
Di Barru Sangiasseri telah
menemukan apa yang dicarinya, yaitu “Ade Panggampe”. Sayang sekali Sangiangseri sudah
terlalu letih, lelah, dan sedih mengingat suka duka perjalanannya, dan
sifat-sifat anak manusia yang ditemuinya, sehingga ia bertekad untuk
meninggalkan bumi, untuk “moksa” kembali ke langit menyusul kedua orang tuanya
yang ketika itu sudah kembali bertahta di Boting Langi (Kerajaan
Langit).
Tetapi daulat langit tak
mengizinkan Sangiasseri tinggal di sana. Kedua orang tuanya
menolak Sangiasseri bersama rombongannya untuk tinggal
di Boting Langi karena mereka sudah ditakdirkan untuk tinggal
di bumi (pertiwi) untuk memberi kehidupan kepada umat manusia. Mereka pun
terpaksa kembali ke bumi dan bumi yang ditujunya sebagai tempat bermukim adalah
bumi Barru.
Diceritrakan tujuh hari tujuh
malam sesudah Sangiangseri tiba di Barru, barulah ia
memberikan petunjuk-petunjuk, petuah-petuah, nasehat-nasehat, serta
pantangan-pantangan, khususnya yang berhubungan dengan norma-norma kehidupan
bagi masyarakat Bugis dan masalah-masalah bercocok tanam. Tatanan itu dalam
masyarakat Bugis diwujudkan dalam berbagai ritual seperti upacara ritual Mappalili,
upacara ritual Maddoja Bine, dan upacara ritual Mappadendang sebagai
rangkaian upacara “turun sawah”.
Prosesi Maddoja Bine
Di atas sudah disebutkan bahwa “Meongmpalo
Karellae” sebagai penjaga Sangiasseri (Dewi Padi) maka
sudah pastilah epos “Meongmpalo Karellae” memiliki makna tersendiri bagi
masyarakat Bugis. Ia menjadi “kitab yang disucikan”. Karena itu berdasarkan
kepercayaan masyarakat Bugis membaca epos ini tidak boleh dilakukan di
sembarang tempat. Nilai-nilai “mitis” yang bersumber dari epos La
Galigo yang diyakini oleh masyarakat Bugis dahulu sebagai sejarah
asal-usul manusia Bugis, menjadikannya sebagai “kitab suci” yang dibaca pada
tiap upacara ritual “Mappalili”, “Maddoja Bine” dan “Mappadendang”.
Pembacanya pun bukanlah orang-orang sembarangan, tetap dilakukan oleh para
“Bissu” (laki-laki transvertites yang dianggap sebagai pendeta agama Bugis)
atau orang-orang tertentu yang memang mahir dalam pembacaan “Meongmpalo”
yang disebut “Passure”.
Budayawan Andi Ahmad Saransi
mengatakan “Galigo Meong Mpalo KarellaE yang sampai saat ini masih kental di
hormati warga dalam kegiatan Maddoja Bine (Begadang Beni-red) di mana dalam
kegiatan ini adalah suatu kegiatan warga dalam menyiapkan penyemaian benih
padi. Semalam atau bahkan tiga malam suntuk masyarakat melakukan kegiatan
Maddoja Bine atau menunggu Bibit Benih Padi yang akan di semai.”
Dalam Maddoja Bine ini,
kata Ahmad Saransi, warga begadang sambil membaca epos atau kisah Meong Mpalo
KarellaE. Yang mana Meong Mpalo KarellaE ini di yakini merupakan penjelmaan
Sangiasseri yang menjaga benih padi agar tetap baik saat diperam di rumah,
maupun setelah disebar di sawah nantinya.”
Upacara ritual Maddoja
Bine dilakukan dengan dengan serangkaian kegiatan yang dimulai ketika
sawah sudah siap ditanami. Benih padi dimasukkan ke dalam wadah yang disebut
“Baka” (Semacam tas dari anyaman daun bambu”. Setelah itu direndam di sungai
atau di telaga-telaga kecil yang berair. Setelah benih direndam benih-benih
dalam wadahnya itu diperam di atas rumah mengelilingi tiang tengah rumah.
Benih-benih itu ditumpuk menggunung dan dibungkus dengan karung atau terpal
atas pembungkus lainnya. Pemeraman ini dilakukan hingga tiga hari saat
diperkirakan benih tersebut sudah pecah dan tunas-tunas mudanya sudah mulai
muncul.
Selama pemeraman inilah upacara
ritual “maddoja bine” dilakukan. Rangkaian upacara ritual itu dimulai dengan “ma’barazanji”
pada awal malam, biasanya lepas shalat Magrib. Seterusnya, setelah acara “Ma’barazanji”
selesai dan para tamu sebagian sudah pulang dan sebagian lagi yang ingin
mengikuti ritual berikutnya, yaitu pembacaan “Meong Mpalo Karellae”
masih boleh tinggal “begadang” hingga tengah malam. Karena itulah acara ini
disebut “Maddoja Bine”. Maddoja artinya begadang
dan Bine artinya benih padi. Jadi “Maddoja Beni” secara
harafiah sesungguhnya berarti “Begadang menunggu benih padi”.
Pembacaan epos “Meong Palo
Karellae” dilantunkan oleh “Passure” setelah lepas Isya hingga
tengah malam. Alunan-alunan nada dalam massure ini demikian sakral sehingga
orang-orang yang mendungarkannya ikut hanyut dalam kisah Meong Mpalo yang
menyedihkan itu. Tak sedikit pendengar yang sampai meneteskan air mata
mendengarkan perlakuan kejam manusia terhadap Meongmpalo Karellae yang
diyakini sebagai penjaga Sangiasseri itu.
Makna Harmonisasi
Makna penting epos “Meongmpalo
Karellae” (sering juga disebut Meongpalo Bolongnge) memang
tidak hanya pada kisat tragedi yang dialami oleh protagonis Meongmpalo
Karellae, tapi juga terutama harmonisasi kehidupan. Di Sulawesi Selatan, kata
Prof. Dr. Nurhayati Rahman, M.Hum, tatanan kehidupan manusia telah diaturdalam
berbagai peninggalan nenek moyang mereka baik yang tertulis maupun lisan. Salah
satu di antaranya adalah naskah Meongpalo Bolongnge (=Meongmpalo Karellae-BA).”
Selanjutnya Nurhayati Rahman mengatakan :
“Naskah Meongmpalo Bolongnge
menggambarkan seluruh komponen alam, baik tumbuh-tumbuhan, binatang, hujan,
guntur, kilat, angin, pelangi, langit, bumi, laut dan sebagainya mempunyai
kehidupan yang setara dengan mahluk-mahluk yang lain. Mereka juga mempunyai perasaan,
pikiran, naluri dan kebebasan untuk berekspresi, melawan ketika diperlakukan
tidak adil, tak ubahnya dengan apa yang dimiliki manusia. Itulah sebabnya
sehingga tokoh-tokoh yang ada dalam naskah Meong Mpalo Bolongnge ini pada
umumnya diperankan oleh alam itu sendiri namun mempunyai karakter atau
perwatakan tak ubahnya dengan manusia.” (Nurhayati Rahman, 2012).
Memang tidak sedikit makna yang
dapat dipetik dari epos “Meongmpalo Karellae” yang dapat menjadi
tuntunan dalam kehidupan nyata masyarakat, khususnya pada masyarakat Bugis.
Harmonisasi kehidupan dengan alam, sesama manusia dan dengan Sang Pencipta
dituturkan secara tersirat maupun tersurat. Apalagi dengan menyakini bahwa “Meongmpalo
Karellae” bukanlah bukanlah sebuah kisah narasi atau fiksi biasa yang
disusun oleh seorang pujangga, melainkan sebuah kitab “kanon” (kitab yang
berisi ajaran-ajaran adiluhung), sehingga penulisnya pun hiangga saat ini masih
anonim atau belum diketahui. Apakah I Lagaligo dan Meongmpalo
Karellae awalnya disusun oleh seorang dewa, entahlah.
Yang pasti bahwa masyarakat Bugis
zaman dahulu sangat memercayai bahwa “Meongmpalo Karellae” adalah sebuah
cerita yang mengandung kisah-kisah sakral, karena itu Meongmpalo
Karellae menjadi bacaan sakral yang hanya boleh dibacakan saat-saat
upacara ritual seperti Mappassili, Maddoja Bine dan Mappadendang.
Upacara-upacara ritual itu, oleh
masyarakat Bugis terus dipertahankan secara turun temurun dari abad ke abad
hingga memasuki abad ke 21 (Tahun 2000-an) di mana teknologi sudah berkembang
pesat di berbagai bidang, termasuk di bidang pertanian, yang kelak mengusir
paham-paham animisme dan dinamisme ke luar dari jagat pikiran kita. Sains dan
teknologi menjadi kepercayaan baru bagi masyarakat milineal, sehingga sistem
sistem dan tatacara kehidupan selalu berlandaskan pada pemikiran modern
berbasis sains dan teknologi (tepat guna). Di bidang pertanian, pengembangan
intensifikasi untuk peningkatan kualitas, pemanfaatan pupuk, insektisida, dan
cara-cara pengolahan lahan yang efektif dan efisien diyakini dapat meningkatkan
produktivitas.
Kendati demikian paham-paham yang
telah ditanamkan oleh “Lagaligo” tetap menjadi bagian dari tatanan
kehidupan masyarakat Bugis, yang sebagian masih mempertahankannya sebagai
kekayaan budaya masa lalu yang mesti revitalisasi dan dilestarikan.
Daftar Bacaan
http://sulawesiekspress.com/2018/11/09/andi-ahmad-saransi-festival-budaya-dan-seminar-internasional-iii-kekayaan-budaya-sulawesi-selatan/
Mattulada.1995. Latoa,
Hasanuddin University Press, Makassar.
Morris D.F Van Braam, 2007. Kerajaan
Luwu, toACCAe, Makassar.
M. Tang.2007. Kongres
Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Selatan I Tahun 2007, Panitia Penyelenggara,
Makassar.
Rahman, N. 1990. Episode
Meong Palo Bolonge Dalam La Galigo (Satu Kajian Filologi Sastra Bugis
Rahman, Nurhayati. 2012. Suara-Suara
dalam Lokalitas, La Galigo Press, Makassar.
Rahim.Rahman.1985. Nilai-Nilai
Utama Kebudayaan Bugis, LEPHAS, Makassar. Klasik), Pascasarjana Universitas
Padjadjaran, Bandung
Salim, Drs. Muh. 1980. Pau-Paunna
Meongpalo, Bahan Penataran Guru Bahasa Daerah, Makassar.
Sumber : badaruddinamir.wordpress.com
Penulis : Admin