SAMBUTAN DPP PAO : ASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH, SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI DEWAN PENGURUS PUSAT ORGANISASI ASSEDDINGENG WIJANNA OGIE DALAM BAHASA INDONESIA DIKENAL DENGAN NAMA PERSATUAN ANAK OGI (DPP-PAO) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PROVINSI RIAU, PAO ADALAH PERKUMPULAN WARGA MASYARAKAT SUKU BUGIS RANTAU DENGAN BERDASARKAN PANCASILA DAN UDD 45 SERTA DIBAWAH NAUNGAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) DENGAN TUJUAN MEMPERSATUKAN SEGENAP WARGA MASYARAKAT BUGIS SELURUH NUSANTARA MAUPUN MANCA NEGARA DENGAN VISI MISI - MASSEDDI RIPASSEDDI MAPPASSEDDI-TOPADA SIPAMMASE MASE - NIAT MADECENG PADATTA RUPA TAU TERUTAMA SEMPUGIKU TEGA-TEGAKI WANUA DI ONDROWI. WASSALAMU'ALAIKUMWARAHMATULLAHIWABARAKATUH

Sunday, 7 June 2020

KONSEP MATTULU TELLUE


KONSEP MATTULU TELLUE

I. PENDAHULUAN


Setiap suku bangsa di dunia ini memiliki ciri khas yang menjadi jati diri mereka. Dalam mempertahankan jati dirinya tersebut, mereka senantiasa berupaya mencari cara sedemikian rupa demi untuk mempertahankan eksistensi kelompok atau sukunya. Mereka berusaha menciptakan suatu tatanan prinsip yang dapat dijadikan sebagai pegangan dalam segala tindakan baik bersifat pribadi maupun kelompoknya. Dengan tujuan, agar apa yang diharapkan dalam tindakannya dapat mendapatkan hasil yang diharapkan dan mendapat apresiasi baik dalam kelompok sukunya sendiri maupun di luar kelompok suku bangsanya. Mereka meyakini, bahwa dengan memiliki prinsip sebgai pegangan maka segala yang kita lakukan tidak akan kesasar dan mengambang, disamping prinsip itulah yang jadikan sebagai alat motivasi dalam melakoni hidup disegala bidang

Demikian pula bangsa Bugis sejak dahulu kala setiap suku telah memiliki prinsip-prinsip hidup yang dijadikan sebagai perisai dalam menjaga keberlangsungan norma-norma adab yang dimilikinya. Perisai yang dimaksud adalah prinsip-prinsip yang dijadikan sebagai Motto dalam melindungi norma-norma adat-istiadatnya sebagai pegangan hidup dalam menjalankan segala aktivitasnya baik secara internal maupun eksternal.

Pada masa pemerintahan Latenritata alias Arung Palakka. Dalam lontara disebutkan: “Riwettu Puatta Petta Malampe-E Gemme’na Paoppang Palengengngi Tanah Bone, Padatosaha Keteng Tepu Seppuloi Lima ompo’na”
Artinya: Sewaktu raja Bone Petta Malampe-E Gemme’na berkuasa, maka Bone pada waktu itu seumpama bulan, cerah bagaikan bulan purnama yang terbit sempurna kelima belas”.

Lalu masihkah hari ini, para genarasi (ana' rimunrie) menampakkan taring kebesaran itu? Adakah kegairahan untuk belajar pada masa silam ? Bukankah potret sejarah masa depan adalah bertaut dengan rangkaian sejarah masa lalu dan apa yang kita gurat pada jejak masa kekinian?

Berbicara tentang Bugis juga selalu identik dengan Bone. Peradaban Bugis pada masa silam adalah peradaban besar dan gemilang yang memiliki daya tarik tersendiri bahkan seorang penulis asal Prancis: Christian Pelras rela menghabiskan 2/3 umurnya hanya untuk meneliti kebudayaan Bugis dan mengasilkan buku 'The Bugis', yang diperoleh dari hasil penelitian dan penelusuran dokumen yang berlangsung selama 40 tahun (1950–1990). Penerbit Ininnawa kemudian diterjemahkan menjadi 'Manusia Bugis'. Memang fenomenal, seorang manusia Prancis, rela terjun selama puluhan tahun hanya untuk meneliti kebudayaan orang lain. Sesuatu yang jarang dijumpai di Indonesia, lebih-lebih di kalangan peneliti lokal sendiri.

Dari asumsi tersebut, terselip harapan untuk kembali melestarikan spirit kebugisan kita. Karena di sana ada kearifan hidup,ada spirit keberanian dan ketangguhan melawan hidup. Nenek moyang di masa lalu telah menawarkan spirit ketangguhan dan keberanian hidup. Mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan dalam mengarungi hidup. Bukankah kearifan itu masih tersisa dalam jejak yang ditinggalnya dalam sastra Pappaseng ?

Secara umum tercatat dalam sastra besar dunia, Sure’ Selleang I La Galigo.
Nah, masih adakah jiwa dan semangat ke To-Bone-an hari ini, ketika generasi kekinian tak lagi mengenal spirit kearifan hidup leluhur yang tercatat dalam sastra Pappaseng? Masih adakah Bugis Bone hari ini ketika generasi muda mulai tak fasih lagi bertutur bahasa Bugis dalam kesehariannya? Tidakkah hari ini generasi mulai malu menggunakan bahasanya sendiri karena merasa tidak sesuai dengan trend? Benarkah generasi sekarang ini … Aduh, penulis tak mampu lagi menulisnya di sini melihat fenomena yang ada.

Coba bayangkan, Christian Pelras saja yang bukan orang Bugis tapi mampu bertutur bahasa Bugis dengan fasih pada waktu memberikan ceramah umum tentang Manusia Bugis (26/09/2006). Mungkian suatu saat ketika para generasi ingin belajar bertutur Bugis dan belajar tentang Bugis kita harus belajar di negeri Eropa sana ?. He….he….. Ironis sekali. Bugis mungkin suatu hari nanti hanyalah sebuah predikat yang malas kita sandang. Bukankah generasi kini lebih tahu tentang Putri Diana, lebih menguasai riwayat hidup Ronaldo dibandingkan riwayat Arung Palakka, Kajao Lalliddong atau legenda Sawerigading? Arus modernisasi dan neo-liberalisme begitu kuat mencengkram generasi Bugis masa sekarang ini.

Ketika melihat fenomena budaya yang berkembang di masyarakat Bone khususnya dikalangan generasi muda. Ada beberapa pertanyaan sederhana yang sebenarnya mengandung makna keprihatinan atas fenomena tersebut. Berapa banyak anak muda Bone yang bisa bercerita lengkap tentang sejarah Bone? Sejauh mana anak muda Bone tahu tentang tokoh-tokoh di balik kebesaran kerajaan Bone? Berapa banyak anak muda Bone yang bisa menulis dan membaca aksara lontara dengan baik? Berapa banyak anak muda Bone yang bisa berbahasa Bugis dengan bahasa yang halus? Berapa banyak anak muda yang hafal dan mengamalkan pesan-pesan leluhur (Pappaseng To Riolo)? Apakah perilaku generasi Bone saat ini telah mencerminkan sikap-sikap (Mappakkeade’) seperti yang dulu dimiliki para pendahulunya? Dan masihkan ikatan emosional (Riassibonei) terjalin dengan harmonis antara sesama warga Bone di dalam dan luar daerah?

Kami tidak ingin memberikan jawaban dan penilaian dari pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Yang jelas dengan menumbuhkembangkankan jiwa dan semangat ke To Bone-an, sangatlah urgen dan strategis untuk dilakukan. Karena diakui atau tidak, saat ini masyarakat dunia (termasuk masyarakat Bone) hidup dalam kecenderungan yang bersifat global. Pergeseran budaya yang semakin tajam, kecilnya dunia berkat sistem komunikasi dan transformasi yang semakin canggih telah memberikan makna kehidupan manusia ke arah yang lebih maju dan modern.

Dalam situasi dan kondisi seperti ini, bukan hal yang mustahil semangat dan budaya kedaerahan (ke-to Bone-an) akan semakin terkikis atau mungkin hilang dari sanubari masyarakat Bone, terkhusus di kalangan generasi muda (ana ri munri) yang memang jarang tersentuh dengan gagasan–gagasan , kegiatan-kegiatan (aktivitas) dan peninggalan sejarah (artefak yang dimiliki kabupaten Bone dari lingkungannya (Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat).

Seyogianya, Bugis Bone (Wija To Bone) tidak hanya sekadar mengaku dan diakui sebagai orang Bone lantaran lahir di Tana Bone. Akan tetapi, lebih jauh mereka seharusnya memahami sejarah lelulur, memahami kebudayaan Bone dan mengimplementasikannya nilai-nilai spirit kearifan hidup, spirit keberanian, dan ketangguhan menjalani hidup. Berpegang pada Pesan Leluhur, yakni : Makkateni ri limae akkatenningeng, iyanaritu :

1. Mammulanna Riada TongengngE;
2. Maduanna RilempuE;
3. Matellunna Rigettengng-E.
4. Maepana SipakatauE,
5. Malimanna mappesonaE ri Dewata SewwaE. (Mattulada: 1995 atau lihat Anwar Ibrahim 2000)

II. Masa Pemerintahan Raja Bone ke-7 Latenri Rawe Bongkangnge (1568-1584)

Mattulu Tellue berasal dari kata “Situlu Tellu” dalam bahasa Bugis berarti saling bertaut tiga yang disimbolkan sebagai tali. Kemudian melahirkan Mattulu Tellue yang artinya sesuatu atau tali yang bertaut tiga yang dijadikan sebagai simbol keutuhan dan kekuatan. Dalam bahasa Makassar disebut Mabbulo Sipeppa atau Mabbulo Sibatang, yakni tiga batang dijadikan menjadi satu. Dengan menggabungkan tiga buah batang menjadi satu kesatuan dapat membentuk sebuah kekuatan.

Baik Mattulu Tellue ataupun Mabbulo Sipeppa/Mabbulo Sibatang merupakan sesuatu yang abstrak namun di dalamnya sarat dengan makna simbolis yang dijadikan sebagai motivasi dalam semangat hidup.

Dikalangan Bugis Bone, Konsep Mattulu Tellue telah digunakan dimasa pemerintahan raja Bone ke-7 Latenri Rawe Bongkangnge (1568-1584) . Konsep ini dipopulerkan oleh sang diplomat ulung dari Tanah Bone yang di kenal dengan gelar Kajao Lalliddong. Lamellong yang bergelar Kajao lalliddong tersebut banyak menciptakan dan melahirkan konsep-konsep kepemimpinan sebagai norma-norma adab yang dijadikan sebagai anutan oleh raja dalam menjalankan roda pemerintahannya. Seperti berikut ini ;

1.Tidak membiarkan rakyatnya bercerai-berai;
2.Tidak memejamkan mata siang dan malam;
3. Menganalisis sebab akibat suatu tindakan sebelum dilakukan; dan
4. Raja harus mampu bertututur kata dan menjawab pertanyaan.

Dalam menjaga eksistensi norma-norma adab di atas mereka membangun sebuah prinsip yang dijadikan sebagai perisai yakni Mattulu Tellue antara lain :

1. Siattinglima, yang artinya bergandengan tangan.
Maksudnya : apabila sesuatu pekerjaan dilakukan secara bersama-sama, maka ringanlah pekerjaan itu
2. Sitonraola, yang artinya berjalan searah, satu kata dalam mufakat
Maksudnya : Sesuatu permasalahan harus diputuskan dengan musyawarah dan mufakat
3. Tessibelleang, yang artinya tidak saling menghianati
Maksudnya : Segala sesuatu yang telah dimufakati sebagai keputusan maka siapapun harus menaatinya.

Pada hakikatnya jauh sebelum Pemerintahan Latenri Rawe Bongkangnge nilai-nilai semangat Mattulu Tellue telah ada pada masa pemerintahan Raja Bone ke-1 La Ubbi yang digelar Manurungnge Ri Matajang dalam menyatukan rakyat Bone pada masa itu namun kata Siattinglima, Sitonraola, Tessibelleang dipopulerkan oleh lamellong Kajao Lalliddong

III. Masa pemerintahan Raja Bone Ke-15 Arung Palakka (1667–1696)

Pada masa ini beliau menumbuhkan kembali jiwa dan semangat ke To-Bone-an.yakni :
1. Malilu Sipakainge
2. Mali Siparappe,
3. Rebba Sipatokkong”
(artinya : "Hanyut saling berdampar, Rubuh saling tegakkan, Terlupa saling ingatkan, sehidup saling menghargai) - sebuah pepatah Bugis yang mengandung makna yang sangat dalam tentang arti persaudaraan akan selalu hidup dalam jiwa masyarakat.

Selanjutnya, dengan dasar norma adab di atas, dalam mempertahankan eksistensi semangat Konsep Mattulu Tellue secara berkesinambungan di Tana Bone, maka pada masa pemerintahan Raja Bone ke-15 Arung Palakka membangun sebuah motto yang dikenal dengan sebutan “Tellabu Essoe Ri Tengnga Bitarae” yang artinya “Takkan Tenggelam Matahari Di Tengah Langit” Maksudnya : Sesuatu pekerjaan harus berakhir dengan keberhasilan. Dalam bahasa Bugis “Amporo atau Makkamporo” atau “Aja’ Muakkamporo” yaitu telur yang gagal menetas. Maksudnya apabila kita menghadapi atau melakukan suatu pekerjaan janganlah berhenti di tengah jalan. Hal ini setara dengan “ Kambacu” Aja’ Muakkambacu” Dalam bahasa Bugis Kambacu adalah biji jagung yang digoreng namun gagal menjadi berti atau mekar. Konsep inilah juga yang dijadikan Arung Palakka sebagai penyemangat dalam membebaskan rakyat Bone yang dijadikan sebagai pekerja paksa oleh Gowa pada masa itu.

Kebesaran Bone di masa lalu adalah spirit kehidupan, gerak kualitas peradaban. Namun ia baru berarti ketika filosofi agungnya sebagai pondasi dasar dan tetap utuh dianut serta dipegang teguh oleh masyarakatnya. Lalu, sejauhmanakah semangat ke To-Bone-an hari ini dan masih adakah manusia Bugis Bone yang sesungguhnya? Tatkala secara substansial nilai dasar sebagai filosof dan spirit hidup Bugis telah mengalami degradasi dan dehidrasi besar-besaran?

Di zaman ini, ketika kita kembali meneropong masa Ialu, menguak tabir jejak-jejak sejarah gemilang moyang kita pada masa silam. Seyogianya kita jadikan sebagai bahan renungan kita semua. Hal ini bukan berarti untuk mengevaluasi apa lagi untuk memberikan penilaian, akan tetapi semata-mata berniat sebagai “gelitik luhur ” dan bahan renungan bagi kita semua terutama bagi penulis sendiri, akan pentingnya munumbuhkan kembali jiwa dan semangat ke To-Bone-an, yaitu :

”Mattulu Tellue/Mabbulo Sipeppa/Mabbulo Sibatang, yakni : Malilu Sipakainge, Mali Siparappe,Rebba,Sipatokkong”

Sebagaimana Petuah Leluhur :

“Seratu’ Ada’ seddi Gau’, Gau’E mappattentu.,Sadda mappabati Ada’., Ada’ mappabati Gau.,Gau mappabati Tau., Tau Sipakatau Sipakalebbi. Mappau Ada Mappaddupa Gau, Sitonrai Lilae na BatelaE, Nasaba Engka Siri’ta Nennia Pesseta “siri’mi rionroang ri lino naiyya Sire’E Nyawa nakira-kira nenniya Sunge’ Naranreng”, Nassibawai Wawang ati macinnong, lempu, getteng, ada tongeng, temmapasilaengeng, warani, amaccangeng, reso, tenricau tenribali, maradeka nennia assimellereng.,Makkatenni Masse ri Panngaderengnge na Mappesona ri Dewata SewwaE “Mette’ Tenribali, Massa’da Tenri Sumpala”

IV. SIMPULAN


Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa Konsep Mattulu Tellue dimasa Pemerintahan Raja Bone ke-7 Latenri Rawe Bongkangnge dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Siattinglima, yang artinya bergandengan tangan.
Maksudnya : apabila sesuatu pekerjaan dilakukan secara bersama-sama, maka ringanlah pekerjaan itu

2. Sitonraola, yang artinya berjalan searah, satu kata dalam mufakat
Maksudnya : Sesuatu permasalahan harus diputuskan dengan musyawarah dan mufakat

3. Tessibelleang, yang artinya tidak saling menghianati
Maksudnya : Segala sesuatu yang telah dimufakati sebagai keputusan maka siapapun harus menaatinya.

Selanjutnya, Konsep Mattulu Tellue dimasa Pemerintahan Raja Bone ke-15 Latenri Tata Arung Palakka dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Malilu Sipakainge,
2. Mali Siparappe,
3. Rebba,Sipatokkong”
(artinya : " Terlupa Saling Mengingatkan, Hanyut Saling Berdampar, Rubuh Saling Menegakkan)

Kata kunci konsep di atas adalah “Tellabu Essoe Ri Tengnga Bitarae”

Dengan demikian, semua tatanan adab di atas berfungsi perisai dalam

1. Menjaga dan mempertahankan eksistensinya baik personal maupun kelompok;
2. Bahasa simbol / Motto yang berfungsi penyemangat dalam menjalankan segala bentuk aktivitas baik internal maupun eksternal dalam kelompok.







(Sumber : Teluk bone)
Penulis : Admin





Friday, 29 May 2020

PANGLIMA PAO MENJALIN SILATURRAHIM DI KECAMATAN KATEMAN PARIT 3 DENDAN KECIL


KATEMAN;- Dalam Rangka Hari Raya Idul Fitri 1441H. Panglima Pallapi Arona Ogi'e (PAO) Saudara Anawawik atau yang sering di sapa AWI didampingi Istri dan Rekan-rekan dari PAO kali ini berkunjung di Kecamatan Kateman atau lebih dikenal Sungai Guntung tepatnya di Parit 3 Dendan Kecil , dalam kunjungan tersebut di sambut oleh masyarakat setempat dengan bersama-sama mengunjungi Rumah kediaman saudara-saudara kita di Dendan Kecil, tak sampai di situ masyarakat setempat membuat acara bersama Tudang Sipulung dengan memotong seekor Kambing untuk di buat Sate dengan menyambut warga tetangga seperti  Kampung baru Kuala Selat, dan warga tetangga lainnya. acara tersebut digelar di kediaman Daeng Lottong / Azhar  hadir juga Muhammad Safar , Ikhsan Kaluku, dan banyak lagi yang tak bisa kami sebutkan satu persatu

Dalam Kesempatan ini Panglima PAO merasa Bersyukur dan Berterima Kasih Kepada Masyarakat setempat dengan penuh haru menyaksikan kekompakan masyarakat selessureng Sempugita

"DEGAGA WISSENG PAU SENGADINNA UCAPAN TRIMA KASIH BANYAK DAN MOHON MAAF TELAH MEREPOTKAN KI SEMUA, BUAT SILESSURENG YAMANENNA TAMPA TERKECUALI RI GUNTUNG MAUPUN RI DENDANG, SERTA YAMANENNA SILESSURENG YG BELUM SEMPAT KAMI BERSILATURRAHMI. SMOGA RI BALASKI RI PUANG ALLAH TAALA YG SETIMPAL ATAS SEMUANYA "Ungkap AWI

Sebagian Kecil Dokumentasi pada saat Kunjungan di Dendan Kecil :



















Penulis : Admin

Friday, 22 May 2020

PANETTA SIBAWA PAMMUSA

https://pallapiaronaogie.blogspot.com/2020/05/panetta-sibawa-pammusa.html


Bangsa Bugis khususnya pengguna atau penggemar senjata tajam sangat mengenal istilah ini. Pammusa’ atau Panetta adalah salah satu bagian dari upaya membuat senjata tajam menjadi bertuah atau bermanfaat secara maksimal. Pammusa’ atau panetta ini merupakan GAU’ GAUKENG yang di lakukan sebelum badik atau keris di pasang pada hulu/handlenya. Sebagian besar mempercayai bahwa MAPPAMUSSA/MAPPANETTA’ adalah langkah terakhir yang harus dilakukan sebelum senjata digunakan atau di simpan dengan baik. Walaupun badik adalah senjata akan tetapi tidak jarang benda ini di gunakan sebagai AZIMAT saja yang di simpan di rumah tanpa di pakai untuk berperang atau berkelahi. Pammusa’ ini sifatnya sebagai SENNURENG atau harapan. Sebagai manusia modern, sennureng harus dianggap sebagai permohonan bantuan kepada Tuhan atau sebagai Doa. Jadi sifatnya TIDAK MUTLAK, kalau Tuhan mengizinkan maka Sennureng ini akan JADI, maka JADILAH. Apabila Tuhan tidak mengizinkan maka TIDAK JADI. Saya sendiri menyatakan bahwa tulisan ini hanya untuk mengetahui tatacara pendahulu kita dalam memperlakukan senjatanya, kalau pada zaman sekarang ini mau di manfaatkan, akan kembali kepada pribadi diri masing masing, mau menggunakannya atau tidak. Bagi yang memahami tatacara Pamussa’ hampir dapat di pastikan bahwa mereka juga memahami PABBUNONA PAMUSSA’E (Penawar Pamussa’). 

Bagian badik atau keris yang di berikan PAMMUSA’ adalah bagian OTING atau ATI yaitu pangkal keris yang di tancapkan pada hulu. Lasimnya Oting ini bentuknya bundar dan jauh lebih kecil dari bilah besi. 

Manfaat Gaukeng ini sangat tergantung pada NIAT, PERLAKUAN dan BENDA yang di gunakan. Apabila niat tidak sesuai dengan benda yang dipakai, maka tidak akan JADI. Begitupula bila perlakuan terhadap benda yang dipakai, tidak sesuai pun tidak akan JADI. Pendahulu kita menggunakan bahan atau benda Pammusa’ dari sekitarnya atau bagian dari tubuhnya. 


A. PAMMUSA’ SALAWUU/SALAFUU 

Salawuu atau Salafuu apabila di artikan ke dalam Bahasa Indonesia secara Harfiah maka akan berarti KABUT. Akan tetapi maksud dari Pammusa’ Salawuu adalah mengaburkan penglihatan orang lain. Sennureng ini biasanya di pakai oleh LAMPA’ (orang yang kerjanya merampok, mencuri, Preman dll) agar tidak terlihat oleh orang yang akan di rampok. Biasanya juga di pakai badik yang di harapkan tidak akan di tangkap oleh petugas keamanan. Jenis Pammusa’ ini menggunakan bahan sebagai berikut: 


1. BULU MATA 
Bulu mata sebelah kanan di cabut satu atau dua lembar. Kemudian di taruh di lubang hulu atau di lilitkan di oting keris, setelah itu di berikan perekat atau lem lalu di pasang. Kenapa bulu mata????, menurut pengetahuan orang dulu bahwa tidak seorang pun bisa melihat bulu matanya pada bulu mata sangat dekat dengan indera penglihatan yaitu mata. Begitu pula orang lain, tidak melihat bulu mata kita kecuali di perhatikan atau di tatap dengan khusus, tentu bukan bulu mata palsu yang banyak di gunakan gadis gadis sekarang ini, walaupun jaraknya lima meter tetap akan kelihatan. Niat yang dibaca adalah UNIAKENGNGI MALA PASSALAWUU dan seterusnya. 

2. SALO TEMMETTI’ atau PALLAWANGENG 
Salo Temmetti’ atau Pallawangeng adalah bagian bibir yang berada antara ujung bibir dengan hidung yang letaknya di antara dua lobang hidung. Jarak tersebut di ukur menggunakan lidi (tulang daun kelapa), kemudian di lipat 3 (tiga) kali. Bagian pangkal di buang ke kanan dan bagian ujung di buang ke kiri tubuh. Bagian tengah di ambil dan di taruh pada lubang hulu keris. Lalu di baca niat UNIAKENGNGI MALA PASSALAWUU dan seterusnya, kemudian oting di berikan perekat lalu di pasang. 

Sebagian besar ahli senjata tradisional BUGIS menyarankan senjata yang diperlakukan dengan Pammusa’ ini sebaiknya jangan di simpan di rumah, lebih baik di simpan di tempat yang agak jauh dari rumah. Apabila keris tersbut mau di gunakan, barulah di ambil. 


B. PAMMUSA’ MURAH REZEKI 

Seperti yang di jelaskan sebelumnya bahwa sebagian pendahulu kita tidak membuat senjata untuk berkelahi atau berperang akan tetapi di gunakan sebagai JIMAT atau SIMA’ yang tidak di bawa kemana mana, dan di simpan di rumah saja. Bahan di gunakan sebagai Pamussa’ jenis ini adalah sebagai berikut: 

1. PALLACA’ LAWASOJI 
Lawasoji adalah pembata atau dinding yang terbuat dari bilah bamboo, biasanya di gunakan pada saat ada acara adat atau pengantin. Akan tetapi yang di gunakan sebagai Pamussa’ adalah Lawasoji yang bentuknya seperti kota tanpa penutup yang di gunakan sebagai tempat barang bawaan pengantin ketika akan pesta perkawinan atau Lawasoji tempat sesajen yang di simpan dalam lumbung padi (RAKKEANG). Lawasoji ini bentuknya kecil, paling besar berukuran 1 x 2 meter. Biasanya isi Lawasoji ini berupa Inang padi, kelapa, tebu, pisang, nangka, beras dan ayam yang kesemuanya adalah symbol makanan pokok dan bahan makanan yang enak enak. Semua Lawasoji memiliki PALLACA’ yaitu bambu yang menjadi penghubung atau perekat antara sisa satu dengan sisi yang lainnya. Kalau bukan pakai Pallaca’ berarti menggunakan rautan rotan (PASSIO) yang mengikat sisi sisi Lawasoji. Pallaca’ atau Passio ini sama saja, salah satunya bisa di gunakan sebagai Pammusa’. Sedikit dari pallaca’ atau passio ini di ambil, lalu di masukkan ke lubang hulu keris dan di bacakan niat “ UNIAKENGNGI MALA PAPPASEMPO DALLE dan seterusnya”. Lalu di berikan lem dan oting dimasukkan ke dalam lubang hulu. 

2. CAPPA’ KANUKU dan CAPPA’ WELUA 
Ujung kuku dan ujung rambut. Ujung kuku yang di ambil adalah kuku jari manis sebelah kiri, jari yang sering dipakaikan cincin. Dan beberapa helai ujung rambut di potong, dan keduanya dimasukkan dalam lubang hulu, lalu niat yang di baca “UNIAKENGNGI MALA PAPASEMPO DALLE dan seterusnya”. Menurut pengetahuan orang dulu, kuku dan rambut tidak akan pernah berhenti bertambah panjang sampai ajal tiba. 


C. PAMMUSA’ SANGI (PASSIGAJANG) 

Jenis ini biasanya di gunakan oleh orang yang suka berkelahi dengan senjata tajam (Passigajang) dan di kuatirkan lawan kebal senjata atau pemilik senjata tidak bisa menakar (ragu ragu) terhadap kekuatan lawannya. Bahan yang digunakan adalah nasi yang tidak sempat di makan dan jatuh dari piring secara tidak disengaja. Nasi tersebut di lekatkan di telapak kaki, kemudian di hancurkan dengan cara di pencet melebar. Setelah nasi tersebut menyebar rata di telapak kaki lalu oting keris atau badik di asah (sangi) di tepalak kaki yang ada bekas nasi sambit membaca mantera, “SANGADI DE’MUANREI dan seterusnya”. Lalu lubang hulu di berikan perekat/lem dan di tancapkan. Setelah itu mata badik atau keris di arahkan di antara ibu jari kaki dengan jari kaki kedua dan dibacakan mantera,”SANGADI ENGKA BUKUNNA dan seterusnya”. Perlu di pahami kenapa menggunakan butir nasi yang terjatuh, artinya nasi tersebut tidak bermanfaat atau energinya tidak berguna bagi manusia. Kenapa di letakkan pada telapak kaki? Artinya lawan selalu berada di bawah pengaruh kita. Senjata yang di berikan Pammusa’ jenis ini, jangankan di tudukkan kepada lawan, walaupun hanya di lemparkan dari jarak jauh akan melukai lawan yang kebal tersebut. Senjata ini juga disarankan tidak selalu di bawa bepergian kecuali tidak ada jalan lain. 


D. PAMMUSA’ PATTOLA’BALA 

Jenis ini di pakai sebagai Pattola’Bala atau keselamatan dari kesusahan. Urusan lancer tanpa hambatan yang berarti. Bahan yang di gunakan sebagai Pammusa’ adalah CAPPA BAKKAWENG (ujung atap). Atap yang di maksud adalah atap nipah atau atap sagu atau atap daun kelapa. Tentu bukan atap seng atau atap genteng. Tentu semua mengerti kegunaan atap pada sebuah rumah. Atap rumah melindungi dari panas matahari dan dinginnya air hujan. Bahkan selain dinding rumah, atap juga bermanfaat sebagai pelindung dari benda benda yang jatuh dari angkasa. Ujung atap tersebut di ambil kemudian di masukkan ke dalam lubang hulu lalu di niatkan, “UNIAKENGGI MALA dan seterusnya”. Kemudian lubang di berikan perekat atau lem dan oting di tancapkan. 


E. PAMMUSA’ PATTAFO DARAH 

Pattafo adalah istilah Bugis lain dari PATTEPPO. Pattafo darah arti harfiahnya membendung darah atau menghambat darah untuk keluar. Apabila terjadi perkelahian dengan senjata, tidak mesti kebal untuk tidak mengalirkan darah. Pada intinya, pendahulu kita mengharapkan darahnya tidak tumpah ketika berkelahi dengan senjata. Bahan yang digunakan untuk pamussa ini adalah kuku atau rambut. Akan tetapi mantera atau niat yang dibacakan tidak sama dengan pammusa’ pesempo dale. Rambut dan kuku di masukkan pada lubang hulu keris kemudian di bacakan mantera dan seterusnya”. 


F. PAMMUSA’ NYAMENG ININNAWA. 

Pammusa’ jenis ini termasuk untuk keselamatan karena kegunaannya agar semua orang merasa senang atau merasa nyaman apabila berhadapan dengan kita, bahkan pammusa’ ini bisa meredam amarah bagi orang yang sedang bertengkar. Pammusa’ ini justru tidak menggunakan bahan apapun. Kecuali menggunakan pernapasan dan PARENGNGERANG (Jawa = eling). Pada saat senjata akan di pasang pada hulunya, pernapasan di atur dengan baik dan pelan tidak terburu buru. Semua perasaan susah di buang jauh jauh, semua kesusahan hidup di lupakan. Yang ada hanya perasaan tenang, bahagia dan gembira. Ingatan kembali pada masa balita atau bayi di mana semua orang senang dan gemas. Lalu tarikan napas yang pelan di rendahkan lagi seakan menghadap TUHAN, MADDARARING. Pada saat terasa embun pagi menyentuh ubun ubun, angin sepoi lembut menyelemuti badan, cahaya rembulan yang berwarna kebiruan menerpa wajah. Secara perlahan, badan yang sedang duduk bersila dengan kedua tangan berdoa, naik ke angkasa, semakin lama bumi kelihatan semakin kecil, pada akhirnya berhenti di depan cahaya terang benderang tapi sejuk tidak menyilaukan. (Maafkan saya, tidak bermaksud menggunakan bahasa kotor), pada saat itu tanpa ereksi dan terangsang, keluarlah cairan kenikmatan bagi orang dewasa. Ketika berada pada perasaan tersebut, senjata tajam di pasangkan pada hulunya dengan di iringi dengan membaca niat dan mantera. Pammusa’ jenis ini sangat mengandalkan PARENGNGERANG (Ingatan = Eling). Yang mana di maksud Parengngerang itu?. Coba simak analog berikut: 

Pada saat anak anak bermain dan bergembira berlebihan tidak mengenal waktu, terkadang orang tuanya mengatakan,” E KALAKI’, AJA’MU MABO’ ARENGNGERANGKO”. Artinya, HAI ANAKKU SEMUA, JANGAN BERLEBIHAN, INGATLAH/SADARLAH. Maksud dari perkataan ini adalah Ingatlah Tuhanmu. 

Akan panjang ceritanya ketika kita bertanya bahwa sesuatu yang akan di ingat adalah sesuatu yang pernah di lihat, pernah di rasakan, atau pernah bertemu. Lalu apa dan siapa yang ingat???? Apa dan Siapa yang pernah di lihat, pernah di rasakan dan pernah bertemu tersebut???? Tentu butuh perjalanan jauh untuk hal ini. 

Sebenarnya banyak sekali pammusa’ dan panetta’ yang di gunakan para pendahulu kita. Pada intinya semua adalah SENNU-SENNURENG , yaitu harapan dan doa. Semua kembali kepada Yang Maha Menentukan. Hanya Pencipta Yang Maha Hebat. Kehebatan Sang Pencipta akan terlihat pada kehebatan Ciptaan-Nya. Ciptaan Tuhan berjenis jenis, hanya manusia jenis ciptaan yang paling ISTIMEWA. Akan tetapi keistimewaan manusia bisa berubah setiap saat. Hari ini istimewa, mungkin besok menjadi hina. Bisa jadi besoknya lagi kembali istimewa. Tidak ada ciptaan Tuhan yang sia sia, tidak ada yang tidak bermakna. Serapuhnya kayu, selemahnya jerami bisa juga mendidihkan air. Jangan anggap remeh semua ciptaan Tuhan. Semua karya Tuhan adalah Istimewa. Keistimewaan ciptaan tidak akan menyamai keistimewaan Penciptanya. Oleh karena itu, manusia harus menjaga keistimewaannya, dan menjaga keistimewaan ciptaan Tuhan lainnya. Manusia yang menganggap ciptaan Tuhan lebih istimewa dari dirinya, berarti dia kurang yakin akan keistimewaannya. Yakinkah anda bahwa anda adalah ISTIMEWA???? 









Sumber: Latulu Kalula
Penulis : Admin

Tuesday, 19 May 2020

TRADISI LEBARAN ORANG BUGIS YANG UNIK “MALEPPE”


Berlebaran di Sulawesi Selatan ternyata tak melulu soal makanan saja. Sejumlah tradisi turun-temurun turut melekat dalam setiap aktivitas di hari nan fitri. Sanak kerabat dan keluarga, baik yang dekat maupun jauh, berkumpul demi merayakan kebersamaan selepas sebulan penuh berpuasa.

Maka momen spesial seperti ini turut terjamah nilai-nilai kearifan lokal. Nah, salah satu kebiasaan masyarakat Tanah Daeng adalah Maleppe'. Secara harafiah, Maleppe' mengandung makna "melipat". Kenapa harus berhubungan dengan lipatan?

  • Tradisi Maleppe' identik dengan Lebaran milik masyarakat Sulawesi Selatan


Bagi sejumlah kalangan, Maleppe' berkaitan erat dengan makna Idul Fitri yang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Setelah melewati Ramadan, orang-orang ibaratnya melipat lembaran penuh noda, memberi ruang bagi lembaran baru untuk hati yang suci dan bersih.
Secara terminologi, Maleppe' juga mengandung artian "melepas". Yang dilepas tentu saja adalah dosa-dosa baik dalam diri sendiri serta melepaskan (atau lebih tepatnya mengikhlaskan) dosa orang lain dengan cara memberi maaf. Dengan kata lain, prosesi saling memaafkan setelah shalat Ied merupakan bagian dari Maleppe'.

  • Maleppe' kemudian berlanjut dengan kegiatan silaturahmi


Maleppe' juga termanifestasikan dalam bentuk lain. Segelintir masyarakat Bugis memaknai "melepas" dengan cara melarung pakaian lama ke sungai atau ke laut sebagai simbol menghanyutkan segala dosa, sial atau sifat-sifat buruk di masa lalu lalu diganti dengan busana yang baru. Tradisi ini erat dengan budaya Sulawesi Selatan sebelum masuknya Islam.

Beranjak dari hal tersebut, tradisi Maleppe' pun bertalian erat dengan Lebaran, entah Idul Fitri dan Idul Adha. Belakangan, Maleppe' jadi salah satu penyebutan untuk Lebaran.
Tradisi ini baru dilaksanakan seusai shalat Ied, di mana masyarakat saling berkunjung atau bertukar temu satu sama lain dengan tetangga, kerabat hingga handai taulan. Kegiatan ini disebut sebagai Assiara yang berarti silaturahmi.

  • Belakangan penyebutan Maleppe' pun identik dengan segala aktivitas berhari raya

Dalam Assiara, setiap rumah menyajikan makanan khas Lebaran kepada tamunya. Kalangan yang masih berpegang teguh pada kepercayaan lama, sajian yang bakal diberi ke tetamu harus Dibaca-bacai (didoakan) terlebih dahulu oleh Puang Anre Guru atau Daeng Imam yang berposisi setara dengan pemuka agama.
Nah, itu tadi penjelasan singkat tentang Maleppe' dalam setiap Lebaran milik masyarakat Sulawesi Selatan. Sekali lagi, fakta jika budaya memberi warna tersendiri dalam setiap sendi kehidupan agaknya sulit dibantah.





Panulis : Admin

Sunday, 10 May 2020

DUA TEMMASARANG TELLU TEMMALLAISENG



Jangan pernah mengaku keturunan atau wija bugis jika tidak mengenal kata-kata petuah-petuah berbahasa bugis yang pernah dituturkan leluhur kita, minimal pernah mendengar kalaupun tidak paham maknanya, apalagi kalau sampai tidak mampu menuturkan bahasa bugis. Tapi fakta kadang berbicara lain, banyak saya temui pemuda-pemudi jaman sekarang mengaku keturunan bugis, tapi bahasa bugis saja tidak paham, apalagi makna dari kata bugis itu sendiri. ketakutan saya 20 tahun kedepan generasi penerus sudah lebih memahami budaya luar dari pada budaya bugis, bahkan sudah tidak mampu lagi menuturkan bahasa bugis.
Karena saya adalah pemuda yang tumbuh dilingkungan bugis, jadi dari kecil saya sedikit banyak sering mendengar kata-kata bijak atau tetuah leluhur bugis, misalnya saja “mali siparappe, rebba sipatokkong, malilung sipakainge. Resopa temmangingngi malomo naletei pammase dewata. Duami kuala sappo unganna kanukue belona panasae, Yili’ka buaja patompang aje tedong kusala rimajeng. Siapakatau, sipakalebbi, sipakainge.” tak jarang juga kata-kata bijak berbahasa bugis yang memiliki makna spiritual tinggi, misalnya saja kalimat “dua temmassarang ritellue temmallaiseng, jenne telluka sempajang teppettu. Jenne’ telluka Sempajang Teppettu.
Saya tidak akan membedah satu per satu kalimat petua bugis yang saya tuliskan pada paragraph sebelumnya. Tapi saya hanya akan menguraikan sedikit makna tentang kalimat dua temmassarnga ritellue tengmmallaiseng sesuai dengan kada pengetahuan saya. ketertarikan saya dalam mengulas kalimat tersebut berawal disaat setelah saya mendengar lantunan ceramah Ust. Tommy Thompson yang bertema Tasawwuf Bugis. kalimat ”Dua temmassarang ritellue temmalaiseng”sepadan dengan kalimat “Dua yang tak terpisahkan didalam tiga yang saling bekesinambungan” dalam bahasa Indonesia.
kata tersebut memiliki makna yang sangat dalam dan bisa menghasilkan beragam penafsiran, dan penafsiran yang coba saya sampaikan berhubungan konsep spiritual yang bersifat sufistik. berangkat dari ceramah ust. Tommy Thompson bahwa yang dimaksud dari kata “dua Temmassarang” (dua yang tak terpisahkan) ini adalah antara Tuhan dengan Hamba, dia berbeda tapi tidak terpisahkan dan tidak mungkin terpisahkan. logika sederhananya begini, kira-kira ketika tidak ada Hamba siapa yang bertindak sebagai Tuhan? sebagaimana yang kita pahami bahwa Tuhan menicayakan Hamba, dan begitupun sebaliknya ketika tidak ada tuhan apakah hamba masih bisa dikatakan sebagai hamba? dari pernyataan sebelumnya, bisa disimpulkan bahwa Hamba adalah bagian dari tuhan, namun hamba bukanlah tuhan.
kalimat selanjutnya “tellu temmallaiseng” yang berarti tiga saling berkesinambungan atau berkaitan, dimana ketika sala satunya mengalami patahan, maka yang lainpun akan bermasalah. makna yang dapat saya tangkap dari ceramah tersebut yang dimaksud dengan tiga saling berkaitan ini adalah, antara kata hati, perbuatan, dan ucapan. ketika kata hati selaras dengan ucapan, maka begitupun dengan tindakan seseorang. ketika dipadukan dengan makna sebelumnya artinya perbuatan kita sebenarnya itu adalah perbuatan tuhan karena antara hamba yang bertindak dengan tuhan tidak terpisahkan. konsep ini sudah dijelaskan oleh Ibn Arabi antara tahun 560-638 H yang kemudian sampai saat ini dikenal dengan konsep Wahdat Al-Wujud. dan ternyata disisi lain konsep ini telah mengakar dalam jiwa setiap orang bugis sejak Islam menjadi keyakinan orang bugis.
Konsep dasar Wahdat Al-Wujud merupakan “suatu ajaran yang melihat masalah wujud dalam hal ini Tuhan, alam dan manusia sebagai suatu kesatuan. Namun berada pada dimensinya masing-masing, dan Tuhan meliputi segala yang ada. Sehingga yang ada bersifat nisbi; merupakan ada yang diadakan tidak lain dari yang mengadakannya. Sebab apa yang ada merupakan penampakan bagi diri-Nya, dan segala yang ada bersumber dari-Nya serta Dia pulalah yang menjadi esensinya. Namun itu tidak berarti yang diadakan dan yang terbatas menjadi Yang Tak Terbatas. Tidak berarti alam semesta dan manusia menjelma menjadi Tuhan dan Tuhan menjadi manusia. Antara Tuhan, alam semesta dan manusia sekalipun dikatakan berbeda dalam satu keberadaan atau wahdatu al wujud namun alam semesta dan manusia nisbi dan terbatas. Keberadaannya bergantung pada Yang Tak Terbatas. Sedang Tuhan yang tidak terbatas ada di luar relasi, bukan yang ada dalam pengertian dan perasaan. Tuhan adalah independen atau mandiri dari semua makhluk-Nya. Ada-Nya bukan dari luar diri-Nya dan bukan pula karena selain diri-Nya. Akan tetapi ada karena diri-Nya dan oleh diri-Nya sendiri. Ia meliputi semua yang diciptakanNya. Hubungan dengan segala yang dicipytakanNya. Dia membutuhkan mereka dalam kaitannya dengan ketuhananNya. Sebab tanpa makhluk ciptaanNya Dia tidak dikenal sebagai Tuhan; yaitu objek pujaan (ilah) sampai maluh (komplemen logis dari ilah) diketahui. Maka Ibnu Arabi melihat realitas alam dan manusia tidak lain dari tajalli ilahi sekaligus sebagai cermin untuk melihat diriNya yang Maha Sempurna. Demikian pula sebagai pengenalan akan keberadaanNya. Hal yang demikian ini pulalah yang menjadi tujuan dari penciptaan-Nya.”
Begitu dalam sebenarnya makna dari kata “Dua Temmassarang ritellue Temmallaiseng” Cuma terkadang kita tidak tertarik untuk mengkaji kearifan dari leluhur kita. saya baru menyadari kalau ternyata leluhur kita telah mengenal konsep Wahdat Al-Wujud jauh sebelum buku-buku dari timur dengah berdatangan ke negeri ini hanya untuk menjelaskan konsep tersebut, yang ternyata orang bugis juga telah memahami hal tersebut. saya merasa sangat menyesal ketika baru menyadari bahwa kearifan kita menyimpan begitu banyak nilai yang bisa dikaji kemudian diamalkan. ini baru satu kalimat yang saya kemukakan, dan bisa jadi teori-teori lain dari luar yang selama ini kita berusaha pelajari dan pahami ternyata tersimpan rapat dimulut para penutur bugis. Wallahu alam.




Penulis : Admin