Bangsa Bugis khususnya pengguna atau penggemar senjata tajam sangat mengenal istilah ini. Pammusa’ atau Panetta adalah salah satu bagian dari upaya membuat senjata tajam menjadi bertuah atau bermanfaat secara maksimal. Pammusa’ atau panetta ini merupakan GAU’ GAUKENG yang di lakukan sebelum badik atau keris di pasang pada hulu/handlenya. Sebagian besar mempercayai bahwa MAPPAMUSSA/MAPPANETTA’ adalah langkah terakhir yang harus dilakukan sebelum senjata digunakan atau di simpan dengan baik. Walaupun badik adalah senjata akan tetapi tidak jarang benda ini di gunakan sebagai AZIMAT saja yang di simpan di rumah tanpa di pakai untuk berperang atau berkelahi. Pammusa’ ini sifatnya sebagai SENNURENG atau harapan. Sebagai manusia modern, sennureng harus dianggap sebagai permohonan bantuan kepada Tuhan atau sebagai Doa. Jadi sifatnya TIDAK MUTLAK, kalau Tuhan mengizinkan maka Sennureng ini akan JADI, maka JADILAH. Apabila Tuhan tidak mengizinkan maka TIDAK JADI. Saya sendiri menyatakan bahwa tulisan ini hanya untuk mengetahui tatacara pendahulu kita dalam memperlakukan senjatanya, kalau pada zaman sekarang ini mau di manfaatkan, akan kembali kepada pribadi diri masing masing, mau menggunakannya atau tidak. Bagi yang memahami tatacara Pamussa’ hampir dapat di pastikan bahwa mereka juga memahami PABBUNONA PAMUSSA’E (Penawar Pamussa’).
Bagian badik atau keris yang di berikan PAMMUSA’ adalah bagian OTING atau ATI yaitu pangkal keris yang di tancapkan pada hulu. Lasimnya Oting ini bentuknya bundar dan jauh lebih kecil dari bilah besi.
Manfaat Gaukeng ini sangat tergantung pada NIAT, PERLAKUAN dan BENDA yang di gunakan. Apabila niat tidak sesuai dengan benda yang dipakai, maka tidak akan JADI. Begitupula bila perlakuan terhadap benda yang dipakai, tidak sesuai pun tidak akan JADI. Pendahulu kita menggunakan bahan atau benda Pammusa’ dari sekitarnya atau bagian dari tubuhnya.
A. PAMMUSA’ SALAWUU/SALAFUU
Salawuu atau Salafuu apabila di artikan ke dalam Bahasa Indonesia secara Harfiah maka akan berarti KABUT. Akan tetapi maksud dari Pammusa’ Salawuu adalah mengaburkan penglihatan orang lain. Sennureng ini biasanya di pakai oleh LAMPA’ (orang yang kerjanya merampok, mencuri, Preman dll) agar tidak terlihat oleh orang yang akan di rampok. Biasanya juga di pakai badik yang di harapkan tidak akan di tangkap oleh petugas keamanan. Jenis Pammusa’ ini menggunakan bahan sebagai berikut:
1. BULU MATA
Bulu mata sebelah kanan di cabut satu atau dua lembar. Kemudian di taruh di lubang hulu atau di lilitkan di oting keris, setelah itu di berikan perekat atau lem lalu di pasang. Kenapa bulu mata????, menurut pengetahuan orang dulu bahwa tidak seorang pun bisa melihat bulu matanya pada bulu mata sangat dekat dengan indera penglihatan yaitu mata. Begitu pula orang lain, tidak melihat bulu mata kita kecuali di perhatikan atau di tatap dengan khusus, tentu bukan bulu mata palsu yang banyak di gunakan gadis gadis sekarang ini, walaupun jaraknya lima meter tetap akan kelihatan. Niat yang dibaca adalah UNIAKENGNGI MALA PASSALAWUU dan seterusnya.
2. SALO TEMMETTI’ atau PALLAWANGENG
Salo Temmetti’ atau Pallawangeng adalah bagian bibir yang berada antara ujung bibir dengan hidung yang letaknya di antara dua lobang hidung. Jarak tersebut di ukur menggunakan lidi (tulang daun kelapa), kemudian di lipat 3 (tiga) kali. Bagian pangkal di buang ke kanan dan bagian ujung di buang ke kiri tubuh. Bagian tengah di ambil dan di taruh pada lubang hulu keris. Lalu di baca niat UNIAKENGNGI MALA PASSALAWUU dan seterusnya, kemudian oting di berikan perekat lalu di pasang.
Sebagian besar ahli senjata tradisional BUGIS menyarankan senjata yang diperlakukan dengan Pammusa’ ini sebaiknya jangan di simpan di rumah, lebih baik di simpan di tempat yang agak jauh dari rumah. Apabila keris tersbut mau di gunakan, barulah di ambil.
B. PAMMUSA’ MURAH REZEKI
Seperti yang di jelaskan sebelumnya bahwa sebagian pendahulu kita tidak membuat senjata untuk berkelahi atau berperang akan tetapi di gunakan sebagai JIMAT atau SIMA’ yang tidak di bawa kemana mana, dan di simpan di rumah saja. Bahan di gunakan sebagai Pamussa’ jenis ini adalah sebagai berikut:
1. PALLACA’ LAWASOJI
Lawasoji adalah pembata atau dinding yang terbuat dari bilah bamboo, biasanya di gunakan pada saat ada acara adat atau pengantin. Akan tetapi yang di gunakan sebagai Pamussa’ adalah Lawasoji yang bentuknya seperti kota tanpa penutup yang di gunakan sebagai tempat barang bawaan pengantin ketika akan pesta perkawinan atau Lawasoji tempat sesajen yang di simpan dalam lumbung padi (RAKKEANG). Lawasoji ini bentuknya kecil, paling besar berukuran 1 x 2 meter. Biasanya isi Lawasoji ini berupa Inang padi, kelapa, tebu, pisang, nangka, beras dan ayam yang kesemuanya adalah symbol makanan pokok dan bahan makanan yang enak enak. Semua Lawasoji memiliki PALLACA’ yaitu bambu yang menjadi penghubung atau perekat antara sisa satu dengan sisi yang lainnya. Kalau bukan pakai Pallaca’ berarti menggunakan rautan rotan (PASSIO) yang mengikat sisi sisi Lawasoji. Pallaca’ atau Passio ini sama saja, salah satunya bisa di gunakan sebagai Pammusa’. Sedikit dari pallaca’ atau passio ini di ambil, lalu di masukkan ke lubang hulu keris dan di bacakan niat “ UNIAKENGNGI MALA PAPPASEMPO DALLE dan seterusnya”. Lalu di berikan lem dan oting dimasukkan ke dalam lubang hulu.
2. CAPPA’ KANUKU dan CAPPA’ WELUA
Ujung kuku dan ujung rambut. Ujung kuku yang di ambil adalah kuku jari manis sebelah kiri, jari yang sering dipakaikan cincin. Dan beberapa helai ujung rambut di potong, dan keduanya dimasukkan dalam lubang hulu, lalu niat yang di baca “UNIAKENGNGI MALA PAPASEMPO DALLE dan seterusnya”. Menurut pengetahuan orang dulu, kuku dan rambut tidak akan pernah berhenti bertambah panjang sampai ajal tiba.
C. PAMMUSA’ SANGI (PASSIGAJANG)
Jenis ini biasanya di gunakan oleh orang yang suka berkelahi dengan senjata tajam (Passigajang) dan di kuatirkan lawan kebal senjata atau pemilik senjata tidak bisa menakar (ragu ragu) terhadap kekuatan lawannya. Bahan yang digunakan adalah nasi yang tidak sempat di makan dan jatuh dari piring secara tidak disengaja. Nasi tersebut di lekatkan di telapak kaki, kemudian di hancurkan dengan cara di pencet melebar. Setelah nasi tersebut menyebar rata di telapak kaki lalu oting keris atau badik di asah (sangi) di tepalak kaki yang ada bekas nasi sambit membaca mantera, “SANGADI DE’MUANREI dan seterusnya”. Lalu lubang hulu di berikan perekat/lem dan di tancapkan. Setelah itu mata badik atau keris di arahkan di antara ibu jari kaki dengan jari kaki kedua dan dibacakan mantera,”SANGADI ENGKA BUKUNNA dan seterusnya”. Perlu di pahami kenapa menggunakan butir nasi yang terjatuh, artinya nasi tersebut tidak bermanfaat atau energinya tidak berguna bagi manusia. Kenapa di letakkan pada telapak kaki? Artinya lawan selalu berada di bawah pengaruh kita. Senjata yang di berikan Pammusa’ jenis ini, jangankan di tudukkan kepada lawan, walaupun hanya di lemparkan dari jarak jauh akan melukai lawan yang kebal tersebut. Senjata ini juga disarankan tidak selalu di bawa bepergian kecuali tidak ada jalan lain.
D. PAMMUSA’ PATTOLA’BALA
Jenis ini di pakai sebagai Pattola’Bala atau keselamatan dari kesusahan. Urusan lancer tanpa hambatan yang berarti. Bahan yang di gunakan sebagai Pammusa’ adalah CAPPA BAKKAWENG (ujung atap). Atap yang di maksud adalah atap nipah atau atap sagu atau atap daun kelapa. Tentu bukan atap seng atau atap genteng. Tentu semua mengerti kegunaan atap pada sebuah rumah. Atap rumah melindungi dari panas matahari dan dinginnya air hujan. Bahkan selain dinding rumah, atap juga bermanfaat sebagai pelindung dari benda benda yang jatuh dari angkasa. Ujung atap tersebut di ambil kemudian di masukkan ke dalam lubang hulu lalu di niatkan, “UNIAKENGGI MALA dan seterusnya”. Kemudian lubang di berikan perekat atau lem dan oting di tancapkan.
E. PAMMUSA’ PATTAFO DARAH
Pattafo adalah istilah Bugis lain dari PATTEPPO. Pattafo darah arti harfiahnya membendung darah atau menghambat darah untuk keluar. Apabila terjadi perkelahian dengan senjata, tidak mesti kebal untuk tidak mengalirkan darah. Pada intinya, pendahulu kita mengharapkan darahnya tidak tumpah ketika berkelahi dengan senjata. Bahan yang digunakan untuk pamussa ini adalah kuku atau rambut. Akan tetapi mantera atau niat yang dibacakan tidak sama dengan pammusa’ pesempo dale. Rambut dan kuku di masukkan pada lubang hulu keris kemudian di bacakan mantera dan seterusnya”.
F. PAMMUSA’ NYAMENG ININNAWA.
Pammusa’ jenis ini termasuk untuk keselamatan karena kegunaannya agar semua orang merasa senang atau merasa nyaman apabila berhadapan dengan kita, bahkan pammusa’ ini bisa meredam amarah bagi orang yang sedang bertengkar. Pammusa’ ini justru tidak menggunakan bahan apapun. Kecuali menggunakan pernapasan dan PARENGNGERANG (Jawa = eling). Pada saat senjata akan di pasang pada hulunya, pernapasan di atur dengan baik dan pelan tidak terburu buru. Semua perasaan susah di buang jauh jauh, semua kesusahan hidup di lupakan. Yang ada hanya perasaan tenang, bahagia dan gembira. Ingatan kembali pada masa balita atau bayi di mana semua orang senang dan gemas. Lalu tarikan napas yang pelan di rendahkan lagi seakan menghadap TUHAN, MADDARARING. Pada saat terasa embun pagi menyentuh ubun ubun, angin sepoi lembut menyelemuti badan, cahaya rembulan yang berwarna kebiruan menerpa wajah. Secara perlahan, badan yang sedang duduk bersila dengan kedua tangan berdoa, naik ke angkasa, semakin lama bumi kelihatan semakin kecil, pada akhirnya berhenti di depan cahaya terang benderang tapi sejuk tidak menyilaukan. (Maafkan saya, tidak bermaksud menggunakan bahasa kotor), pada saat itu tanpa ereksi dan terangsang, keluarlah cairan kenikmatan bagi orang dewasa. Ketika berada pada perasaan tersebut, senjata tajam di pasangkan pada hulunya dengan di iringi dengan membaca niat dan mantera. Pammusa’ jenis ini sangat mengandalkan PARENGNGERANG (Ingatan = Eling). Yang mana di maksud Parengngerang itu?. Coba simak analog berikut:
Pada saat anak anak bermain dan bergembira berlebihan tidak mengenal waktu, terkadang orang tuanya mengatakan,” E KALAKI’, AJA’MU MABO’ ARENGNGERANGKO”. Artinya, HAI ANAKKU SEMUA, JANGAN BERLEBIHAN, INGATLAH/SADARLAH. Maksud dari perkataan ini adalah Ingatlah Tuhanmu.
Akan panjang ceritanya ketika kita bertanya bahwa sesuatu yang akan di ingat adalah sesuatu yang pernah di lihat, pernah di rasakan, atau pernah bertemu. Lalu apa dan siapa yang ingat???? Apa dan Siapa yang pernah di lihat, pernah di rasakan dan pernah bertemu tersebut???? Tentu butuh perjalanan jauh untuk hal ini.
Sebenarnya banyak sekali pammusa’ dan panetta’ yang di gunakan para pendahulu kita. Pada intinya semua adalah SENNU-SENNURENG , yaitu harapan dan doa. Semua kembali kepada Yang Maha Menentukan. Hanya Pencipta Yang Maha Hebat. Kehebatan Sang Pencipta akan terlihat pada kehebatan Ciptaan-Nya. Ciptaan Tuhan berjenis jenis, hanya manusia jenis ciptaan yang paling ISTIMEWA. Akan tetapi keistimewaan manusia bisa berubah setiap saat. Hari ini istimewa, mungkin besok menjadi hina. Bisa jadi besoknya lagi kembali istimewa. Tidak ada ciptaan Tuhan yang sia sia, tidak ada yang tidak bermakna. Serapuhnya kayu, selemahnya jerami bisa juga mendidihkan air. Jangan anggap remeh semua ciptaan Tuhan. Semua karya Tuhan adalah Istimewa. Keistimewaan ciptaan tidak akan menyamai keistimewaan Penciptanya. Oleh karena itu, manusia harus menjaga keistimewaannya, dan menjaga keistimewaan ciptaan Tuhan lainnya. Manusia yang menganggap ciptaan Tuhan lebih istimewa dari dirinya, berarti dia kurang yakin akan keistimewaannya. Yakinkah anda bahwa anda adalah ISTIMEWA????
Sumber: Latulu Kalula
Penulis : Admin







